Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (3): Sempat Balik ke Jakarta untuk Tuntaskan Visa
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (3): Sempat Balik ke Jakarta untuk Tuntaskan Visa

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJuli 22, 20231 Komentar8 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Disambut di Pelabuhan Sikupang, Batam. Foto: dokumentasi Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Catatan ROYKE LUMOWA (3)

Setelah mengayuh sepeda selama enam hari dari Monas hingga Kota Jambi, Jumat (14/7/2023) pagi, saya bersama kru harus kembali ke Jakarta. Kami perlu menuntaskan pengurusan visa untuk masuk ke sejumlah negara, terutama Inggris agar perjalanan hingga di Paris lebih lancar.

Kami terbang dari Bandara Sultan Thaha , Jambi, pukul 07.00 WIB, menggunakan maskapai Batik Air. Setelah tiba di Jakarta, kami terlebih dahulu mengambil visa untuk masuk China. China baru menerbitkan visa untuk kami sekitar pukul 12.00 WIB.

Berbekal paspor yang sama, siang itu, kami pun menuju City Mall di Kuningan untuk mengurus visa masuk Inggris. Kami mendaftarkan diri  secara online. Begitu pula dengan pengiriman dokumen. Urusannya berlangsung lancar, sehingga sore itu juga kami langsung melakukan sidik jari dan foto. Menjelang petang kami meninggalkan City Mall Kuningan menuju ke rumah masing-masing.

Menepi ke warung tepi jalan. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Mengapa kami harus mengurus visa masuk Inggris di Jakarta, dan bukan di negara terdekat seperti di kawasan Schengen?

Negara-negara kawasan Schengen memberlakukan visa sejak penerbitan. Masa berlakunya pun pendek. Kadang hanya 14 hari atau sebulan. Maka, visa masuk ke negara-negara tersebut akan kami urus di negara terdekat, seperti di Iran atau Turki.

Sebaliknya visa Inggris berlaku kapan saja sesuai permintaan pemohon. Masa berlaku pun bervariasi. Bisa setahun, dua tahun atau lebih. Itu sebabnya kami memilih mengurus visa Inggris di Jakarta.

Akan tetapi, visa ini baru terbit pada empat hingga lima hari setelah penuntasan sidik jari dan foto. Itu sebabnya, Sabtu (15/7/2023) pukul 09.45, saya bersama kru menggunakan pesawat Garuda terbang kembali ke Jambi. Sedangkan paspor kami akan ada kurir yang mengantarkan  ke Batam setelah penerbitan visa Inggris. Begitu paspor tiba di Batam, kami segera tinggalkan Indonesia menuju Singapura guna memulai petualangan baru hingga di Eropa.

Kru yang bersama saya ada 3 orang. Mereka adalah Yayak M Saat sebagai Manajer Perjalanan sekaligus pengemudi. Stefi Oswald Wungkana (mekanik) dan Dimas GA Priyanto sebagai fotografer dan videografer sekaligus kelola media sosial.

Keunikan Jambi

Di Jambi, saya mengunjungi Candi Muaro Jambi di Kecamatan Maro Sabo, Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Candi yang konon berasal dari abad VII-XII masehi itu berada di tepi Sungai Batanghari. Kompleks percandian agama Hindu-Budha ini memiliki luas sekitar 3.981 hektar atau terluas di Asia Tenggara. Pemerintah telah mengusulkan kepada UNESCO pada tahun 2009 agar  kompleks Candi Muaro Jambi menjadi situs warisan dunia.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (30): Bersepeda Masuk Eropa, Mimpi Saya Mulai Terbayarkan

Uniknya, material bangunan candi ini tidak seperti candi-candi di Pulau Jawa yang terbuat dari batu. Candi Muaro Jambi malah terbuat dari batu bata, tanah lihat. Puing-puingnya masih ada sesuai aslinya. Candi ini indah sekali dan terpelihara dengan baik.

Saya juga sempat melewati wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Yang menarik dari wilayah ini adalah tumbuh ribuan pohon pinang. Padahal, masyarakatnya tidak mengonsumsi pinang.

