Oleh JANNES EUDES WAWA
Sulawesi Utara selalu menjadi impian banyak orang untuk berwisata. Di sana, tidak semata-mata tersedia bentangan alam nan indah di daratan dan panorama dasar laut, tetapi juga memiliki masyarakat yang ramah, supel, egaliter, dan kreatif. Para perempuan Minahasa sejak masa lampau telah terampil meramu menu masakan sehingga menghasilkan aneka jenis kuliner lokal yang lezat, gurih dan bikin nagih.
Berkelana di Sulawesi Utara selama 17-19 April 2026 sungguh menyenangkan. Kami tidak hanya mengayuh sepeda melewati jalan mendatar, tanjakan dan turunan serta hutan alam menawan di Bumi Nyiur Melambai. Kami juga menikmati kuliner yang selalu menjadi idaman. Mengikuti Jelajah Manado-Tomohon yang diselenggarakan Jelajah Bike adalah momentum merealisasikan segala keinginan dan hasrat yang terpendam.

Saat tiba pada Kamis, 16 April 2026 pagi, setelah menyerahkan boks sepeda kepada panitia di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, sebagian besar peserta langsung berburu kuliner. Ada yang mencari bubur manando. Ada pula mencari aneka jenis ikan segar. Kuliner ini jarang didapatkan di Jakarta dan kota domisili masing-masing. Kalau pun ada tidak selezat yang tersajikan di Manado.
Joko Kus Sulistyo alias JKS, misalnya, siang itu bersama Bambang Istadi dan Afit Rajo Bungsu bergerak menuju sebuah restoran bahari terletak di tepi pantai Manado, tidak jauh dari Jembatan Soekarno. Di sana, semua menu hanya ikan dengan aneka jenis masakan. Ada kua kuning. Ada bakar. Sup dan goreng. Ikan yang tersedia bervariasi, seperti rahang tuna, ikan kerapu, kakap, bawal, ikan beronang. Ukurannya sedang menyerupai telapak tangan pria dewasa. Semuanya masih segar. Mungkin belum lama terkena es batu.
JKS memilih rahang tuna bakar. Dagingnya agak tebal dan masih segar. Pembakaran pun sangat bagus sehingga hasilnya sungguh lezat. “Tadi, saat datang saya lihat ada rahang tuna sehingga saya pun langsung pesan dua porsi dan meminta dibakar. Enak banget. Kalau datang ke Manado tanpa menikmati rahang tuna sepertinya belum lengkap,” ujarnya.
Bubur Manado
Octovianus Noya, Stefanus Tejo, Yoke Haulani Latif bersama belasan teman juga hari itu memprioritaskan kuliner. Dari Bandara Sam Ratulangi langsung menuju sebuah restoran ikan di tengah kota Manado. Mereka juga mengincar menu aneka ikan dan kepiting. Kuah kuning, sup, bakar dan goreng yang menjadi kuliner khas Manado.
“Datang di Manado harus makan ikan. Kualitas ikannya jauh beda dengan ikan-ikan di Jakarta. Rasanya lebih manis, gurih dan lezat,” ungkap Octovianus Noya, warga Cinere, Depok yang sudah beberapa kali mengunjungi Manado untuk urusan bisnis dan wisata.

