Oleh JANNES EUDES WAWA
Minggu, 19 April 2026, sekitar pukul 06.00, sebagian besar peserta sudah berkumpul di loby hotel. Kami akan menggunakan mobil menuju pasar tradisional Tomohon. Jaraknya sekitar dua kilometer. Orang menyebutnya dengan pasar ekstrim. Di sana pedagang tidak hanya menjual barang kebutuhan, seperti sayur-sayuran, bumbu dapur, ikan, daging sapi dan sejenisnya.
Para pedagang memasarkan pula binatang lain yang tidak lazim, seperti tikus hutan, kelelawar (paniki), ular piton, monyet, anjing, babi hutan. Hewan-hewan yang sudah tidak bernyawa tersebut terpajang di atas meja dagangan. Bentuk wajah pun terlihat sangat jelas.
Praktek ini sudah berlangsung sangat lama sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat setempat selaku pemakan segala jenis daging. Mereka selalu berprinsip selama manusia dapat mengolah dan memakan daging tersebut, maka orang Minahasa pun akan mencoba menyantapnya.

Fenomena inilah yang membuat Pasar Tomohon berbeda dan unik. Tidak mengherankan, setiap orang yang datang ke Tomohon selalu berusaha menyempatkan diri mengunjungi pasar tersebut hanya ingin melihat dari dekat pajangan daging hewan-hewan tersebut.
Tata, pesepeda dari Jakarta mengaku telah lama mendengar tentang pasar ekstrim tersebut. Namun pagi itu ekspektasinya sedikit meleset, sebab hari Minggu dan dagangan ekstrim sudah banyak yang laku terjual sejak Sabtu pagi. “Tetapi saya masih sempat melihat beberapa lapak yang menjual tikus, ular piton, kelelawar dan babi hutan,” ungkapnya.
Yulita Hartanti asal Semarang mengaku agak menyeramkan saat melihat dari dekat daging kelelawar, tikus dan ular. “Saya belum pernah lihat seperti ini. Menyeramkan! Salut dengan mereka yang menjual dan memakan daging hewan-hewan itu,” kata dia.

Selesai dari pasar ekstrim, kembali ke hotel untuk sarapan dan persiapan kayuhan hari ketiga atau hari terakhir dari Jelajah Manado-Tomohon 2026. Rutenya kembali ke Manado. Namun panitia memilih tidak melewati jalur jalan utama, melainkan jalan desa yang beraspal dengan variasi tanjakan dan turunan. Jalan beraspal mulus dan sepi dari kendaraan bermotor.
Pagoda Tomohon
Sekitar pukul 08.00, kami keluar dari hotel. Tujuan pertama adalah menyinggahi Padoga Ekayana Tomohon. Bangunan ini sebagai gambaran toleransi yang berkembang baik di tanah tersebut. Di tengah masyarakat Tomohon yang mayoritas Kristen, hadir pula sebuah bangunan simbol tradisi Budha. Letaknya hanya berjarak 1,5 kilometer dari penginapan.
Pagoda sembilan lantai dengan arsitektur khas China ini dominasi warna merah dan kuning. Berdiri sejak tahun 1982. Memasuki pintu masuk tampak deretan 18 patung lohan berwarna emas menghiasi halaman sebelah kiri. Patung lohan adalah simbol 18 pendosa yang kembali ke jalan yang benar atau telah mencapai tingkat kesucian tertinggi. Dalam kompleks pagoda juga terdapat patung Budha bernama Bodhidharma dengan ciri berjanggut khas India.

Pagoda ini menyuguhkan pemandangan yang menarik. Di belakangnya tampak dari kejauhan Gunung Lokon. Apabila berada di lantai kesembilan dapat melihat dengan jelas keindahan Kota Tomohon. Kami berkali-kali mengabadikan panorama yang unik dan menarik tersebut.
Dari Pagoda Ekayana, kami melanjutkan gowes menuju jalan utama, yakni Jalan Raya Tomohon. Konturnya mendatar dan sempat menurun sesaar, namun 3 kilometer berikutnya, kami belok ke kanan memasuki jalan desa. Badan jalan agak sempit hanya dapat diewati satu mobil roda empat. Kondisi jalan beraspal mulus. Sekitar 200 meter dari persimpangan, kami menghadapi tanjakan sekitar 50 meter dengan kemiringan sekitar 10 derajat.
Beberapa peserta sedikit ngomel, sebab pada pagi itu panitia menginformasikan tak ada lagi tanjakan. Perjalanan ke Manado semuanya menurun. Namun, peserta lain langsung menimpali, “Kalau touring dengan jelajah mana ada rute yang bebas tanjakan? Jadi mari kita menikmatinya. Jalur ini sepi, sejuk dengan pohon-pohon yang banyak”.

