Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (16): Visa India Tidak Bisa Lewat Darat
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (16): Visa India Tidak Bisa Lewat Darat

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAOktober 7, 2023Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Seorang warga asal Amristar, India, begitu antusias melihat saya bersepeda. Dia banyak bertanya tentang perjalanan saya. Bahkan, dia rela membayari kami makan pada Sabtu (7/10/2023) siang. Foto: Arsip Royke Lumowa.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Begitu berada di Kathmandu, kami mendapatkan kabar tidak menyenangkan. Visa elektronik yang kami dapatkan di Jakarta ternyata hanya berlaku untuk memasuki India melalui udara. Tidak bisa melalui jalan darat.

Jadi, kebijakan pemerintah India memberikan e-visa merupakan sebuah kelonggaran yang bagus, ternyata ada pengecualian. Penggunaan visa ini bukan untuk melewati darat.

Alamak! Bagaimana dengan mobil? Hal ini tentu menjadi masalah serius untuk kami karena membawa mobil.

Saya mendatangi kantor Kedutaan India di Nepal menjelaskan bahwa kami sedang melakukan perjalanan bersepeda dari Jakarta hingga Paris dengan menyertakan satu mobil pengiring. Saya memohon pengertian mereka agar mengiizinkan kami masuk melalui darat dengan menggunakan e-visa yang ada. Akan tetapi, hasilnya nihil. Kami akhirnya mengikuti ketentuan tersebut.

Persoalan selanjutnya adalah bagaimana nasib mobil pengiring? Siapa yang bisa membantu membawa mobil ini menuju perbatasan Nepal-India?

Bersama Suman, sopir orang Nepal yang membantu membawa mobil pengiring melintasi border Nepal-India. Foto: Arsip Royke Lumowa

Mula-mula, saya mengontak seorang purnawirawan polisi di Nepal yang merupakan sahabatnya teman saya di TNI AL. Yang bersangkutan mengatakan bahwa ada larangan sopir orang Nepal yang membawa mobil dari negara lain melintasi border India.

Informasi ini membuat kami bertambah bingung. Akan tetapi, saya tidak kehilangan akal. Saya meminta bantuan pihak Hotel Aryatara, tempat kami menginap. Mereka berhasil mendapatkan sopir bernama Sumar, asli Nepal tinggal di Kathmandu.

Untuk menyakini bahwa Sumar bisa dipercaya, kami mengajak dia jalan bersama selama beberapa hari di Kathmandu. Dari kebersamaan tersebut, kami menilai Suman orang jujur, dapat diandalkan dan layak dipercaya.

Surat kuasa

Urusan berikutnya adalah dokumen apa yang menjadi bekal Suman saat melapor diri di border Bergunij (Nepal)-Raxaul (India)? Saya membuatkan surat kuasa. Akan tetapi setelah berkonsultasi dengan pihak konsulat Indonesia, surat kuasa itu belum memiliki kekuatan hukum, sebab hanya melibatkan orang per orang. Perlu ada instansi yang mengesahkan surat kuasa tersebut.

Saya bertambah bingung. Apalagi belum ada kedutaan besar Republik Indonesia di Nepal. Yang ada hanya perpanjangan tangan dari KBRI di Dhaka, Bangladesh. Saya kemudian  mengontak pihak KBRI di India, yakni Pak Patriot Adinarto. Saya menjelaskan persoalan yang terjadi.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (21): Komputer Imigrasi Rusak, Tertahan 26 Jam di Border Mirjaveh Iran
Bersama kru di depan Hotel Aryatara Kathmandu, Nepal. Foto: Arsip Royke Lumowa

Pak Patriot pun memahaminya. Dia menyarankan saya mengirimkan surat kuasa ke KBRI India. Dia akan membantu mengesahkan. Surat pengesahkan ini menjadi modal bagi Suman membawa mobil melewati border Nepal-India. Saya mengikuti saran itu, dan urusan ini pun tuntas.

