Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menuju Tomohon melalui Tondano

Juni 19, 2026

Rindu Manado Pun Terlunasi

Juni 17, 2026

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Menuju Tomohon melalui Tondano
Cyling

Menuju Tomohon melalui Tondano

JANNES EUDES WAWABy JANNES EUDES WAWAJuni 19, 2026Tidak ada komentar10 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Menikmati Danau Linow di Tomohon. Arsip Jelajah
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Oleh JANNES EUDES WAWA

Tomohon, sebuah kota yang melegenda. Wilayah yang terapit oleh Gunung Lokon dan Gunung Mahawu ini memiliki kawasan seluas 147,21 kilometer persegi. Letaknya berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut tersebut membuat Tomohon terkenal subur dengan panorama alam yang indah dan suhu udara nan sejuk. Daerah ini juga termasuk salah satu sentra penghasil aneka bunga yang amat populer di Indonesia.

Dalam perjalanan bersepeda di Sulawesi Utara ini, Tomohon menjadi tujuan utama. Kami mengunjungi kota yang sejak tahun 2006 rutin menggelar festival bunga internasional. Event tersebut tidak semata-mata memperkenalkan kekayaan tradisi seni dan budaya, tetapi juga memanggungkan Tomohon sebagai kota bunga.

Hari kedua, Sabtu, 18 April 2026 dengan rute Manado-Tomohon. Sejak pukul 05.00 Wita, semua peserta sudah mengemaskan barang-barangnya. Bahkan, sebagian besar sudah berada di restoran untuk sarapan pagi. Mereka sepertinya sudah tidak sabar untuk segera mengayuh sepeda menuju Tomohon, kota yang sudah bertahun-tahun selalu masuk rencana tujuan bersepeda, tetapi baru kali ini terwujud.

Keluar dari Kota Manado menuju Kota Tomohon, Sabtu (16/4/2026). Arsip Jelajah

“Saya terus terbayang tentang Tomohon. Kota yang sejuk dan dingin, banyak bunga. Pasti seru dan menarik. Saya sudah tidak sabar untuk bersepeda ke sana dan menikmati tantangannya,” kata Saleh Sami, pesepeda asal Jakarta juga dibenarkan Afit Raja Bungsu asal Jakarta juga.

Pagi itu beberapa peserta cukup penasaran dengan tanjakan menuju Tomohon. Ada yang meminta informasi kepada panitia berapa derajat kemiringan tanjakan. Namun panitia enggap menginformasikan detail. Mereka hanya mengatakan tanjakannya tidak terlalu berat, sebab Tomohon berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lebih rendah 200 meter dari puncak di Bogor.

Sebelumnya panitia juga sudah menginformasikan bahwa rute menuju Tomohon bukan melewati jalan utama, melainkan jalan kabupaten, tetapi beraspal mulus. Jalur ini pun jarang dilewati kendaraan bermotor roda empat dan roda dua sehingga nyaman untuk bersepeda. Melalui jalur ini pula perjalanan tidak langsung menuju ke Tomohon, melainkan akan terlebih dahulu menyinggahi Danau Tondano dan Danau Linow.

Mulai Mengayuh

Setelah selesai sarapan dan semua barang-barang diserahkan kepada panitia, tepat pukul 07.00 Wita, kami memulai kayuhan dari penginapan. Keluar dari kawasan Megamas langsung masuk Jalan Piere Tendean lalu belok kanan masuk Jalan Sam Ratulangie 12, dan 300 meter berikutnya belok kanan lagi masuk Jalan Sam Ratulangie.

Beberapa kilometer kemudian belok  masuk Jalan Babe Palar hingga di Teling, lalu belok kanan, dan masuk Jalan Tololiu Supit. Mulai dari jalur ini atau sekitar 2,5 kilometer dari Megamas kami mulai melewati jalan tanjakan. Mula-mula masih halus, tetapi puluhan meter ke depan kemiringan jalan makin meningkat. Sempat pula menghadapi turunan sekitar 40an meter, namun setelahnya menanjak kembali hingga di jalur lingkar luar (Ring Road Manado).

Menikmati tanjakan saat keluar dari Kota Manado, Sabtu (16/4/2026). Arsip Jelajah

Rute ini berada agak ke tengah atau sebelah kiri dari jalur utama menghubungkan Manado dan Tomohon. Kami tetap melaju melewati jalan lurus menuju ke wilayah Koka. Kawasan itu sudah berada di luar kota. Pada rute ini permukiman penduduk kian jarang. Kontur jalan terus menanjak.