Sekitar 1,5 kilometer kami melewati sebuah turunan yang cukup curam. Kami saling mengingatkan untuk berhati-hati. Kosentrasi penuh dan menjaga rem dengan baik. Apabila ragu-ragu sebaiknya turun dan menuntun saja sepedanya. Ada lima peserta memilih tuntun sepeda, selebihnya tetap mengayuh.
Hadapi Turunan Curam
Lolos dari turunan ini, kami kemudian menghadapi satu turunan curam lagi sekitar dua kilometer di depan. Pada turunan ini satu peserta sempat terpeleset, tetapi terkendali dengan baik sehingga yang bersangkutan bersama sepedanya luput dari kecelakaan. Ada pula satu sepeda lipat mengalami pecah ban, sebab terlalu panas akibat rem terus-menerus. Namun langsung diganti sehingga pemiliknya tetap melanjutkan kayuhan.
Selepas turunan curam itu, kami masih melewati beberapa turunan panjang hingga di wilayah Totongkoran. Di beberapa titik ada permukiman penduduk dengan rumah-rumah yang permanen. Ada pula gedung sekolah serta kios-kios dan toko. Aroma keharuman bunga cengkeh menyeruak cukup tajam dari kebun dan pekarangan.

Kami akhirnya berhenti di Lota, sekitar 8 kilometer dari Tomohon. Kami nyekar ke makam pahlawan nasional Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol merupakan salah satu figur pribumi yang paling disegani pada masa pendudukan kolonial Belanda di Sumatera Barat.
Dia lahir pada 1 Januari 1772 di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung, Sumatera Barat dengan nama asli Muhammad Shawab. Anak dari pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun. Ayahnya adalah alim ulama dari Sungai Rimbang, Lima Puluh Kota. Dia termasuk pemimpin dan pejuang yang sangat disegani dalam Perang Padri pada 1803-1838.
Berkali-kali pemerintah kolonial Belanda berusaha menangkap Imam Bonjol, tetapi selalu gagal. Akhirnya pada 25 Oktober 1837, Residen Francais yakni EA Francaius, seorang pejabat kolonial Belanda yang menjabat sebagai Residen di wilayah pantai barat Sumatera, menggunakan siasat perundingan damai untuk memancing pemimpin pasukan Padri, Tuanku Imam Bonjol agar datang ke Palupuh, Agam. Ketika datang itulah dirinya ditangkap,

Dia kemudian diasingkan ke sejumlah tempat terpencil. Mula-mula ke Cianjur, Jawa Barat, kemudian dipindahkan lagi ke Ambon pada tahun 1839. Setelah dua tahun di Ambon, oleh residen Ambon, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Manado. Pada awalnya di daerah Koka, Karesidenan Manado selanjutnya ke Lotta, Minahasa.
Nyekar Makam Imam Bonjol
Imam Bonjol diasingkan bersama seorang anaknya yaitu Sutan Saidi, keponakannya Abdul Wahab, pengawal setianya Bagindo Tan Labiah serta Si gelek atau Galito, bekas pasukan Sentot Ali Basya (panglima perang Pangeran Diponegoro). Pada akhir 1850, Apolos Minggu seorang kopral Belanda dari Maluku ditugaskan mengawal Tuanku Imam Bonjol di Lotta. Apolos menikah dengan putri Mayor Parengkuan bernama Wilhelmina Parengkuan. Keturunan Apolos Minggu menjaga makam Tuanku Imam Bonjol hingga saat ini.

Imam Bonjol meninggal dunia pada 6 November 1854 dalam usia 83 tahun. Hal ini berdasarkan arsip Surat Keputusan Residen Manado yang dikukuhkan oleh Raad van Indie. Pada batu nisan makam tertulis: “Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin Gelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional lahir pada tahun 1774 di Tanjung Bungo, Bonjol, Sumatera Barat”.
Makam Imam Bonjol dibangun dengan arsitektur yang kental bernuansa Minang, yaitu pada atapnya yang berbentuk gonjong. Di dalam area berukuran sekitar 6×10 meter tersebut hanya terdapat makam Imam Bonjol. Pada dinding makam terdapat lukisan marmer yang menampilkan Imam Bonjol sedang mengendarai kuda dalam berperang.
Siang itu, kami juga secara spontan mengumpulkan uang sebesar Rp 1,1 juta yang disumbangkan kepada pengelola makam untuk memperbaiki atap yang rusak akibat angin kencang. Donasi diserahkan kepada ibu Fatma, salah seorang pengelola makam. “Terima kasih atas donasinya. Kami berjanji akan menggunakan dana ini sebaik-baiknya,” ujar Fatma yang merupakan generasi keenam dari Apolos Minggu.

