Oleh: STEFANUS WOLO ITU
Saya ingat Helen Keller. Dia lahir di Tuscumbia, Alabama, Amerika Serikat, 27 Juni 1880. Pada usia 19 bulan Helen mengalami kisah tragis. Dia terkena penyakit yang membuatnya buta dan tuli. Sejak itu mentalnya memburuk. Dia menjadi anak liar, keras kepala dan kasar.
Saat berusia tujuh tahun, Helen didampingi seorang ibu guru: Anne Sullivan. Ibu Anne melatih dan motivasi Helen. “Kekurangan bukanlah halangan bagi Helen untuk berkreasi dan melakukan sesuatu”, kata ibu Anne.
Helen semakin percaya diri. Semua manusia memiliki kelebihan masing-masing. Dia juga demikian: memiliki kelebihan. Dengan kelebihan itu dia bisa melakukan sesuatu bernilai meski dia buta dan tuli.
Tahun 1903 Helen menerbitkan Autobiografinya berjudul Story of My Life. Helen juga menulis buku lain The World I Live. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Helen juga berhasil mendirikan “American Foundation for the Blind dan American Foundation for the Overseas Blind”.

Visi kreatif
Kisah Helen Keller hendak membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi dirinya berbuat baik. Kekurangan tidak membatasi dirinya melakukan karya-karya kreatif. Dia buta dan tuli. Tetapi dia berbahagia karena memiliki visi kreatif.
Saya pernah mendengar ungkapan keprihatinan seorang. Kata dia: “Orang yang paling menyedihkan di dunia ini adalah orang yang punya mata dan penglihatan, namun tidak memiliki visi”.
Helen Keller memiliki sikap optimis dalam hidupnya. Bagi Helen, optimisme adalah keyakinan yang mengarah pada pencapaian. Dia bisa berhasil bila dia memiliki harapan dan percaya diri.
Pengalaman Helen Keller ini hendaknya menjadi ceritera motivasi bagi sama saudara kita yang buta dan tuli. Mereka sering kali merasa tak bernilai dan tak berguna.
Mereka tidak bisa berkarya lagi. Yang ada di depan mereka adalah suasana kegelapan dan tanpa harapan. Kita perlu meyakinkan dan menamamkan rasa percaya diri pada mereka.
Mereka bisa melakukan dan menghasilkan sesuatu yang istimewa. Seperti Helen Keller didampingi Anne Sullivan dan sukses, sama saudara kita yang buta, tuli atau cacat fisik lainnya membutuhkan bimbingan dan pendampingan kita. Orang buta memiliki optimisme dan optimisme menghasilkan daya cipta.
Kita menyaksikan dua foto di bawah ini. “Tongkat dan anjing” bisa bantu menuntun kedua orang buta berjalan. Kehadiran kita mesti mampu membantu orang-orang buta memiliki visi, optimisme dan menghasilkan sesuatu untuk hidup. Mereka bisa berpikir tenang, mencintai kekurangannya dengan tulus, melakukan setiap pekerjaan dengan niat mulia dan mempercayai Tuhan tanpa keraguan.
Pada 20 Maret, Eropa memasuki musim semi. Musim semi selalu menjadi simbol kelahiran dan pembaharuan. Selama musim semi semua mahluk hidup mulai bangun. Kami mengalami suasana baru. Sinar matahari yang mulai menghangat. Burung mulai bernyanyi di pagi hari. Desiran air sungai, gemerisik rumput muda dan bunga-bunga indah.
Musim semi memanggilmu untuk menikmati kehangatan, menyaksikan bunga-bunga, dan mempersiaplan paskah dengan sukacita. Saatnya merayakan cinta yang baru mulai bersemi. Cinta menolong orang-orang buta agar memiliki optimisme dalam hidup, menghasilkan sesuatu, bertahan hidup dan merayakan paskah abadi.
STEFANUS WOLO ITU
Imam Projo Keuskupan Agung Ende. Flores
Misionaris di Keuskupan Basel, Swiss
