Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (45): Mengunjungi Sekolah Polantas di Apeldoorn, Belanda
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (45): Mengunjungi Sekolah Polantas di Apeldoorn, Belanda

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJuli 2, 20241 Komentar7 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Berfoto di depan Akademi Polisi Apeldoom, Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Oleh ROYKE LUMOWA

Kota Apeldoorn di Belanda sangat populer di kalangan anggota polisi lalu lintas di Indonesia. Di sana ada sekolah polisi lalu lintas yang sangat terkenal. Sebagian perwira polisi lalu lintas Indonesia pun menempuh pendidikan di sekolah itu selama 10 angkatan.

Cerita tentang Sekolah Polisi Lalu Lintas di Apeldoorn pun tak ada habisnya. Cerita itu terus bergema dari tahun ke tahun hingga sekarang. Bahkan, dari sana pula tercetus gagasan pendirian Sekolah Polisi Lalu Lintas di Serpong.

Nama Apeldoorn pun selalu terngiang dalam setiap benak anggota polisi lalu lintas, termasuk saya. Timbul rasa penarasan selama bertahun-tahun tentang kota dan sekolahnya, dan baru kali ini terjawab dengan mengunjungi langsung melalui bersepeda.

Warung Barokah

Sekembali dari bersepeda ke Volendam, sebuah desa nelayan sebelah di timur laut Amsterdam, pada Senin, 5 Februari 2024, kami memilih menginap di kawasan Bullewijk, Kota Amsterdam. Di situ, ada penginapan bernama Hotel Joy. Tarifnya hanya 70 euro per malam.

Tarif ini terbilang murah untuk di Amsterdam, sebab hotelnya bersih, bagus, bebas biaya parkir dan tersedia sarapan pagi. Jarak dengan stasiun kereta dalam kota pun dekat. Hotel lain yang setara  harganya minimal 100 euro. Namun tidak bebas parkir.

Pada Selasa, 6 Februari 2024, saya memilih bertahan di dalam kota Amsterdam. Siang itu saya sempat bersepeda, tetapi hanya mencari makan, yakni di Restoran Barokah.

Berjumlah dengan para mahasiswa. Kami berkenalan dan berfoto bersama. Mereka memberikan apresiasi atas semangat saya bersepeda dari Indonesia ke Eropa. Foto: Arsip Royke Lumowa.

Selepas pukul 11.00, saya mulai mengayuh sepeda dari Hotel Joy. Melewati beberapa persimpangan dan kanal menuju ke Restoran Barokah. Suhu udara sekitar 10 derajat celcius. Udara pun bersih dan langit tampak cerah.

Saya pun terus melaju. Akan tetapi kayuhan cukup terukur sebab sambil menikmati keindahan dan suasana Kota Amsterdam yang sangat ramah terhadap pesepeda dan pejalan kaki. Hanya membutuhkan waktu sekitar 35 menit, saya pun tiba di Restoran Barokah.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (43): Pulau di Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam

Selesai makan, saya memilih jalur yang berbeda untuk kembali ke Hotel Joy. Jarak kedua lokasi hanya 12 kilometer. Tetapi, gowes siang itu saya sengaja memutar ke sejumlah titik sehingga total perjalanan mencapai 27,2 kilometer.

Menjawab penasaran

Hari berikutnya, yakni Rabu, 7 Februari 2024 barangkali menjadi hari bersejarah juga untuk saya. Hari itu, untuk pertama kalinya pula saya mengunjungi Apeldoorn yang berada di sebelah timur Amsterdam. Saya ingin menjawab rasa penasaran yang telah bertahun-tahun mengendap dalam hati.

Suasana pagi itu agak dingin, sebab temperature udara hanya 2 derajat celcius. Akan tetapi, tidak menghalangi semangat dan niat saya untuk mengayuh sepeda menuju ke kota yang menjadi pusat pendidikan polisi lalu lintas yang tertua di dunia.

