Oleh JANNES EUDES WAWA
Puluhan tahun terakhir nyaris tidak ada lagi kampung yang memiliki stok pangan berlimpah. Malah selalu terjadi krisis pangan. Namun di Kesepuhan Gelaralam fakta menunjukkan sebaliknya. Warga kampung adat di lereng Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini justru memiliki ketersediaan pangan yang berlimpah, mampu memenuhi kebutuhan hingga puluhan tahun ke depan.
Hal ini terjadi karena masyarakat adat di Kesepuhan Gelaralam (dulu Ciptagelar) memiliki tradisi pertanian yang kuat warisan leluhur. Tradisi itu antara lain mewajibkan memiliki lumbung pangan adat atau leuit sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan. Kehadiran leuit untuk memastikan pasokan beras dapat bertahan selama puluhan tahun.

Masyarakat adat Kesepuhan Gelaralam juga memegang prinsip tidak menjual beras, sebab dianggap sebagai bekal kehidupan dan bagian dari keseimbangan alam. Bagi mereka, menjual beras sama dengan memperdagangkan kehidupan.
“Menyimpan padi dalam leuit adalah perintah leluhur. Kami tergolong masyarakat yang hidup di tengah hutan yang mandiri sehingga harus memiliki stok pangan berlimpah. Leluhur selalu menuntun perjalanan kami,” kata Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Sabtu (6/12/2025) malam.
Gowes dari Rumah
Keunikan tradisi masyarakat adat Kesepuhan Gelaralam sudah dikenal luas, termasuk di kalangan para pesepeda. Beberapa kali timbul niat Jelajah Bike untuk melakukan touring ke sana, tetapi selalu gagal. Pada pertengahan Oktober 2025 muncul kembali gagasan itu, dan memastikan waktu pelaksanaannya pada 6-7 Desember 2025. Kami langsung melakukan promosi melalui whatsapp ke sejumlah pesepeda.
Para pesepeda pun menyambut gembira ide perjalanan ke Gelaralam. Sebanyak 38 orang memastikan diri mengikuti event ini. Para peserta menetap di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bandung. Mereka umumnya belum pernah mengunjungi Kesepuhan Gelaralam, termasuk saat masih berada di Ciptagelar.
“Sudah sangat lama saya mendengar cerita tentang keunikan tradisi masyarakat adat di Kesepuhan Gelaralam, termasuk saat masih di Ciptagelar. Namun, baru kali ini saya dapat mengunjunginya. Sungguh menarik. Sebuah contoh nyata kemandirian pangan yang berbasis tradisi budaya,” kata Sumardi alias Didi, warga Bogor.

Sesuai jadwal, perjalanan menuju Ciptagelar dimulai dari Kota Sukabumi pada Sabtu, 6 Desember 2025. Akan tetapi, sejumlah peserta memilih melakukan petualangan itu sejak sehari sebelumnya, yakni Jumat. Ada yang bersepeda dari Bintaro. Kelompok lain dipimpin Octovianus Noya mengayuh sepeda dari Cinere. Ada pula yang gowes dari Jatiwarna, Bekasi.
Kami bertemu di Bogor, lalu melewati Ciawi. Gowes ini cukup seru, sebab kontur sangat variatif: menanjak, menurun dan mendatar yang silih berganti menghadang. Sekitar 30 kilometer menjelang Kota Sukabumi terguyur hujan cukup lebat.
Tantangan-tantangan yang ada tidak menyurutkan semangat para pesepeda ini untuk mengayuh sepeda hingga finis. “Saya tidak peduli dengan keadaan yang ada selama gowes ini. Ada rasa Lelah, tetapi bodoh amat. Yang penting gowes sampai di finis di Sukabumi,” kata Yoke Haulani Latif, pesepeda asal Kelapa Gading.
Paket Menarik
Sabtu (6/12/2025) sekitar pukul 06.30 WIB, kami memulai perjalanan dari Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu. Pagi itu arus lalu lintas di kota ini masih relatif sepi dari kendaraan. Hanya segelintir angkutan kota yang mulai beroperasi. Kayuhan pun terasa nyaman.
Beberapa kali kami berpapasan dengan sejumlah warga setempat yang bersepeda dan lari. Jumlahnya tidak banyak, tetapi setidaknya menggambarkan semangat berolahraga selalu tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Kesadaran ini juga menunjukkan keinginan untuk hidup sehat dan bahagia.

