Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (29): Balas Dendam Makanan Indonesia di Ankara
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (29): Balas Dendam Makanan Indonesia di Ankara

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJanuari 4, 2024Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Bersama tim pendukung di Jalan Istiklal, Istanbul, Turki. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Saya meninggalkan wilayah Indonesia sejak 21 Juli 2023 melalui Pelabuhan Batam, Kepulauan Riau. Sejak itu pula banyak kenikmatan harus tersisihkan demi merealisasikan impian mengayuh sepeda dari Jakarta ke Paris. Soto, sate, dan rendang merupakan menu makanan khas Indonesia yang selalu terbayangkan, tetapi sulit ternikmati. Rindu terpendam amat dalam.

Maka, begitu mendapat undangan makan malam dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki Pak Rizal Purnama di Wisma KBRI di Ankara, pada Minggu, 26 November 2023, saya pun langsung menyanggupi. Bayangan yang seketika muncul adalah deretan makanan khas Indonesia, seperti sate, soto, rendang dan kerupuk.

Tambah porsi makan

Minggu sore, saya mengayuh sepeda dari hotel, dan sekitar pukul 17.00 tiba Wisma KBRI Ankara. Jaraknya hanya delapan kilometer. Suhu udara sekitar satu derajat celcius dengan sedikit gerimis salju. Rasa dingin begitu kuat menusuk kulit dan tulang.

Diterima Duta Besar RI untuk Turki Pak Rizal Purnama di Ankara. Foto: Arsip Royke Lumowa

Di pintu gerbang, sudah menunggu Pak Rizal Purnama dan istrinya, Bu Rizal. Kami agak kaget dengan penerimaan tersebut, sebab mendapat perlakukan yang begitu istimewa. Alasan Pak Dubes yakni saya termasuk orang Indonesia pertama yang datang dari Jakarta atau wilayah lainnya hingga di Ankara dengan bersepeda.

Pak Dubes juga menawarkan kami malam itu menginap di Wisma KBRI. Gedung cukup megah dan baru selesai renovasi dengan memiliki kamar cukup banyak. Wisma ini biasanya menjadi tempat persinggahan warga Indonesia. Kami menyetujui. Minimal dapat merasakan aura Indonesia.

Malam itu, selain Pak Dubes dan istri, hadir pula staf lainnya. Saya pun menceritakan perjalanan kami sejak dari Jakarta pada 8 Juli 2023, termasuk segala hal yang dihadapi baik suka maupun duka.

Mereka pun mendengarkan dengan penuh semangat. Beberapa di antaranya terus menggali informasi perjalanan darat saat melewati sejumlah negara di Asia Selatan, seperti Nepal, India, dan Pakistan, juga Iran di Asia Barat. Bagaimana kondisi situasi kemanan, tradisi masyarakat,  dan infrastruktur.

Menu makan malam itu seperti yang telah kami duga sebelumnya. Ada soto, sate, rendang, kerupuk dan lainnya. Semuanya khas Nusantara. Makanannya enak dan lezat sekali. Saking enaknya, saya pun menambah porsi makan beberapa kali. Kerinduan benar-benar terobati. Anggap saja balas dendam.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (44): Empat Kali Gratis di Amsterdam

Tuntaskan visa Uni Eropa

Besok harinya, Senin 27 November 2023 pukul 09.00, kami mendatangi kantor VFS Global untuk mengurus visa Uni Eropa (Schengen). Kedatangan ini sesuai jadwal, dimana pagi itu kami perlu menyerahkan sejumlah dokumen untuk pengurusan visa.

Sesuai ketentuan, pengurusan visa Schengen hanya dilakukan di negara pemohon berdomisili. Untuk kami, seharusnya di Jakarta. Akan tetapi, mengingat kami melakukan perjalanan bersepeda dari Jakarta sehingga sulit memastikan waktu yang tepat memasuki wilayah Uni Eropa.

