Perjalanan
Catatan Royke Lumowa (5): Saya Rasakan Juli Terpanas Itu di Malaysia
Catatan ROYKE LUMOWA (5)
Sejak hari Minggu (23/7/2023), perjalanan saya mulai memasuki Malaysia. Kurang lebih selama sepekan saya mengayuh sepeda di wilayah “negeri jiran” ini. Mulai dari perbatasan dengan Singapura hingga perbatasan dengan Thailand dengan total jarak sekitar 800 kilometer. Mungkin karena serumpun, sehingga tradisi pun menyerupai Indonesia. Yang berbeda yakni Malaysia lebih bersih dan tertib dalam berlalu lintas.
Saya masuk Malaysia melalui Singapura. Malam pertama di Malaysia saya menginap di Johor Bahru. Kebetulan Konsul pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru yakni Sigit Suryantoro Widiyanto pernah sama-sama bertugas di Kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan HAM selama tahun 2012-2015.
Ketika mendengar kabar tentang saya berencana melakukan touring sepeda dari Jakarta ke Paris, dia mengontak dan mewajibkan saya menyinggahi KJRI Johor Bahru, serta menginap semalam. Saya pun menyanggupinya.
Maka, dari Singapura saya langsung menuju Johor Bahru. Jarak kedua kota ini cukup dekat, yakni 31,9 kilometer. Saya pun berangkat dari Singapura selepas makan siang. Hanya menghabiskan waktu satu jam dan 27 menit, saya sudah tiba di wisma KJRI Johor Bahru.

Bersama konsul pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru Sigit Suryantoro Widiyanto (depan) di depan KJRI setempat. Pak Sigit menunjuk bendera Malaysia yang tertempel pada mobil pengiring perjalanan bersepeda saya. Foto: dokumentasi Royke Lumowa.
Saya sungguh bahagia karena bisa berjumpa lagi dengan Pak Sigit. Perjumpaan kami kali ini dalam situasi yang jauh berbeda. Kami bertemu kembali di Johor Bahru dimana Pak Sigit sebagai diplomat yang memimpin KJRI dan saya datang dengan bersepeda dari Jakarta. Ini perjalanan hidup yang tidak pernah diduga.
Keturunan Indonesia
Saya mendapatkan cerita-cerita seru dari Pak Sigit tentang Johor Bahru dan kawasan sekitarnya, serta Malaysia pada umumnya. Sebagian masyarakat di wilayah ini ternyata masih keturunan Minangkabau, Jawa dan Bugis. Leluhur mereka masuk ke Malaysia dalam beberapa gelombang sejak tahun 1860an.
Saat mengayuh sepeda dari Johor Bahru menuju Muar sejauh 193 kilometer pada Senin (24/7/2023), saya sempat melihat rumah adat Minangkabau berdiri kokoh di wilayah Negeri Sembilan. Tidak sedikit pula ornamen rumah warga setempat yang sama dengan rumah gadang.

Berfoto di depan sebuah rumah adat Minangkabau di wilayah Negeri Sembilan, Malaysia. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Ternyata, hal ini karena orang Minangkabau masuk di wilayah tersebut sejak tahun 1860an. Mereka datang untuk berdagang dan bertani, kemudian menetap, dan beranak pinak hingga sekarang. Mereka pun tetap melestarikan segala tradisi Minangkabau.
Sementara masyarakat Jawa banyak menghuni di Muar. Tidak sedikit tempat usaha, terutama restoran yang bernama khas Indonesia. Di kota Muar ada restoran bernama Mee Bandung Muar, pemiliknya keturunan Jawa. Mee Bandung tersebut sangat populer di kalangan masyarakat Muar dan sekitarnya.
Lestarikan tradisi
Di restoran itu saya berjumpa dengan seorang pemuda bernama Putra. Dia mengaku masih keturunan Jawa. Putra merupakan generasi ketiga dari keluarganya yang di Malaysia. Warga keturunan Jawa mendominasi di Kampung Parit Jawa, pinggir Kota Muar, tempat tinggal Putra. Merea juga melestarikan tradisi Jawa seperti reog dan pencak silat, termasukbahasa Jawa. Anak-anak seusia Putra, bahkan yang lebih muda lagi pandai berbahasa Jawa.

Berbincang dengan sejumlah warga Malaysia pada salah satu kedai kopi di wilayah Negeri Sembilan, Malaysia. Sebagian besar mereka masih keturunan Minangkabau dan Jawa. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Masyarakat Jawa masuk di Johor dan sekitarnya sejak tahun 1830an. Hal ini terjadi menyusul kebijakan pengusaha Johor kala itu, Temenggong Daing Ibrahim (1810-1862) mendatangkan orang Jawa dan China untuk bekerja di perkebunan gambir.
Anak dan cucu Temenggong Daing Ibrahim yakni Temenggong Abu Bakar (1833-1895) dan Sultan Ibrahim ibni Sultan Abu Bakar (1873-1959) kemudian meneruskan kebijakan tersebut. Jumlah orang Jawa kemudian bertambah banyak sebagai upaya mengimbangi jumlah pekerja China yang semakin besar.
Dalam perjalanan, banyak pekerja asal Jawa memilih bertahan dan beranak pinak di Johor. Apalagi Sultan Johor saat itu juga mengajak mereka bersama-sama membangun wilayah tersebut. Keturunan mereka kemudian menjadi warga negara Malaysia yang tetap melestarikan tradisi lelulurnya seperti yang kita lihat saat ini.
Saat berdiskusi dengan Pak Sigit terlontar ide yang menarik. Dia mengusulkan agar Pemerintah Indonesia mendirikan Pusat Kebudayaan Jawa, Minangkabau dan Bugis di Johor dan sejumlah kota lain di Malaysia. Pak Sigit meyakini kehadiran pusat kebudayaan akan semakin merekatkan hubungan masyarakat ketiga suku itu di Malaysia dengan tanah lelulurnya, serta sebagai cara efektif untuk melestarikan budaya dan tradisi.

Mendapat sambutan hangat dari warga Malaysia. Mereka memberi respek yang besar atas rencana touring saya ini. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Suhu panas
Dari Johor Bahru, saya sengaja memilih jalur melalui Muar agar lebih cepat tiba di Kuala Lumpur, yakni hanya dua hari atau transisi satu kota. Konsekuensinya, jarak tempuh bakal lumayan jauh. Rute Johor Bahru-Muar mencapai 195 kilometer.
Saat memulai gowes dari Johor Bahru sekitar pukul 07.00. Tetapi suhu udara terasa mulai panas. Sengatan matahari mulai menusuk pori. Akan tetapi, di kota ini masih banyak tumbuh pepohonan. Tiupan angin pun lumayan bagus sehingga ikut membantu menghalau sengatan mentari.
Begitu keluar dari Kota Johor Bahru, terutama memasuki wilayah Negeri Sembilan, pepohonan mulai jarang. Suhu udara terus meningkat hingga mencapai 40 derajat celcius. Sengatan matahari terasa sangat panas. Berkali-kali saya minum air mineral agar mencegah dehidrasi. Saya tidak menyangka suhu udara di wilayah Malaysia sepanas ini.

Sempat beristirahat sejenak di dalam sebuah minimarket untuk menikmati kesejukan. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Kondisi yang sama juga saya alami sewaktu bersepeda hari berikutnya yakni Muar menuju Kuala Lumpur sejauh 180 kilometer. Di kilometer 100, saya hampir menyerah dan mau memilih diangkut. Pemicunya karena suhu udara yang sangat panas: di atas 40 derajat celcius. Lalu kelelahan akibat gowes sehari sebelumnya mencapai 195 kilometer belum pulih.
Lokasi itu juga menjadi tempat saya makan siang. Saya memutuskan tidur sejenak. Tidur dengan tangan terlipat di atas meja. Sekitar 20 menit kemudian bangun dan tenaga sudah terpulihkan. Saya melanjutkan gowes hingga Kuala Lumpur. Masuk ibukota Malaysia sekitar pukul 19.15 waktu setempat.
Suhu udara yang panas ini hampir sama seperti yang saya alami saat mengayuh sepeda melewati lintas timur Sumatera mulai dari Mesuji, Lampung Tengah hingga di Kota Jambi pada 11-14 Juli 2023. Suhu udara yang terekam dalam garmin saya rata-rata melebihi 40 derajat Celcius.

