Catatan ROYKE LUMOWA (4)
Jumat (21/7/2023) tepat pukul 10.45 WIB, kapal cepat Horizon mengangkat sauh dan mulai berlayar dari Pelabuhan Batam, Kepulauan Riau. Saya adalah salah satu penumpang dalam kapal yang membawa kami menuju Singapura. “Negeri singa” ini menjadi negara kedua yang akan saya lewati dalam mengayuh sepeda dari 47 negara yang direncanakan.
Saat hendak meninggalkan Batam saya merasa ada yang bakal hilang. Merasa takkan lagi bersama teman-teman dalam waktu yang cukup lama. Takkan lagi mendengar canda, tawa, gurauan, dan sejenisnya. Saya harus sanggup memelihara dan merawat semangat mengayuh sepeda hingga Paris. Mengayuh sepeda jarak jauh bukan soal jumlah orang yang bersama kita, melainkan soal mental dan motivasi. Jika memiliki tekad yang kuat, saya mampu bersepeda seorang diri dimana pun berada. Maju terus pantang mundur!
Di pelabuhan Batam, hadir pula Kapolda Kepulauan Riau Irjen (Pol) Tabana Bangun bersama sejumlah anggota Polri dan teman-teman komunitas sepeda. Mereka melepas kepergian saya dengan rasa bangga. Mereka juga tidak lupa mendoakan saya agar tetap sehat sehingga mampu menuntaskan misi mengayuh sepeda hingga di Paris.

Dari atas kapal, saya terus-menerus melambaikan tangan. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada mereka dan semua teman, sahabat dan keluarga yang telah memberikan dukungan yang besar sejak saya memulai mengayuh sepeda di Monas, Jakarta.
Pelayaran kami hanya sekitar 50 menit. Di Singapura, proses pengecekan di Imigrasi setempat juga berlangsung lancar. Saya dan kru langsung meninggalkan border dan menuju lokasi penyimpanan mobil untuk membenahi barang-barang. Saya merencanakan berada di Singapura selama dua hari. Minggu (23/7/2023) mengayuh sepeda menuju Malaysia.
Terlambat dua hari
Sesuai jadwal, sebetulnya saya masuk Singapura ini terlambat dua hari. Hal ini terjadi, sebab paspor masih terpakai untuk pengurusan visa masuk China dan Inggris. Kami memaklumi kondisi ini, sebab lebih baik menuntaskan segala urusan dokumen untuk masuk ke suatu negara sejak masih di Indonesia.

Setelah berada di Singapura dan menyelesaikan berbagai urusan, saya langsung menuju ke Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk melapor diri. Bertemu dengan Duta Besar mas Suryopratomo yang selalu disapa mas Tomi, dan keluarga besar KBRI.
Mas Tomi pernah menjadi pemimpin redaksi harian Kompas. Saya menjadi maniak dengan touring sepeda juga gara-gara Kompas yang sejak tahun 2011 melakukan perjalanan bersepeda ke sejumlah daerah dari Sabang hingga Merauke.
Saya pernah mengikuti jelajah sepeda di beberapa wilayah, seperti Jelajah Sepeda Manado-Makassar tahun 2014, Jelajah Sepeda Flores tahun 2017, Kompas Tambora Bike, Kompas Minang Bike dan Kompas Bali Bike. Dari situ, saya menjadi dekat dengan beberapa wartawan senior Kompas, seperti mas Trias Kuncahyono, mas Budiman Tanurejo, Nugroho F Yudo dan Jannes Eudes Wawa.
Menikmati kota
Sabtu (22/7/2023) pagi, saya bersepeda bersama Dubes Suryopratomo, dan sejumlah warga Indonesia di Singpapura. Kami mengayuh keliling kota, dan menyinggangi beberapa lokasi, antara lain Pantai Labrador, lalu ke China Town, kemudian melanjutkan menuju ke Bukit Faber yang memiliki ketinggian 105 meter atau 344 kaki. Total kayuhan kami mencapai kurang lebih 20 kilometer.

Kami menikmati pemandangan pagi hari Kota Singapura yang indah, bersih dan udara yang sejuk. Memang, saya sudah berkali-kali mengunjungi Singapura. Tetapi, kedatangan kali ini terasa sangat beda. Saya datang dengan bersepeda dari Jakarta, dan ingin melanjutkan perjalanan hingga Eropa. Terasa ada yang berbeda. Sungguh membanggakan.
Bukit Faber boleh dibilang memiliki panorama yang indah. Di Singapura tidak ada lokasi yang memiliki pemandangan seindah di Bukit Faber. Di sana ada taman yang menghadap ke sebelah selatan Singapura yakni Pulau Sentosa. Tampak pula cerahnya langit biru dengan burung-burung yang berterbangan.
Selesai gowes bersama warga Indonesia, saya sempatkan diri menyinggahi Orchad, lokasi yang selalu menjadi salah satu tujuan utama warga asing yang berwisata di Singapura. Di Orchad, saya mengambil gambar dan merekam video yang mengisahkan perjalanan dari Batam hingga Singapura.
Selepas itu, saya melanjutkan kunjungan ke Marina Bay Sands, sebuah destinasi markah di pusat Kota Singapura dan wilayah teluk yang ramai. Di sini juga saya mengambil pengambilan video dan gambar untuk melengkapi touring sepeda saya di negara kota tersebut.
Dari Marina, saya kembali lagi ke Orchad Road untuk menyaksikan suasana malam hari saat burung-burung kembali ke sarangnya di pepohonan sepanjang jalan ini. Suatu pemandangan yang langka dan unik dimana burung-burung masih menjadikan perkotaan sebagai habitatnya. Hal ini menandakan bahwa kota besar itu mampu mempunyai kualitas udara yang prima, dimana burung-burung bebas hidup dengan nyaman. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (3): Sempat Balik ke Jakarta untuk Tuntaskan Visa

1 Komentar
Pingback: Saya Rasakan Juli Terpanas Itu di Malaysia - blalak.com