Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (20): Perjalanan Melelahkan di Pakistan
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (20): Perjalanan Melelahkan di Pakistan

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWANovember 4, 20231 Komentar9 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Bersama polisi di Pos Perbatasan Gwadar, Pakistan. Polisi Pakistan selalu dibekali senjata laras panjang. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Setelah melewati perjalanan sejauh 700 kilometer dari Karachi, saya akhirnya tiba di pos perbatasan Gwadar (Pakistan)-Rimdan (Iran) pada Sabtu, 21 Oktober 2023 pukul 16.00. Malam itu, rela menginap di kawasan border, dan meyakini besok hari akan memasuki wilayah Iran.  Mimpi tentang mengayuh sepeda Iran pun begitu kencang terngiang dalam segala lamunan.

Esok harinya, Rabu 22 Oktober 2023 sekitar pukul 08.00, kami pun telah berada di pos perbatasan. Kami melaporkan diri kepada petugas tentang rencana perjalanan menuju Iran. Pintu border Iran sudah di depan mata. Jaraknya pun hanya puluhan meter dari pos perbatasan Gwadar, Pakistan.

Bersama polisi di Pos Perbatasan Gwadar, Pakistan. Polisi Pakistan selalu dibekali senjata laras panjang. Foto: Arsip Royke Lumowa

Seketika petugas pun menyampaikan bahwa border Gwadar-Rimdan hanya melayani perlintasan kendaraan bermotor khusus Pakistan dan Iran. Sedangkan, kendaraan di luar kedua negara tersebut hanya di border Taftan. Lokasinya dekat dengan perbatasan bagian selatan Afganistan. Jarak perjalanan dari Gwadar menuju Taftan sejauh kurang lebih 2.000 kilometer.

Mendengar penjelasan dari petugas di pos perbatasan itu, perasaan kami bagaikan tersambar gledek. Jengkel dan kecewa bercampur menjadi satu. Apalagi setelah melihat rute perjalanan menuju Taftan menyerupai huruf D. Kami harus melintas dari selatan menuju ke timur, kemudian ke utara, dan selanjutnya ke arah barat menuju Taftan.

Bahkan, jalan sepertiga jalan yang akan dilewati menuju Taftan sebetulnya telah kami lalui dalam perjalanan sebelumnya menuju ke border Gwadar sejak memasuki Pakistan dari India. Sungguh menyesakkan dada. Akan tetapi, kami tak bisa melakukan apa pun, selain berpasrah diri dan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Bertemu dengan bapak June Kuncoro Hadiningrat, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Karachi, Pakistan. Royke menyerahkan plakat. Foto: Arsip Royke Lumowa

Mungkin ini kesalahan kami juga. Sejak pertama kali memasuki wilayah Pakistan, kami kurang menggali informasi yang lengkap tentang perjalanan menuju Iran. Tetapi tidak apalah. Kasus ini menjadi pengalaman yang berharga.

Kawal ketat

Sebetulnya perjalanan menuju ke border Gwadar juga tidak mudah. Sejak masuk Pakistan pada 8 Oktober 2023, kami selalu mendapatkan pengawalan yang ekstra ketat dari kepolisian Pakistan secara estafet. Mereka melengkapi diri dengan senjata laras panjang.

Saat keluar dari penginapan untuk mencari makan atau mengambil uang pada loket anjungan tunai mandiri juga wajib menyampaikan kepada pengelola hotel. Setelah itu, polisi akan mengawal kemana pun kami pergi.

Sepintas, saya sebetulnya tidak merasakan tanda-tanda berbahaya. Rasanya aman-aman saja. Semua orang Pakistan yang saya jumpai di jalan tampak baik-baik saja, bahkan ramah dan menyenangkan. Itu sebabnya, saya agak prihatin juga melihat polisi harus sibuk mengawal warga negara asing ke sana kemari.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Sang Sutradara Drama Politik
Warga asing selama berada di Pakistan selalu dikawal polisi setempat. Foto: Arsip Royke Lumowa

Namun, ternyata berbicara tentang keamanan di Pakistan tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan. Masih ada beberapa daerah yang rawan terjadi pemberontakan oleh kelompok masyarakat sipil bersenjata.

Misalnya di Bolichistan. Wilayah ini tergolong sangat rawan. Di sana, beberapa kali terjadi kontak senjata dan bom bunuh diri. Perjalanan saya menuju border Gwadar harus melewati wilayah tersebut. Itulah salah satu alasan polisi Pakistan mengawal pergerakan setiap warga asing.

Bahkan, sebelum melintas, kami wajib mengajukan permohonan kepada pemerintah Bolichistan. Setelah mendapatkan persetujuan barulah bisa melewati wilayah ini dengan pengawalan yang ketat dari kepolisian setempat.