Lain lagi dengan Yoga Dwi Cahyono, pesepeda asal Bogor. Dia tidak semata-mata menjajal kuliner Bahari, tetapi juga berburu bubur manado (tinutuan). Sudah lama dirinya mendengar cerita tentang bubur manado. Bahkan, pernah menikmatinya pada restoran di Jakarta dan Bogor. Memang enak, unik dan khas.
Tinutuan dalam bahasa Minahasa artinya campur aduk. Hal tersebut tampak dari tampilan bubur yang diolah dengan cara mencampurkan aneka sayuran seperti labu kuning (sambiki), bayam, kangkung, daun gedi, jagung, kemangi, singkong, dan beras. ke dalamnya sehingga bubur ini terasa begitu enak dan memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Tinutuan dapat disajikan dengan sajian pendamping lain, seperti ikan asin, tahu goreng, perkedel nike, sambal roa, cakalang fufu, perkedel jagung, dan sebagainya. Berbeda dengan bubur pada umumnya, hidangan ini tidak menggunakan daging dan memiliki cita rasa gurih alami yang kaya akan nutrisi.
Maka ketika berada di Manado, Yoga ingin membuktikan mana yang lebih enak: bubur manado produksi di Jakarta dan Bogor atau di Manado. Setelah mengetahui warung yang menjual bubur manado terlaris di kota itu, dia pun langsung menuju lokasi. Dia mencoba satu porsi. “Ternyata bubur manado produksi di Manado memang lebih enak,” jelas Yoga.
Hasil Reklamasi
Setelah selesai menikmati kuliner khas Manado pada siang itu, mereka pun menuju Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas untuk registrasi dan merakit sepeda. Kawasan ini merupakan hasil reklamasi yang digagas Gubernur Sulawesi Utara Cornelis John Rantung (1985-1995), kemudian direalisasikan Gubernur Evert Ernest (EE) Mangindaan (1995-2000). Reklamasi itu sejauh 10 kilometer dan menjorok ke laut mencapai kurang lebih 500 meter.
Wilayah tersebut dalam dua dekade terakhir telah berkembang menjadi salah satu urat nadi ekonomi di Kota Manado. Dalam kawasan berkembang pusat perbelanjaan, ruko, perkantoran perusahaan swasta, restoran, hotel dan sejenisnya. Infrastruktur, seperti jalan raya yang tersedia pun beraspal mulus dan lebar sehingga pada pagi hari dan sore hari menjadi sentra aktivitas lari.

Hotel ini berada tidak jauh dari tepi pantai sehingga pada sore harinya, beberapa di antara kami pun menyempatkan diri menikmati matahari terbenam. Panorama yang indah dan menawan pun mengakhiri perjalanan hari itu untuk menyiapkan diri menikmati gowes hari pertama di Manado.
Selama mengitari Kota Manado dan sekitarnya tampak masyarakat setempat baru selesai merayakan Paskah Nasional pada Rabu (8/4/2026). Suasana itu masih meninggalkan kesan yang luar biasa. Rumah-rumah warga dan sisi kiri serta kanan jalan raya masih marak dengan dekorasi-dekorasi bernuansa Paskah. Di gang, lorong dan jalan-jalan kecil tampak lampu-lampu hias berornamen Paskah.
Bahkan di setiap persimpangan jalan terpasang baliho dan spanduk berisi ucapan merayakan Paskah Nasional dari para elit politik lokal, nasional dan sejumlah anggota DPRD dan DPR RI. Maklum, mayoritas warga Sulawesi Utara penganut agama Kristen.
Menuju Likupang
Perjalanan kami ke Sulawesi Utara atau negeri Kawanua kali ini tidak semata-mata untuk menikmati aneka kuliner khas Manado. Aktivitas ini hanyalah ikutan. Kegiatan utama adalah mengayuh sepeda dalam event bernama Jelajah Manado-Tomohon. Pesertanya ada 46 orang berasal dari Singapura, Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, Semarang, Bandung, Surabaya dan Makassar.
Jumat, 17 April 2026 adalah hari pertama perjalanan bersepeda. Hari itu gowes ke arah Minahasa Utara, persisnya wilayah Likupang, timur laut Manado. Dari sana, kami pun kembali lagi ke ibukota Provinsi Sulawesi Utara tersebut. Likupang termasuk salah satu lokasi wisata yang sedang berkembang.
Keluar dari kawasan Megamas, kami bergerak ke kiri melewati Jalan Boulevard II melewati Jembatan Soekarno yang menjadi salah satu ikon Kota Manado. Di sini semua peserta berhenti sejenak untuk berfoto-foto. Pagi itu cuaca sangat cerah dengan langit biru yang menawan membuat panorama kota yang pada 14 Juli 2026 berusia 403 tahun tersebut sungguh indah.

