Oleh ALOIS WISNUHARDANA
Lebih dari seabad –100 tahun artinya– orang Inggris nggak pernah menang di lomba balapan sepeda kelas dunia. Tour de France, kejuaraan dunia, olimpiade, semuanya diraup orang-orang non-Inggris. Cuma satu medali yang didapat dalam rentang lebih dari 100 tahun itu: sebiji emas olimpiade.
Efek lebih buruknya, nggak ada perusahaan yg mau mensupport atau mensponsori tim Inggris di lomba-lomba pit-pitan dunia. Maleslah… nggak ada untungnyalah… malah ngrusak citralah… dan lahlah lainnya.

Orang Inggris pun gerah. Hatinya gundah, rasanya begah. Mereka ingin berubah tapi bingung bagaimana caranya. Sampai akhirnya mereka menyewa seorang yang dipandang mampu mengubah. Namanya Dave Brailsford.
Brailsford bilang gini. “Kalo kamu pingin membongkar sesuatu dan ingin mencapai peningkatan dalam bersepeda, lakukan perbaikan satu persen demi satu persen, dan kamu akan dapatkan perubahan signifikan secara keseluruhan.”
Apa maksudnya yang dibilang orang ini dan bagaimana caranya dia melakukan?
Brailsford mulai melakukan perubahan-perubahan kecil. Satu per satu diinventarisir. Apa misalnya? Seatpost alias dudukan dia ganti yang lebih ergonomis. Roda sepeda ia olesi dengan alkohol biar lebih ngegrip dengan aspal jalan. Lebih nggigit, istilahnya. Ia perintahkan atletnya memakai jersey yang ada kontrol panasnya hanya supaya otot-otot atlet tetap terjaga kelenturannya.
Sudah cukup? Belum….!!!
Ia mengujicoba berbagai obat gosok, lalu memeriksa, mana obat gosok yang paling mujarab untuk membalikkan kondisi otot secara cepat atas otot-otot yg kelelahan. Bukan obat GPU –Gosok Pijat Urut– biasa, tapi obat gosok yang paling jos.
Masih ada lagi? Masih!
Ia menyewa ahli bedah untuk mengajari atlet-atletnya mencuci tangan untuk mengurangi pendinginan telapak yang terlalu cepat. Dia ganti bantal dan guling buat tidur atlet-atletnya.
Yg lebih gila lagi, ia sampai berpikir untuk mengecat truk angkutan sepedanya dengan warna putih. Apa tujuannya? Biar satu butir debu atau gemuk atau oli yang menempel di truk bisa terdeteksi. Debu, gemuk, atau oli yang tak terawasi bisa menurunkan performa sepeda-sepeda yang sudah diset untuk balapan.
Itu baru contoh kecil. Ada ratusan lain yang dia lakukan. Dan hasilnya……
Hanya dalam 5 tahun sejak Brailsford melakukannya, tim balap sepeda Inggris meraih prestasi yang selama 100 tahun lebih nggak pernah datang menghampiri tim British Cycling. Satu, mereka mendominasi balapan jalan raya dan lintasan di Olimpiade Beijing 2008, memenangi 60 persen medali yang tersedia di arena balap sepeda. Empat tahun berikutnya, sebagai tuan rumah, prestasinya lebih gila lagi: memecahkan 9 rekor Olimpiade dan 7 rekor dunia.
Itu saja? Belum cukup….
Bradley Wiggins menjadi orang Inggris pertama yang memenangi Tour de France –lomba yang selama ini didominasi oleh atlet Spanyol, AS, atau bahkan Australia. Tahun berikutnya, Chris Frooome, londo Inggris juga, yang memenanginya. Froome bahkan lebih edan. Empat tahun berturut-turut menjadi juara.
Dalam seratus tahun lebih nggak pernah juara, setelah sentuhan-sentuhan kecil yang terakumulasi, sekarang orang Inggris memenangi 5 juara Tour de France dalam 6 tahun. Dalam rentang 2007-2017 –satu dekade– pesepeda Inggris memenangi 178 medali kejuaraan dunia, 66 medali emas Olimpiade dan Paralimpiade.
Kok bisa gitu ya?
Itulah yang disebut perubahan kebiasaan-kebiasaan kecil, yang jika diakumulasi, menghasilkan perbedaan yang sangat besar. Perubahan 1 persen, yang jika diakumulasi sebanyak 100 perubahan, akan menghasilkan 100 persen perubahan.
Jadi, perubahan itu bukan kayak di film-film Gaban, Goggle V, atau Voltus zaman lawas dulu, yang begitu teriak-teriak “SAATNYA BERUBAH”, si Gaban langsung bisa berubah menjadi robot sakti.
Perubahan signifikan hanya bisa terjadi jika kita melakukannya dengan dua syarat: Persisten dan Konsisten. Metodenya: saintifik, eksak, terukur, terkuantifikasi.
ALOIS WISNUHARDANA
Wartawan Senior

