Catatan ROYKE LUMOWA (2)
Cerita tentang lintas timur Sumatera yang panas, sudah sering saya dengar. Tetapi, saya juga tidak punya pilihan, sebab untuk menuju ke Batam yang menjadi pintu keluar dari Indonesia, harus melewati lintasan tersebut. Itu sebabnya dari Lampung saya menjalani rute tersebut agar bisa menyesuaikan keadaan.
Meski suhu udara yang panas sudah terasa sejak berada di wilayah Mesuji, tetapi mengayuh sepeda di lintas timur Provinsi Lampung relatif lebih bersahabat. Di jalur ini, arus kendaraan, terutama truk mulai berkurang, menyusul beroperasinya jalan tol atau jalan bebas hambatan. Banyak truk dari Lampung menuju Palembang, atau sebaliknya lebih memilih masuk tol.
Dampaknya, arus kendaraan pada jalan reguler agak longgar. Bersepeda pun terasa nyaman dan menyenangkan, meski suhu udara tetap panas, dan pemandangan umumnya berupa perkebunan kelapa sawit.

Kondisi terasa menyebalkan saat dari Palembang menuju Jambi. Rute ini saya tempuh selama dua hari. Hari pertama, yakni Rabu (12/7/2023), rute Palembang-Sungai Lilin. Dalam google maap terdata sejauh 129 kilometer. Grafik perjalanan pun cenderung datar. Tetapi total ketinggian (elevation gain) mencapai 1.108 meter.
Artinya, jalan di rute ini lebih banyak rolling (turunan disertai tanjakan pendek dan sedang). Lumayan berat. Apalagi sepanjang jalan, suhu panasnya terasa menyengat. Dalam garmin terdata suhu udara mencapai 40 derajat Celsius. Para pesepeda cenderung menghindari, sebab mengayuh sepeda pada suhu seperti itu berpeluang mengalami dehidrasi yang serius.
Jembatan Ampera
Di Palembang, kami menginap di salah satu hotel di kawasan Jakabaring. Kami memilih lokasi ini agar keesokan harinya saat bersepeda menuju wilayah Jambi kami bisa melewati Jembatan Ampera, simbol Kota Palembang. Berfoto pada pagi hari tentu lebih menarik.
Sebelumnya tiba di Palembang sekitar pukul 20.00 WIB. Hal ini bukan waktu terbaik untuk berfoto di Jembatan Ampera. Maka, kami memilih tidak menginap di tengah kota.
Jembatan yang membentang di tengah Sungai Musi ini dibangun tahun 1962. Usia jembatan Ampera sama dengan saya.
Dulu, bagian tengah jembatan bisa terangkat melalui mesin ketika kapal hendak melewati sungai tersebut. Akan tetapi, belasan tahun terakhir, mesin ini tidak berfungsi lagi. Apalagi mobilisasi kapal melalui Sungai Musi dari Kota Palembang ke arah hulu juga semakin minim. Akibatnya, kerusakan mesin pengangkat jembatan pun tidak diperbaiki, sebab dinilai tidak penting.
Sekitar 20 kilometer setelah Kota Palembang, saya memasuki wilayah Kabupaten Banyuasin. Kapolres setempat menyambut saya. Dia mengajak saya dan kru makan soto. Rasanya enak sekali. Dagingnya lumayan empuk. Mungkin juga karena lapar sehingga semua makanan yang tersajikan selalu terasa paling enak.
Maklum, sarapan pagi di hotel di Jakabaring hanya bubur ayam. Kayaknya belum nendang. Setelah makan soto, tenaga pun terpulihkan kembali. Saya pun mampu melaju di tengah jalur yang penuh dengan rolling ini. Mungkin ada sekitar 1.000an kali rolling.
Hal yang sama juga terjadi saat mengayuh dari Sungai Lilin menuju Kota Jambi. Malah di rute ini total ketinggian lebih besar lagi yakni sekitar 1.300 meter. Suhu udara juga tetap di atas 40 derajat Celcius.
Perbukitan seribu
Rolling tetap berkali-kali tiada hentinya. Kalau di DKI Jakarta ada kepulauan seribu, maka di lintas timur Sumatera ini boleh kita sebut dengan perbukitan seribu. Mengayun, dan mengayun lagi. Terus-menerus!

Suhu udara mencapai 40 derajat Celcius juga membuat penderitaan tersendiri. Pada rute Palembang-Sungai Lilin, saya sempat berhenti untuk minum es dawet. Ada penjual bernama mas Trimo, orang Jawa. Dia mengaku, bosnya memiliki 20an gerobak es dawet. Gula arennya asli. Pemiliknya mendatangkan khusus dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Harganya Rp 47.000 per kilogram. Enak banget. Saking enak dan haus akibat suhu panas, saya pun menghabiskan tiga gelas. Saya juga memperbanyak minum air mineral demi mencegah dehidrasi.
Tidak dihargai
Lebih memprihatinkan lagi, kendaraan bermotor, terutama truk dan mobil barang lalu lalang silih berganti setiap saat. Mereka juga melewati bahu jalan sehingga nyaris tidak ruang bagi pengguna jalan lainnya.
Perjalanan saya mendapatkan pengawalan dari polisi. Tetapi saya tidak mendapatkan ruang yang leluasa untuk melaju ke depan. Beberapa kali saya dipepet truk. Bersepeda di jalur ini nyaris tidak dihargai.
Akibatnya, kecepatan kayuhan sepeda saya di jalur ini maksimal 23 kilometer per jam. Padahal dari Bandar Lampung hingga Palembang rata-rata 26 kilometer per jam. Oleh karena itu, saya tidak merekomendasikan untuk bersepeda melintasi lintas timur Sumatera. Lain halnya kalau suatu saat sudah beroperasi jalan tol.

Sebetulnya lebar badan jalan rute Palembang-Jambi hampir sama dengan rute Lampung-Palembang. Tetapi di wilayah selatan sudah beroperasi jalan tol sehingga banyak kendaraan beralih ke jalan bebas hambatan. Volume kendaraan di jalur reguler bisa sedikit berkurang.
Sebaliknya, pada jalur Palembang-Sungai Lilin hingga Jambi belum memiliki jalan tol. Dengan demikian, kendaraan terutama truk menumpuk di jalan reguler. Akibatnya, jalurnya menjadi sangat padat. Gowes sangat tidak nyaman dan bikin stres. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Baca juga:
Catatan Royke Lumowa (1): Dukungan Komunitas Gelorakan Semangat Saya

