Minggu, 11 November 2023 setelah saya menyelesaikan urusan paspor pada kantor Imigrasi kota Chalus, kami memutuskan menginap lagi semalam di Hotel Fander. Karena berada di tepi Laut Kaspia melalui perjalanan bersepeda dari Jakarta adalah pengalaman tiada duanya. Kisah ini pun takkan terulang kembali. Tetapi, di kota ini pula uang tunai raib.
Memang sejak awal merencanakan mengayuh sepeda dari Jakarta ke Paris, saya sudah memutuskan untuk mengunjungi salah satu pesisir dari Laut Kaspia. Laut ini adalah perairan darat terbesar di dunia. Garis pantainya berada dalam wilayah lima negara. Bahkan, memiliki tiga bagian dengan perbedaan yang cukup dramatis.
Kelima negara itu adalah Azerbaijan dan Rusia di sebelah barat, Iran di selatan, Turkmenistan di bagian timur, serta Kazakhstan di wilayah timur laut dan utara. Uniknya lagi di bagian utara Laut Kaspia hanya memiliki kedalaman 5-6 meter, dan menampung air kurang lebih satu persen dari total volume air dari perairan tersebut.

Sementara kedalaman perairan di bagian tengah mencapai 190 meter. Kawasan ini menampung 33 persen dari total volume air Laut Kaspia. Bagian Selatan menampung air mencapai 66 persen. Di bagian utara biasanya membeku selama musim dingin. Jika suhu udara lebih dingin lagi, muncul bongkahan es yang mengapung hingga mencapai Semenanjung Aphseron.
Tas koper terbuka
Kami merencanakan kembali ke Tehran pada Senin, 12 November 2023. Kami ingin selalu berada di ibukota negara Iran tersebut untuk memantau perkembangan urusan visa masuk ke Uni Eropa. Barangkali ada panggilan mendadak untuk wawancara,
Di Tehran, kami menginap di Hotel Ideal. Hotel ini kelas melati, tetapi bersih dengan pelayanan yang bagus.
Esok siang, Selasa 13 November 2023, sekitar pukul 11.00 waktu setempat, sebelum keluar dari kamar hotel, saya mencoba mengecek kembali satu demi satu barang. Tampak tas koper (kecil) warna putih dalam posisi terbuka. Padahal, setahu saya selama berada di kamar hotel tersebut, tas koper tersebut nyaris tidak tersentuh.
Koper itu juga selalu terkunci dengan kode khusus. Koper ini berisi sejumlah tunai untuk bekal perjalanan seperti membayar hotel, makan, membeli bahan bakar minyak dan lainnya.
Saya kemudian mengecek detail koper itu. Ternyata ada orang sengaja membukanya. Sang pencuri berhasil membuka dengan menggunakan kode khusus. Sepertinya pencuri itu sudah berpengalaman. Dia mengambil sejumlah uang tunai. Pencurian terjadi saat saya berada di luar hotel. Saya pun panik dan stress juga.
Saya kemudian mencoba mengingat kembali selama beberapa hari terakhir, di kota mana saja saya meninggalkan barang di dalam hotel. Ternyata hanya dua lokasi, yakni Hotel Fander di Chalus dan Hotel Ideal di Tehran.
Untuk Hotel Ideal, saya langsung melaporkan kasus ini kepada manajemen sekaligus meminta mereka membuka CCTV yakni hari itu pada jam 07.00-10.00. Karena saat tersebut kami berada di luar hotel.
Mereka langsung respons, dan melakukan pengecekan. Saya juga diminta ikut menyaksikan. Tidak ada yang masuk ke kamar saya pada jam itu. Besar kemungkinan di Hotel Fander.
Kembali ke Chalus
Siang itu, kami menuju ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran untuk memenuhi undangan makan siang dari Dubes Iran Pak Ronny Prasetyo Yuliantoro. Saat bertemu beliau, saya tidak menceritakan soal kehilangan uang tunai dalam tas koper. Saya tidak mau menambah urusan untuk beliau.
Setelah selesai makan siang di KBRI Tehran, kami menuju hotel Fander di Chalus. Tiba pukul 19.00, dan langsung bertemu dengan resepsionis untuk melaporkan kejadian.
Kami memohon manajemen hotel untuk membuka rekaman CCTV. Akan tetapi, petugas hotel itu keberatan. Alasannya, tidak ada orang yang masuk ke kamar tamu untuk mencuri barang.

