Berada di Iran sejak 25 Oktober 2023 sepertinya saya terus-menerus menghadapi sejumlah masalah yang datangnya silih berganti. Bahkan, saat hendak keluar dari negeri itu melalui border Razi (Iran)-Kapikoy (Turki) juga masih tersandung persoalan. Kami menunggu selama lima jam untuk menyelesaikan urusan pada bagian imigrasi Iran di border tersebut.
Dalam perjalanan dari Tehran pada 15 November 2023 menuju border Razi, saya terpaksa melewatkan tiga etape tanpa mengayuh sepeda. Ketiga etape itu adalah Tehran-Qazvin 150 kilometer, Qazvin-Zanjan 181 kilometer, dan Zanjan-Tabriz 292 kilometer.

Sesuai jadwal, saya seharusnya mulai bersepeda dari Tehran pada 13 November 2023. Dengan demikian, pada 15 November 2023 sudah berada di Tabriz.
Tetapi, kami terlalu lama berada di Tehran terkait pengurusan visa Schengen dan harus kembali lagi ke Chalus. Ini semua menguras waktu dan energi.
Sementara itu, masa berlaku visa tersisa tujuh hari. Artinya, sebelum 22 November 2023, kami harus sudah keluar dari wilayah Iran.
Diguyur hujan lebat
Maka, dari Tehran, saya menaiki mobil pengiring langsung menuju Tabriz. Perjalanan sejauh 331 kilometer tersebut sangat lancar. Kondisi jalan beraspal mulus dengan panorama hamparan gurun pasir yang cukup indah.

Tabriz adalah ibukota Provinsi Azarbaijan Timur. Di Tabriz, saya menginap dua malam. Pada 16 November 2023, saya memanfaatkan waktu untuk istirahat penuh setelah melewati perjalanan panjang, serta sejumlah persoalan yang menguras banyak energi.
Saya bersepeda kembali pada 17 November 2023 untuk rute Tabriz menuju Kota Khoy. Jarak kedua kota ini sejauh 165 kilometer.
Saya memulai gowes pada pukul 08.00. Saat itu kota Tabriz tampak mendung yang mulai menebal. Baru gowes sekitar 10 kilometer, hujan pun turun. Semakin lama, guyuran hujan semakin deras.
Saya terus mengayuh. Maklum, pagi itu sebelum bersepeda, saya telah melengkapi diri dengan sejumlah pakaian pelindung hujan dan penahan dingin.
Setelah melewati kilometer 50, hujan semakin deras. Jas hujan yang saya kenakan seolah tidak efektif, sebab jersey pun mulai basah. Kaki pun terasa basah, sebab air hujan merembes melalui plastik penutup sepatu sepeda. Kondisi ini membuat tubuh bertambah dingin.

Memasuki kilometer 70, saya semakin tidak nyaman bersepeda. Kedinginan terus meningkat. Tangan pun mulai kaku. Dari lokasi itu, perjalanan pun mulai melewati turunan panjang hingga di Kota Khoy. Akhirnya di kilometer 71, saya memutuskan loading ke mobil pengiring. Kami memasuki Khoy menjelang sore.
Ganti subsidi BBM
Esok hari yakni 18 November 2023, saya mengayuh lagi sepeda dari Khoy menuju ke border Razi (Iran)-Kapikoy (Turki). Jarak rute ini 70 kilometer. Hari itu saya bersepeda hanya 20 kilometer. Setelah itu menaiki mobil menuju border. Pertimbangan utama adalah agar tiba di border Razi masih siang hari, sebab khawatir banyak urusan di pos perbatasan tidak berjalan lancar.
Waktu operasi border mulai pukul 10.00. Kami tiba pukul 11.00. Sesaat kemudian, kami langsung menuju loket Bea dan Cukai untuk mengurus Carnet de Passages en Douane (CPD) bagi mobil pengiring.
Tetapi, sebelum itu, kami perlu melewati pos polisi setempat. Di situ, mereka mewajibkan kami membayar penggunaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi sebanyak kapasitas tanki mobil, yakni 75 liter. Harga tiap liter adalah 1 dollar AS, dan biaya untuk calo sebesar 10 dollar AS. Total uang yang kami bayarkan di lokasi itu sebesar 85 dollar AS.
Kata polisi Iran, permintaan pergantian biaya BBM tersebut, sebab mobil kami segera meninggalkan wilayah Iran. Harga BBM di Iran, semuanya mendapatkan subsidi pemerintah. Jika mobil hendak meninggalkan Iran menuju ke negara tetangga, maka wajib mengganti biaya subsidi BBM tersebut. Lucu juga ya. Tetapi logis.

