Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (46): Kembali ke Den Haag untuk Ikut Pemilu
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (46): Kembali ke Den Haag untuk Ikut Pemilu

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJuli 4, 2024Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Royke Lumowa mengikuti pencoblosan Pemilu 2024 di Den Haag Belanda. KBRI menggelar pemilu itu untuk warga Indonesia yang berdomisili di negara itu. Foto: Arsip Royke Lumowa.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Oleh ROYKE LUMOWA

Pemilihan Umum pada Februari 2024 menjadi yang pertama kali untuk saya ikut memilih calon presiden dan calon wakil presiden serta anggota legislatif setelah pensiun dari anggota Kepolisian Republik Indonesia. Itu sebabnya, saya berupaya agar momentum ini tidak terlewatkan sekalipun persoalam selama touring sepeda begitu banyak. Den Haag menjadi pilihan lokasi untuk berpartisipasi dalam pemilu ini.

Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda memutuskan menggelar pemungutan suara bagi warga Indonesia di negara itu pada Sabtu, 10 Februari 2024. Waktunya empat hari lebih cepat dari jadwal pemilu di Indonesia, yakni 14 Februari 2024.

Saya dan kru pun sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti pemilu di Den Haag. Panitia pemilihan setempat menerima dan memasukan kami dalam daftar pemilih tetap.

Kembali ke Den Haag

Maka, pada Jumat, 9 Februari 2024 saya memutuskan melanjutkan bersepeda dari Utrecht ke Den Haag. Ini adalah perjalanan saya yang kedua ke kota ini. Sebelumnya saya berangkat dari Amsterdam. Ketika itu saya ingin bertemu Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda Pak Mayertast sekaligus mendaftarkan diri untuk ikut pemilu.

Jarak perjalanan dari Utrecht ke Den Haag tidak jauh. Hanya sekitar 69 kilometer dengan total ketinggian 179 meter. Artinya, kontur jalan yang saya lalui adalah datar.

Inilah suasana di tempat pemungutan suara dalam pemilihan umum di KBRI Belanda di Den Haag, Foto: Arsip Royke Lumowa

Cuaca pagi itu di Kota Utrecht mendung dan hujan gerimis dengan suhu 2 derajat celcius. Saya memilih menggunakan pakaian anti hujan seperti jaket, tutup kepala, termasuk sepatu ditutup dengan lapisan anti hujan pula.

Mengayuh sepeda mulai pada pukul 08.51. Perjalanan kali ini hanya memiliki satu tujuan yakni ingin mengikuti pemungutan suara pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2024 yang dilakukan KBRI Den Haag atau KBRI Belanda.

Hari itu bertepatan dengan hari raya Imlek. Suasana Imlek di Belanda juga cukup meriah. Ada tiga kota yang sangat meriah merayakan Imlek, yakni Amsterdam, Den Haag dan Roterdam. Ada pentas tarian barongsai, pesta kembang api dan atribut-atribut lainnya.

Dalam perjalanan ke Den Haag, saya melewati ladang rumput yang luas dengan air yang dibiarkan mengalir melalui parit, kanal dan sungai-sungai kecil sebagaimana tampak di tempat lain di Belanda. Air bebas bergerak kemana pun tanpa mengalami hambatan dengan menggenangi lokasi tertentu dan menjadi rawa. Jika terpaksa harus ditampung, maka akan dibuatkan danau.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (33): Malam Natal yang Syahdu di Beograd

Tampak pula itik dan bebek leluasa bergerak tanpa khawatir dengan ulah manusia. Kehidupan seperti ini menandakan lingkungan yang bersih dan terpelihara baik di wilayah daratan. Demikian pula air yang mengalir dan keadaan udara yang bebas dari polusi.

Balai Kota Gouda

Menuju Den Haag, saya melewati beberapa kota. Salah satu di antaranya adalah kota Gouda. Sampai di kota ini saya mencoba masuk ke pusat kota atau sentrum. Di sana ada bangunan yang cukup fenomenal adalah Stadhuis van Gouda yang terletak di tengah kota di alun-alun kecil.