Di masa lalu, para perwira polisi lalu lintas di Indonesia wajib mengikuti Pendidikan pada Sekolah Lalu Lintas di Apeldoorn. Setelah selesai pendidikan, mereka menjadi guru atau instruktur pada Pusat Pelatihan Polisi Lalu Lintas Polri di Serpong selama dua tahun.

Setiap kali mereka mengajar tidak lupa selalu meceritakan tentang sekolah polisi lalu lintas di Apeldoorn. Itu sebabnya, saya pun selalu penasaran luar biasa.

Ada 10 angkatan yang pernah mengenyam pendidikan pada Politie Verkeer Instituut (PVI) Apeldoorn tersebut. Setelah itu, Polri fokus membenahi Pusat Pelatihan Polisi Lalu Lintas, termasuk untuk para perwira sehingga pengiriman pendidikan di Apeldoorn pun diakhiri. Ide pengembangan pendidikan bagi perwira polisi lalu lintas Polri di Serpong adalah Irjen (Purn) bapak Sonny Harsono. Maka, gowes menuju Apeldoorn, saya dedikasikan untuk Pak Sonny Harsono.

Royke Lumowa bersepeda menuju Kota Apeldoom. Di kota ini berdiri seolah polisi lalu lintas tertua di dunia. Foto: Arsip Royke Lumowa

Hasil pencarian melalui google menunjukkan jarak dari Hotel Joy menuju Apeldoorn sejauh 85,41 kilometer. Lumayan jauh. Itu sebabnya sekitar jam 08.30, saya pun memulai bersepeda.

Rute perjalanannya ternyata tidak sedatar menuju Den Haag atau Volendam, Jalur ini agak menanjak dengan melewati beberapa bukit. Lumayan menguras energi dan sedikit mengagetkan. Maklum setelah memasuki wilayah Eropa barat, kayuhan saya tidak lagi melewati tanjakan yang berat.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (15): Nepal-China Bagai Bumi dan Langit

Arah timur

Dari Amsterdam, saya bergerak ke arah timur melewati sejumlah taman besar dan luas. Sebut saja Taman Nelson Mandela, Taman Baras, dan Taman De Riethoek. Taman-taman ini saking luasnya mengijinkan sepeda masuk dan bermain di dalamnya. Saya juga sempat melewati Danau Gaasperplas dan beberapa taman di sekelilingnya yang menawan.

Menariknya lagi, yang boleh melewati taman-taman yang ada hanya pejalan kaki dan pesepeda. Hal ini membuat warga benar-benar menikmati suasana alam dan keindahannya.

Dalam rute perjalanan ini, saya melewati sejumlah kota kecil yakni Weesp, Bussum, Hilversum, Baam,Bunschoten, Ninjkerk, Voorthouzen, Garderen, Niew Milligen. Kota-kota ini setara dengan kota kecamatan di Indonesia. Akan tetapi, kebersihan dan kerapian tidak kalah dengan kota besar  di Belanda.

Transportasi antarkota selalu terhubung dengan kereta. Di semua stasiun kereta tersedia tempat parkir sepeda. Para pekerja, pelajar dan mahasiswa dari kota-kota tersebut dapat memarkirkan sepeda di stasiun kemudian naik kereta menuju ke kota tujuan.

Berfoto di depan Akademi Polisi Apeldoom, Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa

Dalam terminologi transportasi hal tersebut disebut dengan Park And Ride. Moda transportasi sepeda yang menyambung dengan kereta atau bus. Pemerintah menyediakan tempat parkir yang memadai, aman dan nyaman. Ini salah satu strategi untuk mengurangi kendaraan pribadi di jalan raya agar mengurangi kemacetan.

Jadi masyarakat dipicu dan terpacu untuk menggunakan angkutan umum. Fasilitas wajib disediakan pemerintah.

