Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (15): Nepal-China Bagai Bumi dan Langit
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (15): Nepal-China Bagai Bumi dan Langit

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAOktober 7, 2023Tidak ada komentar6 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Menempelkan stiker lambang negara Nepal, sesaat setelah berada di negara itu. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Mengayuh sepeda selama sebulan penuh di China sungguh luar biasa. Meski hanya sebagian kecil wilayahnya, tetapi saya mendapatkan banyak pengalaman mengesankan. Negeri ini memang sangat indah. Infrastruktur yang tersedia begitu bagus hingga di wilayah pegunungan Everet yang memiliki ketinggian di atas 5.000 meter di atas permukaan laut sehingga memungkinan orang dapat mengunjungi kawasan yang tersulit sekalipun.

Saya dan kru meninggalkan negeri itu pada 20 September 2023 siang melalui pintu perbatasan Gyirong (China)-Rasuwagadhi (Nepal). Hari itu saya berangkat dari Tasidom, kota terakhir yang kami menginap di China. Jarak Tasidom ke Gyirong sejauh 280 kilometer.

Dari pemerintah China, kami hanya mendapatkan visa sebulan, berlaku sejak 20 Agustus 2023. Artinya, paling lambat 20 September 2023, kami harus sudah meninggalkan “negeri tirai bambu” ini.

Saat berada di wilayah Tibet, China, dengan latar belakang panorama pegunungan nan indah. Foto: Arsip Royke Lumowa

Mengingat jarak dari Tasidom ke Gyirong masih jauh, saya memutuskan tidak gowes. Apalagi, kami masih harus melewati beberapa bukit dan sebuah gunung  dengan ketinggian sekitar 5.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Setelah itu menghadapi jalan turunan dengan cukup banyak kelokan hingga di Gyirong yang berada pada ketinggian 2.000an mdpl.

Saya memilih menaiki mobil pengiring agar tiba di border pada tengah hari. Benar saja, sekitar pukul 12.00 waktu setempat kami sudah berada di Gyirong. Jam tersebut loket pelayanan masih tertutup, sebab para petugas sedang makan siang.

Kami juga memanfaatkan kesempatan itu dengan makan siang di kawasan border. Aktivitas kembali normal mulai pukul 13.00. Kami pun melapor diri pada bagian imigrasi, lalu ke bea dan cukai untuk urusan surat-surat mobil. Agen perjalanan Navo membantu proses pelaporan ini sehingga berlangsung lancar.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (9): Jiwaku Bergetar di Laos
Masuk Nepal

Setelah semua urusan tuntas, kami maju beberapa meter kemudian meminta izin kepada petugas untuk menepi ke salah satu lokasi masih dalam wilayah border Gyirong. Di situ, kami melakukan ritual, yakni menyanyikan lagi Indonesia Raya, dan mendengarkan lagu kebangsaan China melalui youtube. Karena sesaat lagi kami segera meninggalkan China.

Selesai ritual, kami menuju Nepal dengan terlebih dahulu melewati sebuah jembatan dengan panjang sekitar 100 meter. Dari jembatan itu mulai tampak perbedaan antara China dan Nepal.

Kondisi jalan di perbatasan Nepal-China. Padahal, jalan ini juga menghubungkan dengan Kathmandu, ibukota Nepal. Foto: Arsip Royke Lumowa

Bangunan pos perbatasan, misalnya. Border Gyirong memiliki gedung yang besar dan megah. Jalan pun beraspal mulus hingga di pintu perbatasan negara. Sebaliknya bangunan border di Rasuwagadhi (Nepal) sangat sederhana. Kondisi jalan pun rusak.

Memasuki wilayah Nepal, mula-mula melewati pos polisi. Petugas polisi memeriksa semua dokumumen perjalanan. Prosesnya berjalan lancar. Apalagi sebelum itu, saya sempat berkomunikasi dengan pimpinan polisi setempat. Kebetulan atasannya di Nepal bersahabat dengan seorang teman saya di TNI AL.

Setelah itu, kami menuju ke bagian imigrasi untuk cap paspor. Lalu berlanjut ke bea dan cukai melaporkan dokumen perjalanan mobil pengiring. Di bagian bea dan cukai ini ada kejadian yang unik. Ternyata cap tertinggal di rumah salah satu petugas. Sang petugas pun kembali ke rumahnya untuk mengambil cap. Rumahnya tidak jauh dari border sehingga kami menunggu tidak terlalu lama.

