Catatan ROYKE LUMOWA (5)
Sejak hari Minggu (23/7/2023), perjalanan saya mulai memasuki Malaysia. Kurang lebih selama sepekan saya mengayuh sepeda di wilayah “negeri jiran” ini. Mulai dari perbatasan dengan Singapura hingga perbatasan dengan Thailand dengan total jarak sekitar 800 kilometer. Mungkin karena serumpun, sehingga tradisi pun menyerupai Indonesia. Yang berbeda yakni Malaysia lebih bersih dan tertib dalam berlalu lintas.
Saya masuk Malaysia melalui Singapura. Malam pertama di Malaysia saya menginap di Johor Bahru. Kebetulan Konsul pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru yakni Sigit Suryantoro Widiyanto pernah sama-sama bertugas di Kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan HAM selama tahun 2012-2015.
Ketika mendengar kabar tentang saya berencana melakukan touring sepeda dari Jakarta ke Paris, dia mengontak dan mewajibkan saya menyinggahi KJRI Johor Bahru, serta menginap semalam. Saya pun menyanggupinya.
Maka, dari Singapura saya langsung menuju Johor Bahru. Jarak kedua kota ini cukup dekat, yakni 31,9 kilometer. Saya pun berangkat dari Singapura selepas makan siang. Hanya menghabiskan waktu satu jam dan 27 menit, saya sudah tiba di wisma KJRI Johor Bahru.

Saya sungguh bahagia karena bisa berjumpa lagi dengan Pak Sigit. Perjumpaan kami kali ini dalam situasi yang jauh berbeda. Kami bertemu kembali di Johor Bahru dimana Pak Sigit sebagai diplomat yang memimpin KJRI dan saya datang dengan bersepeda dari Jakarta. Ini perjalanan hidup yang tidak pernah diduga.
Keturunan Indonesia
Saya mendapatkan cerita-cerita seru dari Pak Sigit tentang Johor Bahru dan kawasan sekitarnya, serta Malaysia pada umumnya. Sebagian masyarakat di wilayah ini ternyata masih keturunan Minangkabau, Jawa dan Bugis. Leluhur mereka masuk ke Malaysia dalam beberapa gelombang sejak tahun 1860an.
Saat mengayuh sepeda dari Johor Bahru menuju Muar sejauh 193 kilometer pada Senin (24/7/2023), saya sempat melihat rumah adat Minangkabau berdiri kokoh di wilayah Negeri Sembilan. Tidak sedikit pula ornamen rumah warga setempat yang sama dengan rumah gadang.

Ternyata, hal ini karena orang Minangkabau masuk di wilayah tersebut sejak tahun 1860an. Mereka datang untuk berdagang dan bertani, kemudian menetap, dan beranak pinak hingga sekarang. Mereka pun tetap melestarikan segala tradisi Minangkabau.
Sementara masyarakat Jawa banyak menghuni di Muar. Tidak sedikit tempat usaha, terutama restoran yang bernama khas Indonesia. Di kota Muar ada restoran bernama Mee Bandung Muar, pemiliknya keturunan Jawa. Mee Bandung tersebut sangat populer di kalangan masyarakat Muar dan sekitarnya.
Lestarikan tradisi
Di restoran itu saya berjumpa dengan seorang pemuda bernama Putra. Dia mengaku masih keturunan Jawa. Putra merupakan generasi ketiga dari keluarganya yang di Malaysia. Warga keturunan Jawa mendominasi di Kampung Parit Jawa, pinggir Kota Muar, tempat tinggal Putra. Merea juga melestarikan tradisi Jawa seperti reog dan pencak silat, termasukbahasa Jawa. Anak-anak seusia Putra, bahkan yang lebih muda lagi pandai berbahasa Jawa.

