Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Bali Yang Sulit Terlewatkan
Cyling

Bali Yang Sulit Terlewatkan

JANNES EUDES WAWABy JANNES EUDES WAWAFebruari 11, 2025Tidak ada komentar11 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Suasana di Desa Adat Panglipuran, Setiap hari selalu kedatangan wisatawan. Foto: M Yusri
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Oleh:  JANNES EUDES WAWA

Sudah berada di Banyuwangi tanpa menuju ke Bali yang ada di depan mata rasanya perjalanan ini kurang sempurna. Pulau Dewata adalah surganya wisatawan dunia. Setiap hari puluhan pesawat berbadan lebar dari segala penjuru dunia mengatarkan ribuan wisatawan asing mengunjungi Bali. Kami pun tidak mau melewatkan kesempatan ini: mengayuh sepeda masuk ke Bali.

Saya sebenarnya sudah sering menyeberangi Selat Bali dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk, Negara, Bali, atau sebaliknya. Semuanya menggunakan mobil.  Baru pada Sabtu, 9 November 2024 dengan mengayuh sepeda. Tidak ada perbedaan yang mencolok, tetapi menaiki kapal fery dengan bersepeda terasa banget sensasinya. Saat mengayuh menuju kapal suasana hati terasa lebih bebas seluas bentangan alam raya yang di depan mata.

Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (9/11/2024) pagi. Foto: Jannes Eudes Wawa

Sabtu pagi itu, kami melanjutkan perjalanan bersepeda hari kedua dalam Jelajah Banyuwangi-Bali. Tujuannya adalah Lovina, Kabupaten Buleleng, Bali. Sesuai jadwal, kapal fery yang kami tumpangi akan mengangkat jangkarnya tepat pukul 07.00 WIB atau 08.00 Wita di Bali. Sebelum itu, kami perlu melakukan pelaporan (check in) tiket di gerbang masuk pelabuhan dan menunggu atrian pelayaran.

Itu sebabnya, sekitar pukul 06.00 WIB, kami sudah bersiap diri di depan Hotel Santika Banyuwangi. Tas pakaian dan tas sepeda (bike box) sudah berada dalam mobil panitia untuk diangkut menuju Lovina. Tidak lama kemudian, kami mulai bersepeda menuju ke Pelabuhan Ketapang.

Jarak dari Hotel Santika ke Pelabuhan Ketapang kurang lebih 13,5 kilometer. Kami hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit menyelesaikan rute pendek ini. Di Pelabuhan, langsung menuju ke gerbang untuk check in tiket, setelah itu petugas mengarahkan kami ke tempat tunggu sambil membawa sepeda masing-masing. Dia akan menyilakan naik kapal jika waktunya sudah tiba.

Suhu Panas

Suhu pagi itu sudah mulai panas. Mungkin karena Banyuwangi berada di tepi pantai sehingga suhu panasnya terasa menyengat. Hannar Yogia, pesepeda asal Bandung sempat bergurau, “Sekarang baru jam 06.40 (WIB), tetapi suhunya terasa seperti sudah di atas jam 09.00 (WIB)”.

Menjelang pukul 07.00 WIB, petugas menyuruh kami bergerak menuju kapal. Saat yang sama, mobil dan motor pun demikian. Kapal yang kami tumpangi itu mengangkut 12 unit mobil dan 20 unit mobil. Penumpang hanya sekitar 100 orang. Kapal fery yang melayani penyeberangan Ketapang-Gilimanuk berlangsung setiap saat. Lama pelayaran berkisar 40-60 menit. Kadang bisa lebih lama tergantung kondisi cuaca dan arus laut.

Sepeda saat dalam kapal fery Ketapang-Gilimanuk, Sabtu (9/11/2024). Foto: Arsip Jelajah Bike

Akan tetapi, kapal kami membutuhkan waktu sekitar 75 menit baru merapat di Pelabuhan Gilimanuk. Entah apa penyebabnya. Padahal, ada dua kapal yang berangkat dari Ketapang terlambat, malah tiba terlebih dahulu. Proses penurunan kendaraan bermotor dan penumpang dari kapal cukup singkat, sekitar 20 menit. Setelah berada di darat, kami perlu regrouping. Setelah semua peserta berkumpul barulah memulai mengayuh sepeda di Bali. Saat itu waktu sudah pukul 09.40 Wita atau terlambat sekitar 45 menit dari yang ditargetkan panitia.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (8): Tiba di Bangkok Setelah Sebulan Kayuh dari Jakarta

Kami pun bergerak menuju persimpangan Gilimanuk. Pertigaan itu menghubungkan lintas selatan dan lintas utara.  Kami memilih belok ke kiri melewati pesisir utara. Rute pantai utara ini menuju ke Pemuteran, Lovina, Buleleng, Singaraja hingga Amed. Jalur ini relatif sepi dari lalu lintas kendaraan bermotor. Kondisi jalan beraspal mulus. Kendaraan mulai sedikit ramai setelah memasuki kawasan Lovina.

