Pemerintah Jepang sungguh sangat terganggu dengan jumlah penderita penyakit tuberculosis di negara tersebut yang terus meningkat. Bayangkan, pada tahun 2022 tercatat sebanyak 10.235 penderita baru. Bahkan, 11,9 persen di antaranya adalah pasien baru yang berasal dari luar negeri. Itu sebabnya, mereka akan mengetatkan wisatawan yang ingin mengunjungi Jepang.
Penambahan jumlah pasien tuberculosis (TBC) ini menjadi persoalan yang besar dan serius bagi “negeri Sakura” tersebut. Maklum, pada tahun 2021, organisasi kesehatan dunia (WHO) sebetulnya telah menyatakan Jepang sebagai negara endemis rendah untuk TBC. Saat itu, jumlah penderita TBC di Jepang sudah berada di bawah 10 per 100.000 penduduk.

Belum sampai setahun, klaim WHO itu langsung terbantahkan. Jumlah penderita TBC di Jepang malah melonjak drastis pada tahun 2022. Apalagi, dari sejumlah survei lapangan telah menunjukkan pasien TBC cenderung bertambah. Fakta ini tentu menjadi pukulan serius bagi Jepang.
Pemerintah Jepang pun tidak tinggal diam. Mereka terus mencari tahu pemicunya. Mengapa terjadi peningkatan jumlah penderita TBC? Apakah pemicu utama semata-mata karena adanya penularan dari penderita lama di negeri itu, atau ada penyebab lain?
Enam negara
Hasil penelitian menunjukkan banyak pasien baru TBC di Jepang berasal dari enam negara, yakni Indonesia, Filipina, Vietnam, China, Nepal dan Myanmar. Itu sebabnya, mulai tahun 2024, wisatawan dari keenam negara tersebut wajib menjalani tes TBC jika ingin mengunjungi Jepang. Mereka mendapatkan visa masuk Jepang kalau benar-benar sehat dari gangguan penyakit menular tersebut.
Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang Keizo Takemi melalui pemberitahaan Asahi Shimbun pada Jumat (17/11/2023) menyebutkan bahwa pemerintah Jepang akan bekerjasama dengan sejumlah rumah sakit di keenam negara tersebut. Rumah sakit tersebut yang melakukan pemeriksaan TBC pada calon wisatawan yang ingin mengunjungi Jepang.

Jadi, tes TBC menjadi persyaratan utama dalam permohonan visa yang diajukan para wisatawan dari keenam negara tersebut yang ingin tinggal lebih dari tiga bulan. Jika hasilnya positif, maka Jepang takkan mengeluarkan visa.
“Kami sedang membuat peraturan tersebut. Saat ini sedang finalisasi sehingga dapat memulai sistem ini pada tahun fiskal berikutnya (2024),” kata Takemi. Tahun fiskal di Jepang dimulai pada setiap bulan April.
Kasus global
WHO melilis Global TB Report tahun 2023 pada Selasa 7 November 2023 lalu. Salah satu hasilnya adalah kasus TBC di Indonesia menempati urutan kedua di dunia. Posisi Indonesia tersebut telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah penderita TBC di dunia tahun 2020 sekitar 10 juta orang. Setahun berikutnya menjadi 10,3 juta orang, dan tahun 2022 bertambah lagi mencapai 10,6 juta orang.
Delapan negara di kawasan Asia dan Afrika yakni memiliki kasus terbanyak yakni India (27 persen), Indonesia (10 persen), China (7,1 persen), Filipina (7 persen), Pakistan (5,7 persen), Nigeria (4,5 persen), Bangladesh (3,6 persen), dan Kongo (3 persen).
Khusus di Indonesia, penderita TBC sekitar 969.000 orang. Jumlah ini meningkat dari tahun 2022 sebanyak 717.941 kasus. Angka ini juga melonjak 61,98 persen dari kondisi tahun 2021 sekitar 443.235 kasus. Pada tahun 2022 juga berhasil mengobati 608.947 penderita TBC.

Menurut WHO, TBC adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru dengan pemicu bersumber dari bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit ini menyebar melalui udara ketika pengidap batuk, bersin, atau meludah. Kurang lebih seperempat populasi global kemungkinan terinfeksi bakteri TBC.
Namun hanya 5-10 persen orang terinfeksi pada akhirnya menunjukkan gejala dan berkembang sebagai penyakit. Tercatat, 1,3 juta orang meninggal karena TBC pada 2022, dimana 167.000 orang di antaranya juga mengidap HIV.
Secara global, TBC merupakan pembunuh menular nomor dua setelah Covid-19. Mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, seperti pengidap HIV, malnutrisi, diabetes, atau pengguna tembakau memiliki risiko lebih tinggi untuk jatuh sakit.
Adapun gejala TBC antara lain: batuk berkepanjangan (terkadang disertai darah). Nyeri dada, demam meriang, badan lemas, nafsu makan berkurang dan berat badan pun turun. Meski biasanya menyerang paru-paru, TBC juga bisa menyerang ginjal, otak. (JANNES EUDES WAWA, dari berbagai sumber)
Jangan lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (22): Perjalanan di Iran, Siapkan Uang Lokal Tunai