Menjelang memasuki Kota Kuala Lumpur. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Bumi mendidih
Rupanya menurut sejumlah lembaga dan ahli seperti diberitakan Kompas (29/7/2023), Juli tahun ini menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat. Merujuk analisis Universitas Leipzig, Jerman, yang dirilis pada Kamis lalu, suhu global rata-rata 1,5 derajat celsius di atas rata-rata suhu global era pra-industri.
Hal senada dilaporkan Lembaga Perubahan Iklim Copernicus, Uni Eropa, dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Tiga minggu pertama di bulan Juli menjadi hari-hari terpanas. ”Kita tidak perlu menunggu akhir bulan untuk mengetahuinya. Juli 2023 akan memecahkan rekor secara keseluruhan,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres sebagaimana diberitakan kantor berita Associated Press, Jumat (28/7/2023).
Dalam jumpa pers di New York City, Amerika Serikat (AS), Guterres mengatakan, kondisi itu dipicu perubahan iklim. ”Ini menakutkan dan baru permulaan. Era pendidihan global tiba,” tegas Guterres.
Biasanya, rata-rata suhu global untuk Juli sekitar 16 derajat celsius. Namun, Juli tahun ini, rata-rata suhu global 17 derajat celsius. Dibandingkan dengan Juli 2019 yang sebelumnya tercatat sebagai yang terpanas berdasarkan pencatatan selama 174 tahun, suhu rata-rata pada Juli tahun ini lebih hangat 0,2 derajat celsius. Copernicus menghitung, selama 23 hari pertama Juli, suhu Bumi rata-rata 16,95 derajat celsius.

Ada sejumlah pohon di tepi jalan membuat saya sedikit tertolong dari sengatan mahatari yang panas. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Ilmuwan iklim dari Universitas Leipzig, Karsten Haustein, mengatakan, perbedaan antara Juli 2023 dan Juli 2019 sangat besar. Hal itu menyebabkan pihaknya memastikan Juli tahun ini menjadi yang paling panas.
Catatan iklim awal yang tidak begitu sempurna—dikumpulkan dari hal-hal seperti inti es dan lingkaran pohon—menunjukkan Bumi tidak pernah sepanas ini dalam 120.000 tahun. Analisis Haustein didasarkan pada data suhu awal dan model cuaca, termasuk perkiraan suhu hingga akhir bulan ini.
”Hasilnya dikonfirmasi oleh beberapa kumpulan data independen yang menggabungkan pengukuran di laut dan di darat. Secara statistik kuat,” kata Piers Forster, ilmuwan iklim di Universitas Leeds di Inggris seperti dikutip Kompas.
Enam hal menarik
Terlepas dari suhu udara yang sangat panas, tetapi banyak hal menarik yang saya lihat dari perjalanan dari Johor Bahru hingga Kuala Lumpur. Pertama, kondisi jalannya sangat bagus. Beraspal mulus dan terawat. Nyaris tidak ada jalan berlobang. Kedua, Tertib bangunan cukup baik. Tidak ada yang melewati sepadan jalan.

Jalan yang bersih dan beraspal mulus menjadi salah satu keunggulan Malaysia. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Ketiga, Sungai-sungai yang ada jauh lebih sehat. Jauh berbeda dengan sungai di Indonesia airnya berwarna coklat susu. Tidak ada sampah di tengah sungai dan badan sungai atau tepi sungai. Ini menandakan tidak ada illegal logging dan penambangan ilegal juga sistem sanitasi yang bagus, limbah tidak langsung mengalir ke sungai melainkan terlebih dahulu melalui penyaringan.
Keempat, Kondisi udara sangat bersih dan pepohonan tetap terjaga sehingga meski suhu udara mencapai 40 derajat Celcius masih bisa bersepeda dengan nyaman karena selalu tertiup angin sejuk dingin.
Kelima, Disiplin berlalu lintas yang jauh lebih baik. Di setiap persimpangan, setiap kendaraan yang akan masuk ke jalan besar pasti berhenti sejenak. Keenam, komposisi penduduknya heterogen, yakni ada Melayu, China, India dan keturunan Indonesia.
Kunjungi KBRI
Di Kuala Lumpur, saya mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia pada Rabu, 26 Juli 2023. Di sana, bertemu dengan Wakil Dubes RI untuk Malaysia yakni ibu Rozzy Verona. Saya menceritakan rencana perjalanan saya, dan dia memberikan apresiasi yang tinggi atas niat dan misi ini.

Bersama Wakil Dubes RI untuk Malaysia Rozzy Verona di KBRI Malaysia di Kuala Lumpur. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Saya juga sempat berjumpa pegiat sepeda asal Malaysia Khushairi Muhammad dan Ahmad Danial. Kami sama-sama tergabung dalam Komunitas Kompas Bike. Khus pernah bersama saya ikut Jelajah Sepeda Papua tahun 2015, sedangkan Danial bersama-sama ikut Jelajah Sepeda Manado-Makassar tahun 2014. Kedua even dilakukan harian Kompas.
Kamis (27/7/2023) pagi, Khus, Danial dan Juhari menemani saya mengayuh sepeda dari Kuala Lumpur. Setelah makan siang di kilometer 70an, ketiganya kembali ke Kuala Lumpur. Saya melanjutkan menuju Sabak Bernam. Jarak hari itu 137 kilometer.
Saya senang sekali bisa berjumpa kembali dengan mereka. Persahabatan dan persaudaraan yang terjalin saat mengikuti Jelajah Sepeda dengan penyelenggara harian Kompas tetap terpelihara hingga sekarang. Di tengah kesibukan yang padat, mereka meluangkan waktu untuk bertemu, bahkan mau menemani bersepeda dalam jarak yang cukup jauh.
Siang itu, sekitar 25 kilometer menjelang makan siang, ban dalam roda sepeda belakang saya bocor akibat terkena paku kecil. Ini adalah kejadian pertama kali saya alami sejak memulai perjalanan dari Monas. Kasus ini terjadi setelah menempuh jarak kurang lebih 1.500 kilometer.

Sempat ikut bernyanyi di tepi salah satu jalan raya di Kuala Lumpur. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Berangkat dinihari
Saya melanjutkan perjalanan dari Sabak Bernam menuju Pantai Remis sejauh 130 kilometer. Saya mengalami suhu udara yang tetap sama, yakni sangat panas di rute ini. Baru pukul 08.00, tetapi sengatan matahari sudah seperti pukul 11.00. Kondisi ini sungguh menguras energi dan emosi yang luar biasa. Meski demikian, saya harus tetap menghadapinya: mengayuh sepeda sesuai rencana.

Bersama om Khushairi Muhammad (kameja putih) dan om Ahmad Danial (berkaos biru donker), dua sahabat Kompas Bike di Kuala Lumpur. Kami berada di antara dua penyanyi jalanan Kuala Lumpur. Foto: dokumentasi Royke Lumowa.
Menghadapi kondisi di lapangan seperti ini, maka tidak punya pilihan selain perlu mengelola touring ini dengan baik. Apalagi, perjalanan menuju Paris masih sangat jauh dan lama yang menuntut kondisi fisik saya selalu prima.
Salah satunya adalah memilih berangkat dinihari. Para petani di pedesaan biasanya menerapkan cara seperti ini dalam menghadapi suhu panas di siang hari. Mereka bekerja mulai pukul 04.00 dan berakhir pada pukul 10.00. Setelah itu, melanjutkan kembali aktivitas saat menjelang sore hingga petang. Ada waktu istirahat yang cukup lama untuk memulihkan fisik.
Itu sebabnya, Sabtu (29/7/2023), dari Pantai Remis, saya memulai gowes jam 04.30 waktu setempat atau pukul 03.30 WIB. Saya hanya mengandalkan lampu sepeda depan dan belakang serta lampu mobil pengiring membuat kayuhan sepeda pada pagi hari ini cukup nyaman. Suhu udaranya sangat sejuk. Jalan yang beraspal mulus memudahkan perjalanan menjadi sangat lancar. Saya sungguh menikmati gowes dinihari itu.
Benar saja. Dalam rute Pantai Remis-George Town, Penang sejauh 136 kilometer itu, pada pukul 12.00, saya telah mencapai 105 kilometer. Artinya, pilihan waktu untuk gowes dinihari cukup efektif untuk menghindari sengatan matahari yang mengerikan menjelang siang hingga sore hari.

