Oleh JANNES EUDES WAWA
Uang Rp 10.000 bagi kebanyakan orang menganggap sebagai recehan. Bernilai rendah. Akan tetapi, bagi ibu Maria Goreti Tea (47), ibunda Yohanes Bastian Roja atau YBS (10) nilai sebanyak itu adalah angka sulit teraih. Saking sulitnya, permintaan anaknya untuk membelikan buku dan pena, sang ibunda sulit menyanggupi. Sang anak pun memilih jalan pintas: membunuh diri. Tragis!
Bagi sang ibunda, kisah ini sangat memukul dirinya. Mengiris jantungnya, bahkan menghancurkan seluruh kehidupannya. Dia tidak menyangka, ketidaksanggupannya dalam memenuhi permintaan uang Rp 10.000 itu berujung fatal.
Ibundanya tidak sanggup memenuhi permintaan itu, sebab ketiadaan biaya. Sang ibu seorang janda dengan lima anak yang masih kecil. Sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ayah mereka berpulang saat YBS masih dalam kandungan. YBS adalah siswa kelas IV pada sebuah Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Anak bungsunya YBS terpaksa memilih pulang ke pangkuan Ilahi lebih awal melalui jalan pintas setelah gagal mendapatkan buku dan pena untuk menata dan menulis masa depannya. Dia pergi selamanya dengan membawa harapannya yang sangat sederhana yang hampa ke dalam liang lahat hanya karena tangan sang ibunda yang kosong.

Anak yang cerdas dan periang itu seolah sudah putus asa. Dia pun ditemukan tewas pada Kamis (29/1/2026), bunuh diri di pondok neneknya yang berusia 80 tahun. YBS menulis sepucuk surat untuk ibunya sebagai berikut:
Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama
(Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee
(Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Fenomana Gunung Es
Sepucuk surat untuk sang ibunda itu sesungguhnya juga untuk seluruh pejabat dan aparatur pemerintah serta pemuka agama. Itulah ungkapan paling jujur. Untuk apa dia harus melanjutkan hidupnya kalau penderitaan yang mereka alami tidak pernah mendapat perhatian. Biarkanlah dia pergi, sebab dengan kepergiannya itu akan membuka mata banyak orang terhadap nasib keluarganya dan orang-orang miskin lainnya.
Kasus ini merupakan fenomana gunung es dari begitu banyak masalah lainnya yang selama ini menumpuk dan menimbun dalam diri warga. Mereka tidak sanggup lagi memikul pada pundak yang rapuh, sebab semakin tidak berdaya. Tidak memiliki lagi energi untuk bangkit.
Tragedi ini bukan hanya tentang satu keluarga di Kabupaten Ngada, NTT, melainkan sebuah gambaran tentang kemiskinan yang masih mendera banyak masyarakat di desa dan kota. Tidak sedikit yang hidupnya jauh di bawah garis kemiskinan dengan anggota keluarga yang banyak pula.

Aksi YBS menampar telak ke wajah pemerintah. Di saat, mereka membanggakan selalu mengucurkan triliuan rupiah setiap tahun ke desa, ternyata masih ada keluarga yang sama sekali tidak menikmatinya. Masih ada anak-anak yang harus mempertaruhkan nyawa demi memperoleh alat tulis guna melatih ketrampilan dan menimbah pengetahuan untuk melukis masa depan yang lebih baik.
Kemiskinan sesungguhnya bukan sekedar ketiadaan pendapatan, melainkan juga perampasan kemampuan dasar manusia untuk hidup yang bermartabat. Apabila anak-anak kehilangan kemampuan untuk belajar karena miskin, maka yang sedang dirampas bukan hanya masa kini mereka, tetapi juga masa depan anak yang bersangkutan, termasuk masa depan bangsa. Kemiskinan tidak boleh menjadi alasan hilangnya nyawa warga, terlebih anak
Punya Mimpi
Kasus ini menggugat nurani semua agar lebih tulus dalam berkarya. Berhentilah melihat kemiskinan hanya pada angka statistik. Penurunan angka bukan berarti masalah kemiskinan sudah selesai. Angka-angka itu bukan makluk hidup yang menuntut kejujuran dan empati.
Perlu diingat, anak-anak miskin bukan sekedar menjadi angka statistik untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan. Mereka adalah manusia dengan mimpi yang pernuh warna. Jika persoalan mereka terabaikan, maka berpeluang memunculkan masalah baru.
Itu sebabnya, kemiskinan perlu tertangani secara menyeluruh, detail, segera dan tuntas. Kalau penanganan yang setengah hati membuat kemiskinan berpeluang menjadi predator yang mampu merenggut nyawa manusia. Korban terdepan adalah manusia kecil yang jujur dan tulus.