Sekitar pukul 17.45, yakni kurang lebih 10 kilometer menjelang Gwadar terjadi badai gurun yang sangat hebat. Angin bertiup sangat kencang. Pasir tebal pun berterbangan. Suasannya gelap bagai malam hari. Mobil pun terguncang seakan ingin melayang. Kami pun menepi demi keselamatan perjalanan.

Badai pasir sempat menghadang perjalanan kami menuju perbatasan Pakistan-Iran di Taftan. Foto: Arsip Royke Lumowa

Kejadian ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Setelah itu, badai itu berangsur mereda, dan mulai terang. Kami melanjutkan perjalanan. Laju mobil diupayakan perlahan, sebab khawatir badai mematikan tersebut tiba-tiba datang lagi.

Berpasrah diri

Dalam perjalanan kami menuju ke border Taftan dari Gwadar yang membentuk rute huruf D, seutuhnya melewati wilayah Bolichistan. Adomama ee. Kami hanya berpasrahkan diri. Menyerahkan seluruh perjalanan ini kepada Yang Maha Kuasa. Kepada penyelenggara Ilahi. Semoga semuanya berjalan lancar dan mendapatkan perlindungan seutuhnya dari Yang Maha Kuasa.

Para pembaca tentu bertanya, mengapa sudah mengetahui adanya wilayah yang rawan di Pakistan, tetapi memilih menggunakan jalur tersebut? Mengapa tidak melewati wilayah Uzbekistan dan sekitarnya yang relatif lebih aman?

Menurut kami, untuk menuju ke Iran, satu-satunya daerah yang patut kami lewati adalah Pakistan. Apalagi, ketika di China, kami memilih melewati wilayah selatan sekaligus menyinggahi Tibet yang indah. Maka negara berikutnya adalah Nepal kemudian India dan Pakistan.

Perjalanan dari border Gwadar menuju Taftan. Foto: Arsip Royke Lumowa

Sementara untuk menuju ke Uzbekistan, saat di China, kami harus melewati wilayah tengah, dan membutuhkan waktu lebih dari 30 hari. Padahal, visa dari pemerintah China hanya untuk 30 hari.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (16): Visa India Tidak Bisa Lewat Darat

Setelah mendapatkan penjelasan dari petugas di border Gwadar, kami pun bergerak menuju border Taftan. Perjalanan kami menyusuri kembali jalur yang telah kami lewati sebelumnya. Dengan pasrah dan berserah diri, serta pantang menyerah, kami terus melaju. Sebagai petualang, tantangan seperti ini memang pasti selalu terjadi. Kami harus menghadapinya dengan jiwa besar dan penuh gairah.

Untuk perjalanan sejauh 2.000 kilometer ini, saya memilih menaiki mobil pengiring agar lebih cepat tiba di Taftan. Kami bertiga yakni saya, om Yayak dan Dimas menyetir mobil bergantian.

Yang menarik adalah selama perjalanan sejauh 2.000 kilometer ini, kami tetap mendapat pengawalan dari polisi Pakistan. Mereka mengawal secara estafet sesuai wilayah tugas masing-masing. Dalam pengawalan, kadang menggunakan mobil, tetapi di wilayah tertentu polisi menggunakan motor.

Lakukan dengan ikhlas

Luar biasanya, dari mulut mereka sama sekali tidak terucap keluhan. Yang ada yakni semangat yang tinggi. Mereka pun tidak mau menerima uang satu peser pun, meski hanya sekedar tip. Mereka juga menolak saat kami mengajak untuk makan bersama.

Alasannya, mereka melakukan tugas pengawalan ini dengan Ikhlas dan setulus hati. Malah di beberapa titik, mereka sempat membelikan kami minuman dingin dan sejenisnya.

Tim pengawal itu ada yang menggunakan kendaraan bermotor yang berada di depan. Tetapi ada satu anggota polisi yang bersama kami dalam mobil. Dalam jarak berkisar 50 kilometer hingga 70 kilometer selalu terjadi pergantian tim pengawalan.

Berada di border Taftan, Pakistan. Kami bersiap untuk menuju Iran. Foto: Arsip Royke Lumowa

Dalam sehari bisa puluhan kali. Setiap pergantian selalu dengan gaya yang bervariasi. Ada yang berhenti sejenak sambil berbincang singkat di antara mereka, yang diakhiri dengan foto bersama sambal bercanda.

Tetapi, ada pula pergantian tim pengawalan tanpa berhenti. Begitu memasuki wilayah baru, pengawal yang baru langsung menghidupkan kendaraannya dan bergerak. Pengawal sebelumnya pun langsung berbalik arah.

