Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (30): Bersepeda Masuk Eropa, Mimpi Saya Mulai Terbayarkan
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (30): Bersepeda Masuk Eropa, Mimpi Saya Mulai Terbayarkan

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJanuari 14, 2024Tidak ada komentar9 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Berada di tepi Laut Marmara, Turki. Tampak rartuan perahu nelayan yang sedang parkir di tepi pantai. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Setiap kali mendengar cerita orang bersepeda ke Eropa, rasanya beda. Ada aspek heroik yang kuat, sebab perjuangan menuju ke sana tidak mudah. Banyak faktor teknis dan non teknis yang selalu menantang. Setelah lima bulan mengayuh sepeda dari Jakarta, kini saya pun mulai memasuki Eropa melalui gerbang Turki dan Yunani.

Selasa, 12 Desember 2023, saya meninggalkan Istanbul menuju ke perbatasan Turki- Yunani. Hari itu saya bersepeda hingga di Kota Tekirdag sejauh 141 kilometer.

 

Berada di Kota Istanbul, Turki. Foto: Arsip Royke Lumowa

Sebagian Istanbul sesungguhnya sudah masuk wilayah Eropa. Hotel tempat kami menginap berada di sisi Eropa. Akan tetapi, banyak pihak mengklaim Eropa yang sepenuhnya mulai dari Yunani.

Pesisir Laut Marmara

Setelah sarapan pagi di hotel yang berada dalam kawasan Taksim, saya pun bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan. Saya dan tim pendukung berdoa bersama sebelum memulai petualangan.

Tepat pukul 08.30, saya mulai bersepeda. Mula-mula melewati Jalan Istiklal yang amat populer sebagai kawasan perbelanjaan, restoran dan perhotelan. Pagi itu, jalan masih sepi dari pengunjung sehingga kami pun berfoto bersama dengan leluasa.

Perjalanan ini sungguh menarik, sebab melewati pesisir Laut Marmara. Laut ini juga terhubung dengan Laut Hitam di sisi timur melalui Selat Bosphorus. Dari Laut Marmara pun dapat menyambung ke Laut Mediterania di sisi barat.

Siang itu, saya seolah tidak habisnya melewati pesisir Laut Marmara. Hingga pukul 12.30, saya masih dalam kawasan perairan tersebut. Saya makan siang di Kota Silivri. Kota ini pun masih di tepi laut yang sama.

Berada di tepi Laut Marmara, Turki. Tampak rartuan perahu nelayan yang sedang parkir di tepi pantai. Foto: Arsip Royke Lumowa

Menarik dari rute ini adalah panorama laut yang jernih dengan pantai yang bersih dan tertata rapi. Di tepi pantai selalu ada area publik yang memberi ruang yang leluasa bagi masyarakat untuk menikmati panorama alam.

Sementara area bisnis juga selalu tersedia. Bangunan yang ada tertata apik dan bersih. Nyaris tidak ada sampah yang berserakan di tepi pantai dan jalan raya.

Jalur sepeda tersedia dimana-mana sehingga memungkinan pesepeda dapat mengayuh dengan nyaman dan jauh dari kebisingan kendaraan lainnya. Siang itu cukup banyak warga mengayuh sepeda.

Kontur jalan yang ada umumnya datar, namun selalu ada variasi naik dan turun. Jalan yang ada pun lebar dan beraspal mulus.

Suhu udara berkisar 6-8 derajat celcius. Suhu dingin sepanjang hari di satu sisi membuat kayuhan pun tidak terlalu menguras energi melalui keringat. Akan tetapi, faktor ini memaksa saya untuk selalu konsentrasi dan fokus. Selama gowes pun saya mengenakan jaket, kaos kaki dan sarung tangan beberapa lapis serta penutup hidung, mulut dan leher.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (7): Angin Kencang Hantui Kayuh di Lintas Timur Thailand

Suka “ngeteh”

Saya menuntaskan perjalanan hari itu dengan menempuh jarak sejauh 141 kiometer. Total ketinggian mencapai 1.336 meter. Lumayan tinggi lho. Saya tiba di Kota Tekirdag sekitar pukul 18.00. Kota ini masih berada di pantai barat Laut Marmara.

Saat dalam perjalanan dari Istanbul menuju ke border Turki-Yunani. Foto: Arsip Royke Lumowa

Kami menginap di Hotel Rodasto. Hotel ini masih berada di tengah kota. Tempatnya bersih dan rapi. Mobil pengiring kami parkirkan di depan hotel sesuai arahan petugas satuan pengamanan. Lokasi itu termasuk aman.

Salah satu kelebihan Turki dibanding negara Eropa lainnya adalah masyarakatnya dapat menikmati laut dan segala keindahannya selama 24 jam secara gratis. Hal ini karena letak Turki yang berbatasan langsung dengan empat laut, yakni Laut Hitam, Laut Mediterania, Laut Agea dan Laut Marmara. Wilayah Tekirdag berbatasan dengan Laut Marmara.

