Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Semangat Peduli Tidak Mengenal Agama
Humaniora

Semangat Peduli Tidak Mengenal Agama

Stefanus WoloBy Stefanus WoloJanuari 14, 20221 Komentar6 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Penulis berfoto bersama dengan para Sternsinger sebelum menjalankan tugas perutusan. Foto: Dokumen Pribadi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh STEFANUS WOLO ITU

Saya sudah merasakan delapan kali musim dingin di Swiss. Ciri khas musim ini tentu saja dingin dan sering turun salju. Daun-daun berguguran, hujan dan minus cahaya matahari. Akan tetapi, saya menikmati keindahan musim dingin. Saya suka berjalan kaki sambil menikmati udara sejuk. Apalagi bila turun salju.

Bulan Januari termasuk musim dingin. Meski dingin, perayaan iman dan kegiatan sosial gerejani berjalan normal. Salah satunya adalah pesta tiga raja. Dulu pesta ini dirayakan setiap  tanggal 6 Januari. Tetapi dalam perjalanan waktu, pesta ini dirayakan setiap hari Minggu di antara tanggal  2 – 8 Januari.

Saya terkesan dengan spirit tiga raja dari Timur: Gaspar, Melkior dan Baltasar. Mereka mengajarkan saya ketekunan, kebijaksanaan dan perjuangan mencari Tuhan tanpa henti. Mereka mempersembahkan kado mahal  bagi Yesus berupa Emas, Mur dan Dupa. Emas melambangkan Yesus sebagai Raja Agung. Kemenyan melambangkan Yesus sebagai imam Agung. Mur melambangkan Yesus sebagai penebus Agung.

Saya juga terkesan dengan aksi sosial pesta tiga raja. Setiap tahun kami selalu mengadakan aksi Sternsinger. Sternsinger artinya penyanyi bintang. Penyanyi bintang ini terdiri dari anak-anak dan remaja. Mereka membentuk grup kecil beranggotakan empat orang dengan satu pendamping dewasa.

Sternsinger mengenakan pakaian seperti tiga raja. Ada mahkota keemasan dan mantel kebesaran. Seorang membawa tongkat bintang. Yang lainnya memegang poster aksi Sternsinger, kotak kolekte, kapur tulis dan penghapus. Aksi ini sesungguhnya sudah dimulai di Eropa pada abad ke 16.  Tapi saat ini sudah menyebar ke seantero dunia. Di Indonesia kita mengenal mereka sebagai aksi «Anak-Anak Misioner“.

Setiap tahun Sternsinger mengenakan pakaian di lantai atas pastoran saya. Sebelum beraksi saya memberikan berkat perutusan. Inilah rumusan berkat perutusan saya. «Ya Tuhan, berkatilah para penyanyi bintang ini. Mereka akan bernyanyi, berdoa, memberkati rumah dan apartemen umat. Bukalah hati umatMu agar mereka terbuka memberikan sumbangan untuk meringankan penderitaan anak-anak di Afrika“.

Penulis berfoto bersama dengan para Sternsinger sebelum menjalankan tugas perutusan. Foto: Dokumen Pribadi

Setelah berkat, saya meminta mereka menyanyi, mengucapkan doa berkat bagi saya. Semoga hati saya selalu terbuka dan tangan saya senantiasa terulur menolong anak-anak di Afrika dan belahan bumi lainnya. Saya menerima berkat dengan sukacita dan memberikan sedikit sumbangan.

BACA JUGA:  Lilin Solidaritas untuk Rufinus Tigau

Saya mengutus mereka mengunjungi rumah umat. Mereka menyanyi, berdoa dan menuliskan ejaan di depan balok pintu: „20*C+M+B+22“ untuk tahun berjalan. Arti tulisan ini: Bintang merupakan lambang bintang Betlehem. Ketiga salib melambangkan Allah Tritunggal. Arti huruf C, M, B adalah abjad pertama dari ketiga raja: Caspar, Melkior dan Baltasar. CMB juga merupakan singkatan dari kata Latin «Christus Mansionem Benedicat atau Kristus memberkati rumah ini“.

Aksi Sosial Kaum Tak Beragama

Tahun ini kami memiliki beberapa kelompok Sternsinger. Mereka mendatangi banyak keluarga dan mengumpulkan banyak uang. Mereka datang dari latar belakang negara dan keluarga yang berbeda. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga katolik. Beberapa dari keluarga kristen lain. Bahkan juga anak-anak dari keluarga tanpa agama.

Di Swiss setiap warga bebas memilih beragama atau tidak beragama. Mereka tidak berkewajiban memilih salah satu agama seperti di Indonesia. Kali ini ada dua ibu yang tidak memiliki agama. Tapi mereka mendukung aksi Sternsinger anak-anak mereka. Mereka mengundang Sternsinger bernyanyi di rumah mereka dan memberikan sumbangan.

