Catatan ROYKE LUMOWA (11)
Tantangan terberat bagi yang tinggal di daerah tropis dalam mengayuh sepeda ke Eropa adalah suhu dingin. Bahkan, tidak sedikit kota tujuan berada pada ketinggian lebih dari 2.000 meter. Tantangan itu kini mulai saya alami di China. Salah satunya di Kota Shangri-La yang berada pada ketinggian sekitar 3.400 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara 12 derajat celcius.
Saya tiba di Shangri-La pada Kamis, 31 Agustus 2023 sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Hari itu saya bersepeda dari Lijiang yang berada pada ketinggian sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jarak kedua kota ini sejauh kurang lebih 170 kilometer.

Bersepeda hingga pada ketinggian di atas 3.000 mdpl rasanya sangat senang. Saya takjub. Jujur saja, selama ini saya gowes ke daerah yang tinggi hanya dilakukan ke Bromo, Dieng dan Comoro Sewu. Itu pun ketinggiannya tidak melebihi 2.000 mdpl.
Nah, saat merayap perlahan mencapai Kota Shangri-La, hati saya pun gembira luar biasa. Saya seakan sedang mengayuh sepeda di puncak Gunung Sumbing, bahkan telah melebihi puncak Gunung Lawu, Gunung Ceremai, Gunung Bawakaraeng. Tinggi Gunung Sumbing 3.371 meter, Gunung Lawu 3.265 meter, Gunung Ciremai 3.078 meter, dan Gunung Bawakaraeng 2.840 meter.
Makanya, hati saya benar-benar berbunga. Saya bangga dengan pencapaian pribadi ini. Pengalaman hidup yang sungguh sangat langka. Saya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan, serta selalu mendampingi dan melindungi saya sehingga bisa berada di Shangri-La dengan bersepeda.
Panorama pegunungan
Sejak pukul 06.30 saya mulai gowes dari Kota Lijiang dengan suhu udara sekitar 14 derajat celcius. Pagi itu saya melengkapi diri dengan jas hujan dan jaket penahan dingin. Hal ini saya lakukan, sebab berkaca dari pengalaman sehari sebelumnya dimana menghadapi hujan dan suhu dingin sepanjang perjalanan.
Ternyata hari itu sama sekali tidak ada hujan atau pun gerimis. Cuacanya cerah. Maka pada kilometer 20an, saya berganti pakaian dengan mengenakan jersey dan celana khusus bersepeda.

Sepanjang perjalanan disuguhi panorama yang sangat indah. Bahkan, jauh lebih indah dari hari-hari sebelumnya karena rute yang saya lewati ini berada pada ketinggian di atas 2.500 mdpl. Gunung pertama berada setinggi 2.600 mdpl.
Saking senangnya dengan pencapaian ini saya berencana berhenti sejenak pada setiap penambahan 100 mdpl. Saya sempat melakukan sekali pada ketinggian 2.600 mdpl. Di situ, saya juga menyempatkan diri membeli satu botol madu yang dijual petani setempat. Harganya 120 yuan china setara Rp 251.500.
Menyinggahi pasar tradisional telah menjadi kebiasaan saya selama perjalanan ini. Selain hendak berinteraksi dengan warga, saya juga ingin membeli buah dan lainnya untuk bekal.
Setelah ketinggian 2.600 mdpl, ternyata menghadapi jalan menurun. Turunannya cukup panjang, sejauh 18 kilometer. Kemudian melewati jalan datar, lalu menanjak kembali. Tanjakan cukup panjang dengan kemiringan berkisar 2-4 persen, menyusuri sungai dalam jarak yang cukup jauh. Jadi, niat mendokumentasikan suasana pada setiap penambahan 100 mdpl pun batal terwujud.
Yang menarik saat melewati pegunungan di jalur ini adalah panorama perkebunan bunga yang begitu luas dan indah. Ada bunga matahari. Ada bunga kuning (kalau di Manado disebut bunga tai ayam). Bunga-bunga itu sedang mekar. Pemandangan yang indah ini seolah memulihkan segala kepenatan yang dialami selama perjalanan. Banyak wisatawan pun berhenti membeli bunga. Ada pula yang berfoto di tengah kebun bunga.

