Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (10): Gairah Berlipat Ganda Bersepeda di China
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (10): Gairah Berlipat Ganda Bersepeda di China

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAAgustus 29, 2023Tidak ada komentar16 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Catatan ROYKE LUMOWA (10)

Selasa, 22 Agustus 2023 pukul 09.40, saya resmi memasuki wilayah China melalui pintu lintas batas (border) di Boten, utara Laos menuju wilayah Mohan, Yunnan, China. Urusan pada imigrasi serta bea dan cukai setempat pun berlangsung lancar. Hal ini sungguh membahagiakan, sebab prosedur untuk masuk wilayah China tergolong rumit bagi saya yang membawa serta mobil pengiring dari Jakarta.

Berdasarkan catatan pada garmin saya, saat memasuki wilayah China, total jarak yang saya lalui sejak dari Monumen Nasional (Monas) Jakarta pada 8 Juli 2023 telah sejauh 3.469 kilometer. Ternyata selama 46 hari ini saya mengayuh sepeda sudah cukup jauh.

Bersama petugas kepoilisian di border Mohan, Yunnan. Foto: Dokumentasi Royke Lumowa

Saat mengurus visa dan izin perlintasan mobil, pihak China langsung meminta jadwal masuk ke negeri tersebut. Kami mengusulkan tanggal 22 Agustus 2023. Mereka pun menyetujuinya. Itu sebabnya, saya dan kru pun menyesuaikan dengan jadwal tersebut.

Begitu tiba di border Mohan pukul 09.00, saya langsung berjumpa dengan Lin alias Joey, tour guide dari Navo, agen perjalanan di China. Sejak beberapa bulan lalu, kami sudah menjalin komunikasi dengan pihak Navo setelah mengetahui bahwa pemerintah China mewajibkan adanya registrasi bagi kendaraan bermotor dari luar negaranya, serta surat izin mengemudi sementara bagi pengemudi selama berada di China.

Demi kelancaran perjalanan, kami memutuskan menyewa jasa Navo. Tugasnya antara lain mengurus registrasi mobil. Setelah registrasi, pihak berwenang di China mengeluarkan nomor plat sementara bagi mobil pengiring. Bahkan, Navo juga membantu mengurus SIM sementara bagi om Yayak M Saat selaku pengemudi.

Tugas lain adalah memberikan informasi perjalanan baik rute, penginapan, makanan, tempat-tempat yang penting dan menarik di China. Termasuk juga membantu pengurusan administrasi di border masuk dan keluar China.

Atas bantuan agen perjalanan itulah urusan kami memasuki wilayah China berjalan lancar. Begitu pula saat mengurus nomor mobil dan SIM sementara di Mohan. Tidak bertele-tele. Hal ini sangat melegakan, sebab sebelumnya banyak cerita yang kurang menyenangkan  bagi warga asing yang membawa mobil dari negara asalnya saat masuk di China.

Bersuka cita bersama anak-anak di China selatan. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Pelayanan yang bagus ini juga membuat saya seolah mendapat suntikan “vitamin” yang  melipatgandakan semangat dan gairah untuk melakukan petualangan dari atas sadel sepeda di “negeri tirai bambu” ini. Sungguh bahagia!

Sebelum memasuki wilayah China, saya dan kru sempat menepi, mencari lokasi yang aman untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Laos yang kami peroleh melalui youtube. Ritual ini wajib kami lakukan setiap kali hendak memasuki wilayah negara baru. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya, disusul lagu kebangsaan dari negara yang segera ditinggalkan.

China menjadi negara keenam dari 47 negara yang akan saya lewati dalam mengayuh sepeda dari Jakarta hingga Paris, Perancis. Waktu di China sama dengan waktu Indonesia bagian tengah, atau lebih cepat satu jam dari waktu di Jakarta.

Wajah berbeda

Yang menarik saat berada di perbatasan Laos dan China, saya menyaksikan betapa dua negara ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Di wilayah Laos, sejak kurang lebih 50 kilometer menjelang border, kondisi jalan cukup jelek. Setiap 300-500 meter, kami selalu menghadapi jalan  rusak,  berlubang dan berdebu.  Jika terjadi hujan, jalan itu pun becek. Pesepeda harus ekstra hati-hati, sebab seringkali melintas bersama truk-truk besar.

