Oleh JANNES EUDES WAWA
Pemilihan Presiden tahun 2029 masih tiga tahun lagi, tetapi sejumlah pihak mulai melakukan manuver politik. Prabowo Subianto besar kemungkinan mencalonkan diri lagi sebagai calon presiden. Hal itu wajar, sebab dia saat ini menjabat periode pertama. Namun demikian, siapa yang bakal menjadi calon wakil presiden pendamping Prabowo?
Salah satu dari lima Keputusan Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 13 Februari 2025 di Pedepokan Garudayaksa Bojongkoneng, Jawa Barat adalah meminta secara resmi Prabowo Subianto kembali maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Para kader yang hadir dalam forum itu menyatakan elektabilitas Presiden RI ke-8 ini sangat tinggi, dan memiliki peluang besar memenangkan Pilpres mendatang.
Keputusan KLB itu sebagai sinyal kuat bahwa Prabowo Subianto berpeluang menjadi calon presiden dari Partai Gerindra. Bahkan, hingga sejauh ini di kalangan internal partai itu pun belum muncul figur alternatif yang mampu mengimbangi kekuatan Prabowo Subianto.
Timbul pertanyaan, seandainya Prabowo Subianto kembali menjadi calon presiden pada Pilres tahun 2029, siapa yang paling berpeluang mendampinginya menjadi calon wakil presiden? Mungkinkah Gibran Rakabuming Raka? Apakah kemungkinan ada figur alternatif?
Di kalangan Partai Gerindra enggan berbicara tentang peluang figur pendamping Prabowo Subianto. Mereka juga belum mau bersuara tentang kemungkinan menggandeng kembali Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden.
Keengganan ini dapat memberikan dua kemungkinan. Mereka tidak mau mendahului keinginan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Akan tetapi, pada sisi lain sikap diam juga memberi isyarat bahwa pasangan ini berpeluang berpisah jalan pada Pilpres 2029.
Saling Mengincar
Sejumlah partai pengusung dan partai pendukung pada Pilpres 2024, seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa masih fokus pada konsolidasi internal. Meski demikian, para ketua umum partai-partai tersebut juga tengah melakukan kalkulasi politik seraya mengincar peluang menjadi calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto.
Sementara itu, sejumlah pimpinan teras Partai Solidaritas Indonesia (PSI) cenderung menginginkan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tetap berpasangan pada Pilpres 2029. Ketua Harian PSI Ahmad Ali, dalam sebuah pernyataan pada Rabu 8 Oktober 2025 menegaskan PSI tidak memiliki rencana menjadikan Gibran sebagai lawan politik Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
“Tidak ada desain seperti itu. PSI berkomitmen untuk mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran sampai periode ini selesai. Insyaallah kalau kemudian berhasil, kami berharap bisa melanjutkan pasangan ini di periode kedua,” tegas Ahmad Ali (Tribunnews, 8/10/2025).
Seiring perjalanan waktu, pernyataan Ahmad Ali pun berubah. Dalam podcast Gaspol yang ditayangkan pada 22 Januari 2026, dia menyatakan bahwa Gibran berpotensi menjadi penantang serius bagi Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.

Pernyataan ini tentu mengejutkan, sebab PSI selaku partai pendukung meski tanpa kursi di DPR itu kian berani bermanuver. Mungkin karena PSI telah menjelma menjadi “kendaraan politik” keluarga Presiden Joko Widodo sehingga tumbuh percaya diri sebagai kekuatan yang perlu diperhitungkan dan bakal mendapatkan dukungan luas dari pemilih.
Fakta Pilpres 2009 dan 2019
Untuk melihat peluang pasangan Prabowo-Gibran akan kembali bersatu atau tidak dalam Pilpres 2029, mungkin terlebih dahulu melihat pengalaman yang pernah terjadi pada Pilpres tahun 2009 dan 2019. Pada Pilpres 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maju sebagai calon presiden untuk periode kedua. Sedangkan than 2019, Presiden Joko Widodo juga menjadi calon presiden untuk periode kedua.
Pada Pilpres 2009, Presiden SBY memilih calon wakil presiden adalah Boediono, figur yang sederhana, jujur dan netral. Boediono diyakini para partai pengusung bahwa jabatan wakil presiden yang bakal diraih merupakan posisi tertinggi, dan takkan mencalonkan diri menjadi calon presiden pada Pilpres 2014. Parpol pengusung tidak menginginkan ada figur potensial lain yang mendahului mereka mendapatkan simpati dan dukungan publik.
