Iran yang selalu berkonflik dengan Amerika Serikat tidak berarti sulit dikunjungi. Negeri Persia yang telah lahir sejak 3.200 tahun Sebelum Masehi (SM) itu menyimpan kisah yang luar biasa. Tentang peradaban manusia dengan segala keunikannya.

Sebuah pengalaman yang menarik dapat berpetualang dengan bersepeda di Iran. Kisahnya seru banget.
- Banyak orang beranggapan Iran tidak aman. Ternyata anggapan itu keliru. Terbukti dapat mengayuh sepeda hingga ratusan kilometer dengan aman dan nyaman . Serunya lagi, warga Iran pun menyambut mereka dengan sangat ramah. Ada yang memberikan air mineral, buah-buahan, bahkan menawari inap di rumah mereka.
- Buku: TERHERAN DI IRAN, TERBIUS DI TURKI (32 Hari Mengayuh di Persia danAnatolia) mengisahkan keseruan perjalanan bersepeda yang dilakukan Djati Nugroho, Mathelde Siregar (Tilly), Sigit Pramono, Nurlya Rasca Usman (Kikik), dan Agatha Tedjamulya, Edhi Sutanto, Irna Tanjung, Ahmad Faisal, Donald Darwis.
Apa Yang Menarik dari Isi Buku ini?
- Kisah masyarakat Iran yang ramah dan terbuka
- Kisah gadis-gadis Iran yang suka operasi hidung agar tidak mancung.
- Keseruan bersepeda di tengah gurun pasir
- Explorasi bangunan-bangunan tua yang hadir sejak saat sebelum masehi yang tetap terjaga hingga kini.
- Explorasi kota-kota tua bawah tanah di Iran yang masih eksis.
- Explorasi kereta bawah tanah di Iran yang telah beroperasi selama puluhan tahun.
Deskripsi Buku:
- Judul: TERHERAN DI IRAN, TERBIUS DI TURKI (32 Hari Mengayuh di Persia dan Anatolia)
- Penulis: Djati Nugroho, Jannes Eudes Wawa
- Penerbit: Jelajah Bike
- Ukuran: Tinggi 23 cm dan Lebar 15 cm
- Tebal 192 halaman (termasuk 33 halaman berwarna galeri foto)
Penulis:
- Djati Nugroho, salah satu peserta perjalanan bersepeda di Iran dan Turki. Tinggal di Kota Bogor, Menjelang masa pensiun di Perusahaan Jasa Periklanan dan Media. Mulai bersepeda sejak 2011 dan mulai mengikuti event bersepeda jarak jauh di Kompas Bike tahun 2012.
- Jannes Eudes Wawa, wartawan harian Kompas 1997-2019. Menulis sejumlah buku biografi dan laporan perjalanan. Aktif sebagai pegiat touring sepeda sejak tahun 2011 hingga saat ini.
Kata mereka
Dalam dunia diplomasi, Djati Nugroho dan teman-temannya telah melakukan diplomasi yang disebut second track diplomacy. Intinya mereka secara tidak langsung telah memperkenalkan Indonesia di Iran dan Turki serta memperoleh feed back tentang kedua negara dan bangsa berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing. Lebih penting lagi buku ini menjadi salah satu catatan hidup yang memperkaya referensi bagaimana people to people contact antar bangsa ditumbuhkembangkan, khususnya untuk mempererat hubungan antar negara.
Ronny Prasetyo Yuliantoro, Duta Besar RI untuk Republik Islam Iran dan Republik Turkmenistan 2020-2025
Perjalanan bersepeda ini bukan sekadar kisah wisata, melainkan refleksi tentang keberanian menembus batas persepsi. Buku ini memperlihatkan bagaimana Iran yang kerap dipandang dari sudut konflik — justru tampil sebagai ruang interaksi manusia yang hangat dan penuh keramahan. Kekuatan buku ini terletak pada disiplin persiapan sebelum perjalanan, narasi sederhana disertai dokumentasi membuat pembaca merasa ikut berada di tengahnya. Pesan utama adalah ketangguhan tim dan rasa ingin tahu mampu mengubah keterbatasan menjadi pengalaman bernilai. Buku ini bukan hanya tentang mengayuh sepeda lintas negara, tetapi tentang cara memandang dunia dengan lebih terbuka — sebuah pelajaran yang relevan baik dalam perjalanan hidup maupun dalam dunia profesional.
Teddy Y. Danas, Penggemar Sepeda dan CEO PT Perkebunan Nusantara 1
HARGA SPESIAL
Rp 185.000
Rp 135.000
100 buku penjualan pertama akan didonasikan untuk penanganan anak penderita kanker.
ONGKOS KIRIM
Jabodetabek Rp.15.000
Pulau Jawa Rp.25.000
Diluar pulau Jawa Rp.40.000
