Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » 80 Tahun Bom Atom di Nagasaki: Luka Itu Perih Sepanjang Hayat
Humaniora

80 Tahun Bom Atom di Nagasaki: Luka Itu Perih Sepanjang Hayat

JANNES EUDES WAWABy JANNES EUDES WAWAAgustus 8, 20255 Komentar9 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Sejumlah pakaian para korban bom atom di Nagasaki terpajang dalam Museum Bom Aton Nagasaki. Foto: Arsip CNN
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
 Oleh: JANNES EUDES WAWA

Pasukan Amerika Serikat dan sekutunya pada Kamis, 9 Agustus 1945 pukul 11.02 waktu Jepang atau 09.02 WIB menjatuhkan bom  atom di Kota Nagasaki, Jepang. Bom yang sangat dahsyat itu menghancurkan kota ini. Ribuan orang mati terpanggang dan menderita luka berat. Memiluhkan! Nasib Nagasaki memang sungguh malang, sebab kota ini sesungguhnya tidak pernah ada dalam daftar target pemboman. Sabtu, 9 Agustus 2025, dunia memperingati 80 tahun jatuhnya bom atom di Nagasaki.

Pertengahan Maret 2004, Kyushu-Yamaguchi Economic Federation, organisasi yang beranggotakan 900 perusahaan di Kyushu-Yamaguchi, Jepang  mengundang empat media cetak ternama dari Asia untuk mengunjungi pulau itu. Dari Indonesia adalah harian Kompas. Saya mewakili Kompas menghadiri undangan tersebut. Tujuannya untuk mempromosikan dan mengajak masyarakat dunia mengunjungi Kyushu. Di Jepang, tidak hanya Tokyo dan sekitarnya. Ada pula  Kyushu yang tidak kalah menarik. Salah satu daerah yang kami kunjungi adalah Museum Bom Atom di Nagasaki.

Sulit Terlupakan

Suzuko (23), mahasiswi Universitas Kyushu, meneteskan air mata saat menyaksikan foto-foto korban keganasan bom atom yang terpajang dalam Museum Bom Atom di Nagasaki, Rabu (17/3/2004). Ia tak kuasa melihat foto seorang anak lelaki yang tubuhnya hitam legam karena hangus terbakar. Ada pula foto seorang anak yang luka parah sekujur tubuh dan digendong kakaknya untuk mencari ibu mereka yang diduga hangus terbakar.

Sejumlah pakaian para korban bom atom di Nagasaki terpajang dalam Museum Bom Aton Nagasaki. Foto: Arsip CNN

Ada lagi foto korban yang kehilangan anggota tubuh. Selain itu, terdapat juga foto Kota Nagasaki yang tinggal puing-puing akibat kebakaran besar tersebut. “Siapa pun yang menyaksikan foto-foto ini pasti dapat meyakini betapa dahsyat, ganas dan mengerikan ledakan bom atom yang terjadi pada 9 Agustus 1945 pukul 11.02 itu,” kata Suzuko.

Gadis yang sedang belajar pada Fakultas Ekonomi itu mengaku sudah tiga kali mengunjungi Museum Bom Atom di Nagasaki. Kali pertama sewaktu masih sekolah dasar, kedua pada sekolah lanjutan, dan hari itu merupakan ketiga kalinya. Kendati demikian, dia tidak pernah bosan untuk mengunjungi ke museum tersebut.

“Tragedi bom atom Nagasaki sulit terlupakan siapa pun. Sangat memilukan dan tetap membekas sepanjang masa. Apalagi, dengan adanya museum yang lengkap seperti ini setiap orang pasti ingin mengunjungi dan mengetahui lebih mendalam,” ujar Suzuko yang hari itu datang bersama tiga temannya dari Fukuoka.

Antusiasme masyarakat mengunjungi Museum Bom Atom sungguh luar biasa. Setiap hari minimal 2.000 orang. Mereka bukan hanya warga Jepang, tetapi juga wisatawan mancanegara. Tidak cuma orang dewasa, melainkan juga mahasiswa dan pelajar.

“Pengunjung yang pelajar dan mahasiswa juga dari berbagai negara, seperti China dan Korea Selatan. Mereka datang dalam jumlah besar, yakni 100 sampai 200 orang per kelompok,” jelas Shigematzu, petugas Museum Bom Atom Nagasaki.

