Oleh JANNES EUDES WAWA
Sekitar pukul 19.15, kami kembali berkumpul di Imah Gede untuk makan malam. Hari itu ada tiga kelompok tamu mengunjungi Kesepuhan Gelaralam, yakni tim Jejak Petualang Trans7, tim mahasiswa, dan rombongan Jelajah Citpagelar. Pengaturan makan dalam tiga bergelombang. Kami mendapatkan kesempatan terakhir.
Menunya istimewa. Ada nasi merah dan nasi putih. Kedua jenis nasi berasal dari padi hasil panen tahun 2017. Untuk menjadi beras, warga menumbuk padi menggunakan alu dan lesung pada beberapa hari sebelumnya. Proses menanak nasi menggunakan kayu. Demikian pula dengan memasak sayur dan menggoreng ayam serta menu lain yang tersajikan malam itu.

Saya menyempatkan diri ke dapur yang terletak di ruang paling belakang dari Imah Gede. Ada sekitar 10 perempuan bertugas menyiapkan makan malam bagi para tamu. Tersedia enam tungku. Saat itu lima tungku di antaranya terpakai memasak. Semuanya menggunakan kayu. Sekitar satu meter di atas tungku tersedia tempat penyimpanan kayu bakar.
Hanya Sekali dalam Setahun
Sehabis makan, kami bertatap muka dengan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu. Dalam dialog itu, Abah Ugi banyak bercerita tentang Kesepuhan Gelaralam. Dia menyebut komunitasnya adalah kaum agraris yang cenderung berpindah tempat tinggal. Dalam usaha tani menggunakan dua sistem yakni bertani lahan kering yakni huma. Ada pula bertani lahan basah atau sawah. Masyarakat Kesepuhan Gelaralam memiliki 168 veritas padi plasma warisan leluhur.
Dalam mengolah lahan, mereka berpatokan pada dua bintang yakni kerti atau kartika sebagai pertanda memulai penyiapan lahan. Setelah itu muncul bintang kidang atau waluku atau orion menandakan mulai penanaman padi. Masa ini berakhir setelah bintang kidang bergeser ke arah timur laut, kemudian memasuki fase memelihara hingga berbuah dan menguning. Sebelum bintang kidang menghilang padi harus sudah selesai panen, sebab kemungkinan tidak lama lagi muncul serangga walang sangit.
Selanjutnya ibu bumi beristirahat total guna memulihkan tenaga setelah melahirkan padi baru. Masa istirahat juga sebagai persiapan untuk proses produksi pada tahun berikutnya. Sejak penanaman hingga panen membutuhkan waktu berkisar enam hingga tujuh bulan.
Penanaman padi, termasuk sawah hanya sekali dalam setahun tanpa menggunakan pupuk kimia. “Sejak dahulu kala leluhur kami melarang menggunakan pupuk kimia dalam usaha tani. Saat Orde Baru sedikit menyimpang karena pemerintah mewajibkan penggunaan pupuk kimia sehingga kami terpaksa memakainya tetapi hanya saat awal. Setelah akar padi mulai menguat, kami menghentikan penggunaan pupuk kimia,” ujar Abah Ugi.

Beberapa puluh tahun terakhir, masyarakat Kesepuhan Gelaralam mengotimalkan penggunaan pupuk organik, yakni mengolah kotoran hewan peliharaan seperti kambing dan ayam. Hal ini membuat kualitas tanah menjadi lebih baik dan memberikan hasil optimal. Volume produksi mencapai minimal tujuh ton per hektar.
Dalam menanam padi warisan leluhur, petani menyesuaikan kecocokan tanah. Padi di kesepuhan itu umumnya menghasilkan beras berwarna putih, merah dan hitam. Ada pula beras ketan. “Kami menanam dan memanen hanya sekali dalam setahun. Ini perintah leluhur untuk menghormati ibu bumi,” kata Abah Ugi.
Selalu Surplus
Sejauh ini hasil produksi selalu memberikan surplus besar; mencapai ribuan ton. Surplus selalu tersimpan dalam lumbung. Padi bagi masyarakat Sunda Wiwitan bukan sekedar makanan, tetapi juga nyawa. Menjual padi sama saja dengan memperdagangkan kehidupan sehingga masyarakat dalam Kesepuhan Gelaralam pantang bertransaksi padi atau beras.
Padi bukan sekedar hasil pertanian, melainkan warisan budaya, Leluhur mewariskan begitu banyak verietas unggul yang telah berusia ratusan tahun. Artinya, lumbung padi telah menjadi simbol ketahanan pangan. Penyimpanan padi yang ketat dan kontinyu memastikan masyarakat kesepuhan ini dapat bertahap hidup dan eksis dalam kondisi krisis. Itu sebabnya apabila suatu saat bumi takkan bisa ditanam selama 10 tahun atau lebih, masyarakat kesepuhan ini takkan kelaparan.