Lapangan bola

Sepanjang perjalanan juga tampak cukup banyak lapangan bola tersebar di beberapa wilayah. Lapangan bola ini sering saya jumpai selama bersepeda di Jerman dan Belanda. Pantas saja negara-negara tersebut melahirkan banyak pemain bola hebat di dunia.

Menjelang tiba di Kota Alepdoorn tanjakan masih ada. Kemiringan mendekati empat derajat. Saya tiba pada sore hari. Total ketinggian gowes hari itu mencapai 203 meter.

Setelah beristirahat sejenak di hotel, saya lalu mencoba mencari melalui google, restoran Indonesia di kota ini. Ternyata ada juga. Namanya Restoran Mas Surabaya.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (1): Dukungan Komunitas Gelorakan Semangat Saya

Lokasinya tidak terlalu jauh dari penginapan. Kami pun langsung berangkat. Lumayan banyak menu yang ditawarkan. Rasanya tidak kalah enak dengan restoran Indonesia lainnya di Belanda. Saya pesan nasi campur harganya 14 euro.

Akhirnya kesampaian

Besoknya, Rabu, 8 Februari 2024, saya gowes dari Apeldoorn menuju ke Utrecht, arah ke barat lagi. Kota ini ada di selatan Amsterdam. Jarak 71,22 km, suhu semakin rendah yakni minus 2 derajat celcius. Saya memutuskan berangkat pukul 09.00.

Pagi itu, mula-mula saya bersepeda menuju sekolah polisi yang kini bernama Politie Academie. Jaraknya hanya 2 kilometer dari penginapan.

Di kampus ini pengunjung dapat masuk dengan bebas tetapi hanya sampai di gedung utama. Tidak bisa masuk hingga ke dalam. Di halaman gedung utama saya sempat menyapa seorang ibu. Ternyata dia adalah dosen pada akademi tersebut.

Berbincang dengan sejumlah perwira polisi yang sedang sekolah pada Akademi Polisi Apeldoom. Foto: Arsip Royke Lumowa

Saya sempat memperkenalkan diri sebagai purnawirawan polisi. Saya juga bercerita bahwa banyak guru saya pada sekolah polisi lalu lintas di Indonesia pernah menimbah ilmu di Politie Verkeer Instituut (PVI) Apeldoorn. Ibu juga sangat antusias.

Tidak lama kemudian saya berjumpa pula dengan beberapa taruna. Mereka pun menanyakan tentang siapa saya dan perjalanan saya di Eropa. Sekilas saya menjelaskan soal perjalanan bersepeda yang saya lakukan sejak 8 Juli 2023 dari Jakarta. Salah satu misi utama adalah mengajak masyarakat dunia untuk menyelamatnya bumi melalui aktivitas ramah lingkungan. Salah satunya melalui bersepeda kemana pun pergi.

Mendengar kisah perjalanan saya yang sudah cukup jauh dengan melewati ribuan kilometer, mereka pun kagum. Ada yang seperti tidak percaya bahwa ada orang yang tidak muda lagi masih mampu bersepeda dari Jakarta hingga Amsterdam dengan menghadapi cuaca dingin dan salju tebal.

Kami akhirnya berfoto bersama di depan kampus. Saya sungguh puas dan bahagia, akhirnya menginjakkan kaki di sekolah kebanggaan para polisi lalu lintas. Lebih keren lagi yakni saya datang ke sekolah yang amat bergengsi dengan memiliki reputasi tinggi ini dengan bersepeda.

Selepas itu, saya melanjutkan bersepeda menuju ke Utrecht. Tiba di kota yang berada di Selatan Amsterdam pada siang menjelang sore.

editor: JANNES EUDES WAWA

Catatan Royke Lumowa (44): Empat Kali Gratis di Amsterdam

 

 

 

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Catatan Royke Lumowa (46): Kembali ke Den Haag untuk Ikut Pemilu - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.