BACA JUGA:  Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi
Tidak Masuk Daftar

Nasib Nagasaki pada Kamis 9 Agustus 1945 sungguh sangat malang. Kota ini tidak ada dalam sasaran untuk pengeboman. Berdasarkan data yang tertulis di Museum Bom Atom Nagasaki, sejak tahun 1943 Jepang memang telah menjadi target Amerika Serikat dan Sekutunya untuk menjatuhkan bom.

Pada 27 April 1945 mereka menetapkan 17 kota di Jepang sebagai calon lokasi yang menjadi sasaran pemboman. Ke-17 kota itu adalah Tokyo, Kawasaki, Yokohama, Nagoya, Osaka, Kobe, Hiroshima, Kyoto, Kure, Yakata, Kukora, Shirnonoseki, Yamaguchi, Kimamoto, Fukuoka, Nagasaki, dan Sasebo.

Pada 10 Mei 1945, Amerika Serikat dan Sekutu menyeleksi kembali dan menyisahkan empat kota yakni Kyoto, Hiroshima, Yokohama, dan Kukora yang menjadi calon lokasi pemboman. Pada 28 Mei 1945 terjadi penyaringan lagi, lalu tersisa tiga kota: Kyoto, Hiroshima, dan Kukora. Tetapi, saat itu mendadak bertambah satu kota lagi yakni Niigata.

Dua hari berikutnya, Kyoto terhapus dari daftar target bom setelah adanya jaminan dari Secretary of War Henry L Stimson.  Belum terkonfirmasi secara pasti alasan penjaminan itu. Rencana pemboman akhirnya terwujud dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 pukul 08.15 waktu setempat.

Meski demikian, pimpinan militer Niphon belum juga menyerah seperti tertuang dalam Deklarasi Postdam 26 Juli 1945. Bahkan, Jepang tetap ngotot melakukan perlawanan serta tidak menghiraukan adanya pengemboman di Hiroshima.

Sikap pimpinan Jepang tersebut membuat Sekutu bertambah gemas. Pemboman kedua yang semula terjadwalkan pada 11 Agustus 1945 pun bergeser dua hari lebih cepat. Apalagi, berdasarkan ramalan cuaca, kondisi udara di Jepang mulai 10 Agustus 1945 kurang bagus.

Nagasaki yang Malang

Pada 9 Agustus 1945 pukul 08.09, pesawat pembom B-29, BockÆs Car mulai terbang mengitari langit Kota Kukora, ujung paling utara Pulau Kyushu dengan ketinggian 31.000 kaki. Kondisi udara di kota itu cerah dan terlihat jelas dari pesawat. Namun, Mayor Kermit Beahan-ahli teknik pengeboman asal Texas yang berjuluk The Great Artiste yang bertugas menjatuhkan bom belum melihat pabrik senjata yang menjadi sasaran pemboman karena tertutup asap tebal.

Pengeboman pun batal. Pesawat pembom berputar lagi mencari sasaran. Dari teropong tampak jelas Kota Kukora, termasuk sungai yang menurut data intelijen Sekutu mengalir persis di sebelah pabrik senjata. Namun, lokasi pabrik senjata tetap tertutup asap pekat.

Asap tebal itu membuat pasukan lagi-lagi batal menjatuhkan Fat Man; sebuah bom atom berukuran panjang 10 kaki, delapan inci, dan berdiameter 5 kaki. Ketentuan Sekutu pada 25 Juli 1945 bahwa menjatuhkan bom khusus hanya terjadi jika telah melihat sasaran dengan jelas.

Untuk ketiga kalinya, Mayor Charles W Sweeney, pilot BockÆs Car mengarahkan lagi pesawat ke Kukora dan Beahan meneropong kembali. Hasilnya sama: Kota Kukora, termasuk jalan dan sungai yang berada dekat pabrik senjata  terlihat  sangat jelas dari udara. Tetapi, pabrik senjata tetap tertutup asap dan awan pekat. Pasukan pun kembali batal menjatuhkan bom atom.

BACA JUGA:  Kunjungi Jepang, Orang Indonesia Wajib Bebas Penyakit TBC

Mereka sangat khawatir terjadi tembakan dari bawah.  Setelah berunding, akhirnya memutuskan pesawat meninggalkan Kukora. Apalagi, bahan bakar semakin menipis, hanya cukup untuk satu lintasan terbang di atas Nagasaki.