Senja di Kota Penang, Malaysia, Sabtu (29/7/2023). Foto: Yayak M Saat
Di Penang, saya akan menginap dua malam sekaligus untuk memulihkan fisik. Penang menjadi kota terakhir perjalanan saya di Malaysia. Selanjutnya masuk ke Thailand pada Selasa, 1 Agustus 2023. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!!!
Catatan Royke Lumowa (4): Mengayuh Sepeda Hari Sabtu di Singapura
Cyling
Menyusuri Pasar Tomohon: Tradisi Kuliner yang Tak Biasa di Sulut
Oleh JANNES EUDES WAWA
Minggu, 19 April 2026, sekitar pukul 06.00, sebagian besar peserta sudah berkumpul di loby hotel. Kami akan menggunakan mobil menuju pasar tradisional Tomohon. Jaraknya sekitar dua kilometer. Orang menyebutnya dengan pasar ekstrim. Di sana pedagang tidak hanya menjual barang kebutuhan, seperti sayur-sayuran, bumbu dapur, ikan, daging sapi dan sejenisnya.
Para pedagang memasarkan pula binatang lain yang tidak lazim, seperti tikus hutan, kelelawar (paniki), ular piton, monyet, anjing, babi hutan. Hewan-hewan yang sudah tidak bernyawa tersebut terpajang di atas meja dagangan. Bentuk wajah pun terlihat sangat jelas.
Praktek ini sudah berlangsung sangat lama sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat setempat selaku pemakan segala jenis daging. Mereka selalu berprinsip selama manusia dapat mengolah dan memakan daging tersebut, maka orang Minahasa pun akan mencoba menyantapnya.

Ular Piton dan kelelawar. Arsip Jelajah
Fenomena inilah yang membuat Pasar Tomohon berbeda dan unik. Tidak mengherankan, setiap orang yang datang ke Tomohon selalu berusaha menyempatkan diri mengunjungi pasar tersebut hanya ingin melihat dari dekat pajangan daging hewan-hewan tersebut.
Tata, pesepeda dari Jakarta mengaku telah lama mendengar tentang pasar ekstrim tersebut. Namun pagi itu ekspektasinya sedikit meleset, sebab hari Minggu dan dagangan ekstrim sudah banyak yang laku terjual sejak Sabtu pagi. “Tetapi saya masih sempat melihat beberapa lapak yang menjual tikus, ular piton, kelelawar dan babi hutan,” ungkapnya.
Yulita Hartanti asal Semarang mengaku agak menyeramkan saat melihat dari dekat daging kelelawar, tikus dan ular. “Saya belum pernah lihat seperti ini. Menyeramkan! Salut dengan mereka yang menjual dan memakan daging hewan-hewan itu,” kata dia.

Kembali ke Manado. Arsip Jelajah
Selesai dari pasar ekstrim, kembali ke hotel untuk sarapan dan persiapan kayuhan hari ketiga atau hari terakhir dari Jelajah Manado-Tomohon 2026. Rutenya kembali ke Manado. Namun panitia memilih tidak melewati jalur jalan utama, melainkan jalan desa yang beraspal dengan variasi tanjakan dan turunan. Jalan beraspal mulus dan sepi dari kendaraan bermotor.
Pagoda Tomohon
Sekitar pukul 08.00, kami keluar dari hotel. Tujuan pertama adalah menyinggahi Padoga Ekayana Tomohon. Bangunan ini sebagai gambaran toleransi yang berkembang baik di tanah tersebut. Di tengah masyarakat Tomohon yang mayoritas Kristen, hadir pula sebuah bangunan simbol tradisi Budha. Letaknya hanya berjarak 1,5 kilometer dari penginapan.
Pagoda sembilan lantai dengan arsitektur khas China ini dominasi warna merah dan kuning. Berdiri sejak tahun 1982. Memasuki pintu masuk tampak deretan 18 patung lohan berwarna emas menghiasi halaman sebelah kiri. Patung lohan adalah simbol 18 pendosa yang kembali ke jalan yang benar atau telah mencapai tingkat kesucian tertinggi. Dalam kompleks pagoda juga terdapat patung Budha bernama Bodhidharma dengan ciri berjanggut khas India.

Di Pagoda Tomohon. Arsip Jelajah
Pagoda ini menyuguhkan pemandangan yang menarik. Di belakangnya tampak dari kejauhan Gunung Lokon. Apabila berada di lantai kesembilan dapat melihat dengan jelas keindahan Kota Tomohon. Kami berkali-kali mengabadikan panorama yang unik dan menarik tersebut.
Dari Pagoda Ekayana, kami melanjutkan gowes menuju jalan utama, yakni Jalan Raya Tomohon. Konturnya mendatar dan sempat menurun sesaar, namun 3 kilometer berikutnya, kami belok ke kanan memasuki jalan desa. Badan jalan agak sempit hanya dapat diewati satu mobil roda empat. Kondisi jalan beraspal mulus. Sekitar 200 meter dari persimpangan, kami menghadapi tanjakan sekitar 50 meter dengan kemiringan sekitar 10 derajat.
Beberapa peserta sedikit ngomel, sebab pada pagi itu panitia menginformasikan tak ada lagi tanjakan. Perjalanan ke Manado semuanya menurun. Namun, peserta lain langsung menimpali, “Kalau touring dengan jelajah mana ada rute yang bebas tanjakan? Jadi mari kita menikmatinya. Jalur ini sepi, sejuk dengan pohon-pohon yang banyak”.

Sekitar 1,5 kilometer kami melewati sebuah turunan yang cukup curam. Kami saling mengingatkan untuk berhati-hati. Kosentrasi penuh dan menjaga rem dengan baik. Apabila ragu-ragu sebaiknya turun dan menuntun saja sepedanya. Ada lima peserta memilih tuntun sepeda, selebihnya tetap mengayuh.
Hadapi Turunan Curam
Lolos dari turunan ini, kami kemudian menghadapi satu turunan curam lagi sekitar dua kilometer di depan. Pada turunan ini satu peserta sempat terpeleset, tetapi terkendali dengan baik sehingga yang bersangkutan bersama sepedanya luput dari kecelakaan. Ada pula satu sepeda lipat mengalami pecah ban, sebab terlalu panas akibat rem terus-menerus. Namun langsung diganti sehingga pemiliknya tetap melanjutkan kayuhan.
Selepas turunan curam itu, kami masih melewati beberapa turunan panjang hingga di wilayah Totongkoran. Di beberapa titik ada permukiman penduduk dengan rumah-rumah yang permanen. Ada pula gedung sekolah serta kios-kios dan toko. Aroma keharuman bunga cengkeh menyeruak cukup tajam dari kebun dan pekarangan.

Kami akhirnya berhenti di Lota, sekitar 8 kilometer dari Tomohon. Kami nyekar ke makam pahlawan nasional Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol merupakan salah satu figur pribumi yang paling disegani pada masa pendudukan kolonial Belanda di Sumatera Barat.
Dia lahir pada 1 Januari 1772 di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung, Sumatera Barat dengan nama asli Muhammad Shawab. Anak dari pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun. Ayahnya adalah alim ulama dari Sungai Rimbang, Lima Puluh Kota. Dia termasuk pemimpin dan pejuang yang sangat disegani dalam Perang Padri pada 1803-1838.
Berkali-kali pemerintah kolonial Belanda berusaha menangkap Imam Bonjol, tetapi selalu gagal. Akhirnya pada 25 Oktober 1837, Residen Francais yakni EA Francaius, seorang pejabat kolonial Belanda yang menjabat sebagai Residen di wilayah pantai barat Sumatera, menggunakan siasat perundingan damai untuk memancing pemimpin pasukan Padri, Tuanku Imam Bonjol agar datang ke Palupuh, Agam. Ketika datang itulah dirinya ditangkap,

Dia kemudian diasingkan ke sejumlah tempat terpencil. Mula-mula ke Cianjur, Jawa Barat, kemudian dipindahkan lagi ke Ambon pada tahun 1839. Setelah dua tahun di Ambon, oleh residen Ambon, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Manado. Pada awalnya di daerah Koka, Karesidenan Manado selanjutnya ke Lotta, Minahasa.
Nyekar Makam Imam Bonjol
Imam Bonjol diasingkan bersama seorang anaknya yaitu Sutan Saidi, keponakannya Abdul Wahab, pengawal setianya Bagindo Tan Labiah serta Si gelek atau Galito, bekas pasukan Sentot Ali Basya (panglima perang Pangeran Diponegoro). Pada akhir 1850, Apolos Minggu seorang kopral Belanda dari Maluku ditugaskan mengawal Tuanku Imam Bonjol di Lotta. Apolos menikah dengan putri Mayor Parengkuan bernama Wilhelmina Parengkuan. Keturunan Apolos Minggu menjaga makam Tuanku Imam Bonjol hingga saat ini.

Imam Bonjol meninggal dunia pada 6 November 1854 dalam usia 83 tahun. Hal ini berdasarkan arsip Surat Keputusan Residen Manado yang dikukuhkan oleh Raad van Indie. Pada batu nisan makam tertulis: “Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin Gelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional lahir pada tahun 1774 di Tanjung Bungo, Bonjol, Sumatera Barat”.
Makam Imam Bonjol dibangun dengan arsitektur yang kental bernuansa Minang, yaitu pada atapnya yang berbentuk gonjong. Di dalam area berukuran sekitar 6×10 meter tersebut hanya terdapat makam Imam Bonjol. Pada dinding makam terdapat lukisan marmer yang menampilkan Imam Bonjol sedang mengendarai kuda dalam berperang.
Siang itu, kami juga secara spontan mengumpulkan uang sebesar Rp 1,1 juta yang disumbangkan kepada pengelola makam untuk memperbaiki atap yang rusak akibat angin kencang. Donasi diserahkan kepada ibu Fatma, salah seorang pengelola makam. “Terima kasih atas donasinya. Kami berjanji akan menggunakan dana ini sebaik-baiknya,” ujar Fatma yang merupakan generasi keenam dari Apolos Minggu.

