Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Lilin Solidaritas untuk Rufinus Tigau
Humaniora

Lilin Solidaritas untuk Rufinus Tigau

Stefanus WoloBy Stefanus WoloJanuari 19, 2022Tidak ada komentar6 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Pater Werenfried van Straaten, pendiri Kirche in Not di hadapan umatnya pada beberapa tahun silam. Foto: dokumen pribadi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh STEFANUS WOLO ITU

Minggu, 16 Januari 2022, saya menghadiri undangan dari Kirche In Not atau Aid to the Church in Need Swiss di kota Luzern. Kirche In Not adalah sebuah lembaga solidaritas kemanusiaan Katolik internasional. Lembaga kepausan ini berkonsentrasi membantu umat Katolik yang tertindas dari pelbagai belahan dunia.

Saya mengenal lembaga ini pada Mei 2017. Ketika itu mereka meminta dukungan umat paroki saya untuk karya Mgr. Klemens Pickel dari Keuskupan Saratow, Rusia Selatan. Uskup Klemens bersama 40 imam dan 50 suster melayani sekitar 35.000 umat katolik di wilayah itu. Salah seorang imamnya adalah P Laurens Lemdel SVD, Misionaris dari Maumere-Flores, Indonesia.

Sejak itu saya selalu berkomunikasi dengan kedua staf Kirche In Not; Lucia dan Ivo, serta pimpinan lembaga ini, Herr Jan Probst. Saya perlahan menjadi mitra kerja mereka. Sebagai mitra, saya bersama umat paroki juga menggalang dana melalui kolekte mingguan, kolekte kematian dan intensi misa. Di Swiss, kolekte-kolekte tidak dimasukan ke kas paroki, tetapi disumbangkan untuk karya-karya sosial kemanusiaan.

Setiap tahun pada hari minggu ketiga Januari, saya diundang menghadiri perayaan ekaristi di gereja Jesuit, Luzern. Ada dua intensi penting dalam perayaan itu. Pertama, kami mengenangkan Pater Werenfried van Straaten yang lahir 17 Januari 1913 di Mijdrecht, Amsterdam, Belanda dan meninggal 31 Januari 2003 di Königstein-Taunus Jerman. Kami juga mendoakan arwah dan memasang lilin untuk orang-orang Katolik sedunia yang meninggal karena penganiayaan. Kedua, kami makan bersama dan mendengar laporan kegiatan tahunan.

Pasca Perang Dunia II

Pater Werenfried van Straaten adalah pendiri Kirche In Not. Dia mendirikan lembaga ini pada Desember 1947 di Belgia. Awalnya diberikan nama Ostpriesterhilfe atau bantuan imam-imam dari Belanda dan Belgia untuk para pengungsi dari wilayah Jerman Timur. Pater Werenfried mengalami situasi perang dunia kedua dan menyaksikan kesulitan hidup pasca perang.

Sekitar 14 juta warga dari Jerman Timur mengungsi ke Jerman Barat hingga perbatasan Belanda dan Belgia. Sekitar 6 juta orang di antaranya adalah orang Katolik. Mereka mengalami kesulitan tempat perlindungan, pakaian, makanan, obat-obatan dan pendampingan rohani. Karena itu Werenfried menggalangkan bantuan kemanusiaan untuk mereka.

BACA JUGA:  Menelusuri Jejak Rasul Perdamaian Swiss

Pater Werenfried menyerukan rekonsiliasi pasca perang. Desember 1947, dia menulis sebuah artikel berjudul Frieden auf Erden? Kein Platz in der Herberge. Artinya Damai di Bumi? Tak Punya Tempat di Penginapan“. Dia memberikan dukungan spiritual untuk para pengungsi. Sejak tahun 1950, dia mengorganisir pelayanan rohani untuk mereka.

Para pengungsi itu menyebar ke pelbagai tempat. Mereka tidak memiliki tempat ibadat dan pelayan rohani. Pater Werenfried menghidupkan Kapellenwagenaktion“ yaitu aksi menjadikan kereta dan truk-truk besar sebagai tempat perayaan ekaristi dan pelayanan rohani sementara.

Pater Werenfried van Straaten, pendiri Kirche in Not di hadapan umatnya pada beberapa tahun silam. Foto: dokumen pribadi

Dia juga menghidupkan Rucksackpriester atau «Pastor Ransel“, yakni mengorganisasi para imam untuk mengunjungi tempat-tempat pengungsian dengan sepeda atau sepeda motor. Mereka mengisi ransel dengan perlengkapan ekaristi, pakaian, obat-obatan dan makanan.

Dalam perjalanan waktu karya Ostpriesterhilfe semakin meluas. Pelayanan mereka menjangkau Eropa Timur (1952), Timur Tengah (1955), Asia (1961), Amerika Latin (1962) dan Afrika (1965). Tahun 1969 lembaga ini berganti nama menjadi Kirche In Not atau Aid to the Church in Need hingga hari ini.  Tahun 1984, lembaga ini mendapat pengakuan dari Tahta Suci.

Tahun 1989, setelah perubahan politik di Eropa Timur, Kirche In Not mendukung evangelisasi baru di negara-negara eks blok Timur. Tahun 2007 Paus Benediktus XVI meminta mereka membantu Timur Tengah. Tahun 2011 Paus Benediktus  mengesahkan Kirche In Not sebagai lembaga resmi kepausan dan menunjuk Mauro Kardinal Piacenza sebagai presidennya.