Saat meninggalkan kawasan Gilimanuk menuju Lovina, Sabtu (9/11/2024). Foto: Arsip Jelajah Bike

Kendaraan dari Pulau Jawa yang menuju  ke Denpasar, Kuta, Legian, Nusa Dua, Sanur dan lainnya atau sebaliknya melewati lintas Selatan. Mobil pribadi, truk gandeng, kendaraan besar dan sepeda motor cenderung melewati jalur ini sehingga ramai dan padat. Di jalur ini juga ada jalan berkelok, tanjakan dan turunan di sejumlah titik. Kondisi jalan beraspal mulus. Ada hamparan sawah dalam lahan-lahan terasering yang tertata rapih.

Jalan Lurus dan Datar

Perjalanan kami siang itu melewati pantai utara sungguh menarik, sebab jalannya lurus dan mendatar tetapi juga menantang. Tantangan terberat adalah menghadapi suhu udara yang semakin panas dan menyengat. Sengatan sinar matahari dengan suhu di atas 32 derajat celcius membuat rombongan yang semula menyatu dalam satu barisan mulai terpecah dalam beberapa kelompok sesuai kemampuan fisik masing-masing. Ada kelompok yang terus melaju kencang, terutama mereka yang menggunakan sepeda balap (road bike). Ada pula yang berhenti beberapa kali untuk istirahat sejenak agar dapat memulihkan fisik yang kelelahan. Kelompok ini menunggangi sepeda gunung dan sepeda lipat.

Mengayuh sepeda di jalan rata dan lurus tidak otomatis menyenangkan. Kadangkala jalan lurus yang terlalu panjang juga bisa membosankan. Kondisi ini perlu ditangani dengan baik sehingga semangat bersepeda tetap menyalah.

Berada dalam kapal fery dari Ketapang menuju Gilimanuk, Sabtu (9/11/2024). Foto: Arsip Jelajah Bike

Saya bersama Donkun, om Joko Kus Sulistyoko, Wahyudin alias Mangdin bersama Rokhmat P Nugroho selaku sweepper akhirnya menjadi kelompok terakhir. Selama perjalanan kami terus memantau penjualan buah durian. Informasi yang kami dapatkan dari beberapa warga di Pemuteran bahwa Bali mulai memasuki musim durian. Kabar itu menyemangati kami untuk segera menikmatinya.

Menjelang Lovina akhirnya impian kami terjawab. Di sisi kanan jalan, ada pedagang menjual buah durian. Jumlahnya terbatas, mungkin hanya belasan buah. Saat kami tiba, sudah ada empat orang pelintas juga berhenti dengan maksud yang sama yakni membeli buah durian. Mereka hanya membeli tiga buah. Sisanya 10 buah kami memborong semua. Ukurannya hanya 3 buah yang sedang, lainnya agak kecil. Tetapi dagingnya bagus. Warna kuning dan tebal. Kami merasa sungguh beruntung dapat menikmati durian pada hari itu.

Lumba-lumba Lovina

Tidak lama setelah itu hujan deras mengguyur Lovina dan sekitarnya. Kami terus mengayuh sepeda sambil menikmati guyuran air dari langit ini sebagai berkah dan rahmat. Sekitar pukul 16.00 Wita, kelompok terakhir ini memasuki Hotel New Sunari Lovina, tempat finis hari kedua dan menjadi lokasi penginapan peserta Jelajah Banyuwangi-Bali. Jarak dari Pelabuhan Gilimanuk hingga di hotel ini mencapai 79,2 kilometer.

BACA JUGA:  Kayuh Sepeda Keliling Bali, Fantastis!

Lovina termasuk salah satu tempat wisata favorit di Bali. Pantai yang bersih, sepi dan damai, lautnya memiliki terumbu karang yang indah. Terpenting lagi melalui pantai Lovina, wisatawan dapat menyaksikan atraksi ikan lumba-lumba. Kawanan mamalia laut ini sangat cerdas dan hidup dengan bebas. Lumba-lumba di Pantai Lovina sudah mendapatkan perlindungan melalui peraturan pemerintah setempat sehingga tidak ada orang yang boleh menangkap dan menjualnya.

