Perjalanan
Catatan Royke Lumowa (8): Tiba di Bangkok Setelah Sebulan Kayuh dari Jakarta
Catatan ROYKE LUMOWA (8)
Setelah mengayuh sepeda selama sebulan mulai dari Monas, Jakarta, Rabu (8/8/2023) pukul 14.00, saya akhirnya tiba di Bangkok, ibukota Thailand. Total jarak yang ditempuh pun mencapai 2.450 kilometer dengan total ketinggian 12.327 meter. Saya sangat bahagia dengan pencapaian ini.
Untuk menuju Bangkok, saya bersepeda dari Hua Hin. Hari itu sekitar pukul 04.00, saya terbangun. Badan terasa sangat fit dan prima setelah beristirahat cukup lama sejak Senin (7/8/2023) sore. Saya memutuskan untuk bersepeda lebih dini. Hari itu juga genap sebulan saya mengayuh sepeda yang mulai dari Monas pada Sabtu, 8 Juli 2023.

Memberi perhatian dan hormat kepada dua pemuka agama di Thailand. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Setelah menyiapkan diri dengan baik, tepat pukul 04.45 waktu setempat, saya memulai gowes. Sementara ketiga teman seperjalanan masih tertidur nyenyak. Saya sengaja tidak membangunkan mereka. Biarkan mereka menikmati tidur yang pulas.
Sebelum berangkat, saya hanya menyampaikan pesan via whatsapp kepada om Yayak selaku manajer touring bahwa saya jalan duluan. Saya sudah bangun tidur pada pukul 04.00. Badan terasa sangat segar dan prima. Daripada tidur lagi lebih baik mengayuh sepeda mulai dini hari.
Jalur khusus sepeda
Gowes pagi itu sungguh mengasyikkan. Jalan pun masih sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor. Tetapi lampu jalan menyala terang benderang di kiri dan kanan badan jalan. Jalan lebar serta beraspal mulus. Saya juga tetap menyalahkan lampu sepeda di bagian depan dan belakang. Tiupan angin pantai yang begitu menyegarkan menyemangati kayuhan saya.
Lebih menarik lagi di Thailand pun selalu tersedia lajur khusus sepeda sehingga saya bersepeda dengan nyaman. Adanya lajur khusus sepeda ini saya lihat mulai dari Singapura, Malaysia, hingga Thailand. Itu tidak hanya di kota, melainkan juga di luar kota.
Artinya sejumlah negara di Asia Tenggara telah memberikan perhatian yang serius dan meluas terhadap keselamatan para pesepeda. Secara tidak langsung mendorong warga untuk giat bersepeda jarak jauh. Ini sungguh membanggakan. Mungkin kebijakan ini bagian dari gerakan menyelamatkan bumi. Bersepedalah kemana pun untuk menyelamatkan bumi.
Hua Hin merupakan salah satu daerah wisata favorit di Thailand. Letaknya berseberangan dengan dari Pataya. Sama-sama wilayah pesisir dari kawasan Teluk Bangkok. Kedua daerah mengapit Bangkok. Hua Hin berada di barat daya Bangkok, sedangkan Pataya berada di sebelah tenggara dari Bangkok.

Berada di depan sebuah gerobak makanan di Thailand. Foto; dokumentasi Royke Lumowa
Perjalanan menuju Bangkok sejauh 147 kilometer itu cukup lancar. Jalan yang ada umumnya landai. Nyaris tidak ada tanjakan ataupun tanjakan yang diselingi turunan (rolling). Saat memasuki kilometer 60, om Yayak dan dua rekan lainnya pun tiba dalam perjalanan dari Huan Hin. Mereka bangun tidur sekitar pukul 05.30, lalu 30 menit sesudahnya langsung berangkat menggunakan mobil pengiring, yakni double cabin Toyota Hilux.
Tiba di Bangkok
Kurang lebih pukul 14.00, saya sudah tiba di Bangkok. Saat itu terjadi kemacetan parah di ibukota Thailand tersebut. Saya memutuskan tidak masuk tengah kota, melainkan memilih jalur pinggir kota menuju utara Bangkok. Kami inap di wilayah utara. Tujuannya agar memudahkan saat keluar dari Bangkok menuju kota berikutnya ke arah utara. Bangkok termasuk salah satu kota dengan kemacetan terparah.
Di Bangkok, saya memutuskan menginap dua malam. Hari berikutnya yakni Rabu, 9 Agustus 2023 mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di tengah kota. Saya bertemu dengan Dubes Pak Rachmat Budiman dan stafnya. Termasuk Atase Kepolisian KBRI Bangkok Kombes (Pol) Endon Nurcahyo. Saya menyerahkan plakat dari Pensiunan Polri. Perkumpulan Pensiunan Polri memang sengaja menyiapkan 47 plakat yang akan saya serahkan kepada 47 Kedubes RI yang dilewati dalam bersepeda dari Jakarta hingga Paris.
Saya juga meluangkan waktu menjajal jalur sepeda (Sky Line) Suvarnabhuni di Bangkok sejauh 23,5 kilometer yang terletak di samping Bandar Udara Suvarnabhuni. Untuk bermain di dalamnya, peminat terlebih dahulu mendaftarkan diri dengan menunjukkan paspor dan identitas lainnya, lalu diberikan tanda pengenal berupa gelang RFID warna biru. Fungsi gelang antara lain untuk membuka portal saat memasuki jalan tol yang mengeliling danau yang ada.