Di makam Imam Bonjol
Rudekon asal Depok yang juga masih berdarah Minangkabau mengaku gembira bisa mengunjungi makam Imam Bonjol. “Saya tidak menyangka dengan peristiwa (kunjungan) ini. Selama ini hanya mendengar cerita kehebatan beliau (Imam Bonjol). Tetapi tak pernah tahu makamnya. Sekarang saya bisa nyekar merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa. Melalui bersepeda saya akhirnya bertemu dengan Imam Bonjol,” kata dia.
Sup Rahang Tuna
Dari Lota, kami melanjutkan kayuhan menuju Kota Manado. Beberapa kilometer di depannya, kami masuk kembali ke jalan raya utama menghubungkan Tomohon-Manado. Di jalur ini sempat melewati tanjakan pendek, dan terhadang kemacetan akibat ratusan warga baru selesai mengikuti ibadah di sebuah gereja.
Laju kayuhan sempat sedikit perlahan sejauh puluhan meter. Selepas itu suasana pun stabil kembali. Kami sempat memasuki kawasan Perumahan CitraLand untuk memotret Patung Yesus, salah satu ikon Kota Manado. Di lokasi ini hanya sekitar 20 menit, kemudian kembali ke jalan utama.

Bersama anak-anak di Lota, Minahasa.
Kayuhan kami melalui jalan turunan yang cukup panjang Jalan Sam Ratulangi dengan melewati Universitas Terbuka Manado, Sekolah Polisi Negara (SPN) Manado, Rumah Sakit Bhayangkara Manado, Stadion Klabat, dan berhenti di Restoran Santo Yosef di Jalan Santo Yosef untuk makan siang.
Menu makan siang itu antara lain sup rahang tuna. Semua peserta sangat menikmati sup rahang tuna, sebab jarang tersedia di kota asal masing-masing. “Sup rahang tuna enak. Masaknya bagus. Ikan tunanya pun masih segar sehingga rasanya sesuai ekspektasi,” kata Lina Susana asal Jakarta.
Tata pun mengaku menyukai sup rahang tuna ini. “Satu hal yang saya sukai selama di sini adalah dapat menikmati kuliner fresh seafood khas Sulawesi Utara setiap hari. Sebagai pecinta seafood, hal ini menjadi nilai tambah yang sulit terlupakan,” ungkapnya.
Habis makan siang, kami langsung menuju Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas, jaraknya hanya sekitar 2,5 kilometer. Sekitar pukul 14.30 Wita, semua peserta sudah tiba di hotel. Perjalanan bersepeda kami selama tiga hari pun tuntas. Semua mengaku bahagia dan puas dengan petualangan ini. Rutenya menarik, tidak seserem seperti yang diperkirakan.
Tak Lupa Bunaken
Tata, misalnya, mengaku sebelum berangkat dari Jakarta, yang selalu terbayangkan yakni bakal terbakar sengatan matahari selama tiga hari bersepeda disertai udara kering tanpa angin, dan medan yang cukup menantang dengan tanjakan-tanjakan curam. “Namun, semua itu sirna sejak hari pertama. Teriknya tidak sepedas yang selalu saya bayangkan, bahkan anginnya cukup sejuk meski rute yang dilewati masih dekat laut. Di luar pusat kota Manado, jalanannya pun relatif lengang dan teduh oleh pepohonan,” kata Tata.
Suasana ini memberikan kesan yang mendalam untuk dirinya. Mengayuh sepeda di Sulawesi Utara sangat menyenangkan. Keindahan alam, keragaman budaya dan keramahan masyarakatnya mendukung penuh untuk aktivitas petualangan tersebut. Jika ada waktu dan kesempatan di masa depan, Tata ingin mengulang kembali bersepeda di Sulawesi Utara dan mencoba rute-rute lain yang belum sempat dilewati.

Panorama bawah laut di Bunaken.
Usai bersepeda sejumlah peserta melanjutkan petualangan ke Bunaken, menikmati keindahan bawah laut kawasan tersebut yang sudah mendunia. Perairan Taman Nasional Bunaken kaya akan biodata laut. Terumbu karang yang terjaga dengan aneka jenis ikan cantik berwarna warni yang sangat mudah ditemukan pengunjung saat menyelam.
“Mumpung sudah ada di Manado lebih baik mengunjungi juga Bunaken. Merasakan sensasi menyelam di perairan Bunaken agar melengkapi cerita perjalanan di Sulawesi Utara,” kata Eric Sugiarto asal Bandung. (Habis)
Cyling
Menuju Tomohon Lewat Tondano: Perjalanan Menikmati Pesona Sulawesi Utara
Oleh JANNES EUDES WAWA
Tomohon, sebuah kota yang melegenda. Wilayah yang terapit oleh Gunung Lokon dan Gunung Mahawu ini memiliki kawasan seluas 147,21 kilometer persegi. Letaknya berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut tersebut membuat Tomohon terkenal subur dengan panorama alam yang indah dan suhu udara nan sejuk. Daerah ini juga termasuk salah satu sentra penghasil aneka bunga yang amat populer di Indonesia.
Dalam perjalanan bersepeda di Sulawesi Utara ini, Tomohon menjadi tujuan utama. Kami mengunjungi kota yang sejak tahun 2006 rutin menggelar festival bunga internasional. Event tersebut tidak semata-mata memperkenalkan kekayaan tradisi seni dan budaya, tetapi juga memanggungkan Tomohon sebagai kota bunga.
Hari kedua, Sabtu, 18 April 2026 dengan rute Manado-Tomohon. Sejak pukul 05.00 Wita, semua peserta sudah mengemaskan barang-barangnya. Bahkan, sebagian besar sudah berada di restoran untuk sarapan pagi. Mereka sepertinya sudah tidak sabar untuk segera mengayuh sepeda menuju Tomohon, kota yang sudah bertahun-tahun selalu masuk rencana tujuan bersepeda, tetapi baru kali ini terwujud.

Keluar dari Kota Manado menuju Kota Tomohon, Sabtu (16/4/2026). Arsip Jelajah
“Saya terus terbayang tentang Tomohon. Kota yang sejuk dan dingin, banyak bunga. Pasti seru dan menarik. Saya sudah tidak sabar untuk bersepeda ke sana dan menikmati tantangannya,” kata Saleh Sami, pesepeda asal Jakarta juga dibenarkan Afit Raja Bungsu asal Jakarta juga.
Pagi itu beberapa peserta cukup penasaran dengan tanjakan menuju Tomohon. Ada yang meminta informasi kepada panitia berapa derajat kemiringan tanjakan. Namun panitia enggap menginformasikan detail. Mereka hanya mengatakan tanjakannya tidak terlalu berat, sebab Tomohon berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lebih rendah 200 meter dari puncak di Bogor.
Sebelumnya panitia juga sudah menginformasikan bahwa rute menuju Tomohon bukan melewati jalan utama, melainkan jalan kabupaten, tetapi beraspal mulus. Jalur ini pun jarang dilewati kendaraan bermotor roda empat dan roda dua sehingga nyaman untuk bersepeda. Melalui jalur ini pula perjalanan tidak langsung menuju ke Tomohon, melainkan akan terlebih dahulu menyinggahi Danau Tondano dan Danau Linow.
Mulai Mengayuh
Setelah selesai sarapan dan semua barang-barang diserahkan kepada panitia, tepat pukul 07.00 Wita, kami memulai kayuhan dari penginapan. Keluar dari kawasan Megamas langsung masuk Jalan Piere Tendean lalu belok kanan masuk Jalan Sam Ratulangie 12, dan 300 meter berikutnya belok kanan lagi masuk Jalan Sam Ratulangie.
Beberapa kilometer kemudian belok masuk Jalan Babe Palar hingga di Teling, lalu belok kanan, dan masuk Jalan Tololiu Supit. Mulai dari jalur ini atau sekitar 2,5 kilometer dari Megamas kami mulai melewati jalan tanjakan. Mula-mula masih halus, tetapi puluhan meter ke depan kemiringan jalan makin meningkat. Sempat pula menghadapi turunan sekitar 40an meter, namun setelahnya menanjak kembali hingga di jalur lingkar luar (Ring Road Manado).