Kirche In Not terus memperluas jaringan solidaritas kemanusiaan. Sejak 2011 Kirche In Not membantu Suriah dan Irak(2014). Tahun 2017-2020 Kirche In Not membangun kembali Katedral Allepo di Suriah. Di masa Pandemie Global, Kirche In Not memberikan bantuan darurat untuk ribuan keluarga di Libanon. Tahun 2021 mereka membangun kembali 14 ribuan tempat tinggal, gereja dan sarana peribadatan lain di Irak dan membantu korban gempa di Haiti.

BACA JUGA:  Misionaris Flores di Tengah Sumpah Rütli

Mereka tidak menerima hibah pemerintah atau dana pajak gereja. Setiap tahun mereka menerima sumbangan dana dari sekitar 330.000 donatur yang berasal dari 23 negara. Mereka mendukung kurang lebih 5000 projek kemanusiaan di 140 negara. Pada tahun 2020 Kirche In Not memperoleh sumbangan sangat signifikan yaitu sekitar 123 juta euro. Swiss menyumbangkan 7,2 juta Euro.

Kirche In Not mencatat sekitar 200 juta orang Kristen yang menderita perlakuan diskriminatif, penindasan regim politik dan tekanan sosial kelompok mayoritas. Mereka membantu pendidikan calon imam, formasi kaum religius, kaderisasi awam dan karya para imam. Mereka mendukung penyebaran iman melalui media komunikasi (radio, televisi, film dokumenter), bantuan buku-buku agama dan distribusi alkitab.

Mereka juga membantu pembangunan, renovasi gereja dan sarana transportasi untuk para pelayan pastoral. Mereka mengorganisir bantuan darurat perang, kekerasan, bencana alam dan pengungsian. Mereka mengadvokasi orang-orang Kristen yang mengalami penindasan dari institusi publik. Intinya mereka menggalang solidaritas kemanusiaan untuk orang-orang katolik yang tertindas.

Untuk Rufinus Tigau

Setiap tahun Kirche In Not menghadirkan selebran utama yang berbeda. Mereka mengundang Kardinal, Uskup atau imam dari pelbagai kawasan. Perayaan ekaristi kali ini dipimpin Mgr Joseph Maria Bonnemain, Uskup Keuskupan Chur Swiss yang ditahbiskan 19 Maret 2021. Uskup berusia 74 tahun ini adalah seorang dokter dan ahli hukum gereja yang bersahaja.

Perayaan kali ini tanpa kelompok paduan suara karena situasi Corona. Tapi seorang penyanyi tunggal, Silvia Widlin menyanyikan lagu-lagu Jodel dengan iringan Handharmonica atau harmonika tangan. Jodel adalah nyanyian khas penduduk pegunungan Alpen. Perayaan berlangsung hikmat dan disiarkan langsung oleh Radio Maria dan Radio Gloria Swiss.

Ada satu hal yang menggelitik saya saat doa umat. Pembaca doa umat, Lucia Wicki membacakan doa umat untuk Rufinus Tigau. Rufinus Tigau adalah katekis Paroki Bilogai, Keuskupan Timika-Papua Indonesia yang pada Oktober 2020 menjadi korban kekerasan aparat kepolisian. Dia dicurigai memberikan makanan untuk kelompok gerakan Papua merdeka.

BACA JUGA:  Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Sebelum ditembak Rufinus sempat mengajak polisi berdialog: Bitte hören Sie auf zu schiessen, lassen sie uns in Ruhe reden! Atau  tolong berhenti menembak. Mari kita berbicara dengan tenang“. Ein Polizist richtete die Waffe auf ihn streckte ihn nieder. Tetapi seorang polisi menodongkan pistol dan menembaknya.

«Herr, gib allen den Mut, sich für den Frieden und für Dialog einsetzen, auch dann wenn es aussichtslos erscheint. Schenke uns die Gabe auch unseren Feinden mit Liebe begegnen zu können. Diese Kerze wird alle brennen Menschen, die sich gegen Hass, Verfolgung und für Dialog einsetzen“.

Artinya «Tuhan, berilah semua orang keberanian untuk membangun dialog dan perdamaian, bahkan ketika sudah tiada harapan. Beri kami anugerah untuk menjumpai musuh kami dengan cinta. Lilin ini akan menghangatkan semua orang yang menentang kebencian, penganiayaan dan membangun dialog“.

Kirche In Not memandang orang-orang Katolik di Papua sebagai kaum tertindas. Kematian katekis Rofinus Tigau membuktikan itu. Mereka tidak mendukung dana untuk gerakan Papua merdeka atau aksi balas dendam orang Katolik Papua terhadap aparat. Mereka menyesalkan kejadian itu, berduka atas kematian Rufinus Tigau dan mendoakan keselamatan jiwanya.

Mereka tulus memanjatkan doa dan memasang lilin tanpa tendensi politik. Lilin bernyala adalah lambang Kristus yang bangkit. Lilin kebangkitan dan solidaritas kemanusiaan baru.

Kirche In Not tidak membiayai projek kekacauan dan konflik bersenjata orang-orang Katolik. Mereka mendukung dialog humanis dan rekonsiliasi damai. Mereka mendukung umat katolik melawan kebencian dan penganiayaan dengan spirit kekatolikan yaitu cinta dan solidaritas kemanusiaan.

STEFANUS WOLO ITU
Imam Projo Keuskupan Agung Ende. Flores
Misionaris di Keuskupan Basel, Swiss

Stefanus Wolo
Author: Stefanus Wolo

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

80 Tahun Bom Atom di Nagasaki: Luka Itu Perih Sepanjang Hayat

Agustus 8, 2025

Kunjungi Jepang, Orang Indonesia Wajib Bebas Penyakit TBC

November 19, 2023
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.