Berfoto di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok. Foto: dokumentasi Royke Lumowa.
Setiap akhir pekan, para pesepeda berjubel menjajal jalur sepeda ini. Jumlahnya bisa mencapai kurang lebih 3.000 pesepeda. Ada beberapa pilihan bagi pesepeda yang menjajal. Bisa memilih mengikuti pleton cepat, menengah, pelan atau bersepeda seorang diri.
Tersedia dua jalur. Ada jalur warna biru untuk kecepatan normal, dan jalur warna ungu untuk pleton cepat atau kebut-kebutan. Ketika sudah berada di dalam jalur, pesepeda wajib menuntaskan rute yang tersedia sejauh 23,5 kilometer, dan dilarang berbalik arah. Di dalam kawasan itu tersedia kamar mandi, kamar kecil, restoran, café, termasuk toko sepeda.
Malam harinya, saya dijamu makan oleh Pak Endon Nurcahyo. Dia mengajak juga sejumlah pesepeda di Bangkok. Ada warga Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Thailand. Ada pula yang pesepeda asli orang Thailand.
Mereka banyak bertanya seputar rencana kayuhan saya dari Jakarta hingga Paris. Ada yang mengaku suka touring sepeda jarak jauh, tetapi tidak mencapai ribuan kilometer dan selama berbulan-bulan. Mereka memberikan apresiasi kepada saya, dan mendoakan agar perjalanan ini selalu lancar.
Bertemu lagi dengan kru
Dalam mengayuh sepeda menuju Bangkok, saya dan kru sempat berpisah. Dua anggota, yakni om Yayak M Saat dan Dimas GA Priyanto harus berpisah karena kembali lagi ke border Dannok dan Betong untuk menyelesaikan izin masuk mobil pengiring ke Thailand pada 2 Agustus 2023. Selama dua hari kami berpisah.
Jumat, 4 Agustus 2023 pagi dalam perjalanan dari Nakhon Si Tammarak menuju Surat Thani, saya sengaja gowes sendiri. Om Stefi Oswald Wungkana yang dua hari terakhir bersama saya, pagi itu menunggu om Yayak dan Dimas di kota Nakhom Si Tammarak. Ketiganya kemudian menyusul saya, dan kami akhirnya berjumpa lagi di kilometer 90 saat menjelang makan siang.
Rasanya senang sekali, akhirnya kami berempat dapat berkumpul kembali. Mobil pengiring pun tetap bersama kami. Dua hari sebelumnya, perhatian saya harus terbagi dua. Setiap kali istirahat saya perlu mengecek keberadaan om Yayak dan Dimas bersama mobil.

Bertukar nomor kontak dan akun media sosial dengan salah seorang pesepeda di Thailand. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Setelah tim sudah lengkap, saya merasa sangat lega. Perjalanan pun semakin lancar. Hembusan angin masih cukup kencang, namun tidak menjadi hambatan serius. Beberapa kali, saya berlindung di belakang mobil untuk menghindari hembusan angin kencang yang menguras tenaga.
Yang menarik pada rute ini adalah bangunan rumah adat yang berbentuk rumah panggung. Berbahan baku kayu, tidak jauh berbeda dengan rumah-rumat ada di Sumatera, bahkan di Minahasa, Sulawesi Utara.
Yang unik lagi adalah banyaknya patung ayam jantan. Warga setempat selalu menempatkan di tepi jalan dan di depan rumah. Dalam tradisi masyarakat Thailand, ayam jantan menyimbolkan dewa yang memberikan jalan menuju kemakmuran dan kekayaan. Mereka selalu berdoa atau memberi penghormatan khusus di depan patung ayam. Jarak dari Nakhon Si Tammarak menuju Surat Thani sejauh 145 kilometer.
Persoalan terbesar berada di Thailand adalah bahasa. Masyarakat setempat tidak banyak yang mampu berbahasa Inggris. Maka, saat berada di warung atau restoran saya mengandalkan terjemahan suara melalui google. Ini sangat membantu dan memudahkan dalam berbelanja atau bertanya seputar rute perjalanan dan informasi lainnya.
Ban sepeda bocor
Persoalan lain yakni makanan. Rasa makanan di wilayah Tengah Thailand sedikit asam dan asin sehingga kurang nyaman di lidah. Tetapi, suka atau tidak suka, saya harus tetap memakannya agar memiliki energi untuk tetap mengayuh sepeda.
Hari berikutnya saat melewati rute Surat Thani menuju Mu Ban Thep Thani sejauh 148 kilometer juga masih menghadapi angin kencang. Di kilometer 10, saya bertemu dengan seorang warga lokal yang sedang bersepeda menuju rumahnya yang lain.
Kami gowes bareng selama kurang lebih 20 kilometer. Dia mengaku sebagai perajin bambu. Dia meminta nomor kontak dan nama akun media sosial saya. Lelaki setengah baya itu mengaku ingin mengikuti laporan perjalanan saya hingga Paris.
Selang beberapa kilometer berikutnya, saya bertemu lagi dengan pesepeda lainnya. Sepedanya dipasangkan dengan panier dengan mengangkut sejumlah barang. Katanya dia ingin ke Chiang Mai, lalu berlanjut menuju Laos.
Tidak lama kemudian, dua ban sepeda kempes sekaligus akibat terkena kayu saat saya gowes berlindung di belakang mobil. Kejadian ini merupakan kedua kalinya sejak gowes dari Jakarta. Kami istirahat sejenak untuk mengganti kedua ban dalam sepeda. Setelah itu melanjutkan kayuhan.
Perjalanan hari itu menghadapi suhu udara melebihi 40 derajat celicius. Saya terpaksa berhenti beberapa kali untuk minum air dan istirahat sejenak. Saya juga sempat meminum air kepala muda. Rasanya manis dan segar.

Kelapa muda Thailand terkenal rasa manis dan lembut. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Air kepala muda Thailand memang terkenal paling manis dan berkualitas terbaik di dunia. Aromanya pun lembut. Kelapa ini merupakan varietas lokal yakni Nam Hom atau air harum. Buahnya dipetik saat berusia 28-32 hari, dimana saat itu kepadatan nutrisinya sudah mencapai puncak.
Ban sepeda kempes kembali pada kayuhan dari Mu Ban Thep Thani menuju Phurak sejauh 154 kilometer, Minggu 6 Agustus 2023. Baru gowes 14 kilometer, kasus tersebut terjadi akibat terkena serpihan kaca. Akhirnya, saya putuskan mengganti sepeda dari warna biru dengan sepeda berwarna merah putih bertuliskan Indonesia dan Royke World Cycling.
Saya sempat berhenti sejenak di kilometer 87,87. Mendapatkan angka unik seperti ini saat gowes tidak mudah. Itu sebabnya saya abadikan. Secara umum perjalanan hari itu lancar dan aman. Kami tiba di Phurak menjelang petang. Penginapan yang ada umumnya berupa motel, sebab hanya menjadi tempat transit.
Fisik sempat drop
Senin, 7 Agustus 2023 saya bersepeda dari Phurak menuju Hua Hin sejauh 149 kilometer. Sebetulnya sejak bangun pagi, kondisi badan saya terasa kurang fit. Akan tetapi, saya mencoba bersepeda saja barangkali setelah berkeringat mungkin kondisi fisik saya kembali pulih.
Kayuhan sepeda saya terus melaju. Namun, badan saya tidak juga membaik. Saya akhirnya memutuskan mengurangi kecepatan. Gowes sesuai kemampuan fisik. Saya terus mencoba hingga di kilometer 102. Di situ, saya dan kru makan siang. Kondisi fisik tidak berubah.
Setelah itu, tersisa 47 kilometer hingga Hua Hin, saya memutuskan untuk loading. Saya membutuhkan waktu untuk istirahat dan tidur lebih lama lagi agar fisik bisa terpulihkan. Maka, begitu tiba di penginapan di Hua Hin, saya langsung tidur. Sangat nyenyak.
Sebetulnya sehari sebelumnya melalui garmin, saya sudah diingatkan agar hari itu harus istirahat dengan waktu tidur yang lebih lama. Saya melawan karena melihat situasi di Phurak yang tidak memungkinkan. Saya memutuskan tetap melanjutkan gowes, dan ingin beristirahat di Bangkok.