Menikmati tanjakan saat keluar dari Kota Manado, Sabtu (16/4/2026). Arsip Jelajah
Rute ini berada agak ke tengah atau sebelah kiri dari jalur utama menghubungkan Manado dan Tomohon. Kami tetap melaju melewati jalan lurus menuju ke wilayah Koka. Kawasan itu sudah berada di luar kota. Pada rute ini permukiman penduduk kian jarang. Kontur jalan terus menanjak.
Selepas Koka tak ada lagi tempat penjualan seperti Indomaret dan Alfamaret. Yang ada hanya kios-kios kecil dalam jumlah yang sangat terbatas. Permukiman penduduk pun semakin jarang. Badan jalan yang ada menyempit, hanya dapat dilewati satu kendaraan roda empat. Meski demikian kondisi jalannya beraspal mulus.
Aroma Cengkeh
Di kiri dan kanan jalan tampak kebun kelapa dan tanaman cengkeh. Di beberapa lokasi, aroma cengkeh cukup kuat terasa. Sulawesi Utara memang termasuk salah satu daerah penghasil cengkeh terbanyak di Indonesia dengan volume produksi sekitar 10.326,9 ton per tahun dari lahan seluas 72.983 hektar.
Di masa Orde Baru, sempat terjadi praktek monopoli pembelian cengkeh melalui pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Kebijakan ini lahir dari Keputusan Presiden Nomor 20 tahun 1992 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1992. Tommy Soeharto ditunjuk mengomandoi dan mengendalikan badan tersebut.
Kebijakan itu merusak pasar bebas dengan menekan harga beli dari petani secara sepihak yang sangat rendah, dan memaksa mereka menjual cengkeh hanya ke lembaga tersebut. Petani juga dilarang menjual cengkeh langsung ke pabrik rokok, melainkan wajib menyalurkannya melalui koperasi yang terafiliasi dengan BPPC. Petani frustasi sehingga menebang cukup banyak pohon cengkeh.

Melewati hutan dengan pohon-pohon yang menjulang. Suasana ini menjadi sebuah kebahagiaan. Arsip Jelajah
Tanjakan yang kian tinggi, panjang dan berkelok itu tidak menggentarkan kami. Dari atas sadel sepeda, kayuhan terus melaju sesuai kemampuan masing-masing. Peserta kian terpecah dalam beberapa kelompok. Mereka yang menggilai tanjakan terus mengayuh kencang sehingga selalu di barisan terdepan. Meski ada sempat berhenti di beberapa titik, tetapi hanya sejenak sekedar untuk mengambil nafas guna memulihkan fisik, lalu kembali bersepeda.
Kelompok lainnya mencoba menyesuaikan dengan kekuatan tubuh. Jika mulai terasa lelah langsung menghentikan sepeda untuk istirahat. “Usia saya sudah tidak muda lagi. Jadi, gowes di tanjakan seperti ini harus mengikuti kemampuan tubuh, terutama jantung. Jangan memaksakan diri. Perlahan-lahan yang penting tiba dengan selamat,” ungkap Moch Surjadi asal Tangerang Selatan, Banten.
Andrew Setiawan dari Kelapa Gading, Jakarta juga mengingatkan peserta agar jangan memaksakan diri saat mengayuh di tanjakan. “Kita bersepeda ini untuk sehat, untuk healing, bersenang-senang. Kalau tubuh sudah memberi isyarat untuk istirahat, kita ikuti saja. Jangan memaksakan diri,” ujar Andrew yang juga seorang dokter senior.
Menyapa Warga Setempat
Saat melewati kemiringan tanjakan yang cukup tinggi, sekitar enam peserta memilih evakuasi ke dalam mobil. Mereka baru kembali mengayuh kembali setelah tiba di jalan yang mendatar.
Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali berjumpa dengan warga setempat. Ada yang berdiri di depan rumah atau kebun. Ada pula sedang mengendarai motor atau mobil. Kami saling menyapa. Setelah mengetahui kami hendak menuju Tomohon, mereka sedikit terheran membayangkan tanjakan yang ada dilalui dengan mengayuh sepeda. “Masih cukup jauh kalau ke Tomohon. Nanjak terus. Semangat ya, jangan menyerah,” ungkap seorang warga Koka.
Memasuki kilometer 25, kontur jalan mulai mendatar. Lokasi ini sudah berada dalam wilayah Kabupaten Minahasa. Sekitar 1,5 kilometer berikutnya kami dibikin bahagia, sebab menghadapi turunan sekitar 500 meter. Tetapi setelah itu bercumbu lagi dengan tanjakan berkelok sekitar dua kilometer hingga di kilometer 30. Jalan mendatar mulai dari titik itu.

Beristirahat sejenak di tepi jalan. Arsip Jelajah
Kami terus melaju melewati permukiman penduduk. Semangat kayuhan semakin tinggi. Melewati tengah kota Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa. Kota ini cukup bersih, tetapi agak sepi dan tidak terlalu luas. Tidak terlalu banyak kendaraan bermotor yang lalu Lalang. Tim pertama masuk kota Tondano sekitar pukul 10.00 Wita. Kelompok terakhir pada pukul 11.15 Wita.
Keluar dari kota itu, kontur jalan tetap mendatar. Tampak hamparan sawah, jagung, dan kebun sayur-sayuran. Wilayah ini tergolong subur. Sayuran-sayuran yang ada umumnya disuplai ke Kota Manado.
Tepi Danau Tondano
Siang itu, kami beristirahat di Ribera Bistro, restoran yang berada persis di tepi Danau Tondano sisi barat. Di lokasi itu berkembang sejumlah tempat makan dengan panorama danau yang menarik. Hampir semua restoran yang ada memiliki keramba yang cukup banyak dan luas. Setiap akhir pekan banyak warga datang berwisata di Danau Tondano.

Di tepi Danau Tondano. Arsip Jelajah
Danau seluas 43 kilometer persegi itu tersedia jalan raya beraspal yang melingkarinya menghubungkan kota Tondono dengan Kecamatan Tondano Timur, Kecamatan Eris, Kakas, Rembeken, dan Tondano Selatan. Dalam danau berkembang biak sejumlah jenis ikan air tawar, antara lain nila, mujair, kabos (pior), payangka, betutu, wiko (udang kecil), tawes, ikan mas (pongkor), gurami, dan lobster. Begitu banyak keramba yang ditempatkan dalam danau untuk usaha budidaya ikan.
Rudi Pasaribu menilai panorama Danau Tondano sungguh menakjubkan. Saking indahnya, dia pun nyaris mengabaikan menu ikan mujair bakar yang disajikan. “Keindahan danau ini top banget. Saya terbius sehingga sajikan ikan mujair bakar pun jadi tidak penting lagi untuk dinikmati,” ungkapnya.
Namun keramba juga menjadi salah satu pemicu pendangkalan, sebab setiap hari puluhan ton pakan yang diberikan untuk ikan. Pakan-pakan itu kemudian mengendap dan menimbulkan sedimentasi. Enceng gondok pun berkembang begitu pesat. Kontribusi lain yakni adanya pembusukan gulma yang tumbuh di danau. Maraknya budidaya perikanan mempercepat bertumbuhnya gulma.
Sedimentasi juga menyempitkan luas danau yang hingga tahun 2022 tersisa 4.700 hektar. Bahkan, sekitar tahun 1998, menurut data Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi, kedalaman Danau Tondano diperkirakan masih 30 meter, tetapi pada tahun 2022 hanya menyisahkan 13,5 meter.

Maraknya keramba dan enceng gondok memicu pendangkalan. Arsip Jelajah
Salah satu menu makan kami pada siang hari itu adalah ikan nila dan ikan mujair bakar. Ukuran setiap ekor menyerupai telapak tangan pria dewasa. Rasanya lezat dan enak. Ikan air tawar menjadi menu andalan restoran yang ada di tepi danau tersebut.
Danau Linow
Sekitar pukul 13.00, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Danau Lanow di Kota Tomohon. Letaknya sekitar 12 kilometer ke arah barat. Mula-mula, kami bersepeda ke arah barat daya melewati tepi Danau Tondano. Di jalur ini masih memiliki hutan cukup lebat. Banyak pohon menjulang. Suhu udara pun terasa sejuk.
Saat keluar dari area danau, dan memasuki wilayah Remboken atau sekitar 4 kilometer dari tempat makan siang, mendung kian pekat. Tak lama berselang, hujan turun begitu deras. Beberapa peserta memilih berteduh di sejumlah kios di tepi jalan raya. Namun, ada pula yang mengayuh terus. Hujan ini hanya berlangsung sekitar 40 menit.