Terus menanjak
Memasuki kilometer 80an, badan jalan menyempit. Tidak ada bahu jalan pula. Dari 2 jalur yang ada, setiap jalur hanya tersedia satu lajur sehingga hanya untuk satu kendaraan. Siang itu, arus kendaraan, terutama truk besar semakin padat dan berpapasan.
Kalau ada truk besar berpapasan, dan saya pun berada pada satu garis dengan kedua truk besar yang berpapasan tersebut, maka posisi saya terdesak ke pinggir. Beberapa kali saya mengalami seperti itu. Demi keselamatan dan kenyamanan, saya terpaksa loading.
Saya mengayuh sepeda kembali pada 12 kilometer menjelang Kota Shangri-La. Di titik itu posisi ketinggian mencapai 3.200 mdpl. Gowes saat itu pun terus menanjak menuju finis yang berada pada ketinggian 3.400 mdpl. Dari 170 kilometer jarak Kota Lijiang ke Shangri-La, saya bersepeda sejauh 101 kilometer.
Shangri-La atau Xianggelia ini terletak di barat laut Provinsi Yunnan. Sesuai ketinggiannya, kota yang dulu bernama Zhongdian ini berada di wilayah pegunungan. Dalam bahasa Tibet, Shangri-La berarti tanah kesucian dan kedamaian.
Tradisi budaya, pakaian adat, kuliner dan lainnya yang berkembang di Shangri-La sepenuhnya berasal dari Tibet. Tidak mengherankan, banyak pihak menyebut Shangri-La wajah Tibet atau copy paste Tibet. Sharingri-La juga termasuk wilayah yang menawan, sebab dihiasi pegunungan salju Meili yang merupakan tanah suci umat Budha Tibet.

Shangri-La menjadi titik sentral dimana saya wajib melakukan aklimatisasi. Di sini, saya akan beristirahat selama kurang lebih tiga hari untuk penyesuaian tubuh terhadap ketinggian suatu wilayah, suhu, tekanan udara dan cuaca setempat.
Saya tidak akan melakukan aktivitas berat, sebab harus disiplin dalam proses aklimatisasi demi kesiapan fisik yang prima. Maklum, rute selanjutnya setelah China adalah menuju Nepal yang merupakan salah satu yang berat sehingga membutuhkan persiapan fisik harus benar-benar matang dan penuh perhitungan. Berat bukan semata-mata akan melewati pegunungan yang lebih tinggi lagi, tetapi juga suhu udara yang bertambah dingin. Kadang bisa di bawah nol derajat.
Dingin menusuk
Saya meninggalkan Kota Meizi menuju Jingdong pada Sabtu,26 Agustus 2023. Kota Jingdong lima kali lebih besar dari Meizi. Jingdong berada pada ketinggian kurang lebih 1.200 mdpl. Jarak kedua kota mencapai 134 kilometer.
Rute ini saya tidak melewatu gunung, melainkan hanya bukit dengan kemiringan tanjakan rata-rata 4 persen. Perjalanan hari ini juga cukup nyaman, sebab tidak ada hujan. Cuaca pun cenderung mendung dan gerimis.

Jalan yang ada berapal mulus, tetapi menjelang kota Jingdong badan jalan cenderung menyempit. Di kiri dan kanan jalan juga berdiri banyak permukiman. Bahkan, di titik tertentu rumah-rumah warga mendekat ke badan jalan.
Sama seperti di Indonesia, sampah masih menumpuk di sejumlah lokasi. Bahkan, sampah plastik, seperti botol selalu berserakan di tepi jalan. Saya sempat menyaksikan ada warga yang membuang sampah dalam kantong plastik di tepi jalan dari mobilnya. Fakta ini tentu bertolak belakang dengan kemewahan gedung-gedung yang ada di kota ini, seperti apartemen dan perumahan.
Dalam perjalanan di rute ini juga saya masih kesulitan mendapatkan kamar kecil di tempat umum. Kalau pun ada, kondisinya sangat memprihatinkan, sebab sepertinya tidak terurus dengan baik.
Lewati tebing terjal
Hari berikutnya, Minggu, 27 Agustus 2023, saya melanjutkan gowes dari Jingdong menuju Nanjian. Jaraknya relatif pendek, hanya 109 kilometer. Akan tetapi, tantangan yang dihadapi cukup berat. Nanjian berada pada ketinggian sekitar 2.000 mdpl.
Saya memulai perjalanan pada pukul 06.30. Hari masih gelap. Cuacanya mendung dan berawan. Yang menarik adalah jalan yang saya lewati berada persis di sisi kanan Sungai Jinsha. Sedangkan di sisi kiri adalah deretan tebing-tebing terjal yang memanjang yang nyaris tidak ada permukiman.