Berpoese di depan tugu yang berbentuk botol di salah satu lokasi di Thailand. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Nyatanya, fisik saya drop sebelum tiba di Bangkok. Saya harus berhenti di kilometer 102. Di Hua Hin saya bisa tidur dan istirahat guna memulihkan fisik dengan baik. Setelah tidur nyenyak cukup lama di Hua Hin, esok paginya saat bangun tidur kondisi fisik saya pulih kembali. Saya pun melanjutkan bersepeda hingga tiba di Bangkok dengan penuh semangat.
Yang menarik dari rute Phurak-Hua Hin yakni di sepanjang jalan sejauh 149 kilometer itu pada kiri dan kanan jalan dipenuhi pohon kelapa. Jumlahnya ribuan pohon dalam jarak yang cukup dekat. Berbuah lebat. Saya yakin para petani setempat pasti selalu mendapatkan keuntungan sehingga rela menjaga dan merawat dengan begitu bagus. Hamparan pohon kelapa seperti ini belum pernah saya temui di wilayah sentra kelapa di Indonesia, seperti di Sulawesi Utara.
Hebatnya lagi, pada batang pohon kelapa tidak ada trap yang dibuat untuk menjadi pijakan dalam memanjat untuk memetik buah seperti yang terjadi pada pohon kelapa di Indonesia. Ternyata, di Thailand, pemetik kelapa bukan petani atau buruh tani, melainkan monyet yang terlatih. Seekor monyet sanggup memetik puluhan pohon kelapa dalam sehari. Luar biasa!
Menuju Laos
Sejak Kamis, 10 Agustus 2023, saya sudah meninggalkan Bangkok, dan mengayuh ke arah utara. Hari itu saya menuju sebuah kota kecil bernama Sing Buri sejauh 138 kilometer. Kali ini saya juga berangkat lebih dini yakni sekitar pukul 04.30.
Siang itu, untuk kelima kalinya ban sepeda bocor. Kali ini sudah ban sekaligus. Yang satu terkena staples. Ban satunya lagi terkena duri saat saya membawa sepeda berfoto di tengah sawah. Ban dalam yang rusak diganti dengan yang baru. Saya memang sengaja membawa cukup banyak stok ban dalam dan ban luar. Khusus ban yang hanya alami bocor halus, maka kami menambal setelah tiba di kota tujuan berikutnya sehingga bisa dipakai lagi.

Berfoto di kebun kelapa di Thailand. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Esok harinya, saya melanjutkan gowes menuju Noen Sawan sejauh 145 kilometer. Kali ini pun saya tetap memilih mengayuh lebih pagi, yakni pukul 04.30. Daerah ini termasuk wilayah pedesaan. Tersedia cukup banyak penginapan dengan harga murah. Meski demikian, penginapan yang ada memiliki eksterior dan interior yang tertata bagus. Tidak ada sampah. Kamar tidur dan kamar kecil pun bersih serta rapi.
Kami makan siang di kilometer 124. Di situ ada sebuah restoran yang menarik perhatian. Menu yang disediakan antara lain sup daging sapi. Ternyata sup yang ada enak banget, sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Saya mengganggap inilah makanan terenak yang dirasakan selama berada di Thailand. Sebelum pukul 15.00, saya sudah tiba di Noen Sawan.
Pilihan berangkat lebih pagi semakin sering dilakukan bertujuan agar saat matahari mulai meninggi perjalanan saya sudah cukup jauh. Selain itu, kesempatan tiba di kota tujuan pun lebih cepat sehingga memungkinkan istirahat menjadi lebih lama.
Saat ini, saya terus bergerak ke arah utara. Beberapa hari ini, saya masih mengayuh sepeda di wilayah Thailand. Kemungkinan pada Rabu, 16 Agustus 2023, saya masuk wilayah Laos. Waktu ini molor sehari dibanding jadwal sebelumnya. Pemicunya karena mulai dari Noen Sawan hingga perbatasan Laos bakal menghadapi cukup banyak tanjakan sehingga laju sepeda bakal sedikit tersendat. Jarak tempuh harian pun akan lebih pendek. Mohon doanya ya. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (7): Angin Kencang Hantui Kayuh di Lintas Timur Thailand
Bisnis
Ambisi China, Swasembada Durian
Oleh JANNES EUDES WAWA
China yang selama ini menjadi importir durian terbanyak di dunia ternyata ingin mandiri. Mereka sadar betul permintaan buah beraroma khas tersebut di pasar domestik terus meningkat dengan volume tanpa batas sehingga jangan sampai sepenuhnya bergantung pada negara lain. Ambisi Negeri Tirai Bambu ini adalah swasembada durian.
Itu sebabnya, setelah menghabiskan miliran dollar AS selama bertahun-tahun sebagai importir, sejak tahun 2018, China mulai membudidayakan durian. Budidaya tersebut terpusat di Provinsi Hainan. Daerah ini berada di wilayah paling selatan memiliki iklim tropis yang cocok untuk tanaman yang memiliki kulit berduri tersebut.
Usaha ini tidak dilakukan secara sporadis oleh segelintir petani, melainkan melalui kerjasama melibatkan semua pihak dengan dukungan penuh pemerintah China. Mereka bersama-sama merencanakan dan menyiapkan blue print swasembada durian dengan matang dan detail.
Kalangan perguruan tinggi bertugas melakukan riset yang mendalam dan detail guna menghadirkan bibit durian berkualitas terbaik dan mendapatkan lahan yang cocok. Mereka juga tidak sungkan mengundang para ahli durian dari Thailand, Vietnam dan Malaysia untuk berbagai pengalaman.