Menikmati Danau Linow di Tomohon. Arsip Jelajah
Sepertinya ini hanya hujan lokal, sebab di kawasan Danau Linouw yang berjarak kurang lebih 7 kilometer ternyata langitnya cerah. “Di Danau Linouw tidak ada hujan. Langit cerah,” kata Putu, pengemudi mobil panitia yang sudah menunggu peserta di danau itu.
Di rute ini, dua kali kami tiga kali melewati tanjakan dengan kemiringan 8-11 derajat dengan selingan turunan dan jalan mendatar. Bahkan, menjelang tiba di Danau Linow kami melewati turunan yang cukup panjang di tengah hutan pohon dan bambu yang cukup lebat. Jalan pun beraspal mulus sehingga meringankan laju kayuhan.
Sekitar dua kilometer menjelang Danau Linouw tercium bau belerang yang begitu menyengat. Di sisi jalan tampak jaringan pipa ukuran sangat besar yang merupakan saluran gas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong. Pembangkit ini memiliki total kapasitas terpasang 120 megawatt (MW) yang terbagi dalam 6 unit dan menyuplai listrik untuk wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo. Potensi energi panas bumi ini dieksplorasi sejak tahun 1990, tetapi beroperasi secara komersial sejak 2001. Mampu menyuplai listrik untuk 133.300 rumah.

Di Danau Linow, Tomohon. Arsip Jelajah
Kami berhenti sejenak di tepi Danau Linouw, menikmati panorama sekaligus berfoto. Langit pun mendung. Danau ini terbentuk dari letusan gunung berapi sekitar 500.000 tahun silam. Sisa-sisa gunung berapi tersebut berupa adanya sumber belerang di sekitar danau.
Diguyur Hujan Lebat
Hampir setiap ada selalu ada wisatawan yang mengunjungi danau tersebut. Namun pengunjung dilarang berenang, sebab air danau memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Jika terpapar sulfur dapat menimbulkan kerusakan pada kulit dan cidera lainnya.
Mengingat mendung kian tebal, kami memutuskan melanjutkan kayuhan menuju ke Hotel Villa Emita Tomohon yang berjarak sekitar 4,5 kilometer. Perjalanan ini pun masih ada tanjakan. Tidak tinggi, tetapi cukup menguras tenaga dan emosi. Namun mengingat hati kecil sudah terbayang dengan hotel tempat menginap sehingga tanjakan itu terlewatkan dengan lancar.
Sejumlah peserta yang berangkat lebih awal terluputkan dari hujan. Sebagian lagi ketika masuk tengah kota langsung terguyur hujan deras. Mereka terjebak di tengah arus kendaraan yang padat. Di beberapa titik air tergenang juga. Meski demikian, mereka terus mengayuh perlahan-lahan melewati kendaraan-kendaraan yang padat merayap itu. Sekitar pukul 16.40 Wita akhirnya tiba di penginapan. Sedangkan kelompok terakhir lebih memilih evakuasi menjelang Danau Linouw, sebab terjebak hujan deras.

Melewati tepi Danau Tondano yang teduh, dan adem. Arsip Jelajah
Malam harinya, AKBP Johan Sitorus, Wakil Komandan Brimob Polda Sulawesi Utara mengundang makan di rumahnya masih berada di Kota Tomohon. Jarak dari hotel sekitar 2 kilometer. Rumah pribadi itu juga berada tidak jauh dari kaki Gunung Lokon. Dia berkenalan dekat dengan sejumlah peserta. Kebetulan mereka pernah bertemu pada even Tour de Teluk Cendrawasih yang diselenggarakan Kepolisian Daerah Papua Barat tahun 2016. Saat itu, Johan Sitorus bertugas di Polda tersebut.
Makam malam itu menjadi ajang reuni. “Saya suka bersepeda, meski belakangan agak jarang. Tetapi setelah pensiun pada akhir tahun 2026 ini saya ingin gowes kemana-mana. Gowes tidak hanya menyehatkan, tetapi membuat hati bahagia. Makanya, saya undang makan malam di sini (rumah) untuk memberikan kehormatan, sebab telah datang jauh-jauh ke sini (Sulut),” jelas Johan Sitorus. (Bersambung)
Cyling
Gowes di Manado: Menikmati Alam, Kuliner, dan Keramahan Orang Minahasa
Oleh JANNES EUDES WAWA
Sulawesi Utara selalu menjadi impian banyak orang untuk berwisata. Di sana, tidak semata-mata tersedia bentangan alam nan indah di daratan dan panorama dasar laut, tetapi juga memiliki masyarakat yang ramah, supel, egaliter, dan kreatif. Para perempuan Minahasa sejak masa lampau telah terampil meramu menu masakan sehingga menghasilkan aneka jenis kuliner lokal yang lezat, gurih dan bikin nagih.
Berkelana di Sulawesi Utara selama 17-19 April 2026 sungguh menyenangkan. Kami tidak hanya mengayuh sepeda melewati jalan mendatar, tanjakan dan turunan serta hutan alam menawan di Bumi Nyiur Melambai. Kami juga menikmati kuliner yang selalu menjadi idaman. Mengikuti Jelajah Manado-Tomohon yang diselenggarakan Jelajah Bike adalah momentum merealisasikan segala keinginan dan hasrat yang terpendam.

Berfoto bersama di kawasan MegaMas Kota Manado, Jumat (15/4/2026). Arsip Jelajah
Saat tiba pada Kamis, 16 April 2026 pagi, setelah menyerahkan boks sepeda kepada panitia di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, sebagian besar peserta langsung berburu kuliner. Ada yang mencari bubur manando. Ada pula mencari aneka jenis ikan segar. Kuliner ini jarang didapatkan di Jakarta dan kota domisili masing-masing. Kalau pun ada tidak selezat yang tersajikan di Manado.
Joko Kus Sulistyo alias JKS, misalnya, siang itu bersama Bambang Istadi dan Afit Rajo Bungsu bergerak menuju sebuah restoran bahari terletak di tepi pantai Manado, tidak jauh dari Jembatan Soekarno. Di sana, semua menu hanya ikan dengan aneka jenis masakan. Ada kua kuning. Ada bakar. Sup dan goreng. Ikan yang tersedia bervariasi, seperti rahang tuna, ikan kerapu, kakap, bawal, ikan beronang. Ukurannya sedang menyerupai telapak tangan pria dewasa. Semuanya masih segar. Mungkin belum lama terkena es batu.
JKS memilih rahang tuna bakar. Dagingnya agak tebal dan masih segar. Pembakaran pun sangat bagus sehingga hasilnya sungguh lezat. “Tadi, saat datang saya lihat ada rahang tuna sehingga saya pun langsung pesan dua porsi dan meminta dibakar. Enak banget. Kalau datang ke Manado tanpa menikmati rahang tuna sepertinya belum lengkap,” ujarnya.
Bubur Manado
Octovianus Noya, Stefanus Tejo, Yoke Haulani Latif bersama belasan teman juga hari itu memprioritaskan kuliner. Dari Bandara Sam Ratulangi langsung menuju sebuah restoran ikan di tengah kota Manado. Mereka juga mengincar menu aneka ikan dan kepiting. Kuah kuning, sup, bakar dan goreng yang menjadi kuliner khas Manado.
“Datang di Manado harus makan ikan. Kualitas ikannya jauh beda dengan ikan-ikan di Jakarta. Rasanya lebih manis, gurih dan lezat,” ungkap Octovianus Noya, warga Cinere, Depok yang sudah beberapa kali mengunjungi Manado untuk urusan bisnis dan wisata.

Berfoto bersama di Jembatan Soekarno Kota Manado, Jumat (15/4/2026). Arsip Jelajah
Lain lagi dengan Yoga Dwi Cahyono, pesepeda asal Bogor. Dia tidak semata-mata menjajal kuliner Bahari, tetapi juga berburu bubur manado (tinutuan). Sudah lama dirinya mendengar cerita tentang bubur manado. Bahkan, pernah menikmatinya pada restoran di Jakarta dan Bogor. Memang enak, unik dan khas.
Tinutuan dalam bahasa Minahasa artinya campur aduk. Hal tersebut tampak dari tampilan bubur yang diolah dengan cara mencampurkan aneka sayuran seperti labu kuning (sambiki), bayam, kangkung, daun gedi, jagung, kemangi, singkong, dan beras. ke dalamnya sehingga bubur ini terasa begitu enak dan memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Tinutuan dapat disajikan dengan sajian pendamping lain, seperti ikan asin, tahu goreng, perkedel nike, sambal roa, cakalang fufu, perkedel jagung, dan sebagainya. Berbeda dengan bubur pada umumnya, hidangan ini tidak menggunakan daging dan memiliki cita rasa gurih alami yang kaya akan nutrisi.
Maka ketika berada di Manado, Yoga ingin membuktikan mana yang lebih enak: bubur manado produksi di Jakarta dan Bogor atau di Manado. Setelah mengetahui warung yang menjual bubur manado terlaris di kota itu, dia pun langsung menuju lokasi. Dia mencoba satu porsi. “Ternyata bubur manado produksi di Manado memang lebih enak,” jelas Yoga.
Hasil Reklamasi
Setelah selesai menikmati kuliner khas Manado pada siang itu, mereka pun menuju Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas untuk registrasi dan merakit sepeda. Kawasan ini merupakan hasil reklamasi yang digagas Gubernur Sulawesi Utara Cornelis John Rantung (1985-1995), kemudian direalisasikan Gubernur Evert Ernest (EE) Mangindaan (1995-2000). Reklamasi itu sejauh 10 kilometer dan menjorok ke laut mencapai kurang lebih 500 meter.
Wilayah tersebut dalam dua dekade terakhir telah berkembang menjadi salah satu urat nadi ekonomi di Kota Manado. Dalam kawasan berkembang pusat perbelanjaan, ruko, perkantoran perusahaan swasta, restoran, hotel dan sejenisnya. Infrastruktur, seperti jalan raya yang tersedia pun beraspal mulus dan lebar sehingga pada pagi hari dan sore hari menjadi sentra aktivitas lari.