Masyarakat Jawa masuk di Johor dan sekitarnya sejak tahun 1830an. Hal ini terjadi menyusul kebijakan pengusaha Johor kala itu, Temenggong Daing Ibrahim (1810-1862) mendatangkan orang Jawa dan China untuk bekerja di perkebunan gambir.
Anak dan cucu Temenggong Daing Ibrahim yakni Temenggong Abu Bakar (1833-1895) dan Sultan Ibrahim ibni Sultan Abu Bakar (1873-1959) kemudian meneruskan kebijakan tersebut. Jumlah orang Jawa kemudian bertambah banyak sebagai upaya mengimbangi jumlah pekerja China yang semakin besar.
Dalam perjalanan, banyak pekerja asal Jawa memilih bertahan dan beranak pinak di Johor. Apalagi Sultan Johor saat itu juga mengajak mereka bersama-sama membangun wilayah tersebut. Keturunan mereka kemudian menjadi warga negara Malaysia yang tetap melestarikan tradisi lelulurnya seperti yang kita lihat saat ini.
Saat berdiskusi dengan Pak Sigit terlontar ide yang menarik. Dia mengusulkan agar Pemerintah Indonesia mendirikan Pusat Kebudayaan Jawa, Minangkabau dan Bugis di Johor dan sejumlah kota lain di Malaysia. Pak Sigit meyakini kehadiran pusat kebudayaan akan semakin merekatkan hubungan masyarakat ketiga suku itu di Malaysia dengan tanah lelulurnya, serta sebagai cara efektif untuk melestarikan budaya dan tradisi.

Suhu panas
Dari Johor Bahru, saya sengaja memilih jalur melalui Muar agar lebih cepat tiba di Kuala Lumpur, yakni hanya dua hari atau transisi satu kota. Konsekuensinya, jarak tempuh bakal lumayan jauh. Rute Johor Bahru-Muar mencapai 195 kilometer.
Saat memulai gowes dari Johor Bahru sekitar pukul 07.00. Tetapi suhu udara terasa mulai panas. Sengatan matahari mulai menusuk pori. Akan tetapi, di kota ini masih banyak tumbuh pepohonan. Tiupan angin pun lumayan bagus sehingga ikut membantu menghalau sengatan mentari.
Begitu keluar dari Kota Johor Bahru, terutama memasuki wilayah Negeri Sembilan, pepohonan mulai jarang. Suhu udara terus meningkat hingga mencapai 40 derajat celcius. Sengatan matahari terasa sangat panas. Berkali-kali saya minum air mineral agar mencegah dehidrasi. Saya tidak menyangka suhu udara di wilayah Malaysia sepanas ini.

Kondisi yang sama juga saya alami sewaktu bersepeda hari berikutnya yakni Muar menuju Kuala Lumpur sejauh 180 kilometer. Di kilometer 100, saya hampir menyerah dan mau memilih diangkut. Pemicunya karena suhu udara yang sangat panas: di atas 40 derajat celcius. Lalu kelelahan akibat gowes sehari sebelumnya mencapai 195 kilometer belum pulih.
Lokasi itu juga menjadi tempat saya makan siang. Saya memutuskan tidur sejenak. Tidur dengan tangan terlipat di atas meja. Sekitar 20 menit kemudian bangun dan tenaga sudah terpulihkan. Saya melanjutkan gowes hingga Kuala Lumpur. Masuk ibukota Malaysia sekitar pukul 19.15 waktu setempat.
Suhu udara yang panas ini hampir sama seperti yang saya alami saat mengayuh sepeda melewati lintas timur Sumatera mulai dari Mesuji, Lampung Tengah hingga di Kota Jambi pada 11-14 Juli 2023. Suhu udara yang terekam dalam garmin saya rata-rata melebihi 40 derajat Celcius.