Saya sempatkan diri berdialog dengan mereka. Mereka katakan pada saya: „Stefan, kami bukan katolik dan bukan anggota salah satu komunitas agama. Tapi kami percaya Tuhan. Kami menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kami mendukung anak-anak yang kurang sehat dan kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. Mereka tidak boleh kehilangan martabat mulia sebagai manusia“.

Bagi saya mereka luar biasa. Mereka tak beragama! Tapi mereka mendukung pemulihan martabat umat manusia tanpa sekat ras dan agama. Aksi Sternsingen tahun ini mengusung motto : «Gesund werden – gesund bleiben. Ein Kinderecht Weltweit“ yang artinya Menjadi Sehat – Tetap Sehat. Hak anak Sedunia“. Aksi yang dikelola Misio Swiss ini membantu pembangunan sarana kesehatan anak-anak dari benua Afrika khususnya Mesir, Sudan Selatan dan Ghana.

BACA JUGA:  Pendidikan Sejak dalam Kandungan, Kekuatan Orang Israel

Sternsinger mengenakan mahkota keemasan. Warna keemasan mengingatkan saya bahwa Tuhan memandang luhur manusia. Manusia itu citra Allah, mahkota ciptaan Allah dan Medali Emas Tuhan. Mereka mengajak saya menyebarkan keharuman melalui perbuatan-perbuatan baik. Mereka mengajak saya menolong anak-anak susah agar hidup sebagai manusia mulia.

Saya tertarik dengan berita media Katolik Jerman KIRCHE+LEBEN: Das Katholische Online-Magazin tanggal 5 Januari lalu. Kanselir Jerman Olaf Scholz menerima perwakilan Sternsinger Jerman: Johannes (14), Julian (14), Agatha (17) dan Klemens (12). Keempatnya berasal dari Paroki St. Kristoforus Wolfsburg, Keuskupan Hildesheim, Jerman.

Olaf Scholz sangat bersukacita menerima kunjungan itu. Kepada mereka Olaf katakan: «Terima kasih untuk doa berkat dan lagu-lagu. Terima kasih juga atas aksi Sternsingen ini. Saya mendukung aksi solidaritas ini“.

Beliau mendukung pembangunan rumah sakit di Sudan Selatan. Rumah sakit ini melayani anak-anak, wanita hamil dan ibu-ibu muda yang kekurangan gisi. Olaf juga merelakan Sternsinger menulis „20*C+M+B+22“ di pintu kantor Kanselir.

Pengganti Angela Merkel ini lahir dan dibabtis  di gereja Kristen Hamburg-Ottensen. Olaf kemudian memilih mengundurkan diri dari Kristen dan mengakui tidak memiliki salah satu denominasi. Tapi Olaf tetap mengakui peranan gereja dan kekristenan dalam membentuk karakter kepribadiannya.

Kanselir Olaf menghadirkan sukacita besar bagi Sternsinger. Agatha menegaskan, «Saya senang karena semua telah terlaksana. Saya bisa membawa berkat di kantor kanseli». Julian juga menungkapkan, «Saya sangat gugup, tapi kita telah membuat kesuksesan. Kanselir sangat bersahabat. Saya gembira dengan penerimaan Kanselir Olaf“.

Saya ingat saat mengucapkan sumpah jabatan sebagai Kanselir. Olaf sempat dikritik karena tidak mengucapkan rumusan «Semoga Tuhan menolong saya“. Konstitusi Jerman memberikan kebebasan untuk tidak mengucapkan rumusan itu. Olaf bukan  anggota sebuah institusi agama. Tapi dia mendukung karya-karya untuk merawat keluhuran martabat manusia.

BACA JUGA:  Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Olaf dan kedua orang tua Sternsinger di paroki saya tidak memiliki  agama. Tapi mereka mencintai nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menolong sesama dengan sukacita dan sukarela. Ketika mereka menolong orang lain, sebenarnya mereka sedang merawat kemanusiaan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan dan sesama lain akan membalas kebaikan dengan lebih indah.

Mereka tak beragama dan tidak membutuhkan sebuah institusi agama. Untuk berbuat baik, mereka tidak perlu memiliki agama. Mereka juga tidak perlu membabat agama dan kepercayaan lain. Mereka justru kepanasan membabat egoisme dan kebencian di tengah musim dingin. Hati mereka tetap hangat  merawat kesetiakawanan dan kepedulian. Itulah solidaritas kemanusiaan kaum tak beragama. Dari mereka saya perlu belajar.

STEFANUS WOLO ITU
Imam Projo Keuskupan Agung Ende,
Misionaris di Keuskupan Basel, Swiss

Baca juga:

Stefanus Wolo
Author: Stefanus Wolo

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

80 Tahun Bom Atom di Nagasaki: Luka Itu Perih Sepanjang Hayat

Agustus 8, 2025

Kunjungi Jepang, Orang Indonesia Wajib Bebas Penyakit TBC

November 19, 2023

1 Komentar

  1. Dorie Bruk on Juli 27, 2023 9:52 pm

    site:Blog ini benar-benar luar biasa!

    Reply
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.