Itu sebabnya, kami mencoba mengurus visa menjelang memasuki Eropa. Opsi ini sebetulnya keliru. Akan tetapi, kami sudah berada di Asia Barat. Tidak mungkin kembali lagi ke Jakarta.

Akhirnya memohon bantuan pihak KBRI di Turki. Mereka melakukan pendekatan ke Kedutaan Besar Perancis di Ankara sehingga mendapatkan dispensasi. Kami pun boleh memasukan persyaratan dan melakukan wawancara.

Bersama tim pendukung: Dimas dan Yan Christanto di depan Masjid Ayasofia. Istanbul. Foto: Arsip Royke Lumowa

Namun, pada hari itu masih ada sejumlah dokumen yang belum terpenuhi sehingga pengurusan visa tertunda. Kami akan kembali lagi  ke kantor VFS Global pada 30 November 2023 dengan membawa sejumlah persyaratan lainnya.

Sambil menyiapkan dokumen visa, dua hari yang ada fokus relaksasi. Selasa, 28 November 2023, saya bersepeda di dalam Kota Ankara sejauh 22 kilometer. Kontur jalannya banyak naik-turun sehingga total ketinggian mencapai 567 meter.

Coba bayangkan saja jarak 22 kilometer tetapi elevation gain mencapai 567 meter. Ini rute yang lumayan besat. Bikin ngos-ngosan juga.

Di sebuah tanjakan, sektor anjing yang lumayan besar mencoba mengejar. Mungkin karena sering menghadapi kejaran anjing, sehingga saya tidak panik.  Malah telah memiliki cara menghindari dari kebringasan hewan tersebut.

Sehari setelahnya, saya memilih untuk istirahat total. Tidak bersepeda, dan juga tidak jalan-jalan di dalam kota. Saya fokus pada pemulihan fisik sebagai persiapan untuk kegiatan berikutnya.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (47): Melihat Jejak VOC di Brielle, Belanda

Kamis, 30 November 2023, kami kembali mendatangi kantor VFS Global untuk urusan visa. Hari itu urusannya lancar, termasuk melakukan wawancara sebagai persyaratan utama. Ikut mendampingi kami adalah Atase Kepolisian di Kedubes RI di Tukir, Kombes Harvi.

Kunjungan keluarga

Hari itu juga istri saya bersama kakak dan ponakan kami tiba di Ankara dari Jakarta. Saya tidak sempat menjemput di bandar udara setempat, sebab melanjutkan pengurusan visa Uni Eropa. Mereka ingin berwisata selama beberapa hari di Turki dan Eropa.

Istri saya mengunjungi Turki. Dia datang dari Jakarta bersama kakak dan ponakan. Foto: Arsip Royke Lumowa

Keesokan harinya, 1 Desember 2023, saya mengajak mereka berlibur ke Cappadocia untuk menikmati balon raksasa sekaligus mengunjungi kota tua yang indah tersebut. Kami berangkat dengan menggunakan mobil double cabin Toyota Hilux yang selama ini menjadi pengiring touring.

Kami kembali lagi ke Ankara pada 3 Desember 2023. Lalu pada 4 Desember 2023, saya melanjutkan bersepeda menuju Istanbul. Hari itu juga om Yayak M Saat berpisah dari kami karena kembali ke Jakarta melalui Bandara Istanbul.

Dari Ankara, saya menuju Kota Sakarya sejauh 289 kilometer. Akan tetapi, saya mengayuh sepeda hanya 84,38 kilometer. Selebihnya saya loading hingga di Sakarya. Kami menginap semalam di kota yang telah ada sejak abad ke-12.

Pada ratusan tahun lalu, kota ini merupakan tempat orang untuk menjual hasil bumi. Sakarya juga termasuk salah satu wilayah tujuan wisata di Turki. Setiap tahun ribuan orang wisatawan mengunjungi kota ini untuk menikmati museum, bangunan peradaban kuno dan Danau Sapanca yang indah.