Durian khas Indonesia. Arsip Jelajah
Saat yang sama Pemerintah China menyiapkan irigasi atau waduk dan meluncurkan program subsidi untuk membantu petani dan pelaku agrobisnis. Bantuan tersebut meliputi antara lain distribusi bibit, pelatihan teknis pengolahan lahan dan perawatan tanaman serta modal usaha.
Langkah itu dilakukan serius, sebab durian termasuk tanaman tropis yang sensitf dan banyak pihak belum meyakini lingkungan alam China cocok dan mampu mendukung rencana dan ambisi tersebut. Belum lagi, waktu berbuah pertama baru terjadi setelah tiga hingga lima tahun merupakan sebuah tantangan berat dan risiko ekonomi yang serius bagi petani perintis.
“Menanam durian di China bukanlah hal mudah. Diperlukan upaya, eksperimen dan ketekunan selama bertahun-tahun,” kata Lang Haibo, perwakilan petani di Sanya, Provinsi Hainam. Dia mengaku, selain kebijakan pendukung, pemerintah China mendorong adanya inovasi teknologi dan pengembangan industri durian yang terintegrasi. (Antara 22/7/2025).
Perluas Area Budidaya
Melansir Produce Report terungkap Provinsi Hainan telah berkembang menjadi pusat produksi durian utama di China. Kurang lebih 2.000 hektar perkebunan durian yang tersebar di wilayah Sanya, Baoting, dan Ledong. Area budidaya terus meluas ke utara, dengan kualitas dan hasil panen yang menunjukkan peningkatan signifikan. Tahun 2026 ini ditargetkan dapat mencapai 100.000 hektar.
Khusus di Sanya, area perkebunan durian telah mencapai 600 hektar, di mana 40 persen di antaranya sudah berbuah sejak tahun 2024. Produksi dari wilayah ini ditargetkan mencapai lebih dari 200 ton.
Situasi serupa terjadi di Baoting dengan 600 hektar dan 14 persen di antaranya juga mulai berbuah pada tahun 2024. Di Ledong, area budidaya mencapai 800 hektar melibatkan 18 perusahaan dan petani independen. Bahkan, sebuah “kota durian” sedang dirancang di area seluas 300 hektar. Mereka juga terus meningkatkan jumlah lahan perkebunan durian.
Bahkan, di Mingshan, Sanya, petani melakukan pola tumpang sari dengan menanam juga nanas, sirih dan pisang. Sambil menunggu panen durian mulai tahun kelima, petani dapat memperoleh sumber pendapatan dari komoditas yang ada.
Verietas Unggul
Presiden Asosiasi Durian Hainan sekaligus Manajer Umum Perusahaan Pertanian Hainan Youqi, Du Baizhong mengungkapkan, perusahaannya mengelola perkebunan durian sekitar 530 hektar di Sanya, 230 hektar di Ledong dan 120 hektar di Baoting. Produksi pertama pada 2023 dan 2024 sekitar 200 ton per tahun. Namun tahun 2025 produksi bisa mencapai minimal 2.000 ton. Saat itu sebagian besar pohon durian sudah berproduksi.
Pemerintah China serius berinvestasi dalam pengembangan varietas durian. Profesor Meng Lei dari Universitas Hainan menyatakan lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan perusahaan di Hainan sedang aktif mengembangkan varietas baru. Mereka juga selalu aktif mengundang ahli durian dari Thailand, Malaysia dan Vietnam untuk berdiskusi.
Para ahli juga melakukan riset terhadap tanah yang ada di wilayah Hainan yang cocok untuk budidaya durian. Hal ini sangat penting, sebab pada tahun 1950an petani di provinsi itu pernah melakukan budidaya durian, tetapi gagal. Kali ini mereka tak menginginkan kasus tersebut terulang kembali. Dari riset terkait kondisi tanah membuat keberhasilan budidaya durian tergolong tinggi. Kelangsungan hidup tanaman mencapai 98 persen.

