Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (9): Jiwaku Bergetar di Laos
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (9): Jiwaku Bergetar di Laos

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAAgustus 19, 20231 Komentar11 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Melewati sebuah bangunan yang unik dan menarik di Laos selatan. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Catatan ROYKE LUMOWA (9)

Hari Ulang Tahun ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa 17 Agustus 2023 ini sungguh istimewa untuk saya. Baru pertama kali saya merayakannya di luar negeri. Di Laos pula. Semakin seru lagi saya berada di Laos melalui bersepeda dari Jakarta dalam perjalanan menuju Paris. Ini momentum yang langka. Mungkin terjadi hanya sekali dalam hidup saya.

Pagi harinya, saya memperingati HUT RI ini dengan acara yang sangat sederhana.  Saya gowes dulu sejauh 17 kilometer dari hotel. Di titik itu, saya berhenti sejenak kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan mengakhirinya dengan memekikkan yel: Merdeka sebanyak tiga kali.

Baru kali ini saya merayakan HUT RI seperti ini. Bertahun-tahun sejak sekolah hingga berdinas sebagai polisi, peringatan kemerdekaan RI saya lalui dengan kemeriahan, penuh suka cita dan hadir banyak orang.

Memasang bendera merah putih di tempat parkir mobil saat berada di Laos. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Tahun ini saya melakukan seorang diri. Di tepi Sungai Mekong pula. Sungguh terharu dan menggetarkan jiwa! Saya tetap menjadikan momentum ini untuk memompa sekaligus membakar semangat sehingga terus laju mengayuh sepeda hingga di Paris sesuai rencana.

Setelah itu, saya melanjutkan mengayuh sepeda menuju Golden Triangle sejauh 60 kilometer. Di sana, ada titik dimana Sungai Mekong yang mengalir dari utara membelok ke timur. Lengkungan itu berada di barat laut Laos, timur Myanmar dan utara Thailand. Di titik itulah menjadi kawasan perbatasan Thailand, Laos dan Myanmar. Aliran Sungai Mekong yang memisahkan wilayah ketiga negara ini.

Segitigas emas

Sungai Mekong berhulu di Tibet. Dari sana, airnya mengalir melewati Yunan (China) terus menuju ke Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam dengan panjang kurang lebih 4.350 kilometer. Termasuk salah satu Sungai terpanjang di dunia. Sungai Mekong juga memiliki wilayah jangkauan seluas 795.000 kilometer persegi.

Sungai Mekong yang menjadi pembatas wilayah Laos dan Thailand. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Di masa lampau merupakan segitiga emas perdagangan opium sehingga orang menyebutnya golden triangle. Konon kabarnya kawasan pegunungan di wilayah itu merupakan penghasil opium terbesar di dunia, sekitar 75 persen. Buah opium menjadi bahan baku pembuatan morfin dan heroin.

Di sana, ada museum opium. Ada pula tugu perbatasan ketiga negara serta patung Budha raksasa. Hal itu menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pengunjung terbanyak berasal dari China.

Saat ini, di Golden Triangle Laos dibangun kota baru yang lebih modern. Ada banyak hotel berbintang dan apartemen. Investor terbanyak juga dari China. Pembangunan kota masih terus berlangsung.

Meski demikian, posisi golden triangle ini tergolong wilayah pelosok Laos. Itu sebabnya, kondisi jalan raya menuju wilayah tersebut cukup minim. Di mana-mana masih dijumpai kerusakan jalan. Masih ada jalan tanah sehingga saat hujan menjadi becek dan saat musim panas sangat berdebu. Di kiri dan kanan jalan pun belum dilengkapi saluran air sehingga memperparah keadaan tersebut.

Dalam perjalanan dari Golden Triangle menuju penginapan, saya menghadapi hujan cukup lebat. Saya memilih tetap gowes meski menghadapi kondisi jalan yang agak becek.

Bersepeda di tengah hujan saat perjalanan di utara Thailand menuju perbatasan dengan Laos. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Sistem kanan

Saya memasuki wilayah Laos pada Selasa, 15 Agustus 2023 pagi. Hari itu, sejak pukul 04.30, saya bersepeda dari kota Chun, dan tiba di pintu perbatasan Chiang Khong (Thailand)- Huasai (Laos) kurang lebih pukul 10.00.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (28): Akhirnya Terbangi Balon Raksasa di Cappadocia

Sebelum memasuki area border, saya dan kru sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mendengarkan lagu kebangsaan Thailand via telepon genggam. Ini sebagai tanda kami resmi akan meninggalkan Thailand, dan melanjutkan petualangan ke negara berikutnya, yakni Laos.

