Catatan ROYKE LUMOWA (1)
Setelah hampir semua wilayah di Indonesia saya datangi dengan bersepeda, timbul niat untuk melanjutkan gowes hingga ke Eropa. Akan tetapi, niat itu hanya terpendam dalam mimpi. Ada sangsi, sebab perjalanan ini sangat panjang dan memakan waktu lama. Apalagi, “visa” dari rumah belum juga turun.
Beberapa pekan setelah menyelesaikan studi doktoral pada Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia pada 31 Desember 2022, izin dari keluarga untuk mengayuh sepeda ke Eropa pun akhirnya saya dapatkan. Inilah modal terbesar saya untuk merealisasikan mimpi itu. Sejak itu pula saya mulai menyiapkan diri. Mematangkan segala rencana secara detail bersama sejumlah teman di Jakarta.

Sabtu, 8 Juli 2023, menjadi hari bersejarah dalam hidup saya. Hari itu, saya akhirnya merealisasikan impian mengayuh sepeda dari Jakarta ke Paris (Perancis). Ada rasa haru dan bahagia. Tidak lupa memohon penyelenggaraan Ilahi agar perjalanan selama kurang lebih 481 hari melewati 47 negara ini mampu berjalan dengan lancar, serta dijauhkan dari segala rintangan.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melepas perjalanan bersepeda yang panjang ini di lokasi pelepasan yakni pintu barat daya pelataran Monumen Nasional (Monas). Hadir pula perwakilan dari sejumlah kementerian terkait dan sekitar 500an pesepeda dari sejumlah komunitas di Jabodetabek dan kota lainnya, serta manajemen Indika Energi selalu sponsor utama. Acara ini bersamaan dengan pencanangan Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) tahun 2023 yang ditangani Kementerian Perhubungan.
Saya tidak menduga antusiasme pemerintah pusat dan komunitas sepeda begitu besar. Tersirat adanya kebanggaan yang besar. Mungkin karena selama ini nyaris belum ada orang Indonesia yang rela bersepeda dari negara ini hingga ke Eropa.

Sebaliknya orang Eropa yang bersepeda dari negaranya hingga di Indonesia tidak terhitung lagi jumlahnya. Padahal, kalau kita memiliki keinginan, semangat, motivasi dan tekad yang kuat, kita pun pasti bisa! Kita tidak kalah dengan orang-orang Eropa. Saya ingin membuktikan itu.
Sempat kewalahan
Sekitar pukul 07.30 WIB, saya memulai perjalanan bersejarah ini. Setelah melewati Hotel Indonesia, sebagian besar peserta kembali ke Monas, dan menyisahkan sekitar 63 pesepeda melanjutkan kayuhan bersama saya. Di Merak, sebagian dari mereka kembali ke Jakarta, dan menyisahkan lagi 23 orang yang menyeberang dan bersepeda hingga di Bandar Lampung.
Dari Monas, lalu Hotel Indonesia dan Simpang Semanggi, perjalanan menuju arah Senayan, Slipi, Daan Mogot, melewati Tangerang, Cilegon dan Merak. Meski menggunakan sepeda jenis balap (road bike), saya berencana mengayuh dengan kecepatan tidak lebih dari 30 kilometer per jam. Saya harus menjaga kecepatan dan mengelola emosi dengan baik, sebab perjalanan masih sangat jauh sehingga ketahanan fisik dan mental yang kuat.
Akan tetapi, setelah melewati Slipi, sejumlah pesepeda terus menyundul dan berkali-kali mencoba melewati marshal. Akhirnya, marshal pun kalah, lalu mereka mengayuh makin kencang. Malah mencapai 40 kilometer per jam, bahkan lebih. Saya pun sempat kewalahan.

Beruntung Jelajah Bike selaku mengelola perjalanan rute Monas-Bandar Lampung menempatkan water station (WS) pada setiap 30 kilometer sehingga saya mendapatkan celah untuk beristirahat sejenak. Saya sempat menyampaikan kepada para marshal bahwa perjalanan masih jauh dan masih lama sehingga saya perlu mengendalikan kecepatan. Tidak boleh terlalu bernafsu.
Perjalanan sempat tersendat di sejumlah titik gara-gara adanya kemacetan lalu lintas akibat perbaikan jalan dan pasar tumpah. Akibatnya, waktu tiba di Merak (Banten) molor. Semula kami merencanakan penyeberangan dari Merak ke Bakauhuni pada pukul 14.00 WIB ternyata baru bisa terlaksana pukul 16.00 WIB.
Saat mau menaiki kapal fery, tim saya mengalami kendala. Sebuah motor listrik dan satu sepeda yang terangkut di belakang mobil pengiring, oleh petugas di Pelabuhan Merak meminta diturunkan. Katanya, sepeda motor listrik dan sepeda harus melekat dengan pengguna. Argumentasi yang disampaikan kru tidak efektif, Petugas tetap ngotot minta kedua barang ini diturunkan, lalu dibeli tiket tersendiri.
Antrian panjang
Sementara antrian kendaraan bermotor yang mau menaiki kapal fery begitu panjang. Kondisi ini pula yang membuat saya bersama teman-teman pesepeda harus berbeda kapal dengan kru pendukung. Kapal kami bertolak pukul 16.00 WIB, sedangkan kapal yang dinaiki kru berangkat sejam berikutnya. Kami menggunakan kapal fery ekspres yang mana lama pelayaran kurang lebih satu jam.
Saya mencoba telusuri pemicunya. Kabarnya, petugas tersebut bukan pegawai di Pelabuhan Merak. Dia calo yang selama ini “dipelihara” petugas pelabuhan. Calo cukup banyak beroperasi di Merak.