Selesai urusan dokumen perjalanan mobil, kami menuju kantor imigrasi setempat untuk mengurus visa. Kebetulan Nepal memberlakukan visa on arrival (VOA). Artinya, visa dapat diurus di pos perbatasan atau lokasi kedatangan.

BACA JUGA:  Jelajah IKN, Terintimidasi di Jalur Nusantara
Menempelkan stiker lambang negara Nepal pada mobil pengiring, sesaat setelah berada di negara itu. Foto: Arsip Royke Lumowa.

Proses pengurusan visa tidak berlangsung lama. Petugas menanyakan berapa lama berada di Nepal: seminggu, dua minggu atau tiga minggu? Kami mengatakan hanya dua minggu. Tidak lama kemudian kami membayar biayanya, dan imigrasi pun menerbitkan visa yang berlaku selama dua minggu. Sekitar pukul 14.00, urusan di border Rasuwagadhi pun tuntas.

Jalan rusak dan berdebu

Begitu keluar dari kawasan border, perbedaan suasana di China dan Nepal semakin mencolok. Rumah-rumah penduduk dan gedung perkantoran di Nepal umumnya sederhana. Jalan raya yang ada pun rusak dimana-mana.

Dari border Rasuwagadhi, kami menuju ke Kathmandu, ibukota Nepal. Jaraknya 130 kilometer, tetapi kerusakan jalan tersebut terjadi di banyak titik. Belum lagi badan jalan pun cukup sempit. Suhu udara yang panas memicu debu tanah beterbangan.

Saya memutuskan tidak mengayuh sepeda, melainkan menaiki mobil. Tetapi, kondisi jalan seperti ini membuat laju kecepatan mobil pun sangat terbatas.

Selama perjalanan terdapat begitu banyak pos pemeriksaan yang melibatkan polisi dan tentara setempat. Mirip seperti di China, khususnya wilayah Tibet juga terdapat cukup banyak pos pemeriksaan.

Saya sempat menanyakan mengapa begitu banyak pos pemeriksaan. Alasan mereka, karena jalur itu dekat dengan batas negara. Bahkan, di pos tertentu, petugas menanyakan apakah ada penumpang perempuan di dalam mobil? Kalau pertanyaan seperti itu maka ada dugaan terkait penyelundupan manusia, khususnya perempuan.

Di jalur ini, kami masih melewati tebing-tebing tinggi dan jurang yang dalam. Jalan pun penuh debu. Selama perjalanan, kami kesulitan mendapatkan warung. Beruntung ada satu warung yang buka. Pengelolanya seorang pria yang cukup berumur. Dia yang masak dan melayani tamu.

BACA JUGA:  Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi
Sempat ke gereja

Kami tiba di Kota Kathmandu pada esok harinya, yakni 21 September 2023 pukul 02.00 dinihari. Lama perjalanan 10 jam. Kami menginap di Hotel Aryatara. Beruntung, petugas hotel masih berjaga sehingga proses check in  berjalan lancar. Hotel ini cukup sederhana, tetapi bersih. Harganya setara kurang lebih Rp 400.000 per malam.

Kota Kathmandu mirip Bogor yang berada di pegunungan. Letaknya pada ketinggian sekitar 2.000 mdpl. Kota ini cukup besar, tetapi memiliki infrastruktur yang kurang begitu bagus. Jalan dalam kota pun rusak dimana-mana sehingga penuh debu dan kotor.

Di banyak titik menumpuk banyak sampah. Hanya sedikit kawasan yang tertata rapi dan bersih. Kesadaran masyarakat terhadap lalu lintas pun cukup rendah.

Kawasan tempat hotel kami berada, yakni Tamel, kabarnya paling disukai wisatawan asing. Ada cukup banyak hotel yang beroperasi. Akan tetapi, wilayah ini pun kurang tertata dan masih menumpuk sampah di sejumlah titik.

Salah satu gereja Katolik di Kathmandu yang tidak menyediakan bangku. Umat duduk bersila di lantai beralaskan karpet. Foto: Arsip Royke Lumowa

Minggu, 24 September 2023, saya menyempatkan diri mengikuti ibadah pada salah satu Gereja Katolik di Kathmandu. Kebetulan saat itu saya sedang istirahat gowes. Rasanya bahagia luar biasa, sebab selama perjalanan dari Jakarta, belum sempat beribadah di gereja. Yang unik dari gereja ini adalah tanpa bangku. Semua umat duduk bersila di lantai yang dilapisi karpet. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan lewatkan!!

 

Catatan Royke Lumowa (14): Pekan Paling Bahagia di Tibet

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.