Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (31): Bersepeda Terhadang Badai Angin Kencang di Yunani
Cyling

Catatan Royke Lumowa (31): Bersepeda Terhadang Badai Angin Kencang di Yunani

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJanuari 22, 2024Tidak ada komentar11 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Bersepeda di tengah salju. Ini menjadi sebuah pengalaman yang seru dan menarik. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Bersepeda di Eropa, terutama Yunani pada pertengahan Desember 2023 sungguh berat. Kondisi itu tidak semata-mata akibat suhu dingin dan bersalju tebal, tetapi juga tiupan angin yang sangat kencang. Beberapa kali saya nyaris terhempas akibat terkena badai angin kencang tersebut.

Angin kencang itu terjadi saat bersepeda pada 16 Desember 2023. Sejak dinihari, angin kencang dan hujan lebat telah melanda Komotini dan sekitarnya. Kejadian ini baru petama kali saya alami dalam perjalanan bersepeda sejak dari Jakarta pada 8 Juli 2023.

Saya bersepeda di Yunani mulai Jumat, 15 Desember 2023 pagi, setelah pada malam sebelumnya menginap di Hotel Therassa, kota Thymaria. Lokasi ini berada tidak jauh dari pos perbatasan negara Yunani dan Turki.

Peta Yunani dan sekitarnya.

Pagi itu, perjalanan bersepeda akan menuju ke kota Komotini. Saat kami sedang menyiapkan diri untuk berangkat, datanglah seorang lelaki setengah tua selaku pemilik hotel Therassa. Dia mengaku mendengar cerita dari karyawannya bahwa ada tamu yang datang dari Indonesia dengan bersepeda.

Lelaki tersebut kagum dengan petualangan dan perjuangan ini sehingga meluangkan waktu pagi itu khusus menemui saya guna memberikan apresiasi. Dia ingin bersalaman dan berfoto bersama.

Saya memulai bersepeda pada pukul 07.15. Baru beberapa meter langsung menghadapi gonggongan anjing. Ada beberapa ekor mengejar. Tetapi saya tidak panik dengan situasi ini, sebab sudah cukup sering.

Bagi saya, anjing adalah sahabat. Bahkan, saya juga mengetahui trik untuk menjinakkan. Gonggongan itu sebetulnya hanya upaya untuk berkenalan. Kalau kita dekati dengan tenang sambil bersiul dan main mata, mereka langsung diam.

Setelah itu, anjing akan menggoyang-goyangkan ekornya. Itu pertanda mereka mau menerima kita sebagai temannya. Kalau kita dekati lagi dengan baik, maka akan meliukkan badannya pertanda menerima sebagai sahabat.

Apresiasi warga

Dari Kota Thymaria, perjalanan ini sengaja saya belokan ke arah pantai melewati Kota Alexandroupoli di tepi Laut Aegean. Laut ini akan menyambung dengan Laut Crete kemudian berlanjut menuju Laut Mediterania.

Sekitar pukul 10.00, kami sempat menyinggahi sebuah tempat istirahat yang berada di tepi jalan raya. Di situ, saya berjumpa dengan rombongan bapak dan ibu yang sedang beristirahat di halte. Mereka menyantap makanan kecil yang dibawah dari rumah masing-masing seraya minum teh dan kopi.

Berfoto bersama dengan sekelompok anak muda Yunani. Mereka kaget setelah mengetahui saya yang sudah berusia 61 tahun sanggup bersepeda dari Jakarta ke Eropa. Foto: Arsip Royke Lumowa

Kami saling berkenalan. Saya pun mengetahui bahwa mereka adalah para perawat pada sebuah rumah sakit di Cakale, Turki. Mereka sempat menawari saya minuman dan makanan kecil.

Ketika mendengar cerita saya yakni bersepeda dari Jakarta, mereka kaget dan keheranan. Tidak menyangka ada orang yang nekat mengayuh sepeda begitu jauh dan lama. Saya hanya tersenyum dan memohon doa agar dapat menuntaskan perjalanan panjang ini dengan aman, lancar dan tetap sehat.

Saat memasuki Kota Alexandroupoli sedang terjadi hujan lebat. Suhu udara sekitar 10 derajat celcius. Hujan membuat suhu terasa sangat dingin. Jarak dari Thymaria ke kota ini kurang lebih 48 kilometer.