Keterlambatan pemberangkatan dari Merak mempengaruhi rangkaian perjalanan menuju tempat finis hari pertama, yakni Hotel Grand Elty Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Kapal kami tiba di Bakauhuni sekitar pukul 17.00 WIB, tetapi kami baru bisa keluar dari kawasan pelabuhan sekitar pukul 17.20 WIB. Kami tetap melanjutkan gowes, dan tiba di finish sekitar pukul 20.00 WIB.
Hari kedua, saya bersama 20an pesepeda dari Jakarta melanjutkan menuju Bandar Lampung. Pagi itu bergabung pula 20 pesepeda setempat. Jaraknya 72 kilometer. Medannya tidak terlalu berat. Sempat melewati beberapa tanjakan pendek dengan gradian tidak lebih dari 10 derajat.

Hari itu, finis di Wisma Bandar Lampung. Di sana, kami makan siang bersama. Para pesepeda yang mengiringi saya mulai dari Monas membersihkan diri, dan bersiap untuk kembali ke Jakarta menggunakan bus.
Begitu bus mulai berangkat, saya mulai merasa sepi. Ada sesuatu yang hilang. Canda dan tawa selama perjalanan mulai dari Monas tidak lagi terdengar.
Memulai tantangan
Keesokan harinya, yakni saya mengayuh dari Bandar Lampung menuju Mesuji. Jarak yang ditempu sekitar 182 kilometer sehingga saya memutuskan berangkat pukul 06.00 WIB.
Pagi itu, Kota Bandar Lampung dan sekitarnya diguyur hujan cukup deras. Hujan ini terjadi sejak Minggu tengah malam. Sepanjang malam tidak pernah berhenti. Meski begitu, saya memutuskan tetap mengayuh sepeda. Maklum, kita sulit memprediksi kapan hujan ini akan berhenti.
Memang, bagi para pesepeda halangan terbesar yang dihadapi adalah adanya hujan saat hendak memulai gowes, terutama pada pagi hari. Ragu dan bimbang selalu saja datang menghantui. Hal ini membutuhkan tekad yang kuat untuk menghalaunya.
Saya pun tidak pedulikan hujan. Saya tetap mengayuh sepeda. Pagi itu saya ditemani Dede Supriatna alias kang Dede, pesepeda asal Bandung yang cukup lama berdomosili di Kota Bandar Lampung. Lalu ada pula mas Sudarnono, teman angkatan saya di Akabri tahun 1987. Kami melaju di tengah guyuran hujan.

Setelah 30 kilometer mengayuh sepeda, kang Dede dan mas Sudarsono pun pamit. Keduanya kembali ke Bandar Lampung. Tinggallah saya sendiri. Saya memulai gowes seorang diri. Ada rasa haru dan sepi. Tetapi di sinilah saya memulau tantangan sesungguhnya.
Selama perjalanan terus menghadapi gerimis, mendung, hujan. Bahkan, menjelang siang, hujan semakin deras. Saya pun mengurangi kecepatan, sebab jarak pandang pun kian pendek. Di samping perlu berjaga-jaga terhadap jalan rusak. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk makan dan istirahat. Sekitar pukul 16.45 WIB, saya pun tiba di Mesuji.
Dari Mesuji, saya melanjutkan perjalanan ke Palembang, ibukota Provinsi Sumatera Selatan, pada hari keempat. Dari google maap, jarak Mesuji hingga Jakabaring sejauh 175 kilometer. Ternyata faktanya mencapai 195 kilometer. Saya masuk penginapan sekitar pukul 20.00 WIB.
Meski jaraknya jauh, tetapi perjalanan hari keempat terasa lebih ringan. Meski di sepanjang jalan, saya lagi-lagi menghadapi cuaca yang tidak menentu. Paginya suhu udara sempat panas, tetapi menjelang siang mulai mendung dan hujan lebat. Cuaca seperti ini sedikit menolong, sebab terhindari dari sengatan matahari yang selalu dikeluhkan para pelintas di jalur lintas timur Sumatera.
Kualitas air turun
Di Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Kasat Lantas Polres setempat mengajak saya makan siang di sebuah rumah makan. Dulu, sebelum ada jalan tol, rumah makan itu selalu ramai pengunjung. Setelah beroperasi jalan tol, restoran ini pun sepi. Padahal, makanannya tergolong enak dan lezat. Pedagang dan pemilik restoran di Cikampek dan sekitarnya yang gulung tikar setelah beroperasinya jalan tol Cipularang.
Sekitar 30 kilometer menjelang Kota Palembang, sejumlah pesepeda di Palembang menjemput saya. Kami gowes bersama menuju salah satu hotel di Jakabaring, tempat saya dan kru menginap. Dari Palembang, saya akan menuju Sungai Lilin. Menginap semalam lalu ke Kota Jambi.

Di Palembang dan Jambi saya melewati dua sungai besar yang melegenda. Sungai Musi dan Sungai Batanghari. Kedua sungai ini mengalami penurunan kualitas air yang cukup tajam. Warna air semakin keruh. Belum lagi masyarakat setempat selalu mempelakukan sungai sebagai bagian belakang rumah sehingga cenderung menjadi tempat pembuangan sampah.
Perjalanan dari Monas hingga Jambi, saya mendapat dukungan yang luar biasa dari sahabat, keluarga, warga dan komunitas sepeda. Tidak sedikit pula yang mengirimkan pesan yang intinya memberi motivasi.
Saya juga bangga dan bahagia dengan perhatian dan kepedulian dari para anggota Polri yang datang menyapa, mengawal bahkan menjamu makan. Perhatian dan antusiasme mereka menebalkan semangat saya untuk menuntaskan mimpi bersepeda hingga di Paris. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Baca juga:


1 Komentar
Pingback: Lintas Timur Sumatera, Perbukitan Seribu - blalak.com