Semula timbul ide menjatuhkan bom atom di laut atau di bawah kembali ke Iwo Jima atau Okinawa, atau menjatuhkan bom dengan bantuan radar. Begitu pesawat berada di atas Nagasaki, pasukan memutuskan menjatuhkan bom atom saat itu juga dengan bantuan radar.

Tepat pukul 11.02, Nagasaki menjadi sasaran Fat Man. Seketika, kota itu menjadi kuburan massal. Sebanyak 73.884 orang mati terpanggang, 74.989 orang luka berat, 120.820 orang kehilangan tempat tinggal, dan sepertiga Nagasaki pun hancur total.

Museum Jadi Saksi

Tahun 1955, Pemerintah Nagasaki membangun museum bom atom dan direkonstruksi pada tahun 1964. Gedung berlantai tiga yang penuh nilai sejarah ini berada dekat Gereja Katedral Urakami. Gereja yang terbangun sejak abad ke-16 itu  berjarak hanya 500 meter dari pusat peledakan.

Bom atom menghancurkan gereja ini. Tersisa hanya dua patung Bunda Maria yang terletak di altar dan beberapa patung orang suci di depan gereja. Di pusat peledakan dibangun monumen berbentuk balok berwarna hitam.

Model monumen tampak sangat sahaja, bertolak belakang dengan kondisi Jepang sebagai raksasa ekonomi dunia. Namun, kesahajaan itu sengaja diciptakan guna berbicara tentang kisah memilukan dan penderitaan penduduk Nagasaki.

Dalam museum, di balik lemari kaca, tampak botol-botol yang meleleh akibat panas yang luar biasa. Bahkan, sepertinya ada benda lain yang ikut meleleh dari botol. Mungkin dapat dipastikan bahwa tak mungkin ada tangan utuh yang tersisa, tetapi dari botol yang meleleh menyerupai kristal kaca itu ada bekas ruas jari manusia berbentuk ukiran cekung.

Museum Bom Aton Nagasaki menjadi bukti sejarah atas tragedi memiluhkan yang terjadi 9 Agustus 1945. Foto: Arsip CNN

Abu dari telapak tangan yang mewarnai cekungan botol meleleh berwarna hijau itu mampu melukiskan suatu suasana menyakitkan. Ada pula foto reruntuhan bangunan, foto pakaian yang bagian lengan dan kaki kanan hangus dilahap api.

Pendek kata, semua yang terjadi saat bom atom meledak hingga penanganan darurat, termasuk sejumlah patung orang suci dalam keyakinan Katolik serta pakaian dan bahan bangunan milik korban dalam tragedi itu tersimpan di museum. Menggambarkan dan memberi satu pesan singkat bahwa pemboman itu sangat kejam!

Setiap 9 Agustus tepat pukul 11.02, masyarakat di Nagasaki selalu berkumpul dan berbaring serentak selama beberapa menit di taman monumen. Cara itu untuk mengenang nasib manusia yang telah tewas tergeletak akibat dihantam bom atom.

BACA JUGA:  Semangat Peduli Tidak Mengenal Agama
Belum Terjawab

Akan tetapi, mengapa Nagasaki menjadi pilihan untuk dibom? Bukankah kota itu sebelumnya tak masuk dalam target Sekutu? Sampai sejauh ini alasan tersebut belum terungkap. Ada pihak yang menyebut pilihan itu hanya kebetulan belaka.

Namun, ada pihak yang menduga pemboman tersebut terkait dengan pabrik senjata milik perusahaan Mitsubishi untuk mendukung mesin perang Jepang yang berada di Nagasaki. Di sana, ada Mitsublishi Shipyards, Mitsubishi Electric Company, Mitsubishi Steelworks, Mitsubishi Arms Factory, dan pabrik-pabrik pendukungnya yang lain.

Argumentasi tersebut mungkin benar. Apalagi pabrik senjata itu ikut hancur. Namun, mengapa lokasi pemboman di Nagasaki bukan pabrik senjata? Pertanyaan ini tentu sulit pula dijawab, sebab sebagian tujuan dari pemboman adalah untuk percobaan senjata. Lagi pula, situasi Kota Nagasaki terkurung oleh gunung dan bukit sehingga memudahkan pembuktian dari percobaan tersebut.