Mengingat suhu semakin dingin, saya memutuskan mencari tempat berteduh. Kami akhirnya memilih berhenti di Restoran Maintanos sekaligus makan siang. Menu yang ada adalah kebab ala Yunani: irisan daging yang tipis.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (33): Malam Natal yang Syahdu di Beograd

Makanan terpajang secara vertikal dengan posisi berputar-putar di dalam kaca. Setelah dimakan, rasanya cukup lezat. Mungkin juga karena lapar dan kedinginan sehingga ludes.

Selesai makan, saya melanjutkan gowes di tengah guyuran rintik hujan. Perjalanan bergerak ke arah barat. Memasuki kilometer 70,49, fisik rasanya sudah cukup lelah akibat dingin dan guyuran hujan.

Saya memutuskan tidak melanjutkan bersepeda. Hingga di lokasi itu total ketinggian mengayuh sepeda hari itu mencapai 651 meter. Selanjutnya, saya memilih loading hingga di Kota Komotini. Jaraknya sekitar 36 kilometer. Tiba di kota ini pukul 18.00.

Badai angin kencang

Keesokan harinya, Sabtu, 16 Desember 2023, melanjutkan perjalanan dari Komotini menuju Kavala. Kota ini masih berada di tepi Laut Aegean. Pagi itu hujan turun sangat deras disertai angin kencang dengan kecepatan sekitar 30 kilometer per jam. Kejadian tersebut terjadi sejak dinihari.

Melihat kondisi itu, saya terpaksa menunda waktu keberangkatan. Saya baru mulai bersepeda pada pukul 13.00. Meski sudah siang, tetapi suhu udara tetap dingin, sekitar 11 derajat celcius.

Kecepatan angin malah bertambah. Menurut data dari Strava, kecepatan telah menjadi 38 kilometer per jam. Saya pun menambah lapisan pakaian dari biasanya agar dapat bersepeda dengan nyaman.

Menghadapi angin kencang dengan kecepatan 38 kilometer per jam. Sepeda pun melayang tertiup angin. Foto: Arsip Royke Lumowa

Sebelum mulai perjalanan, saya menjelaskan kepada tim pendukung tentang kondisi rute hari itu. Kontur jalan, suhu udara dan lainnya. Lalu berdoa bersama. Hal-hal seperti ini sebetulnya rutin kami lakukan setiap hari.

Tantangan terberat hari itu adalah angin kencang. Sejak keluar dari penginapan, kondisi tersebut sudah terasa. Hantaman angin dari arah utara atau sisi kanan sungguh kencang.

Mengayuh sepeda terasa begitu berat. Beberapa kali saya nyaris terpental ke kiri ke tengah badan jalan. Saya mencoba berlindungi di sisi kiri mobil pengiring. Upaya ini cukup berhasil sehingga saya bisa maju dengan lancar.

Akan tetapi, upaya ini tidak mungkin berlangsung sepanjang perjalanan, sebab selalu ada kendaraan datang dari belakang, juga di sebelah kiri dengan laju cukup kencang.  Hal ini tentu sangat berbahaya bagi keselamatan saya.

Saya berkali-kali harus berhenti sejenak untuk menghindari terjatuh atau terbuang ke tengah badan jalan. Saat berhenti, sepeda tidak dapat tertahan di tanah, melainkan selalu melayang akibat hantanam angin kencang. Mirip kain yang melambai-lambai. Padahal, sepeda yang ada berbahan titanium yang tidak ringan sekali.

Akhirnya di kilometer 25,15 saya memutuskan berhenti gowes dan loading demi keselamatan dan keamanan perjalanan. Suhu udara saat itu 5 derajat, tapi rasanya seperti minus 1 derajat. Kecepatan angin pun menurut Strava telah mencapai 38,2 kilometer per jam.

Kavala, kota indah

Saat mau loading pun kami kesulitan untuk menggantung sepeda pada bagian belakang mobil akibat angin kencang tersebut. Akhirnya kami melepaskan kedua roda sepeda, dan memasukan ke bagasi. Sedangkan rangkanya dipangku.

Jadi, kekuatan angin sampai segitunya. Banyak perjuangan menghadapi angin yang begitu kencang dengan suhu yang dingin. Kami tiba di Kavala pukul 16.30.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (11): Di Shangri-La Saya Seolah Kayuh di Puncak Sumbing

Minggu, 17 Desember 2023, saya melanjutkan perjalanan dari Kavala menuju ke Theodorou. Pagi itu angin sudah normal. Kecepatan rata-rata tiga kilometer per jam. Akan tetapi, suhu bertambah dingin, yakni 4 derajat celcius.