Kondisinya kumuh dan semrawut. Padahal, jalur ini menjadi lintasan utama bagi semua kendaraan dari Laos menuju China, atau sebaliknya. Kendaraan yang terbanyak adalah truk besar pengangkut komoditas.

Akan tetapi, begitu berada di wilayah China, keadaan berbanding terbalik. Jalan yang banyak beraspal mulus dan rapi. Di border, tersedia tempat parkir kendaraan yang luas. Suasana dan auranya sangat menyenangkan.

Yang tidak nyaman selama di border Mohan adalah kamar kecil (toilet) yang sangat minim. Saya mencari ke sejumlah tempat, termasuk kantor imigrasi, serta bea dan cukai tapi tidak menemukan. Seorang teman sempat melihat ada kamar kecil, tetapi kondisinya sangat jorok.

Setelah semua urusan di border tuntas, kami menyempatkan diri untuk makan siang pada sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari border Mohan. Setelah itu, saya melanjutkan bersepeda menuju ke kota Meng La, sekitar 60 kilometer dari Mohan. Kondisi jalannya mulus, tetapi di beberapa titik masih berserakan sampah plastik.

Mengayuh sepeda menuju perbatasan Laos-China. Melewati jalan yang rusak dan berdebu di antara lalu lintas kendaraan besar. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Malam itu, kami menginap di Meng La. Kota ini tergolong kecil, tetapi bersih, apik dan tertata bagus. Penginapan kami bersih, bagus dan luas dengan harga sangat terjangkau: Harga kamar setara Rp 200.000 per malam.

Kabarnya, belakangan China sangat giat membangun kota-kota baru di setiap wilayah dengan infrastruktur yang memadai. Kota-kota itu tertata rapi. Konsepnya pun lebih moderen.  Itu sebabnya, selalu ada perubahan wajah di setiap wilayah sebagai dampak dari hadirnya kota-kota baru tersebut. Meng Le termasuk salah satu kota baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (40): Saya Sempat Terjatuh pada Jalan Es di Oslo
Lewati pegunungan

Rabu, 23 Agustus 2023, saya melanjutkan bersepeda ke kota Jinghong sejauh 162 kilometer. Mengingat jarak yang cukup jauh, saya memutuskan mengayuh sepeda mulai pukul 06.30. Meski demikian, hari masih gelap. Di China, saat ini hari terang baru terjadi menjelang pukul 07.00.

Malam sebelumnya Kota Meng La diguyur hujan sangat deras dalam waktu relatif lama sehingga pagi itu udara terasa segar dan adem. Rute dari Meng La menuju Jinghong, saya melewati jalan yang beraspal mulus dan bersih. Jalan arteri nasional  selalu bersebelahan dengan jalan tol. Kami juga sempat melewati dua jembatan dan dua terowongan yang bersambungan dengan total panjang sekitar 3 kilometer.

Dalam rute ini juga, saya melewati empat gunung sebelum masuk finish dimana ada sejumlah tanjakan yang kemudian turunan panjang. Gunung pertama, puncaknya berada pada ketinggian 1.120 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dua gunung berikutnya juga memiliki ketinggian rata-rata 1.300 mpdl. Gunung yang keempat agak pendek, dengan ketinggian tidak lebih dari 1.000 mdpl. Perjalanan tiap gunung berkisar 10-15 kilometer. Tetapi kemiringannya tidak lebih dari 11 derajat.

Tidak ada jalan tanjakan di China yang kemiringannya melebihi 11 derajat. Konsep seperti ini juga berlaku di Eropa. Inilah model jalan tanjakan yang berkeselamatan. Kondisi ini berbeda dengan di Indonesia yang mana di wilayah tertentu kemiringan jalan berkisar 20-26 derajat.

Peta China

Setelah itu, melewati jalan turunan yang cukup panjang, serta beberapa tanjakan dan turunan (rolling) pendek. Lokasi di finish berada pada ketinggian 630 mdpl.  Total ketinggian mencapai 1.980 meter.

Tampak pula hamparan persawahan yang cukup luas. Tanaman padinya cukup tinggi: mendekati 1,5 meter, tegak berdiri dan sangat subur.

Sekitar 30 kilometer menjelang masuk kota Jinghong sempat terjadi hujan lebat. Kami masuk finis pukul 19.30, tetapi hari masih sangat terang. Jinghong merupakan kota wisata. Indah sekali. Kota baru juga, mirip Singapura. Kehidupan berlangsung hingga larut malam. Jalan bagus sama sekali tidak berlubang.