Bersama istri saya di Jalan Istiklal, Istanbul. Foto: Arsip Royke Lumowa

Hari berikutnya pada 5 Desember 2023, saya mengayuh sepeda lagi menuju ke Kota Izmit. Jaraknya hanya 82 kilometer, dan saya bersepeda hingga di finis. Rute perjalanan ini melewati kontur datar, dan beberapa kali jalan menanjak dan turunan sehingga total ketinggian (elevation gain) mencapai 567 meter.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (11): Di Shangri-La Saya Seolah Kayuh di Puncak Sumbing

Sekitar 10 kilometer menjelang kota Izmit, saya berjumpa dengan seorang pesepeda lokal, namanya Om Mehmet. Kami pun bersepeda hingga finis. Dia berada di depan sebagai pemandu, dan saya mengikutinya dari belakang.

Sebelum memasuki Kota Izmit, saya beristirahat sejenak dan menikmati keindahan Danau Sapanca yang menawan. Kota ini terletak di ujung teluk Laut Marmara.

Selat Bosphorus

Berhubung waktu masih siang, dari Izmit, saya memutuskan menaiki mobil pengiring, dan langsung menuju Istanbul. Jarak kedua kota tersebut sekitar 100 kilometer, dan tiba di Istambul sekitar pukul 17.50.

Petang itu, kami sudah berada di Selat Bosphorus, perairan yang membelah benua Asia dan Eropa di tengah Kota Istanbul. Selat yang menghubungkan Laut Marmara dan Laut Hitam ini memiliki panjang kurang lebih 30 kilometer.

Lebar maksimum sekitar 3.700 meter di bagian utara, dan paling pendek 750 meter di sebelah utara, antara Anadouluhisari dan Rumelihisan. Kedalaman juga berkisar 36-124 meter.

Untuk menghubungkan Eropa dan Asia kini telah terbangun tiga jembatan. Tertua adalah Jembatan Bosphorus atau Bogazici Koprusu. Ini adalah jembatan gantung pertama yang melintas di atas selat tersebut.

Bersama tim pendukung di Jalan Istiklal, Istanbul, Turki. Foto: Arsip Royke Lumowa

Jembatan itu menghubungkan Ortakoy di sisi Eropa, Istanbul, dengan Beylerbeyi di Anatolia, sisi Asia, Istanbul. Jembatan dengan panjang 1.510 meter tersebut dibangun tahun 1973, atau 50 tahun setelah Turki Merdeka.

Selat Bosphorus menjadi unik dan menarik, sebab menampilkan pesona dua benua berbeda dalam jarak yang berdekatan. Bahkan, ketika melewati jembatan ini wisatawan hanya membutuhkan waktu 10 menit sudah melihat wajah dua benua tersebut.

Makanya, wisatawan yang mengunjungi Istanbul takkan melewatkan waktu untuk mengunjungi jembatan di Selat Bosphorus. Namun, ketika menyeberangi jembatan harus tetap berada di dalam kendaraan.

Di Istanbul, kami menginap pada salah satu hotel tua di kawasan Taksim, dekat Jalan Istiklal, di tepi Selat Bosphorus, sisi Eropa. Jalan Istiklal sangat populer sebagai pusat perbelanjaan, restoran dan perhotelan. Hanya pejalan kaki, trem, mobil polisi dan mobil ambulace yang boleh melintas di jalan ini.

Kawasan Taksim memiliki kontur jalan pun naik turun. Jalan sempit. Kendaraan yang berpapasan harus ekstra hati-hati. Mobil kami terpaksa parkir di lokasi khusus dengan tarif 150 lira setara Rp 78.450 per hari.

Inilah kota yang berada dalam dua benua tersebut. Sungguh indah dan menarik. (bersambung)

edtor: JANNES EUDES WAWA

Catatan Royke Lumowa (28): Akhirnya Terbangi Balon Raksasa di Cappadocia

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.