Bersepeda di tengah salju. Ini menjadi sebuah pengalaman yang seru dan menarik. Foto: Arsip Royke Lumowa

Saya mulai bersepeda pada pukul 09.34 waktu setempat menyusuri pantai selatan benua Eropa. Kavala sesungguhnya kota yang indah, sebab berada di tepi pantai dengan kontur berbukit, tetapi tidak terlalu tinggi.

Bangunan gedung perkantoran, rumah dan lainnya berderet di bukit yang ada di sepanjang pesisir. Pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Saya meyakini saat musim panas, para wisatawan menyerbu Kota Kavala untuk menikmati pantai dan laut.

Perjalanan siang itu melewati beberapa desa dan kota kecil di sepanjang pantai. Menariknya lagi tidak ada bangunan yang berdiri di tepi pantai sehingga keindahannya tampak jelas dari jalan raya. Menurut informasi warga setempat, pemerintah dan masyarakat selalu memberi perhatian ekstra terhadap kebersihan dan keindahan pantai.

Siang itu, kami makan di kota Ofrynio, tepatnya di Restoran Kotopoulakia. Makanan yang ada cukup enak dan lezat.

Dapat apresiasi lagi

Restoran itu berada dalam sebuah tempat peristirahatan (rest area). Di situ, kami sempat berjumpa dengan rombongan anak muda Yunani. Mereka menggunakan beberapa mobil, dan ingin membuat konten media sosial. Kebetulan latar belakang kawasan itu cukup bagus.

Kami pun berkenalan. Mereka terkejut dan heran setelah saya memperkenalkan diri bahwa saya bersepeda dari Jakarta, Indonesia. Usia saya sudah 61 tahun.

Salah satu dari mereka kemudian berkelakar dan mengungkapkan bahwa ayahnya saat ini berusia 60 tahun. Kerjanya setiap hari hanya dari tempat tidur menuju ruang tamu kemudian ke dapur lalu ke tempat tidur lagi. Begitu saja aktivitas saban hari. Kami pun tertawa ngakak bersama.

Setelah makan siang, saya melanjutkan gowes menelurusuri jalan yang mulus. Di kiri dan kanan jalan banyak tumbuh pohon zaitun.  Saya agak heran juga, sebab selama ini hanya berpikir bahwa pohon zaitun hanya tumbuh di Palestina dan Timur Tengah. Ternyata banyak juga yang berkembangbiak di Yunani.

Sebelum sore, kami menyinggahi lagi sebuah rest area untuk istirahat sejenak. Di situ,  bertemu dengan sekitar sembilan anak muda menggunakan lima unit mobil campervan datang dari Belanda dan Jerman hendak menuju ke Turki. Ada lelaki dan juga perempuan. Ada pula yang membawa anjing peliharaan.

Katanya saat musim dingin orang Eropa cenderung berpergian ke wilayah selatan agar dapat menikmati kehangatan dari alam. Ini yang bertolak belakang dengan orang Asia Tenggara yang malah berlomba-lomba ke utara ingin menikmati salju.

Kota Tesalonika

Sore itu menjelang matahari terbenam, tampak hamparan pegunungan begitu indah. Warna hijau berubah menjadi toska akibat terkena sinar matahari yang lembut. Panorama tersebut membentang sepanjang jalan.

Berada di depan Tower Putih, Tesalonika. Tower ini menjadi salah satu ikon kota yang berdiri sejak tahun 315 sebelum masehi tersebut. Foto: Arsip Royke Lumowa

Saya pun sempat berhenti sejenak untuk mengabadikan keindahan alam itu. Sebab selama beberapa pekan sebelumnya nyaris tidak menemukan sinar matahari menjelang terbenam.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (41): Angin Kencang Sempat Hadang Saya di Jerman Utara

Memasuki malam, saya memutuskan berhenti bersepeda. Saya mengakhiri gowes di kilometer 101,94. Dari lokasi itu, saya loading menuju kota Tesalonika. Kota ini berdiri pada tahun 315 sebelum masehi dengan pendirinya yakni Raja Kassandros dari Macedonia.

