Oleh JANNES EUDES WAWA
Sabtu (6/12/2025) sekitar pukul 13.30, kami bergerak ke Gelaralam menggunakan 5 unit mobil double cabin, serta satu unit mobil Suzuki Jimmy dan stau unit Totoya Land Cruser milik om Joko Kus Sulistyo. Semua mobil memiliki dua gardan. Kami harus menggunakan mobil tipe sepertil ini karena akan melewati jalan makadam dan menanjak sejauh lebih dari 40 kilometer hingga mencapai kesepuhan tersebut.
Setelah keluar dari jalan utama di Pelabuan Ratu, kami langsung menghadapi jalan yang sempit dengan lebar hanya sekitar dua meter. Tiga kilometer awal masih melewati jalan beraspal. Selepas itu mulai menanjak dan berbatu. Jalan hanya berupa lapisan batu pecah dan batu bulat kecil yang dipadatkan.

Tanjakan terus bertambah. Beberapa kali kami melewati jalan menurun, tetapi tidak panjang, sesudahnya menanjak lagi. Mobil kami sempat berpapasan dengan kendaraan lain. Para sopir sepertinya saling memahami sehingga segera mencarikan solusi agar perjalanan tetap lancar.
Kami melewati kampung Ciptarasa yang pada tahun 1984-2000 menjadi pusat Kesepuhan Ciptagelar. Kampung ini berada pada ketinggian 765 meter di atas permukaan laut (mdpl) terletak di punggung Gunung Sangiang dan Gunung Bodas, dekat Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak.
Di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak tampak perkebunan durian dan cengkih yang dikelola kelompok perorangan dan swasta. Ada pula persawahan dan kebun. Pohon-pohon tampak rindang, besar dan menjulang. Di tengah belantara tampak pula pohon nira, kirai dan bambu. Warga setempat mengolah air nira menjadi gula merah dan memanfaatkan daun kirai untuk atap rumah.

Permukiman penduduk hanya berada di beberapa titik, seperti di wilayah Ciptarasa dan Sirnaresmi. Rumah-rumah warga umumnya menggunakan bahan baku kayu dan bambu serta beratap ijuk atau daun kirai. Hanya sebagian kecil rumah yang permanen.
Hujan di Belantara Hutan
Di tengah hutan belantara itu sempat turun hujan yang cukup lebat. Penumpang mobil double cabin yang berada di bagian belakang langsung menutup tas-tas pakaian dengan terpal. Mereka juga mengenakan jaket hujan. Suhu dingin menusuk tubuh sepanjang perjalanan.
Hujan lebat itu membuat kami khawatir. Batu-batu perkerasan yang ada kemungkinan licin sehingga menghambat laju roda kendaraan. Namun, semua mobil memiliki dua gardan sehingga petualangan kami tidak mengalami hambatan saat hujan deras.

Menjelang pukul 17.00, kami pun tiba di Kesepuhan Gelar Alam yang berada pada ketinggian 1.200 mdpl. Sore itu kabut mulai menyelimuti sebagian wilayah. Suhu udara mulai dingin. Gelaralam dalam bahasa setempat berarti membentang alam atau terbuka luas terhadap alam. Hal ini mencerminkan filosofi yang menjunjung tinggi keharmonisan dengan alam dalam kehidupan.
Setelah turun dari mobil masing-masing dan melakukan perenggangan tubuh, kami menuju ke Imah Gede atau rumah induk atau rumah utama untuk melapor diri. Rumah tersebut merupakan pusat spiritual dan adat, tempat tinggal pemimpin tertinggi atau ketua adat yakni Abah Ugi.
Imah Gede lumayan besar dan luas. Terbuat dari kayu dan bambu, dinding anyaman bambu serta beratap ijuk. Lantai rumah dibikin sekitar satu meter di atas permukaan tanah, lalu dilapisi bambu yang telah dibilah. Loteng menggunakan anyaman bambu. Material yang semuanya alami membuat suasananya terasa adem.

Pada ruang utama rumah ini terpajang cukup banyak foto aktivitas warga kesepuhan dan para ketua adat selama beberapa generasi sebelumnya. Mereka juga memajangkan sejumlah peralatan yang menjadi simbol-simbol adat. Di tempat itu pula tersedia air hangat, kopi, teh dan gula sebagai sajian selamat datang. Para tamu membuat sendiri minuman sesuai seleranya.
Inap di Rumah Warga
Panitia pun melakukan koordinasi dengan pimpinan kesepuhan untuk pengaturan penginapan peserta. Maklum, di sana tidak tersedia rumah khusus untuk pengunjung. Para tamu biasanya ditempatkan di rumah-rumah warga. Di rumah itu tersedia kamar khusus, dan tamu akan memberikan sejumlah uang sebagai imbalan. Tarifnya tidak besar, sekitar Rp 300.000 per rumah. Sedangkan untuk makan dipusatkan di Imah Gede atau rumah induk.
Menjelang petang, para peserta langsung menuju rumah warga untuk istirahat dan menginap. Ada delapan rumah menjadi penginapan kami. Para pemilik rumah menyediakan tikar, kasur, bantal dan selimut. Air untuk mandi dan kakus pun berlimpah. Warga menerima kami dengan ramah dan suka cita. Komunikasi terjalin dengan sangat baik.
Petang hari, saya bersama om Octovianus Noya, om Joko Kus Sulistyo, dan Yatno Aan bertemu dengan Ketua Adat Kesepuhan Gelaralam Abah Ugi Sugriana Rakasiwi di ruangnya di Imah Gede. Kami bersilaturahim dan menyampaikan niat tim jelajah mengunjungi desa adat tersebut. Abah Ugi yang merupakan generasi ke-11 pemegang tambuk kesepuhan itu menyambut kami dengan senang hati. Dia menyatakan minatnya untuk berdialog dengan semua peserta pada malam itu setelah selesai makan di pendopo.