Berada di hutan pinang, di Tanjung Jabung Barat. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Lahan pinang di Jambi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi pada tahun 2021 seluas 28.255 hektar. Ternyata pinang yang ada bukan untuk pasar domestik, melainkan ekspor. Negara tujuan ekspor yakni Thailand, Bangladesh, India, Iran, dan Nepal, menyusul Pakistan, Malaysia, Singapura, Kamboja, China, Hongkong, Myanmar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Volume ekspor pada Januari-September 2021 sekitar 60.000 ton dengan nilai ekspor Rp 1,7 triliun. Hampir 40 persen volume ekspor pinang nasional berasal dari Jambi.

Perlu hilirisasi

Pinang andalan di Jambi yakni pinang betara. Keunggulannya yakni pertumbuhan lebih cepat. Pada usia 4-5 tahun mulai menunjukkan tanda belajar berbunga dan berbuah. Pada usia 6-7 tahun mulai produktif. Masa produksi berlangsung hingga 25 tahun.

Keunggulan lain adalah memiliki buah yang lebat. Terdapat sekitar 130 butir dalam satu tandan. Dalam setahun, produksi pinang betara mencapai 5-6 tandan. Buahnya pun tergolong besar. Beratnya mencapai 47 gram per buah atau setara 8,68 gram per biji kering.

Pinang umumnya menjadi campuran kosmetik, campuran permen, dan zat pewarna alami pada kain dan kapas. Pinang juga mengandung zat-zat antioksidan sehingga menjadi bahan baku bagi industri farmasi. Pemakaiannya sebagai campuran dalam pembuatan obat-obatan seperti obat disentri, obat cacing, obat kumur dan sebagainya.

Saya melihat potensi pinang sangat besar. Permintaan pun terus meningkat setiap tahun. Saran saya berhentilah menjual bahan mentah. Sudah waktunya menggalakkan hilirisasi terhadap komoditas pinang. Hilirisasi akan membuat nilai ekonomis pinang meningkat dan harga di tingkat petani pun bertambah. Petani pinang bisa lebih sejahtera.

BACA JUGA:  Berubahlah Secara Konsisten

Menuju Batam

Dari Jambi, saya langsung menuju Batam, Kepulauan Riau. Keluar dari Sumatera melalui Pelabuhan Kuala Tungkal. Jarak dari Kota Jambi ke Pelabuhan tersebut sekitar 135 kilometer. Saya berangkat dari Kota Jambi menggunakan mobil dengan waktu tempuh 2,5 jam. Hal ini kami lakukan sebab kapal yang berlayar ke Batam berangkat pukul 10.00 WIB dan sehari hanya sekali.

Kuala Tungkal tergolong kota lama. Daerah ini juga termasuk kota pelabuhan sejak puluhan tahun silam. Kotanya bersih dan rapi. Posisinya sebagai gerbang peraiaran, Kuala Tungkal juga memiliki masyarakat yang majemuk. Ada masjid. Ada pula klenteng, vihara dan rumah ibadah agama lainnya. Kuala Tungkal juga merupakan tempat kelahiran bintang film terkenal Christine Hakim.

Dari Kuala Tungkal, kami menggunakan kapal cepat Kurnia yang berkapasitas 76 penumpang. Kekuatannya 1.000 tenaga kuda (PK). Mengoperasikan 5 unit motor tempel Suzuki yang masing-masingnya berkapasitas 250 PK. Pelabuhan Kuala Tungkal masih berada dalam aliran Sungai Tungkal, anak Sungai Batanghari.

Kapal yang kami tumpangi menyinggahi beberapa pelabuhan untuk menurunkan dan mengangkut penumpang. Lama singgah di setiap pelabuhan hanya beberapa menit.

Kapal bergerak dari Kuala Tungkal menuju ke anak sungai Indragiri dan menyinggahi pelabuhan rakyat di Kampung Kuala Enok, Tanah Merah. Setelah itu kapal melaju ke pelabuhan berikutnya yakni Sungai Guntung. Wilayah ini masih berada di daratan Sumatera.

Dari Sungai Guntung, kapal menyusuri anak Sungai Indragiri lainnya menuju ke muara, dan laut. Persinggahan berikutnya adalah Tanjung Kilang. Pelayaran ini menghadapi ombak sekitar dua meter. Ada pula angin yang memukul dari samping membuat kapal harus oleng selama beberapa menit.