Napoli di timur

Nagasaki adalah kota laut dengan deretan bukit nan indah. Sejak abad ke-16, Nagasaki telah menjadi kota pelabuhan, dimana para pedagang dari Portugis, Spanyol, Belanda, dan China ramai-ramai mengunjunginya. Kondisi ini membuat Nagasaki telah terbuka sejak ratusan tahun silam.

Keterbukaan itu membuat Nagasaki juga mendapat julukan sebagai wilayah multikultural, sebab di sana berbaur kebudayaan Portugis, Spanyol, Belanda, China, Rusia, dan Amerika. Belanda memiliki suatu pos perdagangan di Dejima. Peninggalan Belanda seperti nama tempat masih ditemukan di wilayah ini, misalnya Huis ten Bosch atau “rumah dalam hutan”. Gedung peninggalan asing itu tetap terpelihara dan terawat, bahkan telah menjadi museum untuk tujuan wisata.

Keterbukaan terhadap kebudayaan asing di Nagasaki tampak pula dari kehadiran kelompok Kristen di tengah mayoritas umat Buddha atau Shinto. Dari total jumlah penduduk Kota Nagasaki yang sebesar 418.523 jiwa, sekitar 20 persen di antaranya adalah penganut Katolik.

Di musim gugur, saat Danau Acer berubah warna menjadi merah, kuning, dan jingga, kecantikan wajah Nagasaki semakin terasa luar biasa. Karena begitu cantiknya suasana di sekeliling dan di tengah kota itu, masyarakat di Eropa menjuluki Nagasaki sebagai Napoli di timur.

Kisah Nagasaki yang malang itu tidak habis-habisnya dan terus melegenda. Kisah tanpa ujung tersebut seolah bertutur bahwa luka akibat bom atom yang maha dahsyat tetap dan selalu membekas. Kehadiran Museum Bom Atom membuat kisah tragis dan kejam yang menimpa Nagasaki pada 9 Agustus 1945 pukul 11.02 itu tetap terkenang sepanjang masa.

Meski telah 80 tahun berlalu, tragedi itu tetap menjadi pengingat hidup tentang kengerian yang mendalam dari penggunaan senjata nukilr. Apalagi hingga kini perang antarnegara masih terus berkecamuk di sejumlah belahan dunia, seperti di Gaza, dan juga di Rusia-Ukraina. Mendiang Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Perang selalu merupakan kekalahan bagi kemanusiaan”. Perdamaian sejati menuntut keberanian meletakkan senjata, terutama senjata yang memiliki kekuatan untuk menimbulkan bencana yang tak terlukiskan.

JANNES EUDES WAWA
Wartawan/Pegiat Sepeda

 

 

JANNES EUDES WAWA
Author: JANNES EUDES WAWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

Kunjungi Jepang, Orang Indonesia Wajib Bebas Penyakit TBC

November 19, 2023

Pendidikan Sejak dalam Kandungan, Kekuatan Orang Israel

April 7, 2023

5 Komentar

  1. Julianus Selsius on Agustus 8, 2025 4:25 pm

    Artikel sejarah menarik. Ada catatan kisah iman khusus. Pada tahun 1942 Uskup Hirosima dan Nagasaki dikirim ke Flores oleh Pemerintah Jepang. Kedua uskup tersebut adalah Mgr. Paulus Yamaguchi,SJ dan Mgr. Aloysius Ogihara SJ. Tugas mereka adalah membina iman umat. Pada saat kedua kota tersebut diserang bom atom Amerika kedua uskup ini berada di Flores. Mereka akhirnya selamat dari serangan bom atom ini.

    Reply
    • JANNES EUDES WAWA on Agustus 8, 2025 4:30 pm

      Iya betul. Mungkin itu sudah jalannya untuk mereka

      Reply
      • Julianus Selsius on Agustus 8, 2025 6:18 pm

        Iya.gaga golo tulisan ei.

        Reply
        • JANNES EUDES WAWA on Agustus 8, 2025 7:55 pm

          Siappp, makasih

          Reply
          • JANNES EUDES WAWA on Desember 14, 2025 8:22 pm

            makasih om

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.