Stadhuis van Gouda adalah gedung balai kota yang dibangun pada abad 15. Gedung dengan arsitektur khas Eropa menyerupai gedung gereja kuno sungguh menarik. Keunikan ini selalu menarik wisatawan untuk melihat dari dekat.

Saat saya tiba, kondisi udara sedang mendung dan hujan tipis. Namun saya tetap termotivasi untuk mengabadikan keunikan dan keindahan balai kota ini dalam gambar dan video. Di halaman gedung, tampak begitu banyak burung merpati yang berterbangan. Ada yang terbang mendekati saya. Saya pun mencoba menyapa dan bermain dengan merpati.

Bertemu dengan sejumlah pelajar di Balai Kota Gouda, Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa

Saat saya bermain dengan burung-burung itu datanglah 4 remaja. Mereka cukup penasaran dengan saya yang memiliki warna kulit yang berbeda, membawa sepeda dan mengenakan pakaian sepeda berada di lokasi itu.

Mereka kemudian mendekat, dan langsung berkenalan. Saya pun antusias melayani mereka. Kami langsung terlibat dalam percakapan.

Setelah mengetahui bahwa saya sedang melakukan perjalanan bersepeda dari Indonesia hingga Eropa, mereka semakin penasaran. Rasa ingin tahu tentang perjalanan saya menjadi begitu tinggi.

Ada yang menanyakan motivasi melakukan touring yang sangat jauh ini? Sudah berapa lama bersepeda? Perjalanan melewati negara mana saja? Negara mana yang paling menarik dan berkesan? Kapan menyelesaikan perjalanan? Apakah tidak lelah? Bagaimana mengelola perjalanan?

Pertanyaan-pertanyaan ini hampir sama dengan yang ditanyakan orang lain di lokasi atau negara-negara sebelumnya. Akan tetapi, saya tidak pernah bosan untuk menjawab. Saya malah sangat senang dengan antusiasme mereka. Hal itu menandakan mereka ingin menjalin persahabatan.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (23): Sejumlah Barang Kami Raib di Iran

Banyak lapangan bola

Saya juga menyapa sejumlah teman mereka yang berada tidak jauh dari kami. Sebelum berpisah, kami pun berfoto bersama.

Bagi saya, menyapa warga sepanjang perjalanan adalah bagian dari upaya menjalin persahabatan antarbangsa dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia yang abadi. Di dalam pembukaan UUD 1945 telah ditegaskan bahwa Indonesia selalu siap menciptakan perdamaian abadi.

Selanjutnya saya bergerak ke arah Den Haag agar tidak kemalaman tiba di kota itu. Dalam perjalanan saya menghadapi hembusan angin dari depan yang cukup kencang. Hal ini membuat laju kayuhan saya pun sedikit melambat.

Kabarnya, bulan Februari selalu terjadi angin yang lumayan kencang di Belanda. Jika mendapatkan angin bergerak dari belakang, maka akan ikut mendorong laju perjalanan. Akan tetapi, pengalaman selama ini menunjukkan hembusan angin lebih banyak dari depan. Mungkin sekitar 80 persen.

Bertemu dengan tante Hernie (kanan) dan tante Tina (kiri). Dua warga Indonesia yang sedang berdomisili di Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa

Di tengah perjalanan ini, saya juga melihat begitu banyak lapangan sepak bola di wilayah pedesaan. Lapangan-lapangan itu tertata dan termanfaatkan dengan baik oleh warga setempat. Pantas saja, Belanda selalu berada di papan atas negara-negara yang jago bola.

Menjelang sore, saya sudah tiba di Den Haag. Sore itu saya bertemu dengan teman  sepeda di Jakarta yang sering ke Belanda yakni tante Hernie dan temannya tante Tina. Saya dijamu makan malam. Kami bercerita tentang perjalanan saya. Bahkan, saya juga mencoba menggali informasi tentang Belanda dari mereka.