Durian asli Bali. Arsip Jannes
China juga menginginkan peningkatan kualitas dan produktivitas buah. Termasuk di antaranya penemuan varietas tahan dingin sehingga dapat dibudidayakan di wilayah dengan garis lintang lebih tinggi. Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Tropis Tiongkok telah menguji coba varietas ini di provinsi Guangxi dan Sichuan.
Sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas, beberapa petani di Hainan telah mengimpor bibit durian dari Malaysia, terutama varietas premium seperti Musang King dan durian duri hitam (black thorn). Mereka berambisi menemukan bibit durian yang mampu berproduksi sepanjang tahun.
Teknologi Budidaya
Demi kelancaran suplai air, pemerintah membangun irigasi atau waduk, memasang sistem irigasi otomatis yang dapat membantu menyalurkan air dan pupuk secara tepat. Petani juga menggabungkan penyiangan manual dan mekanis serta menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Selama fase pertumbuhan awal, setiap pohon hanya boleh mempertahankan 2-5 buah. Tujuannya untuk memusatkan nutrisi, membantu pohon beradaptasi lebih baik dan meningkatkan kualitas buah di kemudian hari.
Bahkan, petani dan perusahaan Perkebunan durian di Hainan juga memanfaatkan sumber daya ikan laut untuk memproduksi pupuk berbasis ikan. Pupuk ini tidak hanya membantu buah durian berkembang lebih sempurna, tetapi juga berkontribusi pada rasa yang lebih kaya.
China juga mengembangkan model dan teknik pertanian yang sesuai untuk pengelolaan pupuk, irigasi, pengendalian hama dan penyakit, serta pertumbuhan. Termasuk mengembangkan teknologi perlakuan pembentukan bunga dan buah serta peningkatan produktivitas dan menstabilkan hasil panen di bawah kondisi tanah yang ada.
Termasuk penerapan teknologi irigasi, sistem hujan buatan dan peralatan air serta pemupukan yang teritegrasi, perangkat deteksi hama, analisa spora dan platform mahadata yang menyediakan informasi pemantauan perkembangan dan kondisi tanaman durian secara cepat (real time). “Sekarang dapat memantau kondisi kesehatan dan kebutuhan nutrisi setiap pohon durian secara nyata dan cepat,” ungkap Lang.
Inovasi Pascapanen
Inovasi juga merambah pada proses pascapanen. Hainan Youqi Agricultural Co, Ltd. telah mengembangkan lini produksi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menyortir durian. Teknologi ini dapat secara otomatis mengidentifikasi kualitas buah dan memisahkan durian yang cacat, sehingga meningkatkan pengendalian mutu dan efisiensi penyortiran.
Perusahaan tersebut juga sedang menggalakkan produk-produk bernilai tambah, antara lain permen durian dan kue bulan durian. Hal itu untuk mendorong pertumbuhan industri sekunder durian.
Mengingat pada tahap awal, produksi durian masih sangat kecil sehingga harga durian asli China masih lebih tinggi dibanding durian impor. Namun demikian, yang dapat mereka tawarkan sebagai keunggulan adalah kesegeraran dan cita rasa yang lebih unggul berkat pertanian pintar lokal dan rantai pasokan yang lebih pendek.
China merupakan negara pengimpor sekaligus konsumen durian terbesar di dunia. Menurut data Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs/GAC) China, total volume impor melonjak dari 298.800 ton pada 2015 menjadi sekitar 1,36 juta ton pada 2024. Nilai impor mencapai Rp 125 triliun.
Setiap tahun, permintaan impor durian selalu meningkat rata-rata tujuh persen. Hal ini menyadarkan petani dan perusahaan-perusahaan di China untuk mandiri sekaligus menekan impor durian. Jumlah penduduk China sebanyak 1,425 miliar jiwa adalah potensi pasar yang amat besar.
Gebrakan mandiri durian di China ini menjadi ancaman nyata bagi negara-negara produsen durian, seperti Thailand, Vietnam, Malaysia dan Indonesia. Apalagi, keempat negara tersebut selama ini menjadikan China sebagai tujuan utama ekspor durian.
Indonesia Perlu Antisipasi
Manuver China ini sebetulnya hal normal. Dengan pasar domestik yang sangat besar dan tidak terbatas itu sepantasnya jangan mengandalkan sepenuhnya pada negara lain. Ada risiko permainan harga sepenuhnya berada di tangan importir dan eksportir. Konsumen berpeluang menjadi korban.
Meski demikian, perlu menjadi perhatian kita bahwa China mampu memproduksi barang dengan harga murah. Hal juga berlaku pada komoditas buah-buahan. Jeruk, anggur dan apel dari China menguasai pasar Indonesia, sebab menawarkan harga murah dan kualitas bagus. Bukan tidak mungkin kelak kasus serupa juga terjadi pada durian. Durian China menyerbu pasar Indonesia.
Itu sebabnya, gerakan China ini seharusnya menjadi peringatan dini bagi pemerintah dan petani di Indonesia agar segera membenahi kembali usaha budidaya, distribusi dan pemasaran durian secara total dari hulu hingga hilir. Tujuannya untuk mendapatkan durian yang memiliki daging terbaik dengan harga yang ideal. Apalagi, belakangan ini harga durian cukup mahal, dan seringkali tidak masuk akal.
Indonesia yang memiliki penduduk kurang lebih 285 juta jiwa ini, dimana sekitar 80 persen di antaranya adalah penyuka durian menjadi pasar yang besar. Potensi ini juga bakal menjadi target China di masa depan. Jika harga durian China lebih murah dengan daging yang lebih berkualitas bukan tidak mungkin konsumen Indonesia bakal lebih memilih durian impor. (Habis)
Bisnis
Durian Indonesia Hanya Jago Kandang
Oleh JANNES EUDES WAWA
Indonesia boleh saja berbangga sebagai negara penghasil buah durian terbanyak di dunia. Bahkan memiliki keanekaragaman genetik sekitar 21 dari 27 spesies durian di dunia. Akan tetapi, durian Indonesia ternyata hanya jago kandang. Hampir 94 persen terdistribusi di pasar lokal. Sama sekali tidak berdaya di pasar global.
Di pasar dunia justru Thailand dan Vietnam yang menjadi rajanya. Kedua negara ini menguasai 94,1 persen dari seluruh perdagangan durian. Indonesia hanya kebagian 0,043 persen. Sungguh ironis dan memprihatinkan. China tetap tercatat sebagai importir durian terbesar.
Berdasarkan data Trade Map dalam Durian Global Market Report oleh Plantation Internasional, volume ekspor durian di pasar global pada tahun 2024 sebanyak 1.372.863 ton. Dari jumlah itu, Thailand menjadi negara terdepan dalam memenuhi permintaan durian di pasar global dimana kontribusinya mencapai 857.400 ton atau 62,4 persen dengan nilai transaksi sekitar 4,39 miliar dollar AS setara Rp 71,42 triliun (kurs Rp 16.269 per dollar AS).
Jumlah ini meningkat siginifikan dibanding tahun 2018. Berdasarkan data dari pihak yang sama tercatat tahun 2022, misalnya, nilai ekspor durian Thailand mencapai 3,199 miliar dollar AS, dan tahun 2018 senilai 1,235 miliar dollar AS.
Berikutnya Vietnam. Negara ini melakukan gebrakan siginifikan sehingga tahun 2024 mampu mengekspor durian mencapai 435.700 ton atau 31,7 persen dengan nilai transaksi 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.