Keluar dari Kota Sukabumi arus lalu lintas kian padat, terutama truk-truk besar dan bus yang hendak menuju Bogor dan pintu tol Parung Kuda. Apalagi di beberapa titik terjadi penumpukan kendaraan akibat ulah angkutan kota yang ngetem. Kondisi itu menghambat kayuhan kami. Rombongan kami terpecah dalam tiga hingga empat kelompok.
Selepas Cibadak, kami mengambil jalur ke kiri menuju Pelabuhan Ratu. Mulai dari titik itu, arus lalu lintas pun longgar. Perjalanan menjadi lancar. Udara segar sangat terasa. Di kiri dan kanan jalan tampak pohon-pohon rindang sehingga gowes sungguh menyenangkan.
Posisi Kota Sukabumi pada ketinggian 584 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan Pelabuhan Ratu pada ketinggian 10 mdpl. Sekilas terkesan ringan, sebab menuju lokasi yang rendah. Ternyata, perjalanan ini bukan sepenuhnya menurun.

Rute sejauh 63 kilometer itu malah menampilkan rolling (menanjak dan menurun) yang cukup banyak, dan hanya sedikit jalan mendatar. Beberapa kali kami melewati turunan panjang, tetapi selang 50-100 meter berikutnya langsung menghadapi tanjakan ngehek; pendek dengan memiliki kemiringan berkisar 15-25 derajat.
Pada rute ini juga terdapat perkebunan dengan budidaya pisang, durian, cengkih, jahe, papaya dan lainnya. Ada pula hutan bambu yang konon mampu menyerap air dalam jumlah besar dan menurunkan suhu udara.
Bikin Nyesak
Joko Kus Sulistyo, pesepeda dari Jakarta menilai rute Sukabumi ke Pelabuhan Ratu termasuk jalur yang menarik untuk bersepeda. Tanjakan dan turunannya cukup menarik, bahkan tidak terlalu berat. Ada cukup banyak pohon rindang sehingga udara terasa cukup menyegarkan. “Saya sangat menikmati gowes di rute ini,” kata Joko.

Pengakuan yang sama disampaikan Maya Megasari Devina alias MayMay, pesepeda dari Bintaro, Tangerang. Namun menurut dia, yang menyebalkan adalah rolling berkali-kali, dimana tanjakan-tanjakannya pendek tetapi kemiringannya lumayan tinggi. “Rolling-nya itu yang bikin nyesak. Butuh mental yang kuat,” ujarnya.
Sekitar pukul 10.30 WIB, rombongan pertama memasuki finis di Muse Coffee di Jalan Raya Citepus Tengah, Pelabuhan Ratu. Selang satu jam berikutnya rombongan terakhir pun tiba. Kami makan siang di lokasi itu sambil menyiapkan keberangkatan ke kampung adat Kesepuhan Gelar Alam di Desa Sirnaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jaraknya sekitar 42 kilometer.
Di Muse Coffee tersedia pula kolam renang yang luas dan lengkap dengan tempat bilas, juga arena bermain billiar. Paling laris adalah kolam renang. Setiap akhir pekan ratusan keluarga mengantarkan anak-anak mereka untuk berenang. Sepeda peserta kami simpan di lokasi yang berada tidak jauh dari tepi pantai selatan Jawa tersebut. (bersambung)

1 Komentar
Pingback: Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam - blalak.com