Turki merupakan negara ketiga yang paling banyak mengonsumsi teh di dunia, setelah China dan India. Menurut data Food and Agriculture Organization of the United Nations (FA), setiap orang di Turki dapat mengonsumsi teh sebanyak tiga kilogram per tahun.

Budaya minum teh ini sudah turun temurun sejak dahulu dan terus berkembang hingga saat ini, sehingga telah menjadi tradisi yang kental. Setiap senja orang Turki suka menikmati alam di tepi laut sambil ngeteh. Sungguh nikmat tiada duanya.

Tekirdag termasuk produsen arak dan anggur. Bahkan, dalam sebuah kontes Turkish National Drink beberapa waktu lalu, para ahli cita rasa menyebut arak dan anggur dari Tekirdag adalah yang terbaik. Dari perbukitan di barat daya Tekirdag memasok sekitar 40 persen anggur untuk Turki.

Mobil kami ditabrak

Malam itu sekitar pukul 23.45, terdengar bunyi yang cukup keras di depan hotel. Seketika kami melakukan pengecekan. Ternyata mobil kami yang terparkir itu kena tabrakan mobil lain yang pengemudinya sedang mabuk.

Mula-mula mobil pemabuk itu menabrak sebuah mobil yang terparkir di samping kanan mobil kami. Lalu mobil tersebut membentur mobil kami. Mobil sang penabrak  menghantam lagi mobil kami. Jadi mobil kami dua kali terkena hantaman. Pertama dari mobil samping, lalu kedua terkena tabrakan mobil pelaku.

Akibatnya, mobil kami mengalami kerusakan cukup parah. Pintu depan sebelah kanan tidak bisa buka. Kaca tidak bisa diturunkan. Bamper samping mengalami rusak berat. Bahkan, roda kanan pun miring.

Dua ekor anjing sempat mengejar saya saat gowes dari Istanbul ke border Turki-Yunani. Foto: Arsip Royke Lumowa

Tak lama setelah kejadian itu, polisi langsung mendatangi lokasi. Polisi meringkus pelaku untuk melakukan pemeriksaan intensif.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (45): Mengunjungi Sekolah Polantas di Apeldoorn, Belanda

Besoknya, kami terpaksa menunda perjalanan. Kami harus ke kantor polisi untuk melanjutkan penyidikan kecelakaan lalu lintas dan mengambil surat keterangan. Prosesnya cepat, tidak bertele-tele.

Sesuai ketentuan, kami berhak mendapatkan ganti kerugian dari pelaku. Akan tetapi, proses ini membutuhkan waktu kurang lebih seminggu. Artinya, kami perlu tinggal seminggu lagi di kota tersebut guna menunggu biaya pergantian.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, saya memutuskan tidak mengambil biaya ganti rugi. Kami harus segera melanjutkan perjalanan. Siang itu juga kami mencari bengkel resmi Toyota untuk memperbaiki mobil.

Perbaiki mobil

Dari kantor polisi, kami menuju bengkel untuk memperbaiki kerusakan yang cukup serius. Kami berhasil mendapatkan bengkel resmi Toyota. Bengkel tersebut cukup besar.

Perbaikan awal adalah tie rod yang bergeser ke dalam sehingga ban mobil sebelah kanan miring. Setelah selesai, saya mengecek ulang. Ternyata hasilnya belum sempurna. Saya minta perbaiki kembali, sebab perjalanan kami masih sangat panjang. Saya tidak mau di tengah perjalanan nanti terjadi gangguan akibat perbaikan yang kurang sempurna ini.

Akhirnya pihak bengkel Toyota memutuskan membawa mobil kami ke bengkel lain yang memiliki teknisi yang lebih jago dengan dukungan peralatan yang bagus. Di bengkel itu, perbaikan tidak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih 30 menit kerusakan tie rod sudah tertangani sempurna. Bengkel itu bernama Can Roat Balaus. Bagus banget.

Setelah itu, kami menuju ke bengkel lain. Namanya Restores untuk memperbaiki pintu. Proses ini pun berlangsung singkat. Tidak lama kemudian pintu mobil kembali normal.

Mengayuh sepeda di tengah suhu dingin sekitar 6 derajat celcius. Di kiri dan kanan jalan tampak salju yang menutupi permukaan tanah dan bangunan . Foto: Arsip Royke Lumowa.

Dalam perjalanan seharian itu, saya tetap bersepeda. Jarak dari hotel ke kantor polisi, lalu ke bengkel Toyota, dan bengkel lainnya, kemudian kembali lagi ke hotel tidak jauh. Total jaraknya sejauh 11,79 kilometer. Malam harinya, kami menginap lagi pada hotel yang sama.

Menuju border Yunani

Besoknya, Kamis, 14 Desember 2023, saya kembali mengayuh sepeda. Kali ini menuju pintu perbatasan Turki-Yunani.