Setelah itu, kami mencari penerbangan menuju India. Kota tujuan adalah yang tidak jauh dari border di Raxaul. Akhirnya, kami mendapatkan kota Lucknow yang setiap hari ada penerbangan dari New Dehli, ibukota India.

Kesibukan menyelesaikan persoalan ini membuat saya tidak sempat mengayuh sepeda selama di Nepal. Sungguh mengecewakan, tetapi saya harus menerima kenyataan dengan lapang dada agar setiap persoalan mampu teratasi dengan baik. Dengan demikian, perjalanan pun tetap lancar.

Masuk India

Pada 27 September 2023, kami menggunakan pesawat dari Kathmandu menuju New Dehli. Setelah transit selama beberapa jam lalu melanjutkan penerbangan menuju Lucknow. Kami tiba di kota ini pukul 22.000 sehingga memilih menginap. Esok harinya menyewa mobil menuju border Raxaul.

Jarak Lucknow hingga Raxaul sejauh 500 kilometer. Kami melewati jalan tol. Tetapi rupanya jalan tol di India sama seperti jalan arteri di Indonesia. Semua jenis kendaraan, termasuk sepeda dan becak bisa melintas.

Sementara perjalanan Suman dari Kathmandu menuju border Bergunij (Nepal) dan Raxaul (India) berlangsung lancar. Sekitar pukul 14.00, dia sudah berada di Raxaul. Urusan dengan bea dan cukai terkait mobil di boder Nepal tidak mengalami kendala. Saat melintas, Suman tidak menggunakan paspor, tetapi kartu khusus warga Nepal untuk masuk India.

Bertemu gajah di tengah jalan saat gowes di India. Foto: Arsip Royke Lumowa

Kami baru tiba di Raxaul pukul 16.30. Jarak border Bergunij  ke Raxaul hanya puluhan meter. Kami langsung ke imigrasi Raxaul untuk menyampaikan bahwa saya selaku pemilik mobil sudah masuk India melalui udara. Saya datang di border itu untuk menjemput mobil.

Petugas Imigrasi lalu mengantar saya ke loket bea dan cukai untuk mengurus surat perjalanan mobil. Mereka memeriksa dokumen cukup detail. Kami perlu menandatangani sejumlah dokumen lagi. Prosesnya cukup lancar, dan selesai pada pukul 20.00.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (37): Menyaksikan Laut Membeku dan Mengeras di Latvia

Raxaul kota kecil, tetapi memiliki penduduk yang padat. Kondisi jalan pun rusak dan berdebu. Tetapi banyak pedagang kaki lima menjajal dagangan. Malam itu kami menikmati makanan yang ada di tepi jalan.

Kami kemudian mencari penginapan di kota itu. Ternyata hanya ada 3 hotel di Raxaul, Setelah kami datangi, ketiga hotel tidak memiliki tempat parkir mobil.

Kami lalu bergeser ke kota terdekat, yakni Bettiah. Di sana, kami mendapatkan hotel dan tersedia tempat parkir mobil. Malam itu, kami menginap di kota tersebut.

Gowes kembali

Esok harinya, yakni 28 September 2023, saya bersepeda kembali. Gowes dari Bettiah menuju Lucknow. Saya memulai gowes sekitar jam 09.00. Selama hari itu terus bersepeda. Beberapa kali berhenti sejenak untuk istirahat, kemudian melanjutkan kembali hingga pada 29 September 2023.

Saya sempat merasakan kantuk yang luar biasa pada pukul 05.00 dan pukul 13.00. Akhirnya pukul 14.00 saya memutuskan mengakhiri gowes dengan total jarak mencapai 345,67 kilometer. Selanjutnya menaiki mobil menuju Lucknow.

Sabtu, 30 September 2023 melanjutkan bersepeda mengarah ke New Dehli. Saya memulai gowes pukul 8 pagi untuk menempuh jarak 261,15 km.

Bersepeda dalam jalan tol di India. Sepeda tidak dikenakan biaya. Foto: Arsip Royke Lumowa

Sebagian besar rute yang melewati jalan tol expres, express way. Tarifnya enam kali lebih besar dari tarif jalan tol biasa. Yang menarik adalah sepeda dan motor boleh masuk jalan tol. Sepeda tidak bayar alias gratis.