Saat pertama kali merancang touring ini di Jakarta, saya sudah melihat rute Jingdong ke Nanjian dari google maps. Bayangan awal adalah kengerian, sebab melewati tebing-tebing terjang. Bersepeda di celah-celah bukit dan gunung. Tidak ada permukiman. Pasti sepi. Apakah saya cukup punya nyali untuk melewati rute ini?
Akan tetapi, saya tetap memutuskan untuk melewatinya. Ada rasa takut, tetapi timbul juga rasa penasaran. Malah semakin hari rasa penasaran itu jauh lebih kuat.
Setelah saya melewati jalur tersebut, ternyata faktanya bertolak belakang. Rute ini sungguh menarik dan indah. Panoramanya luar biasa. Banyak sekali burung yang terbang dan terus-menerus berkicau dengan aneka warna suara. Hutannya tebal dengan pohon-pohon yang tinggi sehingga terasa sangat sejuk.
Yang menarik lagi, pohon-pohon yang ada terrawat dengan baik. Pemangkasan dilakukan dengan teratur dan terukur. Hutan di wilayah ini benar-benar terjaga. Bahkan, di tengah hutan ada kawasan Botanical Garden. Singkat kata, rute Jingdong-Nanjian amat sangat menarik. Perjalanan naik turun gunung dan bukit terasa tidak melelahkan karena disuguhi panorama yang menawan.
Jalan terowongan
Tidak jauh dari badan sungai ada jalan tol. Beberapa titik merupakan terowongan yang melewati gunung atau bukit untuk keperluan jalan bebas hambatan tersebut. Di China, banyak sekali jalan dalam terowongan. Pilihan konstruksi ini agar struktur tanah dari gunung atau bukit tetap terjaga. Tidak merusak ekosistem dan habitat pohon serta hewan.

Perjalanan ini hingga mencapai di ketinggian 2.100 mdpl. Setelah itu turun hingga di Kota Nanjian. Kota ini tertata bagus, rapi dan bersih. Badan jalannya lebar. Banyak trotoar dan pohon ditanam dimana-mana. Akan tetapi, belum semua masyarakatnya disiplin. Masih banyak yang menerobos di jalan. Saya tiba pukul 16.00 waktu setempat.
Pada 28 Agustus 2023, saya melanjutkan bersepeda dari Najian menuju Dali sejauh 110 kilometer dengan elevation gain mencapai 1.315 meter. Saat memulai gowes, cuaca mulai mendung, dan pada kilometer 10 mulai turun hujan. Cukup deras dan lama.
Saya tetap maju dan mengayuh sepeda. Hujan baru berhenti saat saya memasuki kilometer 50. Perjalanan tetap menanjak dengan suhu yang dingin. Udaranya terasa bersih. Kiri dan kanan jalan dihiasai aneka pohon yang tumbuh subur dan hijau.
Kayuhan hingga mencapai pada ketinggian 2.400 mdpl. Ini termasuk yang tertinggi selama perjalanan saya dari Jakarta. Beberapa kali angin bertiup cukup kencang. Tetapi begitu kecepatan angin berkurang, langsung terasa suhu dingin, sekitar 19 derajat celcius.
Dalam perjalanan ini, saya masih melewati sejumlah tebing tinggi yang berada di sisi kanan jalan. Tebing-tebing yang ada rawan longsor. Di kilometer 18 hingga kilometer 25, misalnya, ada beberapa titik badan jalan tertimbun longsor tipis yang mengganggu arus lalu lintas.
Menjelang sore, saya pun tiba di Dali. Kota ini berada pada ketinggian 2.000 mdpl dengan suhu udara sekitar 20 derajat celcius. Hampir setiap hari selalu terjadi gerimis. Hal ini lumrah terjadi di wilayah dataran tinggi. Di kota ini juga memiliki sebuah danau, yakni Danau Erhai yang memiliki panorama yang indah. Setiap tahun sekitar 40an juta wisatawan mengunjungi danau tersebut.
Banyak anjing
Yang unik dari masyarakat kota Dali adalah suka memelihara anjing. Hewan ini selalu ada di setiap rumah. Anjing yang ada selalu diikat agar tidak mengganggu warga lainnya.
Saya pun saat bersepeda di tengah kota Dali sempat beberapa kali digonggong anjing. Akan tetapi, karena anjing-anjing itu diikat sehingga sekalipun menggongong gowes terus berlalu.