Pelabuhan berikutnya di Desa Moro. Ini sudah masuk wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Pelayaran jalur ini sangat tenang, sebab lautnya teduh. Kapal langsung ke Batam, merapat di Pelabuhan Sekupang. Dari Pelabuhan ini tampak nyata di kejauhan gedung-gedung megah di Singapura.

Kapolda Kepri

Begitu tiba di Pelabuhan Sikupang, Kapolda Kepri, Irjen Pol Tabana Bangun langsung menyambut kedatangan saya. Kami pernah sama-sama bertugas di Madiun pada beberapa tahun silam. Dia menggantikan saya sebagai Kapolres Madiun Kota. Lalu bertemu lagi di Polda Sulawesi Utara. Saya menjadi Kapolda, dan dia Wakapolda. Setelah itu dia bergeser menjadi Wakapolda Riau, dan kini sebagai Kapolda Kepri.

BACA JUGA:  Several of Our Belongings Were Stolen in Iran
Disambut di Pelabuhan Sikupang, Batam. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Penyambutannya itu sungguh mengagetkan saya. Apalagi ada tarian adat, yakni tarian sirih pinang, dan diterima di ruang VIP Pelabuhan.

Saya benar-benar tidak menyiapkan diri dengan acara ini sehingga hanya mengenakan celana pendek. Sempat agak risih, tetapi saya mencoba menguasai diri dan menghormati niat baik Pak Kapolda Kepri dan jajarannya. Semua perhatian ini merupakan dukungan untuk saya melanjutkan perjalanan. Segala niat baik dan tulus selalu dilapangkan jalannya.

Sementara, mobil pengiring yang kami kirim dari Jakarta pun sudah tiba di Batam. Mobil Toyota Hillux  akan mengiring perjalanan saya hingga di Paris.  Kami membersihkan lagi sepeda dan barang lainnya kemudian menata kembali dalam mobil sesuai tempatnya. Kami pun telah siap untuk memberangkatkan mobil yang di Batam menuju Singapura.

Bersama Kapolda Kepri dan komunitas sepeda di Batam. Kami bersepeda bersama. Foto: dokumentasi komunias sepeda batam

Mobil yang mengawal perjalanan saya dari Monas hanya sampai di Pelabuhan Kuala Tungkal. Mobil itu kembali ke Jakarta.

Mencapai 1.000 Km

Beberapa hari di Batam, saya meluangkan waktu untuk bersilahturahmi dengan para pesepeda setempat. Pada 18 Juli pagi, saya bersepeda bersama Kapolda Kepri Irjen Tabana Bangun dan sejumlah teman Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1987, seperti Pak Agung Budi, Pak Lucky Arliansyah, Pak Rudi Pranoto, Pak Agung Wicaksono, Pak Adhitia Warman, Pak Sarono, Pak Wisnu Sanjaya, dan lainnya mengelilingi Kota Batam. Tetapi, jaraknya hanya 20an kilometer.

Hari berikutnya, Rabu (19/7/2023), kami bersepeda lagi. Kali ini jaraknya sekitar 52 kilometer. Saya juga sempat mengelilingi Kota Batam mengunjungi beberapa lokasi. Kesan saya, kota ini cukup jorok dan kotor. Air dalam saluran berwarna hitam pekat serta berbau tidak sedap.

Gowes bersama para pesepeda di Batam. Foto: Dokumentasi Royke Lumowa

Kebersihan Kota Batam jauh berbeda dengan Kota Jambi yang bersih dan tertata. Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Singapura, Batam seharusnya lebih bersih dan rapi. Bila perlu menjadi yang terbaik di Indonesia. Minimal bisa mendekati Singapura.

Setelah melihat garmin, ternyata hingga hari itu, saya mengayuh sepeda sudah sejauh 980-an kilometer terhitung sejak dari Monas, Jakarta. Maka, pada Kamis, 20 Juli 2023, saya memutuskan gowes mandiri menuju Pulau Galang pergi pulang guna mencapai jarak 1.000 kilometer. Saat menuju Singapura jarak perjalanan saya sudah mencapai 1.009 kilometer. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan lewatkan!

Catatan Royke Lumowa (2): Lintas Timur Sumatera, Perbukitan Seribu

 

 

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Mengayuh Sepeda Hari Sabtu di Singapura - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.