Kasus yang sama juga terjadi pada Pilpres 2019. Partai pengusung Presiden Joko Widodo juga membuat persyaratan tidak tertulis yang sama tentang calon wakil presiden sehingga muncullah figur KH Dr Ma’ruf Amin, seorang ulama Islam. Dia tokoh yang memiliki kharisma yang kuat di kalangan umat Islam, sejuk dan tak berambisi menjadi calon presiden pada Pilpres 2024.
Melihat pengalaman ini, bagaimana peluang pasangan Prabowo-Gibran untuk Pilpres 2029? Mungkinkah pasangan ini akan tetap kompak untuk melanjutkan kepemimpinan pada periode 2029-2034?
Secara kasat mata, dengan melihat pengalaman pada dua pilpres sebelumnya, maka peluang pasangan Prabowo-Gibran untuk melanjutkan periode kedua tampaknya cukup tipis. Parpol pengusung akan berpikir seribu kali mencalonkan kembali pasangan ini. Bagi mereka, mendukung Gibran sebagai calon wakil presiden sama artinya dengan membesarkan PSI.
Meski demikian, dalam politik tidak ada yang abadi, kecuali kepentingan. Semuanya masih mencair dan lentur. Suatu saat apabila kepentingan-kepetingan itu saling bertautan, sangat mungkin pasangan Prabowo-Gibran dapat mengulangi fenomena Pilpres 2024.
Urusannya Tidak Simpel
Pilihan lain adalah untuk Pilpres 2029, persyaratan perncalonan presiden dan wakil presiden tidak lagi ketat sebab tidak ada lagi ketentuan ambang batas minimal. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan partai politik pengusung tidak harus memiliki jumlah kursi DPR minimal 20 persen atau 25 persen dari suara sah nasional dalam pemilihan umum.
Ambang batas yang berlaku adalah nol persen. Artinya setiap parpol peserta Pemilu 2029 memiliki hak mencalonkan residen dan wakil presiden. Di sini ada celah bagi Gibran berpeluang maju sebagai calon presiden dari Partai Solidaritas Indonesia.
Namun, urusan pencalonan presiden dan wakil presiden tidak sesimpel itu. Setiap parpol tidak dengan leluasa mencalonkan jagoannya tanpa membutuhkan parpol lainnya. Parpol tetap saling membutuhkan, sebab menggalang dukungan suara rakyat perlu adanya kerjasama yang erat.
Parpol besar seperti Partai Gerindra pasti membutuhkan dukungan nyata dari partai lain, terutama partai-partai besar yang memiliki kursi yang signifikan di DPR. Dukungan ini tidak semata-mata untuk mengusung dan meraih suara pemilih saat pemilihan presiden, tapi bersama-sama mengawal pemerintahan selama lima tahun ke depan.
Bahkan, partai politik pun tidak akan gegabah mencalonkan kadernya untuk menjadi calon presiden. Banyak sekali kriteria yang perlu terpenuhi. Salah satunya yakni seberapa besar elektabilitas yang bersangkutan dan berapa banyak kekuatan finansial yang dimiliki. Memiliki duit berlimpah tanpa ditopang tingkat keterpilihan yang tinggi juga tidak efektif.
Menunggu Waktu
Untuk Pilpres 2029, gambaran besar tentang calon wakil presiden yang mendampingi Prabowo Subianto takkan berbeda dengan kenyataan yang pernah terjadi pada Pilpres 2009 dan Pilpres 2019. Partai politik pengusung, terutama partai besar, seperti Golkar, Demokrat, PAN dan PKB bakal keberatan Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Prabowo Subianto. Mereka kemungkinan lebih memilih figur netral yang takkan menjadi calon presiden pada Pilpres 2034.
Presiden Joko Widodo seperti sudah memahami kondisi ini. Dia sudah mengalami situasi itu pada Pilpres 2019. Itu sebabnya, Joko Widodo akan berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan konsolidasi barisan baik melalui partai politik, terutama PSI dan relawan agar elektabilitas putranya, Gibran Rakabuming Raka dapat meningkat tajam, menyaingi Prabowo Subianto atau mengalahkan calon lain seperti Anies Baswedan.
Artinya pernyataan Ahmad Ali bahwa Gibran berpotensi menjadi penantang serius bagi Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 bukan sebuah kebetulan. Prabowo dan Gibran bakal pisah jalan bukanlah isapan jempol. Peluang itu pasti terjadi, dan tinggal menunggu waktu.

1 Komentar
Pingback: Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo - blalak.com