Di border Razi, banyak sekali berkeliaran calo. Mereka tidak memaksa, tetapi terus-menerus membujuk para pelintas. Bahkan, warga belum menyetujui, mereka sudah aktif mengantar pelintas batas dari loket ke loket.
Herannya, petugas pun tidak melarang pergerakan para calo. Malah mereka meminta para calo untuk mengantarkan para pelintas ke sejumlah loket untuk kelancaran pengurusan dokumen perjalanan. Mereka mengenal para petugas sehingga urusannya selalu lebih cepat dan lancar.
Kami mengabaikan penawaran dari calo. Kami mencoba mengurus sendiri, terutama untuk mengurus Carnet de Passages en Douane (CPD) bagi mobil pengiring di loket Bea dan Cukai setempat. Hasilnya, lancar dan selesai dengan baik.
Tertahan lima jam
Setelah itu, kami menuju ke loket imigrasi. Nah, di pos imigrasi yang tersendat. Di sini pula muncul lagi kasus seperti yang saya alami beberapa hari sebelumnya di kantor imigrasi Chalus, tepi Laut Kaspia.
Petugas Imigrasi di border Razi menjelaskan bahwa data dalam visa kami tidak sama dengan data dalam paspor. Data tidak sinkron. Waduhhhh. Kok bisa?
Bukankah kami sudah sah memasuki wilayah Iran. Paspor kami pun saat masuk dicap oleh imigrasi Iran di border Mirjaveh. Visanya pun resmi dikeluarkan pemerintah Iran. Kami memiliki bukti soft copy dan cetak.
Kami menjelaskan detail kronologi saat memasuki wilayah Iran pos lintas perbatasan Mirjaveh pada 24 Oktober 2023. Saat itu, sistem komputer pada imigrasi bermasalah. Kami menunggu hingga lebih dari 26 jam pun, gangguan tersebut tak terselesaikan.
Melihat situasi tersebut, petugas imigrasi di Marjaveh melayani kami menggunakan sistem manual. Paspor dicap resmi. Kami pun masuk wilayah Iran.
baca juga:
Dongkrak Raja Ampat, Pelita Air Terbang Langsung Jakarta-Sorong
Namun setelah komputer normal, kami menduga petugas imigrasi tidak memasukan data kami ke sistem komputer. Akibatnya, terjadi data yang tidak sinkron tersebut. Kesalahan ini murni pada petugas imigrasi bukan pemilik paspor.
Akan tetapi, petugas imigrasi di Razi perlu melakukan klarifikasi ke kantor pusat Imigrasi Iran. Proses klarifikasi tersebut berlangsung cukup lama. Menjelang pukul 16.00 barulah urusan tersebut tuntas, dan kami resmi meninggalkan Iran menuju Turki.
Bayangkan, betapa lamanya kami menunggu. Padahal, kesalahan bukan ada pada kami, melainkan petugas imigrasi Iran. Mereka melakukan kelalain yang fatal.
Bongkar barang
Setelah itu, kami langsung masuk ke border Turki, yakni Kapikoy. Urusan di imigrasi lancar, sebab warga Indonesia bebas visa. Tetapi saat di Bea dan Cukai untuk urusan Carnet de Passages en Douane (CPD) bagi mobil pengiring yang ribet. Petugas instansi tersebut meminta kami mengeluarkan semua barang dengan segala isinya dari mobil. Mereka ingin memeriksa satu demi satu barang.
Sebetulnya permintaan ini cukup mengagetkan. Karena ini adalah permintaan yang baru pertama kali sejak keberangkatan dari Jakarta. Di negara-negara sebelumnya, seperti di China, Pakistan dan lainnya, petugas Bea dan Cukai tidak pernah meminta pembongkaran barang dari mobil.

Tetapi, kami pun menuruti permintaan mereka. Satu demi satu barang kami turunkan dari mobil, kemudian mengeluarkan dari tas dan kontak yang ada. Lagipula semua barang yang ada tak satu pun yang melanggar hukum.
Mereka pun memeriksa dengan detail. Satu per satu barang dicek. Alhasil, sekitar pukul 20.00 barulah kami keluar dari border Kapikoy. Jadi, kami berada di border tersebut selama empat jam. Turki menjadi negara ke-11 yang saya lewati sejak dari Jakarta pada 8 Juli 2023.
Jadi, kami menghabiskan waktu selama sembilan jam berada di border Razi (Iran) dan Kapikoy (Turki). Sungguh melelahkan dan menguras emosi.
Malam itu, kami langsung menuju kota Van, sekitar 100 kilometer dari Kapikoy. Tiba di kota itu sekitar pukul 21.30. Kami pun beristirahat di kota ini, memulihkan fisik dan psikis yang terkuras sangat banyak saat di pos perbatasan negara Iran-Turki.
Di kota ini juga ada Danau Van merupakan yang terbesar di Turki. Danau ini memiliki panjang sekitar 120 kilometer dan lebar 80 kilometer. Terletak pada ketinggian 1.719 meter di atas permukaan laut (mdpl). Panoramanya sangat indah. Dari kejauhan selalu tampak salju yang menyelimuti kawasan pegunungan yang mengelilingi danau tersebut. (bersambung)
editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (25): Masih Berjuang Dapatkan Visa Uni Eropa


2 Komentar
Sehat terus Pak Jenderal
Pingback: Catatan Royke Lumowa (27): Mulai Berteman dengan Dingin dan Salju - blalak.com