Selepas Koka tak ada lagi tempat penjualan seperti Indomaret dan Alfamaret. Yang ada hanya kios-kios kecil dalam jumlah yang sangat terbatas. Permukiman penduduk pun semakin jarang. Badan jalan yang ada menyempit, hanya dapat dilewati satu kendaraan roda empat. Meski demikian kondisi jalannya beraspal mulus.

BACA JUGA:  Rindu Manado Pun Terlunasi
Aroma Cengkeh

Di kiri dan kanan jalan tampak kebun kelapa dan tanaman cengkeh. Di beberapa lokasi, aroma cengkeh cukup kuat terasa. Sulawesi Utara memang termasuk salah satu daerah penghasil cengkeh terbanyak di Indonesia dengan volume produksi sekitar 10.326,9 ton per tahun dari lahan seluas 72.983 hektar.

Di masa Orde Baru, sempat terjadi praktek monopoli pembelian cengkeh melalui pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Kebijakan ini lahir dari Keputusan Presiden Nomor 20 tahun 1992 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1992. Tommy Soeharto ditunjuk mengomandoi dan mengendalikan badan tersebut.

Kebijakan itu merusak pasar bebas dengan menekan harga beli dari petani secara sepihak yang sangat rendah, dan memaksa mereka menjual cengkeh hanya ke lembaga tersebut. Petani juga dilarang menjual cengkeh langsung ke pabrik rokok, melainkan wajib menyalurkannya melalui koperasi yang terafiliasi dengan BPPC. Petani frustasi sehingga menebang cukup banyak pohon cengkeh.

Melewati hutan dengan pohon-pohon yang menjulang. Suasana ini menjadi sebuah kebahagiaan. Arsip Jelajah

Tanjakan yang kian tinggi, panjang dan berkelok itu tidak menggentarkan kami. Dari atas sadel sepeda, kayuhan terus melaju sesuai kemampuan masing-masing. Peserta kian terpecah dalam beberapa kelompok. Mereka yang menggilai tanjakan terus mengayuh kencang sehingga selalu di barisan terdepan. Meski ada sempat berhenti di beberapa titik, tetapi hanya sejenak sekedar untuk mengambil nafas guna memulihkan fisik, lalu kembali bersepeda.

Kelompok lainnya mencoba menyesuaikan dengan kekuatan tubuh. Jika mulai terasa lelah langsung menghentikan sepeda untuk istirahat. “Usia saya sudah tidak muda lagi. Jadi, gowes di tanjakan seperti ini harus mengikuti kemampuan tubuh, terutama jantung. Jangan memaksakan diri. Perlahan-lahan yang penting tiba dengan selamat,” ungkap Moch Surjadi asal Tangerang Selatan, Banten.

Andrew Setiawan dari Kelapa Gading, Jakarta juga mengingatkan peserta agar jangan memaksakan diri saat mengayuh di tanjakan. “Kita bersepeda ini untuk sehat, untuk healing, bersenang-senang. Kalau tubuh sudah memberi isyarat untuk istirahat, kita ikuti saja. Jangan memaksakan diri,” ujar Andrew yang juga seorang dokter senior.

Menyapa Warga Setempat

Saat melewati kemiringan tanjakan yang cukup tinggi, sekitar enam peserta memilih evakuasi ke dalam mobil. Mereka baru kembali mengayuh kembali setelah tiba di jalan yang mendatar.

Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali berjumpa dengan warga setempat. Ada yang berdiri di depan rumah atau kebun. Ada pula sedang mengendarai motor atau mobil. Kami saling menyapa. Setelah mengetahui kami hendak menuju Tomohon, mereka sedikit terheran membayangkan tanjakan yang ada dilalui dengan mengayuh sepeda. “Masih cukup jauh kalau ke Tomohon. Nanjak terus. Semangat ya, jangan menyerah,” ungkap seorang warga Koka.