Esok harinya pada 30 Agustus 2023, suasana Kota Dali pada pagi hari itu diselimuti kabut tebal disertai gerimis. Suhu udara pun luamayan dingin: sekitar 20 derajat celcius. Saya memutuskan tetap bersepeda. Saya tidak boleh menjadikan kabut dan dingin untuk menunda perjalanan, sebab kondisi alam seperti bakal setiap hari dialami hingga di Eropa.
Saya pun langsung melengkapi diri dengan jas hujan dan jaket penahan dingin. Hari itu, saya memulai gowes pukul 07.00, atau terlambat 30 menit dari biasanya. Kabut dan gerimis terus menemani perjalanan saya. Bahkan, beberapa kilometer ke depan mulai turun hujan.
Saya pantang menyerah, dan terus melaju. Di kilometer 20, saya berhenti sejenak untuk sarapan pagi. Kebetulan ada sebuah restoran kecil yang baru saja dibuka. Menunya antara lain mie dan sup udelle. Menu sarapan pagi seperti ini selalu mendominasi di China dan Laos. Sup udelle enak sekali. Mungkin juga karena kedinginan.
Hujan terus
Setelah itu, melanjutkan gowes. Perjalanannya terus menanjak. Hari itu, kami makan siang di kilometer 80. Di tempat makan siang, saya berganti pakaian akibat sangat basah. Setelah itu, mengayuh lagi. Menanjak lagi. Namun kemiringan umumnya berkisar 2-10 derajat.
Sepanjang perjalanan hujan tidak pernah berhenti. Maka, memasuki kilometer 105,85, saya memutuskan berhenti gowes dan memilih loading hingga di Lijiang. Pilihan ini demi menjaga fisik agar tetap prima. Kami tiba di penginapan di Lijiang sekitar pukul 16.30. Kota ini berada pada ketinggian 2.400 mdpl.

Dalam perjalanan hari itu, garmin saya tiba-tiba menampilkan informasi gradian atau kemiringan tanjakan yang tidak tepat. Kemiringan seharusnya enam persen, tetapi yang muncul hanya nol persen atau dua persen. Saya tidak tahu persis penyebab informasi yang tidak akuran tersebut.
Di kilometer 47, saya mematikan garmin. Selang beberapa menit kemudian dihidupkan kembali. Akibatnya, data perjalanan saya hari itu yang keluar pada strava ada dua versi. Tetapi kalau total jaraknya mencapai 105,85 kilometer.
Senin, 4 September 2023, saya terus bergerak ke arah utara. Semakin ke utara, ketinggiannya terus meningkat. Suhu udara pun bertambah dingin. Saya mengayuh sepeda di wilayah China kemungkinan hingga 23 September 2023. Setelah itu, masuk ke Nepal. Di sana, tantangan jauh lebih berat lagi. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!!!
Catatan Royke Lumowa (10): Gairah Berlipat Ganda Bersepeda di China


1 Komentar
Pingback: Di Tibet, Saya Alami Suhu 48 Derajat Celcius - blalak.com