Sejumlah wisatawan menaiki kapal di Pantai Lovina untuk menuju ke tengah laut untuk menyaksikan atraksi ikan lumba-lumba, Minggu (10/11/2024) pagi. Foto: Jannes Eudes Wawa

Untuk menyaksikan atraksi lumba-lumba di tengah laut, wisatawan harus menyewa perahu khusus yang sudah disediakan pihak pengelola. Satu perahu menampung empat hingga lima orang, dengan biaya sekitar Rp 60.000 per orang. Perahu akan membawa ke area lautan yang biasanya banyak bermunculan lumba-lumba. Ikan ini muncul sekitar pukul 06.00 – 09:00 Wita. Wisatawan wajib datang sebelum waktu tersebut agar melihat momen spesial yang jarang ditemukan di pantai lainnya di Bali. Waktu terbaik untuk melihat lumba-lumba di Pantai Lovina yakni selama musim kemarau, sekitar April hingga Oktober.

Menuju Kintamani

Keesokan harinya, Minggu (10/11/2024), kami melanjutkan touring sepeda menuju Ketewel, Kecamaten Sukawati, Kabupaten Gianyar. Perjalanan ini melewati kota Singaraja, Puncak Penulisan, Kintamani dan Desa Panglipuran. Posisi Penulisan dan Kintamani berada pada ketinggian sekitar 1.500-1.750 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Di masa awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Bali utara, khususnya Singaraja menjadi pusat pemerintahan dari Provinsi Sunda Kecil yang meliputi Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor,  Kepulauan Alor, Rote dan Sabu. Ketika itu, Indonesia hanya terdiri atas delapan provinsi, yakni Sumatera, Borneo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil. Sejak tahun 1958, terjadi pemekaran menjadi tiga provinsi yakni Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur seperti yang ada saat ini.

Perjalanan dari Lovina menuju Kintamani, Minggu (10/11/2024). Foto: Arsip Jelajah Bike

Dari penginapan, kami melewati jalan mendatar dengan ketinggian tidak lebih dari 200 meter di atas permukaan laut melewati Singaraja hingga di pertigaan Boengkoelan sekitar 20,3 kilometer. Perjalanan kemudian belok ke kanan, dan sekitar 50 meter di depan langsung menghadapi tanjakan. Kemiringan tanjakan ini mula-mula masih ringan, tetapi semakin maju tampak mulai berat. Apalagi posisi Puncak Penulisan berada pada ketinggian 1.745 mdpl.

Jalan yang kami lewati termasuk salah satu jalur pintas dari wilayah utara menuju ke wilayah selatan Bali. Jalannya berkelok dan beraspal mulus. Sepanjang perjalanan warga setempat menjual aneka buah, antara lain durian, mangga, pepaya, salak, apel, pisang, jeruk dan buah naga. Buah-buahan ini umumnya hasil produksi petani di Bali.

Menikmati Kabut

Sejumlah peserta beberapa kali berhenti. Selain untuk mengatur kekuatan fisik dan pernafasan, juga ingin menikmati buah durian yang umumnya matang pohon. Sekitar lima kilometer menjelang Puncak Penulisan suhu udara mulai dingin dan berkabut. Suasana ini sungguh menyenangkan bagi peserta dari wilayah Jabodetabek yang tiap hari menghadapi suhu udara yang panas.

BACA JUGA:  Jelajah IKN, Terintimidasi di Jalur Nusantara

Tanjakan menuju Puncak Penulisan mencapai sejauh 25 kilometer. Suhu udara yang adem membuat jarak yang lumayan jauh tidak menjadi penghalang bagi peserta mengayuh sepeda. “Lumayan berat tanjakan ini, tetapi suhu udaranya adem membuat saya tidak terlalu kelelahan. Malah membuat saya sangat menikmatinya,” kata Hengki Dorias, asal Jakarta.

Menjelang Puncak Penulisan tampak penjor di kiri dan kanan jalan. Inilah pemandangan khas Bali. Foto: Arsip Jelajah Bike

Sekitar pukul 13.30 Wita, semua peserta sudah melewati Puncak Penulisan dan tiba di Kintamani. Saat itu terjadi hujan yang lumayan deras. Kami berteduh sekaligus menikmati suasana dingin dan sejuk di salah satu kawasan tinggi yang terkenal memiliki keindahan alam yang menarik, seperti Gunung Batur dan Danau Batur. Ketinggian Kintamani sekitar 1.500 mdpl.