Memasuki kilometer 25, kontur jalan mulai mendatar. Lokasi ini sudah berada dalam wilayah Kabupaten Minahasa. Sekitar 1,5 kilometer berikutnya kami dibikin bahagia, sebab menghadapi turunan sekitar 500 meter. Tetapi setelah itu bercumbu lagi dengan tanjakan berkelok sekitar dua kilometer hingga di kilometer 30.  Jalan mendatar mulai dari titik itu.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (32): Kuliner di KBRI Bulgaria Bikin Rindu Indonesia
Beristirahat sejenak di tepi jalan. Arsip Jelajah

Kami terus melaju melewati permukiman penduduk. Semangat kayuhan semakin tinggi. Melewati tengah kota Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa. Kota ini cukup bersih, tetapi agak sepi dan tidak terlalu luas. Tidak terlalu banyak kendaraan bermotor yang lalu Lalang. Tim pertama masuk kota Tondano sekitar pukul 10.00 Wita. Kelompok terakhir pada pukul 11.15 Wita.

Keluar dari kota itu, kontur jalan tetap mendatar. Tampak hamparan sawah, jagung, dan kebun sayur-sayuran. Wilayah ini tergolong subur. Sayuran-sayuran yang ada umumnya disuplai ke Kota Manado.

Tepi Danau Tondano

Siang itu, kami beristirahat di Ribera Bistro, restoran yang berada persis di tepi Danau Tondano sisi barat. Di lokasi itu berkembang sejumlah tempat makan dengan panorama danau yang menarik. Hampir semua restoran yang ada memiliki keramba yang cukup banyak dan luas. Setiap akhir pekan banyak warga datang berwisata di Danau Tondano.

Di tepi Danau Tondano. Arsip Jelajah

Danau seluas 43 kilometer persegi itu tersedia jalan raya beraspal yang melingkarinya menghubungkan kota Tondono dengan Kecamatan Tondano Timur, Kecamatan Eris, Kakas, Rembeken, dan Tondano Selatan. Dalam danau berkembang biak sejumlah jenis ikan air tawar, antara lain nila, mujair, kabos (pior), payangka, betutu, wiko (udang kecil), tawes, ikan mas (pongkor), gurami, dan lobster. Begitu banyak keramba yang ditempatkan dalam danau untuk usaha budidaya ikan.

Rudi Pasaribu menilai panorama Danau Tondano sungguh menakjubkan. Saking indahnya, dia pun nyaris mengabaikan menu ikan mujair bakar yang disajikan. “Keindahan danau ini top banget. Saya terbius sehingga sajikan ikan mujair bakar pun jadi tidak penting lagi untuk dinikmati,” ungkapnya.

Namun keramba juga menjadi salah satu pemicu pendangkalan, sebab setiap hari puluhan ton pakan yang diberikan untuk ikan. Pakan-pakan itu kemudian mengendap dan menimbulkan sedimentasi. Enceng gondok pun berkembang begitu pesat. Kontribusi lain yakni adanya pembusukan gulma yang tumbuh di danau. Maraknya budidaya perikanan mempercepat bertumbuhnya gulma.

Sedimentasi juga menyempitkan luas danau yang hingga tahun 2022 tersisa 4.700 hektar. Bahkan, sekitar tahun 1998, menurut data Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi, kedalaman Danau Tondano diperkirakan masih 30 meter, tetapi pada tahun 2022 hanya menyisahkan 13,5 meter.

Maraknya keramba dan enceng gondok memicu pendangkalan. Arsip Jelajah

Salah satu menu makan kami pada siang hari itu adalah ikan nila dan ikan mujair bakar. Ukuran setiap ekor menyerupai telapak tangan pria dewasa. Rasanya lezat dan enak. Ikan air tawar menjadi menu andalan restoran yang ada di tepi danau tersebut.

Danau Linow

Sekitar pukul 13.00, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Danau Lanow di Kota Tomohon. Letaknya sekitar 12 kilometer ke arah barat. Mula-mula, kami bersepeda ke arah barat daya melewati tepi Danau Tondano. Di jalur ini masih memiliki hutan cukup lebat. Banyak pohon menjulang. Suhu udara pun terasa sejuk.

Saat keluar dari area danau, dan memasuki wilayah Remboken atau sekitar 4 kilometer dari tempat makan siang, mendung kian pekat. Tak lama berselang, hujan turun begitu deras. Beberapa peserta memilih berteduh di sejumlah kios di tepi jalan raya. Namun, ada pula yang mengayuh terus. Hujan ini hanya berlangsung sekitar 40 menit.