Kami juga mencoba kuliner setempat. Uniknya, restoran di China bagian selatan, saat memesan makanan, para pengunjung yang langsung memilih makanan mentah. Setelah itu baru pengelola restoran memasak dan menyajikan kepada para pemesan.

Kebiasaan ini sama dengan yang terjadi di Laos bagian utara. Mungkin karena sama-sama berada di perbatasan sehingga sejumlah tradisi masyarakat setempat cenderung sama atau mirip sekalipun berbeda negara.

Perjalanan saya menuju wilayah tengah China ternyata merupakan masuk area pegunungan. Itu sebabnya pada Kamis, 24 Agustus 2023, rute Jinghong ke Puer sejauh 145 kilometer juga melewati sejumlah bukit dan gunung. Bayangkan, total ketinggian mencapai 2.110 meter.

Saya mengayuh sepeda mulai dari ketinggian 630 meter. Dua kali melewati gunung dengan jarak rata-rata setiap gunung kurang lebih 20 kilometer. Menanjak, lalu menurun, kemudian menanjak lagi, dan turunan, menyusul tanjakan panjang.

Bahkan, jelang finis pun masih melewati jalan menanjak. Sungguh berat sekali. Saya tiba sekitar pukul 18.30, tetapi suasana masih terang benderang. Hari gelap umumnya mulai pukul 20.00.

Jalan arteri nasional di China umumnya beraspal mulus dan lebar. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Kota Puer berada pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Indah sekali kota ini. Udaranya bersih, sejuk dan dingin.

Keesokan harinya dari Puer menuju kota Meizi juga lagi-lagi melewati tiga gunung juga. Satu gunung agak tinggi, sedangkan dua gunung lainnya relatif pendek dengan total ketinggian mencapai 1.572 meter. Kota Meizi berada pada ketinggian 1.050 mdpl.

Dalam jarak sejauh 118 kilometer itu, saya melewati jalan raya arteri yang mulus dan lebar. Empat kendaraan sekaligus yang searah mampu melalui tiap jalur. Meski demikian, yang belum tersedia jalur khusus sepeda. Ini tidak hanya terjadi pada rute ini, melainkan hampir di semua tempat, terutama yang saya lewati. Andaikata, pemerintah China menyediakan jalur khusus  sepeda, maka akan membuat perjalanan di negeri tersebut menjadi lebih menarik lagi.

Meski melewati beberapa gunung dan bukit, tetapi kemiringan tidak lebih dari 11 derajat. Hal ini dilakukan demi mencegah kecelakaan lalu lintas. Apabila kemiringan jalan terlalu tinggi, maka berpotensi menimbulkan ganggungan mesin kendaraan yang memicu terjadinya kecelakaan.

Ini yang berbeda dengan di Indonesia. Masih banyak titik yang memiliki kemiringan badan jalan hingga mencapai 26 derajat. Truk-truk besar yang mengangkut barang berat sering mengalami kecelakaan yang menelan korban jiwa, tetapi justru hanya para pengemudi yang menjadi pihak yang bersalah.

Keramahan warga

Jarak dari Huasai di Laos selatan hingga di Boten hanya 221 kilometer. Itu sebabnya, saya membagi dalam dua etape perjalanan. Hari pertama rute Huasai hingga Viengphoukha sejauh 121 kilometer, dan hari kedua rute Viengphoukha-Boton 102 kilometer.

Saya berada di Boten sejak Minggu, 20 Agustus 2023 sore. Saya memilih tiba lebih cepat sehari dari jadwal masuk ke China. Pertimbangan utama untuk bisa istirahat sekaligus menjelajahi dan mengenal lebih jauh wilayah Boten sebagai gerbang Laos dan China.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (11): Di Shangri-La Saya Seolah Kayuh di Puncak Sumbing

Boten bagian dari Provinsi Luang Namtha.  Ibukota provinsi juga bernama Luang Namtha. Sama seperti di Indonesia, Provinsi Bengkulu ibukotanya Bengkulu atau Provinsi Jambi ibukotanya Jambi. Kota Luang Namtha berada di antara Boten dan Viengphoukha. Kedua kota kecil ini sama-sama setingkat distrik.