Bumi mendidih
Rupanya menurut sejumlah lembaga dan ahli seperti diberitakan Kompas (29/7/2023), Juli tahun ini menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat. Merujuk analisis Universitas Leipzig, Jerman, yang dirilis pada Kamis lalu, suhu global rata-rata 1,5 derajat celsius di atas rata-rata suhu global era pra-industri.
Hal senada dilaporkan Lembaga Perubahan Iklim Copernicus, Uni Eropa, dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Tiga minggu pertama di bulan Juli menjadi hari-hari terpanas. ”Kita tidak perlu menunggu akhir bulan untuk mengetahuinya. Juli 2023 akan memecahkan rekor secara keseluruhan,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres sebagaimana diberitakan kantor berita Associated Press, Jumat (28/7/2023).
Dalam jumpa pers di New York City, Amerika Serikat (AS), Guterres mengatakan, kondisi itu dipicu perubahan iklim. ”Ini menakutkan dan baru permulaan. Era pendidihan global tiba,” tegas Guterres.
Biasanya, rata-rata suhu global untuk Juli sekitar 16 derajat celsius. Namun, Juli tahun ini, rata-rata suhu global 17 derajat celsius. Dibandingkan dengan Juli 2019 yang sebelumnya tercatat sebagai yang terpanas berdasarkan pencatatan selama 174 tahun, suhu rata-rata pada Juli tahun ini lebih hangat 0,2 derajat celsius. Copernicus menghitung, selama 23 hari pertama Juli, suhu Bumi rata-rata 16,95 derajat celsius.

Ilmuwan iklim dari Universitas Leipzig, Karsten Haustein, mengatakan, perbedaan antara Juli 2023 dan Juli 2019 sangat besar. Hal itu menyebabkan pihaknya memastikan Juli tahun ini menjadi yang paling panas.
Catatan iklim awal yang tidak begitu sempurna—dikumpulkan dari hal-hal seperti inti es dan lingkaran pohon—menunjukkan Bumi tidak pernah sepanas ini dalam 120.000 tahun. Analisis Haustein didasarkan pada data suhu awal dan model cuaca, termasuk perkiraan suhu hingga akhir bulan ini.
”Hasilnya dikonfirmasi oleh beberapa kumpulan data independen yang menggabungkan pengukuran di laut dan di darat. Secara statistik kuat,” kata Piers Forster, ilmuwan iklim di Universitas Leeds di Inggris seperti dikutip Kompas.
Enam hal menarik
Terlepas dari suhu udara yang sangat panas, tetapi banyak hal menarik yang saya lihat dari perjalanan dari Johor Bahru hingga Kuala Lumpur. Pertama, kondisi jalannya sangat bagus. Beraspal mulus dan terawat. Nyaris tidak ada jalan berlobang. Kedua, Tertib bangunan cukup baik. Tidak ada yang melewati sepadan jalan.

Ketiga, Sungai-sungai yang ada jauh lebih sehat. Jauh berbeda dengan sungai di Indonesia airnya berwarna coklat susu. Tidak ada sampah di tengah sungai dan badan sungai atau tepi sungai. Ini menandakan tidak ada illegal logging dan penambangan ilegal juga sistem sanitasi yang bagus, limbah tidak langsung mengalir ke sungai melainkan terlebih dahulu melalui penyaringan.
Keempat, Kondisi udara sangat bersih dan pepohonan tetap terjaga sehingga meski suhu udara mencapai 40 derajat Celcius masih bisa bersepeda dengan nyaman karena selalu tertiup angin sejuk dingin.
Kelima, Disiplin berlalu lintas yang jauh lebih baik. Di setiap persimpangan, setiap kendaraan yang akan masuk ke jalan besar pasti berhenti sejenak. Keenam, komposisi penduduknya heterogen, yakni ada Melayu, China, India dan keturunan Indonesia.
Kunjungi KBRI
Di Kuala Lumpur, saya mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia pada Rabu, 26 Juli 2023. Di sana, bertemu dengan Wakil Dubes RI untuk Malaysia yakni ibu Rozzy Verona. Saya menceritakan rencana perjalanan saya, dan dia memberikan apresiasi yang tinggi atas niat dan misi ini.