Menjelang pukul 23.58, data yang tercatat pada garmin menunjukkan total jarak saya mengayuh sepeda selama September 2023 telah sejauh 1.928 kilometer. Saat itu pula, saya memutuskan untuk berhenti gowes.

Angka 1.928 sangat keramat. Tahun berlangsungnya Sumpah Pemuda. Itu sebabnya pencapaian gowes selama September 2023 ini saya dedikasikan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2023.

Malam itu, saya ingin menginap di Kota Agra, tidak jauh dari tempat finis. Tujuannya besok hari bisa mengunjungi Taj Mahal. Setelah mencari sejumlah penginapan, semuanya terisi tamu. Saat itu menjelang libur nasional sehingga banyak wisatawan menyerbu Agra.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (9): Jiwaku Bergetar di Laos

Pilihan terbaik adalah melanjutkan perjalanan menggunakan mobil menuju ke New Dehli. Perjalanan lumayan jauh sehingga kami tiba pada 1 Oktober 2023 pukul 06.00.

Bersiap menuju Pakistan

Setelah beristirahat sehari penuh, keesokan harinya saya mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Dehli. Saya bertemu dengan Dubes ibu Ina Hagniningtyas Krisnamurthi.

Dia dan stafnya menerima saya dengan penuh kekeluargaan. Saya menceritakan perjalanan bersepeda yang hampir tiga bulan dengan segala suka dan dukanya. Kami juga mendalami berbagai informasi tentang Pakistan yang menjadi negara tujuan berikutnya.

Apalagi kami juga mendapat informasi yang keliru tentang cara masuk ke Pakistan. Saat masih di Jakarta, kami mendapat kabar bahwa Pakistan telah memberlakukan visa on arrival (VOA). Ternyata salah. Paskitan menerapkan visa elektronik (e-visa). Kami berharap e-visa itu berlaku juga untuk kedatangan ke Pakistan pada melalui jalur darat.

Kami menjalin komunikasi dengan pihak KBRI di Pakistan. Mereka menyampaikan permintaan kami kepada Kedubes Pakistan di Jakarta. Sejauh ini urusan itu berjalan lancar. Saat ini posisi kami masih di New Dehli, tetapi di pinggir kota sebelah barat yang mengarah ke Pakistan. Persisnya di Ludhiana.

Jumat sore, kami mendapatkan kabar gembira bahwa visa elektronik Pakistan sudah keluar. Visa ini berlaku juga untuk memasuki Pakistan melalui darat dari India. Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, visa tersebut sesuai harapan kami.

Sabtu (7/10/2023) pukul 03.30, saya bersepeda dari Ludhiana menuju Amristar sejauh 181 kilometer. Saya sengaja memulai gowes pada dinihari agar terhindar dari arus kendaraan yang padat dengan suasana suhu yang lebih sejuk. Kondisi jalan pun lumayan bagus sehingga memungkinkan saya mengayuh sepeda lebih kencang.

Seorang warga asal Amristar, India, begitu antusias melihat saya bersepeda. Dia banyak bertanya tentang perjalanan saya. Bahkan, dia rela membayari kami makan pada Sabtu (7/10/2023) siang. Foto: Arsip Royke Lumowa.

Menjelang pukul 07.00, temperatur udara mencapai 21 derajat celcius. Setelah itu, terus meningkat, dan selepas pukul 10.00 berkisar 35-38 derajat celcius.

Saya tiba di Amristar pukul 12.00. Kami akan menginap semalam di kota tersebut. Minggu pagi melanjutkan gowes sejauh 30 kilometer menuju border Attari (India)-Wagah (Pakistan). Mohon doa semua sahabat dan handai taulan di Tanah Air agar perjalanan kami tetap lancar dan selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan Maha Kuasa. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan Lewatkan!

Catatan Royke Lumowa (15): Nepal-China Bagai Bumi dan Langit

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.