Kota Van yang terletak di wilayah timur Turki, Minggu (19/11/2023) pagi terasa sangat dingin. Suhu udara hanya enam derajat celcius. Panorama begitu indah. Pohon-pohon tampak asri. Ada gerimis salju. Dari kejauhan tampak pula salju menutupi puncak deretan pegunungan yang berada tidak jauh dari Danau Van.
Hari itu, saya akan menuju kota Tavtan. Total jaraknya 135 kilometer. Sebelum gowes, saya melengkapi diri dengan jaket dan baju penahan dingin. Saya memulai bersepeda pada pukul 08.30 waktu setempat, menyusuri sisi selatan danau.

Perjalanan ini sungguh menarik. Di sisi kiri tampak terbentang barisan pegunungan yang tertutup salju pada puncaknya. Sementara di sebelah kanan ada bentangan Danau Van yang tidak kalah menawan dengan air asin yang jernih. Sepanjang perjalanan di tepi danau tampak barisan pohon yang hijau.
Saya benar-benar menikmati kayuhan pada pagi itu. Saking indahnya, rasanya tidak mau meningkatkan laju sepeda yang cepat lagi. Rasanya ingin lebih lama berada di kawasan ini sekaligus menikmati keindahan alam yang begitu bagus.
Bertemu petualang Turki
Memasuki kilometer 40an, saya singgah di sebuah rest area yang berada persis di tepi jalan. Dalam kawasan itu ada sebuah taman yang menjadi lokasi istirahat. Kami bertemu dengan dua orang warga Turki berusia sekitar 50-an tahun.

Keduanya sedang berkelana mengelilingi Turki dengan membawa mobil campervan. Masing-masing membawa satu unit. Mereka bersahabat dekat. Satu lagi berprofesi sebagai tukang cukur rambut. Satu lagi sebagai juru masak di restoran. Sehari-hari, keduanya bekerja dan menetap di Istanbul.
Dalam mobil campervan itu terisi segala macam kebutuhan selama touring, termasuk dapur dan tempat tidur. Jadi, mereka tidak repot mengurusi penginapan dan lainnya. Semua sudah tersedia.
Mereka menjelajahi Turki selama kurang lebih satu minggu. Rencananya akan tiba kembali di Istanbul sekitar 22 November 2023. Kami saling berbagi nomor kontak, dan mengaharapkan saya mengabarkan kepada mereka setelah tiba di Istanbul.
Bahkan, keduanya berjanji selama di Istanbul kami boleh melakukan potong rambut gratis. Sang juru masak juga ingin memasakan kami makanan khas Turki tanpa bayar. Saya salut dengan antusiasme mereka terhadap kami. Sungguh luar biasa.

Petani ubi jalar
Setelah itu, saya melanjutkan kayuh sepeda. Siang itu, makan di sebuah warung kecil yang berada di tepi jalan juga. Tidak jauh dari warung, ada banyak petani setempat yang sedang melakukan transaksi ubi jalar dengan pengepul.
Para petani itu antri menyerahkan ubi jalar dalam jumlah yang besar. Ubi terisi dalam beberapa bak, dan ditarik menggunakan traktor. Para pengepul kemudian menjual ke pabrik tepung terigu. Ubi jalar merupakan bahan baku pembuatan tepung yang nantinya sebagai bahan baku pembuatan roti yang merupakan makanan pokok masyarakat Turki.

Jadi, tepung terigu tidak harus dari gandum, melainkan juga dari ubi jalar. Seketika saya mulai membayangkan begitu banyaknya ubi jalar dan ubi talas di Indonesia. Kedua jenis umbi ini nyaris tidak memiliki harga. Kalau pun terjual di pasar tradisional, harganya selalu murah.
Saya mengharapkan industri tepung terigu di Indonesia mau menerima ubi jalar dan talas sebagai bahan baku. Apabila terjadi seperti itu, saya meyakini banyak petani di wilayah pedesaan, terutama di wilayah timur Indonesia dapat hidup sejahtera dengan fokus pada usaha budidaya uji jalar.
Menjelang kilometer 70an, saya masih mengayuh di tepi Danau Van. Panorama tetap indah. Tetapi, saya mulai kelaparan. Berkali-kali melihat ke kiri dan kanan jalan tidak tersedia warung atau rumah makan. Saya akhirnya memutuskan menepi di tepi danau dan memasak mie instan.
Setelah itu, saya melanjutkan gowes. Tidak lama kemudian turun hujan cukup deras sehingga mengakibatkan suhu terasa sangat dingin. Tepat di kilometer 80, saya memutuskan untuk menaiki mobil pengiring hinga tiba di Kota Tavtan.
Berteman salju
Esok harinya pada 20 November 2023, sejak dini hari Kota Tavtan diguyur hujan yang sangat lebat. Hingga pukul 08.30 pun tidak ada tanda-tanda hujan tersebut akan berhenti. Di saat yang sama suhu terasa semakin dingin. Sekitar 3-5 derajat celcius.
Saya pun memutuskan bahwa hari itu tidak mengayuh sepeda. Saya akan menaiki mobil langsung menuju ke Kota Malatya, melewati Kota Solhan. Jarak dari Tavtan ke Solhan 136 kilometer, dan Solhan ke Malatya 289 kilometer.
Dalam perjalanan dengan mobil itu, sekitar pukul 14.00 pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), tiba-tiba datang salju menutupi badan jalan. Wah, ini sebuah pemandangan yang bagus.