Saya juga sempat berjumpa pegiat sepeda asal Malaysia Khushairi Muhammad dan Ahmad Danial. Kami sama-sama tergabung dalam Komunitas Kompas Bike. Khus pernah bersama saya ikut Jelajah Sepeda Papua tahun 2015, sedangkan Danial bersama-sama ikut Jelajah Sepeda Manado-Makassar tahun 2014. Kedua even dilakukan harian Kompas.
Kamis (27/7/2023) pagi, Khus, Danial dan Juhari menemani saya mengayuh sepeda dari Kuala Lumpur. Setelah makan siang di kilometer 70an, ketiganya kembali ke Kuala Lumpur. Saya melanjutkan menuju Sabak Bernam. Jarak hari itu 137 kilometer.
Saya senang sekali bisa berjumpa kembali dengan mereka. Persahabatan dan persaudaraan yang terjalin saat mengikuti Jelajah Sepeda dengan penyelenggara harian Kompas tetap terpelihara hingga sekarang. Di tengah kesibukan yang padat, mereka meluangkan waktu untuk bertemu, bahkan mau menemani bersepeda dalam jarak yang cukup jauh.
Siang itu, sekitar 25 kilometer menjelang makan siang, ban dalam roda sepeda belakang saya bocor akibat terkena paku kecil. Ini adalah kejadian pertama kali saya alami sejak memulai perjalanan dari Monas. Kasus ini terjadi setelah menempuh jarak kurang lebih 1.500 kilometer.

Berangkat dinihari
Saya melanjutkan perjalanan dari Sabak Bernam menuju Pantai Remis sejauh 130 kilometer. Saya mengalami suhu udara yang tetap sama, yakni sangat panas di rute ini. Baru pukul 08.00, tetapi sengatan matahari sudah seperti pukul 11.00. Kondisi ini sungguh menguras energi dan emosi yang luar biasa. Meski demikian, saya harus tetap menghadapinya: mengayuh sepeda sesuai rencana.

Menghadapi kondisi di lapangan seperti ini, maka tidak punya pilihan selain perlu mengelola touring ini dengan baik. Apalagi, perjalanan menuju Paris masih sangat jauh dan lama yang menuntut kondisi fisik saya selalu prima.
Salah satunya adalah memilih berangkat dinihari. Para petani di pedesaan biasanya menerapkan cara seperti ini dalam menghadapi suhu panas di siang hari. Mereka bekerja mulai pukul 04.00 dan berakhir pada pukul 10.00. Setelah itu, melanjutkan kembali aktivitas saat menjelang sore hingga petang. Ada waktu istirahat yang cukup lama untuk memulihkan fisik.
Itu sebabnya, Sabtu (29/7/2023), dari Pantai Remis, saya memulai gowes jam 04.30 waktu setempat atau pukul 03.30 WIB. Saya hanya mengandalkan lampu sepeda depan dan belakang serta lampu mobil pengiring membuat kayuhan sepeda pada pagi hari ini cukup nyaman. Suhu udaranya sangat sejuk. Jalan yang beraspal mulus memudahkan perjalanan menjadi sangat lancar. Saya sungguh menikmati gowes dinihari itu.
Benar saja. Dalam rute Pantai Remis-George Town, Penang sejauh 136 kilometer itu, pada pukul 12.00, saya telah mencapai 105 kilometer. Artinya, pilihan waktu untuk gowes dinihari cukup efektif untuk menghindari sengatan matahari yang mengerikan menjelang siang hingga sore hari.

Di Penang, saya akan menginap dua malam sekaligus untuk memulihkan fisik. Penang menjadi kota terakhir perjalanan saya di Malaysia. Selanjutnya masuk ke Thailand pada Selasa, 1 Agustus 2023. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!!!
Catatan Royke Lumowa (4): Mengayuh Sepeda Hari Sabtu di Singapura


1 Komentar
Pingback: Bertemu Lagi Warga Keturunan Indonesia - blalak.com