Proses pelaporan di imigrasi dan bea cukai Chiang Khong berjalan lancar. Petugas kemudian membukakan pintu batas negara pun untuk kami. Keluar dari Laos langsung menghadapi jembatan Sungai Mekong yang membelah garis perbatasan wilayah Thailand dan Laos.

Lebar Sungai Mekong di perbatasan Thailand dan Laos ini tergolong cukup pendek: hanya sekitar 15 meter. Selepas sungai, kami langsung berada dalam border Laos, yakni kawasan Huasai untuk melapor diri: dilakukan cap paspor di Imigrasi, lalu cap dokumen untuk mobil pengiring pada Bea dan Cukai setempat. Prosesnya berjalan lancar dan tidak memakan waktu lama sehingga sekitar pukul 11.15 sudah keluar dari border Laos. Laos menjadi negara kelima yang saya singgahi.

Laos menerapkan sistem lalu lintas di kanan, sama seperti di Eropa. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Begitu memasuki wilayah Laos, petugas langsung mengarahkan kami melewati jalur sebelah kanan. Hal itu terjadi karena lalu lintas di Laos menerapkan sistem kanan, berbeda dengan Indonesia yang menggunakan sistem kiri. Sistem lalu lintas di Laos sama seperti di Eropa. Jadi, selama di Laos bisa menjadi kesempatan belajar untuk menyiapkan diri menghadapi sistem lalu lintas di Eropa.

Kami inap pada salah satu penginapan yang letaknya tidak lebih dari satu kilometer dari border, tetapi masih dalam kota Huay Xai. Total perjalanan hari itu sekitar 115 kilometer, tetapi saya memutuskan gowes hanya sampai di kilometer 80.

Selanjutnya loading, sebab pukul 14.00 saya harus menghadiri acara keluarga di rumah saya di Jakarta melalui virtual. Puji Tuhan semuanya berjalan lancar dan aman. Waktu di Laos sama dengan waktu Indonesia bagian barat dan Thailand.

Masalah sampah

Suasana lalu lintas di Huasai ini cukup mengagetkan juga. Di banyak titik terdapat kerusakan jalan. Sampah banyak berserakan di tepi jalan. Para pengendara sering melawan arus. Hal seperti ini sama sekali tidak tampak selama perjalanan dari Singapura, Malaysia hingga Thailand.

Maka begitu menyaksikan kenyataan ini di Laos sungguh mengagetkan juga, sebab jauh di bawah ekspektasi saya. Ada perbedaan yang sangat mencolok di wilayah Laos dan Thailand. Di wilayah Thailand, meski jauh dari perkotaan, tapi daerah-daerah itu tertata rapi dan bersih. Masyarakatnya bersahabaja dan memiliki disiplin tinggi dalam berlalu lintas.

Rabu, 16 Agustus 2023 yang lalu saya memanfaatkan kesempatan ini untuk pemulihan fisik. Saya istirahat total di penginapan. Hanya tidur dan makan.

Penginapan di Huasai ini cukup bagus. Tarifnya sekitar Rp 500.000 per malam jika dalam kurs rupiah. Jika dibandingkan dengan fasilitas kamar, maka harga ini sangat murah. Di Indonesia, fasilitas kamar seperti ini mungkin harganya lebih mahal.

Tanjakan di utara Thailand

Perjalanan dari Bangkok menuju ke utara Thailand memang menarik. Misalnya, dari Noen Sawan menuju Hat Kruat pada Sabtu, 12 Agustus 2023 sejauh 164 kilometer. Ruas jalan yang ada lebar. Setiap jalur selalu memiliki tiga lajur utama dan bahu jalan. Jalan sejauh 164 kilometer itu pun beraspal mulus.

BACA JUGA:  Susur Pangalengan: Gowes, Kemah, Arung Jeram

Bahkan, di setiap kawasan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tersedia café dan restoran, mirip seperti rest area jalan tol di Indonesia. Saya pun berhenti beberapa kali untuk istirahat sejenak dan makan, sebab di jalur ini jarang tersedia warung di tepi jalan.