Saya kemudian menimpali, bahwa kami tidak menuduh petugas hotel mencuri barang. Kami hanya ingin melihat rekaman CCTV terutama pada 11 November 2023 mulai pukul 07.00 sampai pukul 20.00.
Akan tetapi, petugas hotel lagi-lagi menolak. Kali ini mereka balik menggertak kami dengan mengatakan bahwa tamu dilarang meninggalkan barang berharga di dalam kamar. Hal itu melanggar UU di negara tersebut.
Saya kemudian membalasnya dengan mengatakan bahwa seharusnya manajemen hotel menyiapkan deposit box. Nyatanya, tidak ada.
Saya kembali mengatakan bahwa kami sama sekali tidak menuduh petugas hotel mencuri. Kami hanya memohon dibukakan CCTV karena kami ingin melihatnya pada 11 November selama pukul 07.00 sampai 20.00.
Kali ini, mereka beralasan bahwa CCTV di hotel tersebut sedang rusak. Nah, kalau sudah bilang rusak, maka selesailah. Kami tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya. Peluang sudah tertutup.
Malam itu kami memilih menginap di hotel tersebut sekaligus ingin memastikan CCTV rusak. Kami ingin melihat kembali TKP. Saya mengamati dengan seksama ternyata di kamar dan lorong hotel terpasang kamera CCTV dengan kondisi menyala.
Ada kesempatan
Hotel ini tidak menyediakan sarapan pagi. Maka, 14 November 2023 pagi, saya keluar sarapan pada salah satu restoran yang tidak jauh dari hotel. Kami berjalan kaki. Di restotan itu, kami benar-benar menjadi yang terasing. Mungkin warna kulit dan bentuk wajah yang jauh berbeda dengan warga setempat sehingga kami menjadi pusat perhatian.
Tamu-tamu restoran mencoba menyapa dan bersalaman dengan kami. Dari sekian banyak yang bersalaman, satu di antaranya ternyata masih berkeluarga dengan pemilik Hotel Fander.

Dalam hati, saya merasa menemukan kesempatan untuk menceritakan pengalaman tidak menyenangkan di Hotel Fander. Setelah saya menceritakan duduk masalah dan sikap manajemen hotel saat kami memohon untuk melihat rekaman CCTV, yang bersangkutan bilang bahwa di Iran, pemilik perusahaan biasanya cenderung tidak terlibat lagi. Semua urusan dipercayakan sepenuhnya kepada manajemen.
Dia kemudian menyarankan saya melaporkan kepada kantor pelayanan pariwisata. Lokasinya tidak jauh dari restoran. Bahkan, lembaga itu yang akan memerintahkan untuk membuka rekaman CCTV. Mereka bisa menjadi mediator.
Bertemu pemilik hotel
Habis makan pagi kami langsung ke kantor tersebut, bertemu dengan pegawainya. Mereka sangat responsif, sigap dan langsung mengontak pemilik hotel. Tidak lama kemudian pemiliknya pun datang. Dia bernama Fander yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen dan profesor. Dia ahli matematika.
Akhirnya kami pun bertemu dan bercerita dengan cukup akrab. Kami, kemudian bersama-sama ke hotel untuk melihat rekaman CCTV. Sebelumnya, kantor pelayanan pariwisata sudah mengontak teknisi yang paham CCTV.
Teknisi yang membuka. Dia menemukan ada kabel yang sengaja dilepas dari decorder sehingga kamera tetap hidup, tetapi tidak berfungsi. Tidak puas dengan kondisi itu, petugas pelayanan pariwisata mengambil decorder dan mengantarkan ke teknisi lain yang lebih jago lagi. Namanya Pak Ali yang khusus menangani CCTV. Pak Ali juga memiliki toko eletronik dan sering memperbaiki CCTV. Hasilnya nihil juga.
Kepala kantor pelayanan pariwisata kemudian menanyakan kepada saya, dengan hasil seperti ini apa keinginan saya selanjutnya? Saya bilang kami sama sekali tidak menuduh siapa pun. Kami juga tidak menuduh pihak hotel. Saya hanya ingin melihat rekaman CCTV. Itu saja sudah cukup. Kalau ada, dan saya bisa melihatnya, maka selesai.

Bagian pelayanan masih mencoba bertanya lagi, apakah saya ingin melaporkan kasus ini kepada polisi? Saya hanya mengatakan, sudahlah. Saya tak berniat meneruskan masalah ini kepada polisi. Kalau tidak dapat melihat CCTV, kemudian mau melakukan apa? Kami pun beranggapan masalahnya sudah selesai.
Ketika kami pamit untuk kembali, Pak Fander mengajak makan siang. Begitu juga petugas dari pariwisata. Kami pun makan siang bersama dijamu Pak Fander. Selesai makan, kami kembali ke Tehran. Menginap di Hostel Heritage Tehran.
Percobaan demi percobaan datang silih berganti. Saya sempat terpukul juga, sebab sudah ketiga kalinya. Pertama kali kejadian di Pakistan. Akan tetapi, saya mencoba menguatkan diri untuk terus maju.
editor: JANNES EUDES WAWA
Catatan Royke Lumowa (23): Sejumlah Barang Kami Raib di Iran


1 Komentar
Pingback: Catatan Royke Lumowa (25): Masih Berjuang Dapatkan Visa Uni Eropa - blalak.com