Kami pun mengurangi laju kecepatan mobil seraya menikmati salju yang cukup tebal tersebut. Ada sebuah mobil di depan kami sempat tergelincir akibat salju. Sementara mobil khusus pembersih salju pun langsung bergerak cepat menyingkirkan salju ke tepi jalan raya.
Beberapa kilometer di depan, kami menghadapi lagi kawanan domba yang berjalan di tengah badan jalan. Domba-domba tersebut juga berjalan di atas salju. Berbulu tebal sehingga mampu menahan suhu dingin.
Sekitar pukul 17.00, kami akhirnya tiba di Kota Malatya. Suhu udara masih dingin. Memang semakin ke barat suhu udara cenderung bertambah dingin. Kondisi seperti ini bakal berlangsung hingga Maret atau April 2024. Jadi, hari-hari kami ke depan akan selalu berteman dengan suhu dingin dan salju.
Sempat tertabrak
Dari Kota Malatya, pada 21 November 2023, saya bersepeda menuju Kota Kayseri. Jarak kedua kota ini cukup jauh, yakni 334 kilometer. Pada awal perjalanan, saya langsung menghadapi tanjakan yang berkali-kali dengan variasi beberapa turunan panjang.

Pagi itu, suhu udara lima derajat celcius: Ini kategori sangat dingin untuk tubuh tropis seperti saya. Sebelum berangkat, saya terlebih dahulu mengenakan jaket dua lapis.
Di awal perjalanan, saya langsung menghadapi tanjakan panjang sejauh empat kilometer. Setelah itu, turunan panjang, kemudian menanjak lagi. Begitu terus selama beberapa kali.
Setiap kali hendak melewati turunan panjang, saya menambah satu jaket lagi agar tidak kedinginan. Apalagi saat itu tiupan angin pun cukup kencang. Apabila dingin terlalu menusuk badan dapat mengganggu konsentrasi bersepeda, dan berpeluang terjadi kecelakaan.
Akan tetapi, baru beberapa kilometer memulai gowes, saya mengalami kecelakaan. Kasus itu terjadi di lampu merah. Sebuah mobil sedan tiba-tiba membuka pintu karena ada penumpang yang keluar. Padahal, mobil tersebut berhenti di tengah badan jalan.
Saya pun menabrak pintu mobil yang terbuka dadakan itu dan mengenai jari tangan kiri. Saya tidak jatuh, tetapi jari kiri mengalami memar cukup parah. Beruntung saat itu suhu sangat dingin sehingga memar tersebut otomatis terkompres secara alami. Sementara pemilik mobil diam saja, seolah tidak bersalah. Mau marah, tetapi sudahlah. Perjalanan masih jauh. Saya harus tetap fokus.

Memasuki kilometer 50an, perjalanan bersepeda saya telah mencapai ketinggian 1.090 meter. Tiupan angin cukup kencang. Suhu udara bertambah dingin sehingga membuat badan semakin menggigil.
Tepat di kilometer 53, saya memilih loading ke mobil pengiring hingga tiba di Kota Kayseri hari sudah gelap. Saya menginap di kota ini selama dua malam. Selain untuk istirahat sekaligus pemulihan fisik, juga kesempatan tersebut untuk menyelesaikan beberapa catatan perjalanan yang tersisa.
Batu vulkanik
Pada 22 November 2023, saya bersepeda lagi dari Kayseri menuju Cappadocia. Jarak kedua kota ini hanya 72 kilometer. Saya memulai perjalanan pada pukul 09.00. Agak sedikit terlambat, sebab pagi itu saya harus mengikuti rapat penting melalui zoom dengan kantor di Jakarta.
Kota tujuan hari itu sangat menarik. Cappadocia terkenal dengan hamparan batuan vulkanik yang terbentuk oleh erosi gunung berapi selama jutaan tahun. Batuan itu menjadi beragam bentuk yang unik seperti menara, kerucut, lembah dan gua. Beberapa batuan itu memiliki tinggi hingga 45 meter.

Sebagai kota kuno, Cappadocia melewati beragam masa mulai Romawi, Bizantium hingga masuknya peradaban Islam. Terbukti, banyak bangunan bersejarah seperti kastil, gereja, dan masjid hadir di kota ini.
Terdapat banyak lokasi wisata bisa didatangi saat berkunjung ke Cappadocia. Mulai dari menaiki balon udara hingga bertualang bersama kuda. Cappadocia mendapat julukan the land of beautiful horses atau tanah kuda yang indah.
Naik balon udara
Maka, pagi itu saya memutuskan bersepeda hanya sejauh 32 kilometer. Selanjutnya menaiki mobil. Saya ingin tiba di Kota Cappadocia masih siang, sebab mau terbang dengan balon udara menyaksikan panorama kota itu menjelang sore hari yang oleh banyak orang mengklaim sangat indah.
Sekitar pukul 14.00, saya sudah tiba di Cappadocia. Saya langsung menuju lokasi untuk penerbangan balon raksasa. Setibanya di tempat itu para petugas menyampaikan bahwa sore hari bukan waktu yang tepat untuk menerbangkan balon raksasa.

Waktu yang tepat untuk menerbangkan balon udara yakni pagi hari. Karena orang ingin menyaksikan matahari terbit. Panoramanya sangat indah dan menawan.
Bukankah panorama matahari terbenam juga sangat bagus? Tanya saya kepada para petugas tersebut.
Mereke menjawab, “Pada sore hari tiupan angin di wilayah Cappadocia kurang bagus. Jika angin tidak bagus, maka balon pun takkan dapat terbang dengan baik”.
Ternyata saya yang salah mendapatkan informasi. Esok harinya saya pun menaiki balon udara dan menyaksikan betapa indahnya Kota Cappadinia. Memang sungguh indah. Benar-benar keren! Pantas saja di masa lalu wilayah ini menjadi salah satu pusat peradaban dunia. (bersambung)


1 Komentar
Pingback: Buah Durian, Pasar Tidak Terbatas - blalak.com