Kami melanjutkan perjalanan melewati muara Sungai Tondano, kemudian masuk Jalan Mayjen Theo Syafei dan Jalan Hasanuddin, Jalan Arie Lasut, menuju arah Bandara Sam Ratulangi, Jalan Raya Kolongan hingga di kawasan Tatelu.
Pada rute ini, kami melewati jalan mendatar yang cukup panjang dengan selingan tanjakan halus. Arus kendaraan roda dua dan roda empat pada pagi itu pun cukup ramai dengan pengantaran anak-anak masuk sekolah, serta karyawan swasta dan pegawai yang hendak menuju ke tempat kerja.
Touring ini tidak melibatkan pengawalan dan pengamanan dari kepolisian. Salah satu pertimbangan panitia yakni jumlah peserta terbatas sehingga masih memudahkan kontrol. Panitia menggunakan tiga unit sepeda motor untuk mengatur dan mengontrol perjalanan peserta. Di setiap pertigaan atau perempatan selama lampu merah menyalah, rombongan kami pun berhenti sejenak. Anggota polisi lalu lintas yang berjaga di persimpangan begitu melihat rombongan sepeda kami selalu memberi perhatian dengan ramah.
Kebun Kelapa
Memasuki wilayah Tatelu, kami sudah berada pada jalan raya yang menghubungkan ke Likupang. Arus kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua pun relatif sepi. Kontur jalan pada rute ini pun masih mendatar dengan variasi tanjakan halus dan sekali-kali ada tanjakan cukup tinggi tapi dalam jarak yang pendek. Memasuki wilayah Likupang timur, kami melewati turunan yang cukup panjang.
Rombongan pesepeda terpecah dalam dua kelompok besar, yakni yang kuat yang melaju cukup kencang terus berada di depan. Kelompok berikutnya mengayuh dengan kecepatan berkisar 20-25 kilometer per jam. Meski begitu menikmati kayuhan dalam suhu udara yang cukup kalem, mereka pun tidak lupa berhenti sejenak di beberapa lokasi yang dianggap menarik untuk berfoto dan merekam video.

Sepanjang perjalanan, di kiri dan kanan jalan tampak cukup banyak kebun kelapa milik petani setempat. Sulawesi Utara merupakan penghasil kelapa terbanyak di Indonesia. Volume produksi berkisar 266.052 ton hingga 272.373 ton per tahun dengan lahan sekitar 390.000 hektar. Seiring dengan itu masuk pula investasi perusahaan swasta yang mengolah aneka produk turunan kelapa. Hingga tahun 2025 tercatat sekitar lima perusahaan yang berinvestasi di Sulawesi Utara yang memproduksi sabut kelapa, briket kelapa, bungkil, tepung dan santan kelapa. Semua produk tersebut umumnya diekspor ke berbagai negara antara lain China, Jerman, India, Jepang dan Korea.
Sabut kelapa, misalnya, adalah bagian terluar buah kelapa. Material ini dapat diolah melalui mesin pengurai menjadi dua produk utama yakni serat sabut (coco fiber). Serat ini tergolong kuat dan tahan air sehingga kerap diolah menjadi tali, sapu, keset dan jarring sabut atau cocomesh untuk pencegahan erosi. Dalam industri manufaktur, serat sabut juga berguna sebagai bahan pengisi jok mobil dan kasur spring bed.
Sulit Dapatkan Kelapa Muda
Ada pula serbuk sabut (coco peat). Dalam pertanian dan Perkebunan, coco peat sangat efektif sebagai media tanam dan mulsa, sebab mampu menyerap serta menahan air dengan sangat baik. Sabut kelapa juga kaya aka unsur hara seperti kalium (K) yang mampu menyuburkan tanah.
Saat ini permintaan serbuk sabut cukup tinggi dari negara-negara yang memiliki empat musim. Di sana, petani setempat pun mengingikan usaha pertanian berlangsung sepanjang tahun sehingga dikembangkan rumah kaca (greenhouse): bangunan tertutup yang didisain khusus untuk menciptakan iklim mikro yang optimal bagi tanaman. Bangunan ini memungkinkan pengaturan suhu, kelembapan cahaya dan sirkulasi udara guna melindungi tanaman dari cuaca ekstrim dan hama sehingga produktivitas dan kualitas panen meningkat signifikan. Usaha dalam rumah kaca ini membutuhkan serbuk sabut sebagai media tanam.