Menikmati Danau Linow di Tomohon. Arsip Jelajah

Sepertinya ini hanya hujan lokal, sebab di kawasan Danau Linouw yang berjarak kurang lebih 7 kilometer ternyata langitnya cerah. “Di Danau Linouw tidak ada hujan. Langit cerah,” kata Putu, pengemudi mobil panitia yang sudah menunggu peserta di danau itu.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (24): Uang Tunai Pun Raib di Kamar Hotel

Di rute ini, dua kali kami tiga kali melewati tanjakan dengan kemiringan 8-11 derajat dengan selingan turunan dan jalan mendatar. Bahkan, menjelang tiba di Danau Linow kami melewati turunan yang cukup panjang di tengah hutan pohon dan bambu yang cukup lebat. Jalan pun beraspal mulus sehingga meringankan laju kayuhan.

Sekitar dua kilometer menjelang Danau Linouw tercium bau belerang yang begitu menyengat. Di sisi jalan tampak jaringan pipa ukuran sangat besar yang merupakan saluran gas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong. Pembangkit ini memiliki total kapasitas terpasang 120 megawatt (MW) yang terbagi dalam 6 unit dan menyuplai listrik untuk wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo. Potensi energi panas bumi ini dieksplorasi sejak tahun 1990, tetapi beroperasi secara komersial sejak 2001. Mampu menyuplai listrik untuk 133.300 rumah.

Di Danau Linow, Tomohon. Arsip Jelajah

Kami berhenti sejenak di tepi Danau Linouw, menikmati panorama sekaligus berfoto. Langit pun mendung. Danau ini terbentuk dari letusan gunung berapi sekitar 500.000 tahun silam. Sisa-sisa gunung berapi tersebut berupa adanya sumber belerang di sekitar danau.

Diguyur Hujan Lebat

Hampir setiap ada selalu ada wisatawan yang mengunjungi danau tersebut. Namun pengunjung dilarang berenang, sebab air danau memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Jika terpapar sulfur dapat menimbulkan kerusakan pada kulit dan cidera lainnya.

Mengingat mendung kian tebal, kami memutuskan melanjutkan kayuhan menuju ke Hotel Villa Emita Tomohon yang berjarak sekitar 4,5 kilometer. Perjalanan ini pun masih ada tanjakan. Tidak tinggi, tetapi cukup menguras tenaga dan emosi. Namun mengingat hati kecil sudah terbayang dengan hotel tempat menginap sehingga tanjakan itu terlewatkan dengan lancar.

Sejumlah peserta yang berangkat lebih awal terluputkan dari hujan. Sebagian lagi ketika masuk tengah kota langsung terguyur hujan deras. Mereka terjebak di tengah arus kendaraan yang padat. Di beberapa titik air tergenang juga. Meski demikian, mereka terus mengayuh perlahan-lahan melewati kendaraan-kendaraan yang padat merayap itu. Sekitar pukul 16.40 Wita akhirnya tiba di penginapan. Sedangkan kelompok terakhir lebih memilih evakuasi menjelang Danau Linouw, sebab terjebak hujan deras.

Melewati tepi Danau Tondano yang teduh, dan adem. Arsip Jelajah

Malam harinya, AKBP Johan Sitorus, Wakil Komandan Brimob Polda Sulawesi Utara mengundang makan di rumahnya masih berada di Kota Tomohon. Jarak dari hotel sekitar 2 kilometer. Rumah pribadi itu juga berada tidak jauh dari kaki Gunung Lokon. Dia berkenalan dekat dengan sejumlah peserta. Kebetulan mereka pernah bertemu pada even Tour de Teluk Cendrawasih yang diselenggarakan Kepolisian Daerah Papua Barat tahun 2016. Saat itu, Johan Sitorus bertugas di Polda tersebut.

Makam malam itu menjadi ajang reuni. “Saya suka bersepeda, meski belakangan agak jarang. Tetapi setelah pensiun pada akhir tahun 2026 ini saya ingin gowes kemana-mana. Gowes tidak hanya menyehatkan, tetapi membuat hati bahagia. Makanya, saya undang makan malam di sini (rumah) untuk memberikan kehormatan, sebab telah datang jauh-jauh ke sini (Sulut),” jelas Johan Sitorus. (Bersambung)

JANNES EUDES WAWA
Author: JANNES EUDES WAWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Rindu Manado Pun Terlunasi

Juni 17, 2026

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Menuju Tomohon melalui Tondano

Juni 19, 2026

Rindu Manado Pun Terlunasi

Juni 17, 2026

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.