Panorama Kintamanijuga seakan menegaskan bahwa Bali sebagai daerah tujuan utama wisatawan dunia tidak semata-mata memiliki keindahan pantai dan kehijauan alam, pemandangan sawah tersering yang indah. Bali juga memiliki kawasan pegunungan berhawa sejuk dan berkabut. Selama bulan Agustus hingga Maret, kabut tebal menyelimuti Kintamani pada pagi hingga siang hari. Puncaknya pada November hingga Februari, kabut selalu lebih tebal lagi.

Daya Tarik Panglipuran

Dari Kintamani, perjalanan kami menuju Desa Penglipuran. Kali ini rutenya menurun sejauh kurang lebih 29 kilometer. Memang mengayuh sepeda ini seperti roda kehidupan. Ada saat kita harus melewati fase-fase yang berat seperti di jalan menanjang sebagai ujian kesabaran, keuletan dan ketelatenan. Setelah itu melewati jalan menurun dengan bahagia, namun harus selalu mawas diri, sebab lengah sedikit saja berpeluang terpeleset dan jatuh.

Desa Panglipuran di Kabupaten Bangli adalah salah satu desa adat dimana warganya masih melestarikan dan menjalankan budaya tradisional Bali. Arsitektur bangunan dan cara pengelolahan lahan mengikuti konsep tri hita kirana, yakni filosofi tentang keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia dan lingkungan.

Suasana di Desa Adat Panglipuran, Setiap hari selalu kedatangan wisatawan. Foto: M Yusri

Masyarakat setempat kemudian mengemas kekuatan tradisi itu menjadi kebutuhan pariwisata sehingga mampu menggaet wisatawan yang begitu banyak. Berkunjung ke Bali tanpa menyinggahi Desa Panglipuran seolah perjalanan tersebut tidak lengkap. Maraknya kunjungan wisatawan memberi keuntungan dan manfaat yang besar. Masyarakat meraup pendapatan yang besar dengan tetap melestarikan tradisi leluhur.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat pada tahun 2024, misalnya, wisatawan yang mengunjungi Desa Panglipuran sebanyak 1.023.143 orang, meliputi wisatawan asing 152.806 orang dan wisatawan domestik 870.337 orang. Khusus selama Desember 2024, jumlah wisatawan asing mencapai 5.298 orang dan wisatawan domestik 109.637 orang. Harga karcis untuk wisatawan domestic Rp 25.000 (dewasa) per orang dan Rp 15.000 (anak) per orang. Sementara wisatawan asing Rp 50.000 (dewasa) dan Rp 30.000 (anak),

Pengalaman Menarik

Dari Panglipuran kami melanjutkan perjalanan menuju finis di komplek Kompas Gramedia Bali di  Jalan Ida Bagus Mantra, Ketewel, Sukawati, Kabupaten Gianyar. Rute ini masih melewati jalan menurun dengan pemandangan sawah yang apik dan hijau. Kadang terdengar suara gemercik air yang mengalir dalam selokan sawah. Suara tersebut sungguh menyenangkan dan menenangkan. Ada kenyamanan. Mungkin inilah membuat banyak orang seolah tidak pernah bosan mengunjungi Bali.

Sebagian peserta berfoto bersama penjual durian dalam perjalanan dari Lovina menuju Kintamani, Minggu (10/11/2024). Foto: Arsip Jelajah Bike

Setelah berada di Jalan Ida Bagus Mantra, kami masih melewati jalan datar dengan berapa rolling. Arus lalu lintas pun mulai padat. Semangat peserta terus menggebu, sebab sesaat lagi mengakhiri petualangan selama tiga dari tersebut. Sekitar pukul 16.15 Wita, peserta terakhir memasuki finish. Perjalanan bersepeda yang dimulai dari Ijen, Banyuwangi pun berakhir. “Sebuah pengalaman baru, sebab selama ini saya belum pernah bersepeda di pesisir utara Bali. Ini kali pertama. Seru dan menarik,” kata Harry Wiguna, peserta asal Jakarta.

JANNES EUDES WAWA
Pegiat Touring Sepeda

Baca juga:

Menjajal Tanjakan Ijen, Menabung Oksigen

 

JANNES EUDES WAWA
Author: JANNES EUDES WAWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.