Sejumlah anak di Laos sangat bersahaja. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Saya mengayuh sepeda dari Viengphoukha menuju Boten. Gowes dimulai pukul 06.30, sebab perjalanan menuju utara Laos umumnya melewati pegunungan dan bukit. Kota Viengphoukha berada pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan udara yang sejuk dan dingin. Malam hari, airnya terasa cukup dingin.

Hari itu masih menghadapi beberapa kali tanjakan dan turunan yang lumayan berat dan variasi. Bahkan, ada satu titik yang mana jalan tanjakannya sejauh tiga kilometer tanpa henti. Kondisi seperti ini hingga di kilometer 30.

Selepas itu, perjalanan mulai menurun, diselingi jalan mendatar, serta tanjakan halus hingga finis. Posisi kota Boten pada ketinggian sekitar 900 mdpl. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan hutan, persawahan dan perkebunan karet yang luas. Siang itu udara pun agak mendung sehingga tidak terlalu menguras tenaga.

Persis di kiri dan kanan jalan juga terdapat cukup banyak permukiman penduduk. Hal ini berbeda dengan di Thailand. Di negeri “gajah putih” itu, di jalan arteri utama nyaris tidak ada permukiman. Yang ada hanya restoran, café atau perkantoran.

Rumah-rumah warga cenderung berada pada jarak 1.000 meter dari jalan arteri utama. Pemandangan di Laos sama seperti di Indonesia, yakni perkampungan cenderung mendekat atau berada di tepi jalan raya utama.

Sepanjang perjalanan, saya juga melihat dari dekat kondisi gedung sekolah di Laos yang cukup memprihatinkan. Ada yang sudah rusak dan reot. Kondisi ini juga mirip seperti yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Namun hal ini sama sekali tidak saya saksikan di Malaysia dan Thailand.

Masyarakat Laos tergolong ramah. Sepanjang jalan, baik orang dewasa maupun anak-anak selalu aktif menyapa saya. Mereka sepertinya senang sekali melihat ada orang yang mengayuh sepeda melewati daerahnya. Anak-anak selalu menyapa saya dengan menyebut: bye bye bye.

Saya pun selalu membalas sapaan mereka dengan menyebut sabaidi, terutama kepada orang dewasa. Kata sabaidi mirip seperti menyebut horas saat di Sumatera Utara. Kadang saya yang lebih dahulu menyapa. Tetapi adakalanya mereka yang aktif. Saya senang sekali dengan kesahajaan mereka.

Saya teringat saat bersepeda di beberapa wilayah di Indonesia juga mengalami hal serupa. Anak-anak setempat selalu menyapa para pesepeda yang mengayuh sepeda dengan sebutkan: halo mister, halo mister. Sapaan itu diucapkan, sebab cukup banyaknya wisatawan asing yang mengayuh sepeda melewati wilayahnya.

Sementara pada perjalanan menuju utara Laos tidak banyak dilewati pesepeda jarak jauh. Dari pemantauan saya di Komunitas Strava, jalur ini hanya dilewati sekitar 10 pesepeda dalam setahun terakhir. Artinya, masuk kategori sepi. Jadi, kalau anak-anak Laos menyapa para pesepeda dengan sebutan bye-bye menunjukkan keramahan. Kesahajaan.

Anak-anak di Laos selalu berusaha mendekat dan ingin menyapa. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Saat ini, pemerintah Laos juga sedang mengembangkan Boten dengan membangun  kawasan ekonomi baru menyerupai Golden Triangle dengan skala yang lebih kecil. Sejumlah pabrik dan industri mulai dibangun di wilayah tersebut. Target pasarnya adalah China.

Yang menjadi kendala di utara Laos ini adalah kondisi infrastutkur yang masih minim. Kerusakan jalan terjadi di banyak titik, termasuk menuju border yang merupakan jalur utama antarnegara. Jalan berkualitas bagus hanya terdapat di dalam kawasan border Boten yang menjadi kawasan ekonomi baru.

Lebih parah lagi koneksi internet pun masih mengandalkan jaringan 3G. Akibatnya kecepatan pengiriman data maksimal  hanya 2 megabyte per second (Mbps). Akibatnya, komunikasi pun kadang terhambat.

Upaya menghidupkan ekonomi di kawasan Boten juga tampak dari adanya kereta cepat melayani border Boten dengan Vientiene, ibukota Laos. Kecepatannya sekitar 350 kilometer per jam. Lama perjalanan sekitar 3 jam. Investornya juga dari China.