Itu sebabnya, petani di Sulawesi Utara lebih mengutamakan memetik buah kelapa tua dibanding buah kelapa muda. Dalam kepala tua ada empat varian yang dijual sekaligus yakni sabut, tempurung, daging dan air. Harganya pun tentu jauh lebih menarik. Sementara kelapa muda hanya air dan sedikit daging.
Tidak mengherankan, selama bersepeda di Sulawesi Utara nyaris tidak ditemukan penjualan kelapa muda. Ulfi Haryati Noya, pesepeda asal Cinere sempat menanyakan hal itu kepada saya, “Manado katanya penghasil kelapa, tetapi kok saya tidak pernah lihat orang jual kelapa muda. Ada apa ya”.
Saya kemudian menjelaskan bahwa petani Sulawesi Utara dalam beberapa tahun terakhir lebih memilih menjual kelapa tua. Pilihan itu dilakukan setelah berkembangnya industri hilir kelapa yang memproduksi aneka macam produk turunan, seperti sabut, briket, santan, tepung dan lainnya.
Terguyur Hujan Lebat
Di Likupang Timur kami bergerak ke kanan hingga di pertigaan Indomaret Maen, lalu belok ke arah kanan lagi. Kami masih melewati wilayah Kabupaten Minahasa Utara. Kontur jalan pada rute ini pun masih mendatar. Namun, sekitar tiga kilometer dari persimpangan itu, kami kembali menghadapi tanjakan halus nan panjang. Beberapa kali diselingi turunan, tetapi puluhan meter kemudian menanjak lagi.
Memasuki Desa Penenek, Kecamatan Likupang Timur ada sebuah gapura penanda batas wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung. Sebagian pesepeda berhenti sejenak untuk berfoto sebagai kenangan pernah melewati wilayah tersebut. Maklum, semua pesepeda yang mengikuti event ini baru pertama kali bersepeda di wilayah Minahasa Utara.
“Setiap kali melewati lokasi yang strategis, saya berusaha untuk berhenti sejenak dan berfoto atau mengambil video. Ini sebagai bukti sahi bahwa saya pernah gowes di jalur ini,” ujar Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Conculting.

Saat melewati Penenek, udara tampak mulai mendung. Kami tidak mempedulikan kondisi itu. Malah berharap hujan segera turun agar dapat menikmati kesegaran tubuh dari air yang jatuh dari langit tersebut. Benar saja, tidak lama berselang hujan pun mengguyur. Kami terus mengayuh seraya menikmati kontur jalan rolling yang ada.
Siang itu, akhirnya kami berhenti di kilometer 60, persisnya di sebuah aula Gereja Kristen Minahasa Pinangsungkulan, untuk makan siang. Kami beristirahat cukup lama sebab menunggu hujan redah.
Sekitar pukul 13.15 Wita, rombongan pertama melanjutkan kembali kayuhan. Selang 15 menit berikutnya kelompok kedua, dan kurang lebih pukul 13.40 gelombang ketiga atau terakhir bersepeda lagi. Rute ini langsung menghadapi tanjakan dengan kemiringan sekitar tujuh persen. Namun semakin ke depan kemiringan jalan pun meningkat.
Tanjakan ini tidak panjang. Hanya sekitar satu kilometer. Beberapa peserta kelompok kedua dan ketiga sepertinya tidak siap, sehingga sempat memilih menuntun saja sepedanya. Selepas tanjakan ngehek barulah mereka mengayuh kembali.
Menikmati Kabut Tebal
Perjalanan kami dari Pinangsungkulan semakin menemukan tantangannya. Tanjakan yang dilewati masih di bawah 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akan tetapi, selalu diikuti dengan turunan pendek, kemudian menanjak lagi sehingga menguras tenaga yang cukup signifikan serta menguji mental. Beberapa peserta sempat mengalami kram kaki, dan ada yang terpaksa minta dievakuasi.
Meski demikian, dalam setiap ujian hidup selalu terselip momentum untuk mengisi bathin guna menemukan kebahagiaan. Dalam rute ini terutama setelah kilometer 70, kami melewati Hutan Cagar Alam Dua Saudara di Kota Bitung. Hutan tersebut cukup padat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Saat itu kabut tebal menyelimuti kawasan hutan ini sehingga terasa sejuk, adem dan sangat menyegarkan. Kabut terjadi mungkin karena baru selesai hujan lebat.
“Saya merasa senang sekali bisa gowes di tengah kabut tebal saat melewati hutan cagar alam itu. Hati terasa adem dan bahagia. Inilah titik yang paling saya suka dari touring hari pertama ini,” kata Philips Karundeng, lelaki berdarah Minahasa yang lahir dan menetap di Makassar.