Rudekon asal Depok yang juga masih berdarah Minangkabau mengaku gembira bisa mengunjungi makam Imam Bonjol. “Saya tidak menyangka dengan peristiwa (kunjungan) ini. Selama ini hanya mendengar cerita kehebatan beliau (Imam Bonjol). Tetapi tak pernah tahu makamnya. Sekarang saya bisa nyekar merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa. Melalui bersepeda saya akhirnya bertemu dengan Imam Bonjol,” kata dia.
Sup Rahang Tuna
Dari Lota, kami melanjutkan kayuhan menuju Kota Manado. Beberapa kilometer di depannya, kami masuk kembali ke jalan raya utama menghubungkan Tomohon-Manado. Di jalur ini sempat melewati tanjakan pendek, dan terhadang kemacetan akibat ratusan warga baru selesai mengikuti ibadah di sebuah gereja.
Laju kayuhan sempat sedikit perlahan sejauh puluhan meter. Selepas itu suasana pun stabil kembali. Kami sempat memasuki kawasan Perumahan CitraLand untuk memotret Patung Yesus, salah satu ikon Kota Manado. Di lokasi ini hanya sekitar 20 menit, kemudian kembali ke jalan utama.

Kayuhan kami melalui jalan turunan yang cukup panjang Jalan Sam Ratulangi dengan melewati Universitas Terbuka Manado, Sekolah Polisi Negara (SPN) Manado, Rumah Sakit Bhayangkara Manado, Stadion Klabat, dan berhenti di Restoran Santo Yosef di Jalan Santo Yosef untuk makan siang.
Menu makan siang itu antara lain sup rahang tuna. Semua peserta sangat menikmati sup rahang tuna, sebab jarang tersedia di kota asal masing-masing. “Sup rahang tuna enak. Masaknya bagus. Ikan tunanya pun masih segar sehingga rasanya sesuai ekspektasi,” kata Lina Susana asal Jakarta.
Tata pun mengaku menyukai sup rahang tuna ini. “Satu hal yang saya sukai selama di sini adalah dapat menikmati kuliner fresh seafood khas Sulawesi Utara setiap hari. Sebagai pecinta seafood, hal ini menjadi nilai tambah yang sulit terlupakan,” ungkapnya.
Habis makan siang, kami langsung menuju Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas, jaraknya hanya sekitar 2,5 kilometer. Sekitar pukul 14.30 Wita, semua peserta sudah tiba di hotel. Perjalanan bersepeda kami selama tiga hari pun tuntas. Semua mengaku bahagia dan puas dengan petualangan ini. Rutenya menarik, tidak seserem seperti yang diperkirakan.
Tak Lupa Bunaken
Tata, misalnya, mengaku sebelum berangkat dari Jakarta, yang selalu terbayangkan yakni bakal terbakar sengatan matahari selama tiga hari bersepeda disertai udara kering tanpa angin, dan medan yang cukup menantang dengan tanjakan-tanjakan curam. “Namun, semua itu sirna sejak hari pertama. Teriknya tidak sepedas yang selalu saya bayangkan, bahkan anginnya cukup sejuk meski rute yang dilewati masih dekat laut. Di luar pusat kota Manado, jalanannya pun relatif lengang dan teduh oleh pepohonan,” kata Tata.
Suasana ini memberikan kesan yang mendalam untuk dirinya. Mengayuh sepeda di Sulawesi Utara sangat menyenangkan. Keindahan alam, keragaman budaya dan keramahan masyarakatnya mendukung penuh untuk aktivitas petualangan tersebut. Jika ada waktu dan kesempatan di masa depan, Tata ingin mengulang kembali bersepeda di Sulawesi Utara dan mencoba rute-rute lain yang belum sempat dilewati.

Usai bersepeda sejumlah peserta melanjutkan petualangan ke Bunaken, menikmati keindahan bawah laut kawasan tersebut yang sudah mendunia. Perairan Taman Nasional Bunaken kaya akan biodata laut. Terumbu karang yang terjaga dengan aneka jenis ikan cantik berwarna warni yang sangat mudah ditemukan pengunjung saat menyelam.
“Mumpung sudah ada di Manado lebih baik mengunjungi juga Bunaken. Merasakan sensasi menyelam di perairan Bunaken agar melengkapi cerita perjalanan di Sulawesi Utara,” kata Eric Sugiarto asal Bandung. (Habis)