Semula kami ingin menjajalnya, tetapi setelah menghitung waktu perjalanan pergi pulang, maka kemungkinan takkan tepat waktu untuk pelaporan di border China di Mohan pada 22 Agustus 2023 pagi. Rencana itu pun dibatalkan. Sepintas model konstruksinya mirip dengan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Di Boten, saya sempat berjumpa dengan sepasang suami-istri yang hendak keliling dunia menggunakan mobil. Sang suami asli China, sedangkan istri asal Malaysia. Mereka juga hendak masuk ke China, tetapi belum mengurus dokumen perjalanan untuk mobil.

Mereka sempat kebingungan karena belum mengurus dokumen apa pun untuk bisa membawa mobil masuk ke China. Padahal untuk dokumen kendaraan bermotor lebih baik diurus jauh hari. Melihat situasi itu, saya kemudian membagikan kontak Navo, agen yang membantu perjalanan kami di China kepada mereka.

Perjalanan ini bagi sang suami merupakan yang kedua kalinya. Kali pertama, katanya, dilakukan beberapa tahun lalu. Dia bermobil hingga di Amerika Serikat. Kali ini dia mengajak istrinya untuk berkelana bersama. Sungguh sebuah petualangan yang menarik dengan sejuta pengalaman yang berkesan.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (41): Angin Kencang Sempat Hadang Saya di Jerman Utara

Saya juga berjumpa dengan seorang guru asal Laos. Kami banyak bercerita soal dunia pendidikan dan lingkungan. Dia bercerita bahwa salah satu prinsip hidupnya yang dinilai sebagai salah upaya menjaga lingkungan adalah tentang makan. Setiap makanan yang telah dia siapkan wajib dimakan sampai habis. Makanan tidak boleh disisahkan, apalagi dibuang. Jadi, makanlah makanan sesuai kebutuhan, bukan karena keinginan.

Sehari sebelumnya, yakni Sabtu, 19 Agustus 2023 saya mengayuh sepeda dari Huasai menuju Viengphoukha. Rute ini merupakan yang terberat dalam perjalanan saya sejak dari Jakarta. Saya harus melewati empat gunung. Total ketinggian mencapai 2.113 meter.

Saya memulai gowes pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pada gunung pertama dan kedua menghadapi tanjakan masing-masing sejauh tiga kilometer.

Rute tanjakan yang cukup memberatkan di Laos. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Setelah itu melewati gunung ketiga dengan panjang tanjakan empat kilometer, dan gunung keempat jalan menanjak mencapai satu kilometer. Semua tanjakan itu tanpa henti. Puncak dari gunung keempat berada pada 1.040 mdpl.

Meski cukup melelahkan, tetapi perjalanan di rute ini cukup menyenangkan, sebab mendapat sambutan dari warga setempat, terutama saat memasuki wilayah Viengphokha. Mereka aktif menyapa saya. Yang anak-anak menyapa dengan menyebut: bye, bye.

Orang dewasa menyapa dengan sebutan: sabaidi. Saya kemudian membalas dengan mengucapkan Khob Chai artinya terima kasih. Tidak sedikit pula yang melambaikan tangan disertai senyum yang merekah. Cukup mengagetkan saya. Hal seperti ini tidak saya jumpai selama melewati wilayah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Viengphoukha menyerupai kampung. Tidak banyak lampu di jalan. Mungkin tidak jauh berbeda dengan beberapa wilayah di luar Pulau Jawa dan Bali tahun 1990-an.

Padahal, daerah ini berada pada poros utama yang menghubungkan Laos dan China di sisi barat. Arus lalu lintas terutama truk-truk besar yang mengangkut komoditas menuju China sangat lancar. Setiap tiga menit selalu ada truk besar yang lewat menuju border Boten (Laos) dan Mohan (China).

Setelah melewati tanjakan panjang di empat gunung, ada warung di tepi jalan, saya pun beristirahat sejenak di kilometer 60. Sempat pula tertidur selama 15 menit di bangku. Semua ingin memesan makanan, tetapi akhirnya memutuskan membeli mie instan, lalu memasak menggunakan kompor gas portable yang terangkut dalam mobil pengiring. Enak dan lezat sekali.