Lim Chin Kah, peserta dari Singapura juga mengakui hal serupa. “Saya juga paling suka mengayuh di hutan alam itu. Berkabut tebal. Sepi dari lalu Lalang kendaraan bermotor. Bagus sekali. Udaranya sangat bersih, membuat hati jadi tenang dan berbunga. Kita dapat menghirup udara bersih yang berkualitas tinggi,” ungkap Lim yang mengaku baru pertama kali mengunjungi Sulawesi Utara. Dia datang bersama istrinya Siow Suck Wan yang juga penggila touring sepeda.
Tidak lama setelah melewati hutan cagar alam, kami memasuki lagi jalan raya utama yang menghubungkan dengan pusat Kota Bitung. Kami terus melaju. Beberapa kali melewati jembatan yang bagian bawah merupakan lintasan jalan tol menghubungkan Manado-Bitung. Inilah satu-satunya jalan tol di Sulawesi Utara. Bitung adalah sentra pelabuhan ekspor-impor untuk Sulawesi Utara.
Rute Menantang
Selepas Airmadidi, kami masih melewati jalan mendatar dan tanjakan halus yang cukup jauh kemudian disusul turunan yang cukup panjang hingga memasuki Kota Manado. Arus kendaraan pun mulai padat sehingga semua peserta diingatkan selalu waspada serta upayakan dalam rombongan. Kita tidak pernah tahu perilaku para pengendara kendaraan bermotor setempat terhadap pesepeda.
Memasuki Kota Manado, kami masih melewati rolling di beberapa titik. Sekitar pukul 16.00 Wita, peserta pun mulai tiba kembali di Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas. Yang terakhir masuk pukul 17.15 Wita. Hari pertama ini, kami menuntaskan perjalanan sejauh 120,74 kilometer dengan total ketinggian atau elevation gain 1.526 meter.
Fitri Barnas, peserta dari Depok, Jawa Barat mengaku sangat puas dengan touring hari pertama ini. “Secara keseluruhan, rute ini sungguh menarik. Jalannya beraspal mulus. Tanjakan yang kita lewati tidak terlalu berat, sebab selalu ada turunan. Namun rolling yang berkali-kali memang menjadi tantangan yang besar. Inilah touring. Sebagai penjelajah, kita selalu siap lahir-bathin untuk menghadapi segala situasi,” ungkap Fitri Barnas yang juga baru pertama kali mengunjungi Manado.

Rudi Pasaribu dari Jakarta juga menilai rute perjalanan hari pertama menyenangkan. Jalan beraspal mulus dengan rolling yang lumayan menantang disertai tanjakan yang cukup. “Saya sangat meniknati rute ini. Apalagi ada kopi yang dihidangkan pak pendeta saat makan siang terasa pas banget, sebab tubuh basah akibat kehujanan,” kata Rudi.
Sementara itu Anita Sujarwo dari Jakarta yang baru tiba di Manado pada Jumat pagi juga tidak mau melewatkan kesempatan ini. Setelah menyimpan barang-barangnya di Hotel Grand Whiz, dia langsung gowes solo melewati rute yang sama. Di kilometer 65 sempat kelelahan, tetapi tidak mau menyerah dan terus mengayuh. Sekitar pukul 19.20, Anita pun mencapai finish. “Saya rugi kalau sudah tiba di Manado tetapi tidak menjajal rute hari pertama. Makanya, saya nekad gowes dan berhasil menuntaskannya. Puas dan senang banget,” ujarnya. (Bersambung)