Durian Duri Hitam.
Sisanya diisi Hongkong yang pada tahun 2024 mengekspor 40.300 ton, Malaysia 22.400 ton, Filipina 16.000 ton, Indonesia hanya 591 ton, Bangladesh 227 ton, Kamboja 117 ton, Republik Dominika 82 ton dan Sri Lanka 46 ton.
Thailand Cerdas
Mengapa Thailand dapat menguasai pasar ekspor buah durian? Terobosan apa saja yang telah terjadi di negeri dalam beberapa tahun terakhir?
Thailand telah lama melihat potensi buah durian di pasar global. Pada tahun 2012, misalnya, negara itu sudah memiliki lahan tananam durian seluas 96.000 hektar, dan tahun 2019 melonjak tajam menjadi 152.000 hektar.
Bahkan, otoritas pertanian setempat menargetkan volume produksi buah durian di Thailand pada tahun 2022 mencapai 1,4 juta ton. Artinya terjadi peningkatan signifikan dari tahun 2019 sebanyak 656.777 ton.
Thailand sungguh cerdas. Negeri Gajah Putih itu bukan semata-mata membangun perkebunan durian skala besar dengan pengelolaan yang profesional, tetapi dengan serius mengembangkan riset yang mendalam, terpadu dan berkesinambungan guna menyediakan bibit berkualitas.
Mereka sadar betul bahwa hanya dengan bibit yang baik akan menghasilkan buah durian yang terbaik seperti keinginan konsumen. Thailand juga menyiapkan lahan khusus yang luas dan terawat. Tanaman mendapatkan perawatan, pemupukan yang rutin dengan pengairan yang teratur.
Permintaan yang tinggi di pasar luar negeri membuat sejumlah petani karet, singkong dan lainnya beralih menanam durian. Dari sekian banyak jenis durian di Thailand, hanya tiga jenis menjadi unggulan. Ketiga jenis itu adalah Kanyao, Chanee dan Monthong. Sejauh ini durian Monthong yang paling terkenal.
Durian montong menjadi golden pillow, sebab memiliki rasa yang enak dan manis, tidak begitu beraroma, daging buah yang tebal dan pulen. Ukuran biji yang kecil dan pipih, serta kesegarannya bisa bertahan cukup lama. Beratnya berkisar 3 – 5 kilogram per buah. Ada pula yang mencapai 10 kilogram per buah.
Lebih dari 90 persen buah durian Thailand diekspor. Tujuan utama adalah China, lalu Hongkong, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang. Bahkan, Thailand juga menjajaki pasar di Timur Tengah.
Vietnam Bangkit
Di luar Thailand, ada Vietnam yang juga terus gencar mengembangkan tanaman durian. Target utama adalah merebut pasar China dalam volume yang sebanyak-banyaknya. jumlah penduduk China mencapai 1,425 miliar jiwa merupakan potensi pasar yang sangat besar. Bahkan, bermodalkan jaraknya yang dekat dengan China, Vietnam menawarkan pengiriman melalui jalan darat sehingga dapat menekan biaya yang lebih rendah.
Ekspor melalui jalan darat dari Vietnam ke China hanya menempuh jarak sejauh 1.306 kilometer. Lama perjalanan maksimal tiga hari tentu menghemat biaya transportrasi. Hal ini membuat harga eceran durian di China pun lebih murah.
Harga durian Vietnam di China rata-rata 4 dollar AS per kilogram. Harga ini lebih rendah dibanding durian dari negara Asia Tenggara lainnya sekitar 6 dollar AS per kilogram. Tidak mengherankan permintaan durian dari Vietnam pun cukup tinggi. Pada semester I tahun 2023, Vietnam meraih devisa dari mengekspor buah durian ke China yakni 876 juta dollar AS atau setara Rp 13 triliun. Tahun 2024, Vietnam mendapatkan devisa sebesar 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.
Vietnam juga mengembangkan riset terpadu untuk menghasilkan durian yang dapat diproduksi sepanjang tahun. Sejauh ini Vietnam telah memiliki perkebunan durian seluas kurang lebih 150.000 hektar di kawasan Delta Mekong dan dataran tinggi.
Vietnam juga menandatangani protokol ekspor dengan China tahun 2022 dimana salah satu syarat yakni seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengiriman harus dapat dilacak. Di dalam negeri juga pemerintah Vietnam menggalakkan peningkatan kualitas, inovasi teknologi pascapanen dan sistem logistik yang canggih. Hasilnya, ekspor durian Vietnam melonjak 7,8 kali lipat.
Refleksi untuk Indonesia
Timbul pertanyaan mengapa durian Indonesia masih kalah bersaing di pasar global?
Apakah mungkin Indonesia dapat menguasai pasar ekspor durian di pasar global? Jika mampu, apa yang perlu segera dilakukan pemerintah dan dunia usaha di Indonesia?
Secara umum, tanaman durian mampu tumbuh dan berkembang pada lahan dengan ketinggian 100-800 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu udara berkisar 22-30 derajat celcius dan tidak toleran dengan suhu dingin. Curah hujan berkisar 1.500-3.000 mm per tahun dengan bulan basah dan kering yang jelas dan membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang tahun.

Menikmati durian di Tele, kawasan Danau Toba. Arsip Jelajah Bike
Sejauh ini Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan merupakan wilayah yang cocok untuk budidaya tanaman durian. Meski demikian, sejumlah daerah seperti di Lombok, Flores, Sumbawa, Papua, Maluku, dan Kepulauan Riau ternyata selama ini menghasilan buah durian yang berkualitas baik.
Selama ini hampir 80 persen pohon durian di Indonesia tumbuh secara alami, dan nyaris tak pernah mendapatkan perawatan yang baik dan kontinyu. Akibatnya, produktivitas dan kualitas buah selalu rendah sehingga hanya memenuhi permintaan pasar domestik atau lokal. Buah yang ada sulit menembus pasar global, sebab mengalami sejumlah kendala baik teknis maupun nonteknis.
Empat Persoalan
Di luar itu, ada pula sejumlah masalah serius yang membelit usaha budidaya durian di Indonesia. Pertama, belum adanya riset tanaman durian yang terpadu. Akibatnya, belum tampak durian unggulan Indonesia dengan kualitas prima. Kalau pun ada, riset itu hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas.
Kedua, selama ini budidaya durian cenderung secara tradisional, sebab umumnya hanya melibatkan petani dengan areal yang terbatas. Akibatnya, perhatian pada perawatan dan pemupukan tanaman sangat terbatas. Itu sebabnya, petani perlu dibekali pengetahuan tentang pemilihan bibit unggul, perawatan dan pemasaran. Kecerdasan petani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan usaha durian. Negara harus terlibat langsung dalam upaya pencerdasan petani.
Ketiga, usaha budidaya tanaman durian belum banyak melibatkan perusahaan swasta untuk mengembangkan perkebunan skala besar yang mampu produksi sepanjang tahun dengan kualitas terbaik. Belakangan setelah melihat pasar yang tidak terbatas, pihak swasta mulai bergairah mengembangkan budidaya durian.
Kehadiran pihak swasta dapat mendorong adanya buah durian yang berkualitas, unggul dan sesuai standar global serta fokus ekspor. Karena pasar ekspor menuntut adanya kualitas, kuantitas dan kontiunitas. Dengan iklim tropis yang dimiliki Indonesia membentang dari Aceh hingga Papua memicu durian dapat berproduksi sepanjang dengan waktu produksi di setiap sentra yang berbeda-beda.