Kesepuhan Gelaralam termasuk bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul. Ini adalah komunitas masyarakat adat Sunda yang mendiami wilayah Gunung Halimun. Mereka hidup selaras dengan alam dan tradisi leluhur, mengedepankan kearifan lokal dalam mengelola alam, pertanian dan kehidupan sosial. Mereka dipimpin tetua adat dengan aturan yang mengacu pada tradisi Sunda Wiwitan. Komunitas ini tersebar di sekitar 569 perkampungan yang berada di Kabupaten Lebak, Bogor dan Sukabumi.
Tradisi Berpindah Tempat
Dalam bekerja, ketua adat dibantu para rorokan atau kelompok adat yang bertugas menjaga dan mengurusi berbagai aspek kehidupan sosial, budaya dan sumber daya alam. Misalnya, Rorokan Pemakayaan bertugas menjaga kelestarian sumber air dan pertanian. Ada pula rorokan yang memimpin ritual adat seperti selamatan padi. Lalu rorokan yang khusus mengurus Imah Gede, termasuk makanan untuk Abah Ugi dan keluarganya.
Masyarakat adat Gelaralam juga memiliki tradisi ngalalakon atau berpindah tempat pusat pemerintahan. Bahkan, sejak berdiri tahun 1368, kesepuhan ini telah beberapa kali melakukan perpindahan lokasi permukiman. Perpindahan itu tidak semata-mata sebagai upaya kesepuhan untuk kembali ke titik nadir peradaban, namun juga perwujudan permukiman yang lebih baik. Proses ini selalu bermula dengan adanya wangsit (perintah gaib) dari leluhur melalui mimpi yang dialami ketua adat.

Saat wabah virus Covid-19 melanda dunia, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi pun mendapatkan wangsit (perintah gaib) dari leluhur agar segera bersiap untuk pindah dari lokasi saat itu di Ciptagelar. Serangan wabah itu menjadi pertanda alam bagi kesepuhan untuk melakukan tradisi ngalalakon.
Leluhur juga memberikan petunjuk lokasinya yakni dua kilometer arah tenggara. Maka, usai upacara Seren Taun pada September 2021, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi memerintahkan pembangunan Imah Gede di Gelaralam pada awal Desember 2021 hingga Februari 2022. Hal ini sebagai persiapan. Kapan waktunya akan pindah masih menunggu wangsit leluhur.
Titah Leluhur
Pada 1 Maret 2022 malam, ribuan warga: tua-muda, laki-laki dan perempuan telah berkumpul di alun-alun Kesepuhan Ciptagelar. Mereka mengenakan pakaian adat berwarna hitam dan berikat kepala bagi pria dan selendang khusus Perempuan menunggu titah dari Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Kepala Adat Kesepuhan Ciptagelar untuk bergerak.

Tepat pukul 22.00 WIB titah pun turun. Saat itulah mereka bergerak serentak dari alun-alun menuju ke arah tenggara. Hujan lebat seakan merestui dan memberikan berkah kegiatan ngalalakon tersebut. Sambil memegang obor, senter dan lampu gawai, warga tetap bergerak maju menapaki jalan tanah dalam arak-arakan yang tertib sejauh lebih dari dua kilometer.
Jalan tanah yang naik dan turun serta telah berlumpur akibat hujan deras tidak menjadi penghalang bagi ribuan warga untuk terus berjalan kaki. Mereka membawa barang-barang yang merupakan komponen penting bagi Kesepuhan Ciptagelar menuju Imah Gede di Gelaralam. “Suasana saat ngalalakon itu sungguh dramatis,” ungkap Ki Sodong.
Berikut daftar Ngalalakon Kasepuhan Ciptagelar:
- Cipatat Urug (1368-1556);
- Pasir Gombong (1556-1729);
- Ciear, Cimanaul, Bongkok, Cibeber, Pasir Talaga, Lebak Larang, Lebak Binong (1729-1797);
- Pasir Talaga (1797-1832);
- Tegal Lumbu (1832-1895);
- Cicadas, Bojongcisono (1895-1937);
- Cicemet, Sirnaresmi (1937-1972);
- Sirnarasa (1972-1980);
- Linggarjati (1980-1984);
- Ciptarasa (1984-2000);
- Ciptagelar (2001-2022);
- Gelar Alam (2022- sampai sekarang (bersambung)
baca juga:


1 Komentar
Pingback: Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi - blalak.com