Abah Ugi juga menceritakan hubungan antara Kesepuhan Gelaralam dengan warga Sunda Wiwitan di Cigugur (Kuningan), Bogor, Badui dan Lebak. “Kami memiliki tradisi dan kepercayaan yang sama. Saat tertentu selalu saling mengunjungi. Sewaktu upacara seren taun di Gelaralam, mereka selalu berpartisipasi,” ungkapnya.
Dia juga tidak menginginkan Kesepuhan Gelaralam menjadi desa wisata, dan tetap sebagai kampung adat. “Leluhur memerintahkan kami untuk menjaga tradisi dan norma yang berlaku dalam kesepuhan ini. Itu yang wajib kami lestarikan. Namun kami membuka diri bagi siapa saja yang ingin mengunjungi kesepuhan ini,” tegas Abah Ugi.
Listrik Tenaga Air
Minggu (7/12/2025) pukul 06.00, semua peserta sudah berkumpul di alun-alun Imah Gede. Pagi itu, kami berjalan kaki mengitari perkampungan adat Gelaralam sambil menyapa warga sekaligus melihat lumbung-lumbung pangan serta lahan kebun dan sawah. Ki Sodong menemani kami sekaligus bertindak sebagai tour guide.

Sepanjang perjalanan tampak air mengalir pada selokan-selokan di tengah dan tepi kampung. Selokan itu ada yang sudah permanen, tetapi ada pula yang masih berupa tanah. Air umumnya mengalir ke petak sawah dan tidak lama lagi bakal terjadi penanaman padi. Bibit padi sawah yang disemaikan sudah tumbuh.
Sementara sebagian lahan kering tampak padi mulai tumbuh dengan ketinggian sekitar lima hingga tujuh sentimeter. Ada pula lahan yang baru selesai pembersihan.
Hampir setiap rumah memelihara kambing di dalam kandang. Kandang-kandang itu selalu berada pada ketinggian sekitar satu meter di atas tanah. Pada tanah persis di bawah kandang menjadi tempat penampungan kotoran hewan yang nantinya menjadi pupuk pada lahan pertanian.

Kesepuhan juga mengoperasikan empat pembangkit Listrik tenaga air (PLTMh) sejak tahun 1997. Mula-mula terbangun turbin Cicemet berkapasitas 50 kVa bantuan dari Badan Kerjasama Internasional Jepang atau Japan International Corporation Agency (JICA). Setelah itu turbin Situ Murni dengan kapasitas 50 kVa bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2006-2012. Lalu PLTMh Cibadak dan Ciptagelar pada 2013-2014.
Semua turbin ini memanfaatkan aliran Sungai Cisolok dan mampu memasok energi listrik mencapai 60.000 watt bagi warga. Biayanya lebih murah dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Mereka juga listik tenaga surya untuk memancarkan wifi bagi warga desa.
Lumbung Pangan
Sementara bangunan lumbung juga tersebar di beberapa titik. Terbanyak berada tak jauh dari Imah Gede. Ada puluhan unit yang terkosentrasi di kawasan itu. Hanya beberapa unit lumbung yang berada dekat rumah pemiliknya. Bentuk dan ukurannya sama. “Setiap lumbung mampu menampung minimal 3.000 pocong atau sekitar 3 ton padi,” jelas Sodong.
Lumbung pangan berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu tanpa jendela dengan satu pintu kecil serta beratap daun kirai atau ijuk. Pintu itu berada di dekat atap, sekitar dua meter dari permukaan tanah. Akses menuju ke pintu hanya melalui tangga kayu. Tujuannya agar lumbung itu terlindungi dari hama, serangga dan pencurian.

Lumbung terdiri beberapa jenis, yakni warga adalah milik pribadi atau keluarga. Lumbung komunal untuk seluruh warga dan lumbung Si Jimat sebagai bangunan sakral simbol ketersediaan pangan kesepuhan.
Warga membangun leuit atau lumbung secara gotong royong. Hal ini memperat persaudaraan dan solidaritas warga. Bahkan, menegaskan adanya filosofi hidup masyarakat Sunda yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam dan leluhur. Lebih dari itu menunjukkan pandangan visioner leluhur Sunda dalam menjaga stabilitas pangan dan keberlanjutan hidup masyarakatnya secara mandiri.
Setiap keluarga mengalokasikan hasil panen meliputi: 40 persen untuk kebutuhan keluarga setiap hari, 50 persen disimpan dalam lumbung atau leuit. Sisanya 10 persen untuk pengurus kampung adat. Setiap keluarga memiliki minimal satu unit lumbung. Padi disimpan dalam ikatan atau pocong.
Mereka meyakini penyimpanan padi takkan kadaluarsa. Padi dalam lumbung untuk kehidupan sehingga pantang menjadi komoditas atau diperjualbelikan. Penggunaannya tidak hanya untuk manusia, melainkan juga hewan seperti ayam, tikus, cicak, kecoa, semut.
Seren Taun Simbol Rasa Syukur
Warga kesepuhan juga dilarang membunuh binatang di sekitar lingkungan tempat tinggal, sebab merupakan satu keluarga yang hidup bersama. Begitu pula dengan tikus yang ada dalam lumbung. Tikus pun berhak makan padi dalam lumbung, sebab mereka adalah penunggu. Tikus sebagai hama kalau memakan sebagian besar padi yang ada. “Kalau hal itu terjadi biasanya kami mengadu kepada penguasa tikus. Sebab setiap kehidupan selalu ada yang menjadi pimpinan,” ungkap Ki Sodong, pemuka adat Kesepuhan Gelaralam.
Tradisi lain yang menarik dari Kesepuhan Gelaralam adalah seren taun, yakni upacara syukuran atas panen padi sekaligus melakukan ritual penyimanan padi ke dalam lumbung. Masyarakat adat setempat mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta dan leluhur atas berkah pertanian yang telah diperoleh. Momentum itu juga menjadi ajang silaturahmi sesama komunitas untuk memperat persaudaraan.
Ribuan orang menghadiri acara ini. Mereka umumnya warga dari berbagai desa-desa dalam komunitas Sunda Wiwitan yang datang dengan membawa hasil panen. Selain itu ada pula warga dari berbagai daerah yang ingin menonton upacara yang penuh sakral ini. Acara ini biasanya terjadi pada Agustus hingga September. Tanggal kegiatan baru ditentukan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi setelah selesai panen.