Sekitar 10 kilometer menjelang tiba di kota Viengphoukha dihantam hujan yang cukup lebat. Mengingat jarak dengan penginapan semakin dekat sehingga saya tetap gowes dan tiba di finish sekitar pukul 17.15.

Kota kasino

Sebelum meninggalkan Hausai, pada Jumat, 18 Agustus 2023, saya mengunjungi lagi Golden Triangle. Kali ini ingin menjelajai kawasan ini. Ingin melihat lebih jauh perkembangan kota baru yang dikerubuti para investor dari China tersebut.

Pembangunan kota ini memang belum sepenuhnya selesai. Infrastruktur dasar antara lain jalan juga belum seluruhnya teraspal. Tetapi hotel berbintang, apartemen, restoran, kafe dan pertokoan terus menggeliat. Sedangkan gedung perkantoran nyaris tidak ada.

Yang paling menonjol adalah kasino yang beroperasi di banyak tempat. Kasino mungkin sebagai kekuatan yang ditawarkan kepada wisatawan. Kasino juga layaknya menjadi hiburan yang paling dicari para pelancong di kota yang berada persis di Sungai Mekong ini.

Siang itu, saya sempat mengayuh sepeda sejauh kurang lebih 25 kilometer sepanjang bentangan border tepi Sungai Mekong yang membatasi wilayah Laos dan Myanmar. Dari Laos, saya bisa melihat dengan jelas permukiman warga dan kondisi wilayah di Myanmar.

Setelah itu, kami kembali lagi ke Huasai. Kali ini kami menginap pada penginapan di tepi Sungai Mekong, namanya River Side. Hotelnya bersih dan apik. Saya memilih di lantai 4 agar bisa melihat dengan jelas wilayah Chiang Khong, Provinsi Chiang Rai, Thailand, yang hanya terpisahkan oleh aliran sungai tersebut.

Jalur kereta cepat yang menghubungkan Boten dan Vientiene, ibukota Laos. Foto: dokumentasi Royke Lumowa.

Kami juga mencoba menjajal kuliner yang ada di restoran tepi Sungai Mekong. Ada sup ikan Mekong. Ikan diolah mirip kua asam di Indonesia timur. Tetapi rasanya lebih enak.

Cuci pakaian

Yang biasanya cukup rumit dalam perjalanan jauh seperti ini adalah urusan mencuci pakaian. Kami sudah memikirkan persoalan ini sejak masa persiapan di Jakarta.

Kami membuat kebijakan bahwa pakaian kotor hanya boleh dicuci di setiap kota yang waktu istirahatnya lebih dari sehari. Kurun waktu yang lama memungkinkan pakaian yang dicuci, seperti celana dan baju bisa kering maksimal.

Sedangkan pakaian ukuran kecil, seperti sarung tangan dan kaos kaki bisa dicuci setiap sore setelah menyelesakan perjalanan. Makanya, jika tiba di finis, setelah beristirahat sejenak saya langsung mandi dan mencuci sarung tangan atau kaos kaki, lalu menjemurnya di tempat yang tepat. Esok paginya sudah mengering.

Khusus jersei yang basah akibat terkena hujan selama perjalanan, begitu tiba di finis, saya langsung jemur. Setelah kering akan dimasukan ke dalam kantong pakaian kotor, dan baru dicuci saat mendapatkan waktu istirahat panjang. Istirahat panjang biasanya setiap lima atau enam hari sekali.

Bertemu dengan seorang pesepeda di China yang juga gemar melakukan perjalanan jarak jauh. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Jadi, istirahat seperti ini tidak semata-mata untuk pemulihan fisik, tetapi juga untuk menyuci pakaian kotor. Selama ini istirahat panjang pernah dilakukan di Jambi, Batam, Kuala Lumpur, Pineng, Bangkok dan Huasai. Sejauh ini skenario yang kami rencanakan ini berjalan cukup efektif. Urusan mencuci pakaian pun tidak mengalami kendala yang serius.

Dari kota Meizi, saya pun bergerak ke tengah dan utara, kemudian nantinya ke arah barat, dan akan keluar menuju Nepal. Perjalanan menuju ke perbatasan China dan Nepal kemungkinan memakan waktu kurang lebih sebulan. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA 

Jangan Lewatkan!!

Catatan Royke Lumowa (9): Jiwaku Bergetar di Laos

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.