Ikut pemilu

Keesokan harinya, Sabtu, 10 Februari, saya mengikuti pemungutan suara pilpres 2024. Saya ikut coblos. Ini adalah coblos saya kedua kali selama hidup. Pertama kali saya ikut memiliih dalam pemilu tahun 1982 saat kelas III Sekolah Menengah Atas (SMA) di Ujung Pandang (kini Makassar).

KBRI menyelenggarakan pemungiutan suara di De Broodfabriek Expo. Gedungnya sangat luas. Sering digunakan untuk acara pameran. Tersedia tujuh tempat pemungutan suara (TPS) di dalam gedung itu.

BACA JUGA:  Komisi III DPR Bentuk Panja untuk Kawal Netralitas Polri
Royke Lumowa mengikuti pencoblosan Pemilu 2024 di Den Haag Belanda. KBRI menggelar pemilu itu untuk warga Indonesia yang berdomisili di negara itu. Foto: Arsip Royke Lumowa.

Warga Indonesia yang datang memilih sekitar 4.000 orang. Jumlah ini sebetulnya jauh di bawah daftar pemilih tetap (DPT). Pemungutran dibuka jam 8 pagi dan selesai pada pukul 16.00. Panitia bekerja sampai malam. Turut hadir Dubes Belanda Pak Mayerfast.

Masyarakat Indonesia di Belanda sangat antusias mengikuti pencoblosan ini dan semua berjalan lancar dan tertib. Saya sangat bahagia karena telah ikut memilih. Apalagi, dalam pencoblosan pertama ini saya lakukan di Den Haag. Pengalaman yang mungkin tak terulang kembali.

Saya sempat berdialog dengan warga yang ikut memilih. Mereka menegaskan tidak ada rayuan, godaan apalagi bayaran atau intimidasi untuk memilih pasangan calon tertentu. Jadi hasil pemungutan suara tersebut adalah murni dari suara hati kata mereka.

Di lokasi pemungutan suara tersedia bazar yang menjual aneka kuliner khas Indonesia. Sungguh sangat ramai, penuh sesak. Saya senang karena dapat bertemu dengan orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda. Banyak yang bertanya dan kagum melihat ada sepeda dan mobil bernomor polisi B berada di Belanda.

Misa bahasa Indonesia

Malam hari setelah makan malam, mobil pengiring tidak bisa starter sehingga kami harus panggil montir online untuk memperbaiki.  Dia mencoba memperbaiki tetapi gagal sehingga disarankan agar mobil dibawah ke bengkel.

Setelah diderek menuju bengkel, ternyata bengkel tidak beroperasi pada hari Sabtu. Namun pemilik bengkel mengijinkan kami memarkirkan mobil  di lokasi tersebut selama Sabtu dan Minggu.

Mereka mulai mengerjakan pada Senin. Perbaikan mobil berlangsung hingga Rabu. Mobil mengalami gangguan pada sistem elektrik. Bukan mesin. Biaya perbaikan sebesar 300 euro.

Pada Minggu 11 Februari 2024, saya mengikuti misa di Rijwikj, selatan Den Haag. Misa di Gereja Saint Benedict and Bernadette bersama om Bob Mantiri dan tante Irene, istrinya. Uniknya misa ini khusus berbahasa Indonesia, umat yang hadir mayoritas orang Indonesia. Bahkan, romo yang memimpin misa pun orang Flores yang sudah lama bertugas di Belanda. Menarik sekali. Sebuah pengalaman yang luar biasa.

Selesai misa, om Bob dab tante Irene menaktrir saya makan siang. Kami makan di sebuah restoran Indonesia bernama cenderawasih yang letaknya tidak jauh dari gereja juga. Kami berjalan kaki sekitar 500 meter.

Om  Bob Mantiri adalah mantan wartawan senior di Belanda berusia 85 tahun masih kuat berjalan kaki meski mulai pelan. Tante Irene terlihat lebih gesit dan energik.

editor: JANNES EUDES WAWA

Catatan Royke Lumowa (45): Mengunjungi Sekolah Polantas di Apeldoorn, Belanda

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.