Pagi itu saya mulai bersepeda pukul 09.15. Suhu udara kurang lebih 6 derajat celcius dengan tiupan angin lumayan kencang. Saya gowes hingga di Malkara. Jaraknya sekitar 57 kilometer dengan total ketinggian mencapai 859 meter. Lumayan juga. Kontur naik dan turun cukup bagus serta menantang.

Selepas Malkara, saya memilih loading ke mobil pengiring. Pertimbangan utama agar tiba di perbatasan kedua negara ini hari masih terang. Benar saja, sekitar pukul 16.42, kami pun tiba di pos perbatasan wilayah Turki.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (14): Pekan Paling Bahagia di Tibet

Setelah itu, kami langsung menuju imigrasi serta bea dan cukai. Proses pelaporan di imigrasi berlangsung singkat, tetapi di bea dan cukai untuk urusan mobil agak lama. Petugas memeriksa lagi barang-barang yang terangkut dalam mobil.

Sebuah bangunan  tinggi yang menarik menjelang Pos Perbatasan Turki-Yunani. Foto: Arsip Royke Lumowa

Kami menghabiskan waktu di kantor bea dan cukai Turki selama kurang lebih dua jam. Memang waktunya lebih pendek dibanding pemeriksaan saat masuk di Turki dari Iran yang mencapai sekitar lima jam, sebab petugas memeriksa satu demi satu barang dalam mobil.

Sehabis dari bea dan cukai Turki, kami bergerak menuju border Yunani yang berjarak hanya 100 meter. Tetapi, sebelum itu, kami menepi sesaat untuk melakukan ritual perbatasan, yakni menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mendengarkan lagu kebangsaan Turki. Negara ke-11 dari perjalanan ini segera kami tinggalkan, dan selanjutnya memasuki wilayah negara ke-12 yakni Yunani.

Memasuki border Yunani, kami merasakan suasana yang benar-benar berbeda. Dari sisi bangunan yang jauh lebih megah dengan arsitektur khas Eropa. Proses pelayanan di bagian imigrasi serta bea dan cukai pun berlangsung sangat singkat.

Masuk Eropa

Di kantor imigrasi Yunani, pemeriksaan paspor untuk kami bertiga tidak lebih dari 4 menit. Sementara di bagian bea dan cukai, petugas hanya bertanya, apakah ada barang berbahaya yang terisi dalam mobil? Kami menjawab, tidak ada. Petugas pun langsung cap dokumen perjalanan dan menyilakan kami pergi seraya berkata,” Selamat datang di Eropa”.

Pelayanan yang cepat dan singkat ini sungguh mengagetkan kami. Benar-benar di luar ekspektasi, sebab sebelumnya proses mengajukan visa Uni Eropa sungguh berbelit dan lama. Belum lagi pengalaman saat memasuki negara-negara sebelumnya, seperti China, Laos, India, Iran, Pakistan dan Turki proses pemeriksaan di border cukup lama.

Maka, kami pun membayangkan proses pelaporan pada bea dan cukai Yunani pun bakal lama. Apalagi Yunani adalah pintu gerbang Uni Eropa. Ternyata pelayanannya super cepat. Sungguh mengagumkan.

Selepas itu, kami menuju gerbang untuk keluar dari border. Di situ, petugas sempat melihat sejenak, lalu mengatakan, “Selamat datang di Eropa”.

Setelah meninggalkan border, kami terlebih dahulu makan malam di kantin yang letaknya tidak jauh dari kawasan tersebut. Saat itu sudah pukul 19.00. Begitu memasuki kantin tampak deretan minuman keras, whisky, brandy dan lainnya yang terpajang. Suasana Eropa mulai tampak. Malam itu, kami resmi berada di wilayah Eropa.

Resmi memasuki wilayah Eropa di Yunani. Saya mengajak petugas border Yunani untuk menempelkan stiker bendera Yunani pada mobil pengiring. Foto: Arsip Royke Lumowa

Selesai makan, kami mencari penginapan yang tidak jauh dari border, dan menemukan di wilayah Timaria. Namanya Hotel Therassa. Lokasinya bagus, tidak jauh dari kawasan hutan lindung. Asyik sekali.

Dari sini pula saya memulai tantangan baru, yakni mengayuh sepeda di tengah hamparan salju dengan suhu udara sangat dingin, kadang mencapai di bawah nol derajat celcius. Akan tetapi, saya akan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik.

Fenomena dan tantangan perjalanan ini adalah bagian dari risiko yang dihadapi. Hal itu pula merupakan upaya mewujudkan misi utama touring ini:  Bersepedalah Kemana pun untuk Menyelamatkan Bumi (Cycling Anywhere to Save the Earth). (bersambung)

editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan lewatkan!

Catatan Royke Lumowa (29): Balas Dendam Makanan Indonesia di Ankara

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.