Saat melewati Jembatan Soekarno. Arsip Jelajah
Hotel ini berada tidak jauh dari tepi pantai sehingga pada sore harinya, beberapa di antara kami pun menyempatkan diri menikmati matahari terbenam. Panorama yang indah dan menawan pun mengakhiri perjalanan hari itu untuk menyiapkan diri menikmati gowes hari pertama di Manado.
Selama mengitari Kota Manado dan sekitarnya tampak masyarakat setempat baru selesai merayakan Paskah Nasional pada Rabu (8/4/2026). Suasana itu masih meninggalkan kesan yang luar biasa. Rumah-rumah warga dan sisi kiri serta kanan jalan raya masih marak dengan dekorasi-dekorasi bernuansa Paskah. Di gang, lorong dan jalan-jalan kecil tampak lampu-lampu hias berornamen Paskah.
Bahkan di setiap persimpangan jalan terpasang baliho dan spanduk berisi ucapan merayakan Paskah Nasional dari para elit politik lokal, nasional dan sejumlah anggota DPRD dan DPR RI. Maklum, mayoritas warga Sulawesi Utara penganut agama Kristen.
Menuju Likupang
Perjalanan kami ke Sulawesi Utara atau negeri Kawanua kali ini tidak semata-mata untuk menikmati aneka kuliner khas Manado. Aktivitas ini hanyalah ikutan. Kegiatan utama adalah mengayuh sepeda dalam event bernama Jelajah Manado-Tomohon. Pesertanya ada 46 orang berasal dari Singapura, Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, Semarang, Bandung, Surabaya dan Makassar.
Jumat, 17 April 2026 adalah hari pertama perjalanan bersepeda. Hari itu gowes ke arah Minahasa Utara, persisnya wilayah Likupang, timur laut Manado. Dari sana, kami pun kembali lagi ke ibukota Provinsi Sulawesi Utara tersebut. Likupang termasuk salah satu lokasi wisata yang sedang berkembang.
Keluar dari kawasan Megamas, kami bergerak ke kiri melewati Jalan Boulevard II melewati Jembatan Soekarno yang menjadi salah satu ikon Kota Manado. Di sini semua peserta berhenti sejenak untuk berfoto-foto. Pagi itu cuaca sangat cerah dengan langit biru yang menawan membuat panorama kota yang pada 14 Juli 2026 berusia 403 tahun tersebut sungguh indah.

Menuju ke Minahasa Utara. Arsip Jelajah
Kami melanjutkan perjalanan melewati muara Sungai Tondano, kemudian masuk Jalan Mayjen Theo Syafei dan Jalan Hasanuddin, Jalan Arie Lasut, menuju arah Bandara Sam Ratulangi, Jalan Raya Kolongan hingga di kawasan Tatelu.
Pada rute ini, kami melewati jalan mendatar yang cukup panjang dengan selingan tanjakan halus. Arus kendaraan roda dua dan roda empat pada pagi itu pun cukup ramai dengan pengantaran anak-anak masuk sekolah, serta karyawan swasta dan pegawai yang hendak menuju ke tempat kerja.
Touring ini tidak melibatkan pengawalan dan pengamanan dari kepolisian. Salah satu pertimbangan panitia yakni jumlah peserta terbatas sehingga masih memudahkan kontrol. Panitia menggunakan tiga unit sepeda motor untuk mengatur dan mengontrol perjalanan peserta. Di setiap pertigaan atau perempatan selama lampu merah menyalah, rombongan kami pun berhenti sejenak. Anggota polisi lalu lintas yang berjaga di persimpangan begitu melihat rombongan sepeda kami selalu memberi perhatian dengan ramah.
Kebun Kelapa
Memasuki wilayah Tatelu, kami sudah berada pada jalan raya yang menghubungkan ke Likupang. Arus kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua pun relatif sepi. Kontur jalan pada rute ini pun masih mendatar dengan variasi tanjakan halus dan sekali-kali ada tanjakan cukup tinggi tapi dalam jarak yang pendek. Memasuki wilayah Likupang timur, kami melewati turunan yang cukup panjang.
Rombongan pesepeda terpecah dalam dua kelompok besar, yakni yang kuat yang melaju cukup kencang terus berada di depan. Kelompok berikutnya mengayuh dengan kecepatan berkisar 20-25 kilometer per jam. Meski begitu menikmati kayuhan dalam suhu udara yang cukup kalem, mereka pun tidak lupa berhenti sejenak di beberapa lokasi yang dianggap menarik untuk berfoto dan merekam video.

Memasuki wilayah Likupang Timur, Minahasa Utara. Arsip Jelajah
Sepanjang perjalanan, di kiri dan kanan jalan tampak cukup banyak kebun kelapa milik petani setempat. Sulawesi Utara merupakan penghasil kelapa terbanyak di Indonesia. Volume produksi berkisar 266.052 ton hingga 272.373 ton per tahun dengan lahan sekitar 390.000 hektar. Seiring dengan itu masuk pula investasi perusahaan swasta yang mengolah aneka produk turunan kelapa. Hingga tahun 2025 tercatat sekitar lima perusahaan yang berinvestasi di Sulawesi Utara yang memproduksi sabut kelapa, briket kelapa, bungkil, tepung dan santan kelapa. Semua produk tersebut umumnya diekspor ke berbagai negara antara lain China, Jerman, India, Jepang dan Korea.
Sabut kelapa, misalnya, adalah bagian terluar buah kelapa. Material ini dapat diolah melalui mesin pengurai menjadi dua produk utama yakni serat sabut (coco fiber). Serat ini tergolong kuat dan tahan air sehingga kerap diolah menjadi tali, sapu, keset dan jarring sabut atau cocomesh untuk pencegahan erosi. Dalam industri manufaktur, serat sabut juga berguna sebagai bahan pengisi jok mobil dan kasur spring bed.
Sulit Dapatkan Kelapa Muda
Ada pula serbuk sabut (coco peat). Dalam pertanian dan Perkebunan, coco peat sangat efektif sebagai media tanam dan mulsa, sebab mampu menyerap serta menahan air dengan sangat baik. Sabut kelapa juga kaya aka unsur hara seperti kalium (K) yang mampu menyuburkan tanah.
Saat ini permintaan serbuk sabut cukup tinggi dari negara-negara yang memiliki empat musim. Di sana, petani setempat pun mengingikan usaha pertanian berlangsung sepanjang tahun sehingga dikembangkan rumah kaca (greenhouse): bangunan tertutup yang didisain khusus untuk menciptakan iklim mikro yang optimal bagi tanaman. Bangunan ini memungkinkan pengaturan suhu, kelembapan cahaya dan sirkulasi udara guna melindungi tanaman dari cuaca ekstrim dan hama sehingga produktivitas dan kualitas panen meningkat signifikan. Usaha dalam rumah kaca ini membutuhkan serbuk sabut sebagai media tanam.