Sekitar pukul 16.00, saya sudah masuk penginapan di Hat Kruat. Waktu tiba lebih cepat, sebab saya memulai bersepeda sejak pukul 04.30 seperti pada hari-hari sebelumnya. Hat Kruat berada di Distrik Mueang Uttaradit, Provinsi Uttaradit.

Hari berikutnya, yakni Minggu, 13 Agustus 2023 dalam rute Hat Kruat menuju Song, Provinsi Phray sejauh 123 kilometer, saya beberapa kali melewati tanjakan dengan total ketinggian (elevation gain) mencapai 654 meter. Kondisi jalan pun beraspal mulus. Rambu lalu lintas pun terpasang dimana-mana.

Masyarakat Thailand tergolong sangat disiplin dan patuh terhadap peraturan lalu lintas. Itu sebabnya jarang terjadi kecelakaan lalu lintas. Antara pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas memiliki korelasi yang erat. Setiap kecelakaan umumnya didahului dengan pelanggaran. Maka, kalau tidak ada pelanggaran otomatis takkan terjadi kecelakaan lalu lintas.

Hamparan sawah di utara Thailand. Wilayah ini termasuk salah satu sentra produksi padi di negera itu. Foto: dokumentasi Royke Lumowa.

Yang menarik di pagi itu adalah saya menikmati pemandangan persawahan yang luas dan indah. Ada para petani sedang menuju sawah. Ada pula yang sedang bekerja. Tanaman padi tampak hijau dan subur. Suasana ini mirip seperti di Bali atau Jawa Tengah.

Tidak lama kemudian tampak ada rambu lalu lintas yang mengingatkan akan adanya tanjakan. Benar saja, tidak jauh dari situ mulai ada tanjakan. Jaraknya sekitar satu kilometer dengan kemiringan sekitar 10 derajat.

Memang tidak berat jika dibandingkan dengan banyak tanjakan di Indonesia, seperti arah Kintamani di Bali, atau ke puncak Bogor. Tetapi, selama bersepeda dari Singapura, lalu Malaysia hingga selatan Thailand, saya tidak pernah menghadapi tanjakan sehingga kondisi ini perlu dihadapi dengan bersemangat tinggi.

Penataan kontur jalan

Saya sungguh menikmati perjalanan ini. Saat melewati tanjakan itu, saya menikmati suhu udara yang sangat sejuk dan segar. Tampak pemandangan perbukitan dan keindahan alam khas dataran tinggi yang menyegarkan mata.

Meski jaraknya sudah cukup jauh dari Bangkok, tetapi penataan jalan tetap bagus. Pemerintah setempat selalu memapas jalan tanjakan agar kemiringannya tidak tinggi. Memangkas tebing dan meluruskan jalan yang berlekuk, dan jurang membangun jembatan. Singkatnya, kondisi jalan dibuat sedemikian rupa agar nyaman bagi para pengendara sehingga terhindar dari kecelakaan lalu lintas.

Berada pada ketinggian dalam perjalanan di wilayah utara Thailand. Udaranya segar dan sejuk. Foto: dokumentasi Royke Lumowa.

Siang itu, saya kesulitan mendapatkan warung di tepi jalan. Yang ada tetapi lokasinya agak jauh. Sementara saya mulai lapar. Apalagi saya memulai gowes pada pukul 04.30 demi efisiensi tenaga sehingga tidak terkuras habis akibat paparan panas mentari di siang hari.

Menjelang tiba di Song, kami menemukan sebuah restoran eropa yang berada di tengah sawah. Kami makan di situ. Pemiliknya adalah suami-istri yang pernah bersekolah kuliner di Swiss. Dalam hamparan cukup luas itu, mereka memilihara sapi Australia dalam kandang.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (7): Angin Kencang Hantui Kayuh di Lintas Timur Thailand

Daging yang disajikan dalam restoran ini bersumber dari sapi hasil pelihara. Pasangan ini juga menjadi tukang masak sekaligus pelayan. Makanannya enak dan lezat. Cocok sekali dengan lidah orang Indonesia.

Tiba di Song masih siang. Kami akhirnya memutuskan mengunjungi rumah milik salah seorang pesepeda asal Song bernama Fo yang saya jumpai saat menjajal jalur sepeda (Sky Line) Suvarnabhuni di Bangkok. Saat itu, kami berkenalan, dan Fo memberikan alamat rumahnya di Song, dan mengharapkan saya mengunjungi rumah yang dihuni ibunya.