Durian di Balige, tepi Danau Toba. Arsip Jelajah Bike
Keempat, pemerintah perlu melakukan promosi buah durian unggulan Indonesia ke pasar global. Selama ini setidaknya ada tujuh durian Indonesia yang populer yakni durian montong, durian petruk, durian bawor, durian musang king, durian tembaga, durian bokor, durian duri hitam dan durian merah.
Ayo Bangkit
Sudah waktunya semua pihak mengerahkan segala kekuatan untuk mengembangkan tanaman durian secara lebih baik. Para petani perlu mendapatkan informasi yang akurat baik tentang perawatan tanaman dan prospek buah durian yang memiliki pasar tanpa batas.
Melalui informasi budidaya yang benar, petani pasti semakin bergairah. Mereka akan bekerja penuh semangat guna menghasilkan buah durian berkualitas tinggi dengan volume produksi yang besar. Apalagi dengan dukungan pasar yang luas dan harga yang tinggi, maka durian dapat menjadi salah satu andalan Indonesia meraup devisa.
Pasar domestik memang semakin menjanjikan. Akan tetapi, penjualan di pasar global juga perlu ditingkatkan. Di luar negeri pasar durian seolah tanpa batas. Penandatanganan protokol ekspor durian beku antara Indonesia dan China pada 25 Mei 2025 menjadi langkah yang bagus. Bahkan, sudah delapan perusahaan yang lolos verifikasi untuk mengekspor daging durian beku ke China. Sebuah peluang sudah terbuka lebar.
Ayoo bangkit durian Indonesia!! (Bersambung)
Baca juga:
Bisnis
Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!
oleh JANNES EUDES WAWA
Sejak awal Desember 2025, penjualan buah durian semakin marak di Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang dan sekitarnya. Harga pun bervariasi. Paling murah Rp 25.000 per kilogram. Maraknya penjualan buah beraroma khas menyengat ini menandakan musimnya telah tiba.
Setiap kali terjadi pergantian tahun, buah durian pun menyerbu kota. Tidak sedikit pula lapak bermunculan untuk memasarkan buah yang memiliki daging lembut seperti krim, berwarna kuning hingga putih, manis dan bertekstur unik tersebut.
Di setiap lapak, buah berkulit keras dan berduri ini tidak pernah sepi pembali. “Penggemar durian di Jakarta dan sekitarnya banyak banget sehingga gampang menjualnya. Tidak lebih dari dua hari sudah habis terjual,” kata Purwadi, penjual durian di Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (8/1/2026).
Dia mengaku saat ini durian dari Bengkulu, Jambi dan Palembang semakin banyak yang masuk di Jakarta. Sedangkan dari Sumatera Utara tahun ini sedikit berkurang akibat musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Durian Jawa Timur dan Jawa Tengah juga mulai masuk Jakarta dan sekitarnya, tetapi jumlahnya masih terbatas. Minggu kedua Januari 2026 bakal makin banyak durian dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi menyerbu Jakarta.
Di antara begitu banyak durian, ada sejumlah jenis yang harganya lumayan mahal. Misalnya, durian montong Rp 100.000-Rp 120.000 per kilogram. Durian bawor Rp 200.000 per kilogram. Durian Masmuar Rp 300.000 per kilogram, durian musang king Rp 400.000 per kilogram. Termahal adalah durian duri hitam (black thorn) dan tembaga sekitar Rp 600.000 per kilogram.

Buah durian kian marak pertanda musimnya telah tiba. Arsiap Jannes
Kelebihan durian duri hitam yakni dagingnya berwarna kuning keemasan menyala dan tebal, cita rasa yang lezat, manis, legit, harum, sedikit pahit dan berbiji banyak. Testur buahnya sangat creamy. Komposisinya pas dan gampang meleleh di mulut.
“Meski mahal, tetapi lebih cepat laku terjual. Di Jakarta dan sekitarnya ada banyak penikmat durian. Mereka tidak peduli harga mahal, yang penting bagus dan sesuai selera,” ungkap Purwadi.
Menunggu Festival
Selain warga, menurut Purwadi, sejumlah pelaku usaha yang memproduksi aneka produk berbahan baku durian, seperti es krim dan roti juga memburu daging durian. Mereka membeli untuk persediaan selama setahun. Itu sebabnya durian selalu habis terjual.
Aroma buah durian yang kuat itu selalu memicu respon yang ekstrim: cinta mati atau pembenci berat. Para pembenci menilai buah tersebut berbau busuk yang memincu untuk muntah sehingga patut dhindari dan dijauhkan. Sebaliknya pencinta durian mengklaim buah ini memiliki kelezatan tiada tara sehingga layak untuk berburu.
Biasanya pada Januari dan Februari sejumlah pihak selalu menggelar festival durian di beberapa daerah. Dalam kegiatan tersebut para petani, pedagang atau pemerintah daerah selalu menampilkan durian terbaik guna mempromosikan kepada publik. Para pemenang pun umumnya langsung mendapatkan pasar baik dalam jangka pendek maupun panjang.
“Saya selalu memburu festival durian untuk mencari jenis terbaik. Ada para petani atau kelompok tani yang selama ini tekun melakukan pencangkokan atau kawin silang dan mendapatkan buah yang bagus. Biasanya mereka promosikan itu dalam festival agar dapat dikenal publik. Saya mengincar durian-durian yang baru muncul itu untuk menjalin kontak dengan petani,” ungkap Udin, pegadang durian asal Bogor.
Puncak Musim
Buah durian memiliki penggemar fanatik yang tidak sedikit. Khusus di Indonesia, Yayasan Durian Nusantara pernah melakukan survei sederhana pada beberapa waktu lalu. Hasilnya, sekitar 80 persen atau 228 juta jiwa masyarakat Indonesia adalah penyuka buah durian. Dari jumlah itu, kurang lebih 36 persen atau 82 juta di antaranya penggemar sejati. Mereka maniak dan berani membeli buah durian meski harganya mahal.
Menariknya lagi konsumsi durian masyarakat Indonesia juga terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Januari 2024 menyebutkan konsumsi daging buah durian pada tahun 2023 mencapai 2,372 kilogram per kapita per tahun. Jumlah tersebut melonjak cukup tinggi dibanding tahun 2020 rata-rata 1,031 kilogram per kapita per tahun.
Musim durian di Indonesia umumnya berlangsung selama Oktober hingga Maret dengan puncak panen pada Desember dan Januari. Namun puncak panen raya cenderung berbeda waktu untuk setiap wilayah. Pulau Sumatera, misalnya terjadi lebih awal. Menyusul Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
Keempat pulau ini menjadi sentra produksi durian. Populasi terbanyak di Jawa dan Sumatera. Pemicu adanya perbedaan waktu panen raya antara lain curah hujan, stabilitas sinar matahari dan jenis durian. Namun demikian, pohon durian tumbuh baik di hampir semua wilayah di Indonesia, tetapi dalam volume produksi yang terbatas.
Produksi Durian Indonesia tahun 2024 mencapai 1,96 juta ton. Jumlah ini meningkat cukup tinggi dibanding tahun 2023 sebanyak 1,85 juta ton. Produksi terbanyak di Provinsi Jawa Timur yang menyumbang 26,36 persen dari total produksi nasional. Untuk tahun 2025 volume produksi diperkirakan melebihi 2 juta ton.
Volume produksi pun menunjukkan kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Januari 2023 menyebutkan, produksi buah durian pada tahun 2022 sebanyak 1,71 juta ton. Jumlah ini meningkat 26,64 persen dari tahun 2021 sebanyak 1,35 juta ton.
Produsen Terbanyak
Volume yang besar ini membuat Indonesia menjadi produksi terbanyak di Asia Tenggara, bahkan dunia. Indonesia termasuk kaya akan keanekaragaman genetik, yakni memiliki 21 dari 27 spesies durian di dunia dan hingga tahun 2024 mendaftarkan sekitar 114 varietas unggul baru. Hal ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai “raja durian” kawasan Asia, tidak hanya dari segi kuantitas tetapi juga potensi varietas unggul.
Meski demikian, kebutuhan pasar buah durian di dalam negeri juga meningkat pesat sehingga masih mengimpor lagi. Pada tahun 2024 volume impor sebanyak 459,3 ton atau senilai 3,6 juta dollar AS setara Rp 58,9 miliar. Impor dari Malaysia dan Thailand. Puncak impor terjadi pada Desember 2024 sebanyak 29,8 ton atau 246.700 dollar AS.