Rangkaian ritual saren taun dimulai dengan arak-arakan warga komunitas sembari membawa hasil panen menuju lumbung padi, berlanjut doa bersama dan persembahan untuk memohon kesuburan di tahun depan. Ada pula dimeriahkan dengan pertujukan seni seperti permainan angklung, tarian Sunda (seperti Tari Jamparing Apsari, Tari Puragabaya), dan pertunjukan budaya lainnya. Ada pula makan bersama dengan memotong kerbau.
“Seren taun tahun 2026, kami belum tahu waktunya, tetapi biasanya pada Agustus atau September. Waktu persisnya baru diputuskan Abah Ugi setelah selesai panen. Mungkin pada bulan Juni atau Juli 2026 sudah bisa tahu tanggal kegiatan Seren taun 2026. Jangan lupa datang ya,” ujar Ki Sodong.
Belanja suvenir
Sekitar pukul 07.15, kami tiba kembali ke Imah Gede. Beberapa peserta langsung kembali ke penginapan untuk mandi dan mengemas barang-barangnya. Beberapa orang lainnya melakukan sarapan pagi di rumah induk tersebut. Menu pagi itu selain nasi yang enak hasil panen dari lahan kesepuhan, juga ada sayur campuran buah pepayah muda dan daun singkong, telur rebus, ayam kampung goreng, serta daging kambing panggang. Tersedia pula kopi dan teh.
Pagi itu di pendopo Imah Gede, dua warga menjajalkan dagangan hasil buah karya masyarakat kesepuhan, seperti kain penutup kepala pria dan selendang untuk perempuan bermotif lokal, tas anyaman, gelang anyaman dan gula aren (cair dan batangan). Cukup banyak barang yang laku terjual.

Kurang lebih pukul 09.00 WIB, kami berpamitan dengan warga Kesepuhan Gelaralam untuk kembali ke Pelabuhan Ratu. Semua menampilkan raut wajah Bahagia, sebab akhirnya menginjakkan kaki di kampung adat yang melegenda ini dan menginap semalam. Apalagi dapat bertemu muka dengan ketua adatnya Abah Ugi Sugriana Rakasiwi dan istrinya Ditha Ana Talia alias Apicita Tegal Lumbu, sebuah momentum yang langka.
Perlu Pengaspalan Jalan
Perjalanan pulang ini melewati rute yang berbeda, yakni melalui kawasan Ciptagelar dan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Jalan pada rute ini pun masih makadam. Malah kondisinya jauh lebih berat dibanding pada rute melalui wilayah Ciptarasa. Di sejumlah titik, jalan makadam itu rusak dan licin. Beruntung para sopir yang ada sangat lihai mengendarai mobil-mobil peserta sehingga terhindari dari musibah.
“Jujur saya prihatin dengan kondisi jalan menuju Kesepuhan Gelaralam. Dalam jarak lebih dari 40 kilometer kondisinya makadam. Saya membayangkan kalau ada warga yang mendadak sakit atau ada ibu yang mau melahirkan yang perlu dibawah ke Pelabuhan Ratu untuk berobat. Penderitaan mereka pasti luar biasa,” ujar Luddy Suteja, warga Bandung.

Dia mengharapkan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan pengaspalan jalan yang ada. Pemerintah perlu duduk bersama dengan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi membicarakan persoalan ini dan mencarikan solusi terbaik.
Tepat pukul 13.00, semua peserta tiba kembali di Muse Coffee di Pelabuhan Ratu. Kami makan siang di tempat ini sekaligus mengakhiri petualangan selama dua hari ke Desa Adat Kesepuhan Gelaralam. Sebuah pengalaman yang menarik dan amat berkesan. Di sana ada contoh nyata hidup selaras alam: mengembangkan ketahanan pangan, memanfaatkan teknologi sederhana untuk menciptakan kemandirian pangan dan energi berkelanjutan. (habis)
Jangan lewatkan!