Beberapa kali ada pasukan pengganti yang terlambat tiba lokasi. Pengawal lama sudah tiba di batas lokasi wilayah tugasnya, sedangkan pengawal baru belum datang. Kami pun terpaksa berhenti di pos jaga menunggu pengawal baru. Waktu tunggu bervariasi. Ada yang bisa 20an menit.

Di beberapa wilayah, pengawalan menggunakan motor. Mereka berboncengan, mengenakan pakaian preman dan bersenapan laras panjang ala Taliban. Mereka meliuk-liuk di antara antrian kendaraan bermotor saat terjadi kepadatan lalu lintas. Mobil kami tetap mengikuti mereka dari belakang.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (19): Keluar Hotel, Polisi Pakistan Wajib Kawal

Selama perjalanan, ada pos jaga yang mewajibkan kami harus berhenti dan melapor diri. Ada pos jaga tertentu, dimana kami cukup melambaikan tangan kepada petugas yang ada. Suasana ini menunjukkan betapa wilayah Pakistan memang termasuk rawan.

Tiga kelompok

Meski demikian, ketika orang asing berada di negeri ini, mereka selalu ingin melihat dari dekat pesona perempuan. Pakistan tergolong gudangnya perempuan berparas cantik di dunia. Mereka umumnya memiliki kulit putih bersih, mata besar dengan bulu mata yang lentik, alis tegas dan hidung mancung.

Sebut saja Sajal Ali, artis asal Pakistan masuk dalam daftar wanita tercantik di dunia versi TC Candier 2021. Bahkan, sederet artis Indonesia, seperti Raline Shah merupakan keturunan Pakistan.

Akan tetapi, selama di Pakistan, perempuan cantik itu hanya terlihat di kota besar. Di wilayah pedesaan, perempuan selalu dipingit. Mereka dilarang berada di tempat terbuka dan ramai seperti pasar. Di restotan pun selalu menyediahkan tempat khusus perempuan.

Bersama Yayak M Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum meninggalkan Pakistan menuju Iran. Ritual ini wajib kami lakukan setiap kali beralih ke negara baru. Foto: Arsip Royke Lumowa

Sepintas, orang Pakistan terbagi dalam tiga kelompok masyarakat. Pertama, mereka yang menyerupai etnik India umumnya berada di wilayah tengah dan sebagian di utara. Kedua, menyerupai etnik Arab tersebar di sebagian wilayah Selatan dan sedikit di bagian barat. Ketiga, menyerupai etnik China berdomisili di wilayah utara terutama di sepanjang dataran tinggi yakni wilayah Gilgit.

Badai gurun

Perjalanan sejauh 2.000 kilometer ini sungguh melelahkan. Akan tetapi, kami terus berusaha selalu rileks dan menikmati petualangan ini. Jalan raya yang ada pun umumnya beraspal mobil kami pun bisa melaju cepat.

Pada 24 Oktober 2023 sekitar pukul 13.13 waktu setempat, atau kurang lebih 200 kilometer menjelang border Taftar, kami menyusuri pesisir Selatan Provinsi Bolichistan. Di sepanjang perjalanan mendapat suguhan pemandangan dengan hamparan gurun yang luas.

Jalan yang ada pun mendatar dan lurus serta beraspal sangat mulus menyerupai landasan pesawat. Hanya sekali menikung kemudian melewati tanjakan disusul turunan pada bukit yang kering sama sekali tidak berpohon.

Kami akhirnya menghabiskan waktu selama tiga hari untuk menuntaskan perjalanan sejauh 2.000 kilometer. Begitu tiba di border Taftan, kami langsung melapor diri. Tidak lama kemudian urusan perlintasan pun tuntas.

Kami pun memasuki border Iran. Begitu berada dalam Gedung Pos Perbatasan Iran ternyata urusan dokumen perjalanan kami tidak bisa dieksekusi. Penyebabnya adalah sistem komputerisasi yang ada dalam border tersebut mengalami gangguan.

Menginap dalam tenda di kawasan border Iran. Foto: Arsip Royke Lumowa

Nah, di titik ini kami seolah menghadapi situasi yang pelik. Maju kembali ke border Taftan, Pakistan tidak mungkin, karena paspor keluar dari negara itu sudah dicap. Mau masuk melewati pintu utama border Iran juga belum diizinkan, sebab paspor masuk Iran belum dicap.

Sementara hari sudah mulai gelap. Fisik sudah semakin lelah. Kami akhirnya memilih tidur di emperan kantor imigrasi Iran. Siapa takut. Inilah suka duka dari sebuah petualangan. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan Lewatkan!!

Catatan Royke Lumowa (19): Keluar Hotel, Polisi Pakistan Wajib Kawal

 

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Komputer Imigrasi Rusak, Tertahan 26 Jam di Border Iran - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.