Durian duri hitam, salah satu durian termahal di Indonesia. Arsip
“Orang Indonesia umumnya maniak durian. Kadang mereka tak peduli dengan harga sedikit mahal. Kalau sudah kepingin, mereka pasti beli. Apalagi duriannya bagus,” lanjut Iwan yang mengaju berjualan durian tidak pernah rugi, sebab selalu laku terjual. Tetapi kuncinya buah durian harus benar-benar bagus. Rusak sedikit saja pasti takkan terbeli.
Itu sebabnya, para penjual selalu mengingatkan pegadang durian agar selektif dalam memasarkan buah durian. Bahkan, saat mengambil dari pengumpul di daerah harus sudah menyortir dengan ketat. Hal ini wajib dilakukan guna menghindari kerugian.
Pasar China Tak Terbatas
Penggemar buah durian tidak hanya masyarakat Indonesia, tetapi hampir merata di kawasan Asia Tenggara, terutama Malaysia, Singapura dan Thailand. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir merambah ke China, Korea, Jepang, Amerika Utara, Eropa dan Australia. Uniknya, tanaman durian sejauh ini hanya cocok bertumbuh dan berkembang dengan baik di wilayah tropis, terutama Asia Tenggara.
Saat ini, mayoritas masyarakat di China tergolong penggemar berat. Buah durian telah menjadi makanan favorit di kalangan kelas menengah di China. Menjadi hadiah untuk orang istimewa pada acara keluarga atau pertunangan. Bahkan menjadi simbol status sosial dari pemberi hadiah. Para pelaku usaha juga melakukan beragam inovasi produk seperti hot pot durian, roti isi durian dan buffet bertema durian.
Di sisi lain, masyarakat China juga memandang daging durian sebagai sumber energi dan vitalitas sehingga menjadi pilihan favorit bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas kesehatan secara umum. Apalagi ada konsep qi atau kekuatan hidup, dimana budaya China sangat menghargai itu. Mereka selalu mempercayai makanan tertentu dapat membantu menyeimbangkan dan memperkuat energi tersebut.
Hal itu ikut memicu permintaan daging durian di China meningkat pesat. Negeri Tirai Bambu itu telah menjadi importir durian terbanyak di dunia. Tahun 2024, China mengimpor buah durian sekitar 1,37 juta ton dengan nilai transaksi mencapai 7,03 miliar dollar AS setara Rp 115,29 triliun (kurs 1 dollar AS = Rp 16.470). Jumlah ini meningkat 9,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Adanya pasar di luar negeri yang terbuka lebar tentu menjadi peluang besar bagi Indonesia. Akan tetapi, sejauh ini jangankan untuk ekspor, untuk pasar domestik pun buah durian yang diproduksi selalu tidak tercukupi. Permintaan selalu melampaui produksi.
Ada Peningkatan
Tahun 2024 misalnya, Indonesia mengekspor buah durian sekitar 591 ton dengan nilai transaksi kurang lebih 1,8 juta dollar AS atau Rp 29,4 miliar. Negara tujuan yakni China,
Malaysia, Singapura, Hongkong dan Jerman. Ekspor ke China berupa buah durian beku dengan veritas unggulan seperti durian bawor dan namlung.
Tahun 2023, total ekspor buah durian dari Indonesia sebanyak 230 ton. Jumlah ini meningkat cukup tinggi dibanding tahun 2020 sebanyak 105 ton dan tahun 2019 hanya 98 ton. Negara tujuan ekspor Malaysia, Singapura, Belanda dan Timur Tengah. Jadi, porsi ekspor masih terbatas, berkisar enam hingga tujuh persen dari total produksi.
Harga buah durian di China sebesar 10 dollar AS setara Rp 154.000 per kilogram. Di pasar Asia Tenggara rata-rata 6 dollar AS atau Rp 92.000 per kilogram. Harga ini masih jauh lebih mahal dua hingga tiga kali lipat dari yang berlaku di Indonesia. (Bersambung)
-
Cyling2 tahun agoSeveral of Our Belongings Were Stolen in Iran
-
Perjalanan3 tahun agoRoyke Lumowa Gowes Jakarta-Paris demi Bumi Sehat
-
Cyling1 tahun agoTerpanggil Menyusuri Waduk Jatiluhur
-
Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris3 tahun agoRoyke Lumowa, Doktor Gunung Botak
-
Humaniora3 bulan agoJelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi
-
Perjalanan2 tahun agoCatatan Royke Lumowa: Saya Tuntaskan Bersepeda Jakarta-Paris
-
Perjalanan2 tahun agoCatatan Royke Lumowa (14): Pekan Paling Bahagia di Tibet
-
Perjalanan1 tahun agoMenjajal Tanjakan Ijen, Menabung Oksigen

Maming
Agustus 19, 2023 at 6:42 am
Tetap semangat pak Royke Lumowa aman dalam perjalanan touring
Pingback: Jiwaku Bergetar di Laos - blalak.com