Bersepeda di wilayah Minahasa Utara relatif sepi sehingga nyaman dan menyenangkan. Arsip Jelajah
Itu sebabnya, petani di Sulawesi Utara lebih mengutamakan memetik buah kelapa tua dibanding buah kelapa muda. Dalam kepala tua ada empat varian yang dijual sekaligus yakni sabut, tempurung, daging dan air. Harganya pun tentu jauh lebih menarik. Sementara kelapa muda hanya air dan sedikit daging.
Tidak mengherankan, selama bersepeda di Sulawesi Utara nyaris tidak ditemukan penjualan kelapa muda. Ulfi Haryati Noya, pesepeda asal Cinere sempat menanyakan hal itu kepada saya, “Manado katanya penghasil kelapa, tetapi kok saya tidak pernah lihat orang jual kelapa muda. Ada apa ya”.
Saya kemudian menjelaskan bahwa petani Sulawesi Utara dalam beberapa tahun terakhir lebih memilih menjual kelapa tua. Pilihan itu dilakukan setelah berkembangnya industri hilir kelapa yang memproduksi aneka macam produk turunan, seperti sabut, briket, santan, tepung dan lainnya.
Terguyur Hujan Lebat
Di Likupang Timur kami bergerak ke kanan hingga di pertigaan Indomaret Maen, lalu belok ke arah kanan lagi. Kami masih melewati wilayah Kabupaten Minahasa Utara. Kontur jalan pada rute ini pun masih mendatar. Namun, sekitar tiga kilometer dari persimpangan itu, kami kembali menghadapi tanjakan halus nan panjang. Beberapa kali diselingi turunan, tetapi puluhan meter kemudian menanjak lagi.
Memasuki Desa Penenek, Kecamatan Likupang Timur ada sebuah gapura penanda batas wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung. Sebagian pesepeda berhenti sejenak untuk berfoto sebagai kenangan pernah melewati wilayah tersebut. Maklum, semua pesepeda yang mengikuti event ini baru pertama kali bersepeda di wilayah Minahasa Utara.
“Setiap kali melewati lokasi yang strategis, saya berusaha untuk berhenti sejenak dan berfoto atau mengambil video. Ini sebagai bukti sahi bahwa saya pernah gowes di jalur ini,” ujar Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Conculting.

Rute yang nyaman dan mengasyikan. Arsip Jelajah
Saat melewati Penenek, udara tampak mulai mendung. Kami tidak mempedulikan kondisi itu. Malah berharap hujan segera turun agar dapat menikmati kesegaran tubuh dari air yang jatuh dari langit tersebut. Benar saja, tidak lama berselang hujan pun mengguyur. Kami terus mengayuh seraya menikmati kontur jalan rolling yang ada.
Siang itu, akhirnya kami berhenti di kilometer 60, persisnya di sebuah aula Gereja Kristen Minahasa Pinangsungkulan, untuk makan siang. Kami beristirahat cukup lama sebab menunggu hujan redah.
Sekitar pukul 13.15 Wita, rombongan pertama melanjutkan kembali kayuhan. Selang 15 menit berikutnya kelompok kedua, dan kurang lebih pukul 13.40 gelombang ketiga atau terakhir bersepeda lagi. Rute ini langsung menghadapi tanjakan dengan kemiringan sekitar tujuh persen. Namun semakin ke depan kemiringan jalan pun meningkat.
Tanjakan ini tidak panjang. Hanya sekitar satu kilometer. Beberapa peserta kelompok kedua dan ketiga sepertinya tidak siap, sehingga sempat memilih menuntun saja sepedanya. Selepas tanjakan ngehek barulah mereka mengayuh kembali.
Menikmati Kabut Tebal
Perjalanan kami dari Pinangsungkulan semakin menemukan tantangannya. Tanjakan yang dilewati masih di bawah 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akan tetapi, selalu diikuti dengan turunan pendek, kemudian menanjak lagi sehingga menguras tenaga yang cukup signifikan serta menguji mental. Beberapa peserta sempat mengalami kram kaki, dan ada yang terpaksa minta dievakuasi.
Meski demikian, dalam setiap ujian hidup selalu terselip momentum untuk mengisi bathin guna menemukan kebahagiaan. Dalam rute ini terutama setelah kilometer 70, kami melewati Hutan Cagar Alam Dua Saudara di Kota Bitung. Hutan tersebut cukup padat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Saat itu kabut tebal menyelimuti kawasan hutan ini sehingga terasa sejuk, adem dan sangat menyegarkan. Kabut terjadi mungkin karena baru selesai hujan lebat.
“Saya merasa senang sekali bisa gowes di tengah kabut tebal saat melewati hutan cagar alam itu. Hati terasa adem dan bahagia. Inilah titik yang paling saya suka dari touring hari pertama ini,” kata Philips Karundeng, lelaki berdarah Minahasa yang lahir dan menetap di Makassar.

Saat melewati Kawasan Cagar Alam Dua Sudara, Bitung. Arsip Jelajah Bike
Lim Chin Kah, peserta dari Singapura juga mengakui hal serupa. “Saya juga paling suka mengayuh di hutan alam itu. Berkabut tebal. Sepi dari lalu Lalang kendaraan bermotor. Bagus sekali. Udaranya sangat bersih, membuat hati jadi tenang dan berbunga. Kita dapat menghirup udara bersih yang berkualitas tinggi,” ungkap Lim yang mengaku baru pertama kali mengunjungi Sulawesi Utara. Dia datang bersama istrinya Siow Suck Wan yang juga penggila touring sepeda.
Tidak lama setelah melewati hutan cagar alam, kami memasuki lagi jalan raya utama yang menghubungkan dengan pusat Kota Bitung. Kami terus melaju. Beberapa kali melewati jembatan yang bagian bawah merupakan lintasan jalan tol menghubungkan Manado-Bitung. Inilah satu-satunya jalan tol di Sulawesi Utara. Bitung adalah sentra pelabuhan ekspor-impor untuk Sulawesi Utara.
Rute Menantang
Selepas Airmadidi, kami masih melewati jalan mendatar dan tanjakan halus yang cukup jauh kemudian disusul turunan yang cukup panjang hingga memasuki Kota Manado. Arus kendaraan pun mulai padat sehingga semua peserta diingatkan selalu waspada serta upayakan dalam rombongan. Kita tidak pernah tahu perilaku para pengendara kendaraan bermotor setempat terhadap pesepeda.
Memasuki Kota Manado, kami masih melewati rolling di beberapa titik. Sekitar pukul 16.00 Wita, peserta pun mulai tiba kembali di Hotel Grand Whiz di Kawasan Megamas. Yang terakhir masuk pukul 17.15 Wita. Hari pertama ini, kami menuntaskan perjalanan sejauh 120,74 kilometer dengan total ketinggian atau elevation gain 1.526 meter.
Fitri Barnas, peserta dari Depok, Jawa Barat mengaku sangat puas dengan touring hari pertama ini. “Secara keseluruhan, rute ini sungguh menarik. Jalannya beraspal mulus. Tanjakan yang kita lewati tidak terlalu berat, sebab selalu ada turunan. Namun rolling yang berkali-kali memang menjadi tantangan yang besar. Inilah touring. Sebagai penjelajah, kita selalu siap lahir-bathin untuk menghadapi segala situasi,” ungkap Fitri Barnas yang juga baru pertama kali mengunjungi Manado.

Lim Chin Kah, peserta dari Singapura terus mengayuh menikmati tanjakan di Minahasa Utara. Arsip Jelajah
Rudi Pasaribu dari Jakarta juga menilai rute perjalanan hari pertama menyenangkan. Jalan beraspal mulus dengan rolling yang lumayan menantang disertai tanjakan yang cukup. “Saya sangat meniknati rute ini. Apalagi ada kopi yang dihidangkan pak pendeta saat makan siang terasa pas banget, sebab tubuh basah akibat kehujanan,” kata Rudi.
Sementara itu Anita Sujarwo dari Jakarta yang baru tiba di Manado pada Jumat pagi juga tidak mau melewatkan kesempatan ini. Setelah menyimpan barang-barangnya di Hotel Grand Whiz, dia langsung gowes solo melewati rute yang sama. Di kilometer 65 sempat kelelahan, tetapi tidak mau menyerah dan terus mengayuh. Sekitar pukul 19.20, Anita pun mencapai finish. “Saya rugi kalau sudah tiba di Manado tetapi tidak menjajal rute hari pertama. Makanya, saya nekad gowes dan berhasil menuntaskannya. Puas dan senang banget,” ujarnya. (Bersambung)
-
Cyling3 tahun agoSeveral of Our Belongings Were Stolen in Iran
-
Perjalanan3 tahun agoCatatan Royke Lumowa (8): Tiba di Bangkok Setelah Sebulan Kayuh dari Jakarta
-
Perjalanan3 tahun agoRoyke Lumowa Gowes Jakarta-Paris demi Bumi Sehat
-
Cyling2 tahun agoTerpanggil Menyusuri Waduk Jatiluhur
-
Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris4 tahun agoRoyke Lumowa, Doktor Gunung Botak
-
Humaniora11 bulan agoCiptagelar: Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
-
Perjalanan2 tahun agoCatatan Royke Lumowa: Saya Tuntaskan Bersepeda Jakarta-Paris
-
Perjalanan3 tahun agoCatatan Royke Lumowa (14): Pekan Paling Bahagia di Tibet

Pingback: Bertemu Lagi Warga Keturunan Indonesia - blalak.com