Rasul Paulus pernah menyinggahi Tesalonika. Bahkan, setelah meninggalkan kota ini, Rasul Paulus menuliskan surat kepada Jemaat di Tesalonika. Surat Rasul Paulus itu tertera dalam kitab suci Perjanjian Baru. Jumlah penduduk Tesalonika saat ini kurang lebih 363.987 jiwa.

Malam itu suhu di Tesalonika sangat dingin. Kami harus  menggunakan jaket tebal saat keluar penginapan untuk mencari makan. Kami mencari restoran yang punya pemanas (heater) yang cukup besar karena kedinginan.

Senin, 18 Desember 2023 pagi hingga siang, saya memanfaatkan kesempatan untuk mengelilingi Kota Tesalonika. Melihat bangunan-bangunan kuno, dan tempat-tempat lainnya seraya berfoto. Maklum, belum tentu datang lagi ke kota ini.

Selepas itu, saya menaikii mobil menuju ke border Yunani-Macedonia Utara, sebab jaraknya masih 85 kilometer lagi. Sebelum sore kami sudah tiba di perbatasan.

Kami melewati border Yunani dengan lancar. Pemeriksaan sangat singkat. Begitu pula di border Macedonia Utara. Namun di Macedonia Utara, kami harus membeli lagi Green Card khusus mobil sebesar 120 euro yang berlaku selama 6 bulan.

Selanjutnya menuju ke Kota Kochani. Jarak dari border Macedonia Utara hinga di Kochani sejauh 147 kilometer dan tiba di kota ini sekitar pukul 19.00.

Bali United di Macedonia

Pada Selasa, 19 Desember 2023, saya gowes menuju Kalimanci. Perjalanan mulai pukul 07.00. Namun sebelum memulai bersepeda, tiba-tiba ada seorang lelaki setengah tua menghampiri saya dan menanyakan asal negara. Setelah saya menyampaikan asal Indonesia, dia pun langsung menunjukkan sebuah kupon bertuliskan Bali United.

Bersama seorang pria di Macedonia Utara yang main judi bola dan menjagokan Bali United. Foto: Arsip Royke Lumowa

Dia bertanya, apakah saya mengetahui tentang Bali United? Saya katakan bahwa Bali United adalah klub papan atas dalam Liga Satu Indonesia. Saat ini berada di urutan kedua klasmen sementara. Dia langsung tertawa girang.

Rupanya, pria ini baru saja membeli kupun judi bola online dan memilih Bali United sebagai pemenang saat melawan Persib Bandung dalam pertandingan berikutnya. Saya kemudian mengingatkan dia agar jangan bergembira dulu karena Persib Bandung juga klub yang kuat. Ternyata hasil pertandingan Bali United dan Persib Bandung berakhir imbang: 0-0.

Setelah melayani diskusi dengan si bapak itu, saya pun mengayuh sepeda. Tiba di Kalimanci jaraknya 21 kilometer.  Di lokasi ini, saya terpaksa berhenti bersepeda, kemudian menaikki mobil menuju perbatasan Macedonia Utara dan Bulgaria.

Masalah “Green Card”

Selepas makan siang, kami sudah tiba di border dan langsung melakukan pelaporan. Prosesnya berjalan lancar di pos perbatasan Macedonia Utara. Sementara di border Bulgaria, mobil pengiring sempat terhambat masuk karena belum memiliki Green Card, dan harus kembali ke kota terdekat di wilayah Macedonia Utara yakni Dechevo guna membeli Green Card untuk masuk Bulgaria.

Green Card yang kami beli sewaktu memasuki Macedonia Utara ternyata hanya berlaku di negara itu. Harga Green Card mobil yang baru sebesar 180 euro berlaku selama enam bulan untuk seluruh Uni Eropa. Jadi, memasuki negara-negara Uni Eropa berikutnya kami takkan terhambat lagi.

Saya tidak ikut kembali ke wilayah Macedonia Utara, sebab sudah terlebih dahulu masuk ke wilayah Bulgaria dengan bersepeda. Saya melanjutkan gowes menuju ke wilayah Lagodaj sejauh 16,79 kilometer, dan menunggu kru di sebuah minimarket.

Selama mengayuh sepeda dari border Bulgaria menuju Logoday tampak semua area di kiri dan kanan jalan berselimut salju. Suhu terasa sangat dingin, sebab rute ini melewati jalan menurun yang cukup panjang.

editor: JANNES EUDES WAWA

Catatan Royke Lumowa (30): Bersepeda Masuk Eropa, Mimpi Saya Mulai Terbayarkan

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.