Kebetulan 12 Agustus merupakan hari libur nasional di Thailand. Tanggal itu adalah hari ulang tahun permaisuri raja Thailand sehingga pemerintah menetapkan sebagai hari ibu, yang mana menjadi sebagai hari libur nasional. Fo memutuskan mudik saat liburan tersebut sehingga meminta saya mengunjungi rumahnya saat berada di Song.

Sore itu, saya dan kru pun mengunjungi rumah ibunda Fo di Desa Bhan Nun Thai. Begitu tiba di rumah, Fo sudah ada bersama ibunya. Mereka menerima kami dengan sangat ramah, dan bersahaja. Mereka menaruh rasa hormat, sebab saya memenuhi janji untuk mengunjungi rumah sang ibunda.

Sempat mengunjungi pasar tradisional di utara Thailand. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Fo sempat mengajak saya mengunjungi sebuah bendungan di desa itu bernama Nam Mai. Bendungan tertata bagus dan indah. Airnya bersih. Air dari bendungan itu juga dialirkan ke permukiman, perkantoran dan lain sebagainya, selain untuk persawahan. Wisatawan selalu mengunjungi bendungan ini,

Song sebetulnya kota kecil. Tidak banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Tapi tersedia lampu lalu lintas. Warga setempat pun sangat patuh terhadap peraturan lalu lintas. Jika lampu merah, pengendara kendaraan bermotor pun berhenti. Kondisi ini jauh berbeda dengan di Indonesia.

Tunggu jadwal masuk China

Hari berikutnya, Senin 14 Agustus 2023, saya mengayuh sepeda dari Song menuju Chun, Phayau sejauh 124 kilometer. Rute hari ini cukup berat, sebab melewati tanjakan yang lebih banyak lagi. Total ketinggian mencapai 1.208 meter atau dua kali lipat dibanding sehari sebelumnya.

Saya memutuskan berangkat lebih pagi juga, yakni pukul 04.30. Sepanjang perjalanan menghadapi hujan cukup lama. Saya terus mengayuh, terus melaju. Jalan naik dan turun yang terus-menerus tidak menjadi penghalang. Beberapa kali menghadapi tanjakan yang langsung diikuti turunan panjang sehingga tidak banyak menguras tenaga. Malah membuat waktu tempuh lebih cepat. Saya tiba di Chun sekitar pukul 14.00.

Kali ini saya mendapatkan penginapan yang kurang begitu nyaman. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya dimana penginapan sederhana, tetapi suasana di dalamnya terasa nyaman.

Di penginapan itu, saya melihat dua ekor anjing yang lucu. Sebagai penyuka anjing, saya senang sekali dan sempat bermain dengan kedua ekor anjing itu.

Malam hari saat menjelang tengah malam, salah satu di antaranya menggonggong keras sekali. Posisinya tidak jauh dari kamar saya. Terasa sangat mengganggu.

Akhirnya saya pun keluar kamar, dan mengingatkan anjing itu berhenti menggonggong. Ternyata dia patuh juga. Dalam hati saya berkelakar, jangan-jangan anjing itu mengerti juga bahwa yang memintanya berhenti menggonggong adalah orang Manado. Dia khawatir juga kalau bandel, hahahaha ….

Melewati sebuah bangunan yang unik dan menarik di Laos selatan. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Saya masih bertahan cukup lama di Laos sebelum masuk ke China. Selama beberapa hari ini saya bakal bersepeda ke sejumlah tempat. Tetapi tidak mengunjungi Kota Vientiane, ibu kota  negara Laos, sebab jarak dari Huasai sekitar 650 kilometer.

Saya akan masuk China melalui border Boten di utara Laos, lalu menuju wilayah Mohan, Yunnan, China. Jarak dari Huasai menuju Boten sekitar 221 kilometer atau gowes selama dua hari. Sesuai jadwal, saya baru diizinkan masuk wilayah China pada 22 Agustus 2023 pukul 09.00 waktu setempat. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan Lewatkan!!!

Catatan Royke Lumowa (8): Tiba di Bangkok Setelah Sebulan Kayuh dari Jakarta

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Gairah Berlipat Ganda Bersepeda di China - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.