Kota Namestovo, Slowakia pada 1 Januari 2024 terasa sangat dingin. Di luar penginapan, seluruh area, termasuk jalan tertutup salju tebal. Suhu udara mencapai minus 1 derajat celcius. Akan tetapi, saya memutuskan tetap mengayuh sepeda menuju perbatasan Polandia.
Sebelum bersepeda, saya menyempatkan diri mengikuti misa di sebuah gereja Katolik yang berada persis berseberangan jalan dengan tempat penginapan. Saya berjalan kaki melewati gumpalan-gumpalan salju.
Umat yang hadir cukup banyak. Gereja penuh sesak. Saya tidak kebagian tempat duduk, sebab saat tiba, misa sedang berlangsung. Saya bersama beberapa umat memilih berdiri di area yang kosong. Umat yang hadir paling banyak kalangan dewasa.
Meski demikian, kehadiran umat yang begitu banyak cukup mengagetkan saya. Karena selama ini selalu berkembang cerita bahwa banyak gedung gereja di Eropa semakin sepi. Hanya sebagian kecil umat Katolik yang mengikuti ibadah di gereja.
Bahasa pengantar dalam misa tersebut adalah Bahasa Slovak. Saya sama sekali tidak mengerti bahasa ini. Akan tetapi, saya tidak terlalu mengalami kesulitan yang serius, sebab semua gereja Katolik di seluruh dunia memiliki penggalan liturgis yang sama. Bedanya hanya pada ritual lokal dan bahasa.
Gundukan salju
Selesai misa, saya pun kembali ke penginapan, dan bersiap diri memulai gowes. Saat itu sudah pukul 10.34, tetapi salju tetap tebal. Suhu udara pun masih minus. Gejala untuk redah nyaris tidak tampak sehingga saya memutuskan memulai bersepeda. Apalagi di jalan raya pun tampak mobil pembersih salju sedang beroperasi.

Mula-mula gowes ini berlangsung lancar. Namun, beberapa ratus meter ke depan ada beberapa penggal jalan yang masih tertutup salju membuat saya harus ekstra hati-hati dalam mengayuh, sebab sangat licin.
Saat melewati tikungan atau tanjakan, beberapa kali ban belakang sempat terselip dalam salju. Saya pun langsung sigap sehingga terhindar dari jatuh atau kecelakaan.
Saya mencoba terus mengayuh. Namun, di sejumlah titik, badan jalan menyempit, sebab ada gundukan salju berada di kiri dan kanan jalan. Saat yang sama volume kendaraan yang searah terus bertambah. Semuanya berusaha menghindari gundukan salju. Saya pun semakin waspada.
Saking fokus perhatian pada kepadatan kendaraan dan gundukan salju, tanpa saya sadari salju telah menempel di rangka sepeda, jaket, celana, Sepatu, helm dan kaca mata. Tempelan salju pada kaca mata sungguh mengganggu. Beberapa kali saya kewalahan, sebab menghalangi pandangan.
Tantangan demi tantangan dalam mengayuh sepeda di salju saya mencoba hadapi dengan baik. Akan tetapi, memasuki kilometer 17,13, rintangan tersebut terasa bertambah berat.

Penyempitan badan jalan akibat gundukan salju semakin banyak. Begitu pula volume kendaraan yang searah juga membludak. Para pemakai kendaraan baru kembali merayakan malam Tahun Baru 2024 di wilayah Slovakia dan ingin kembali ke kawasan selatan Polandia.
Dari kilometer 17,13, saya memutuskan loading. Selanjutnya naik mobil menuju Kota Bielsko Biala, Polandia, dan bermalam di kota ini.
Batas tanpa petugas
Perjalanan sempat melewati sebuah tanjakan. Di puncaknya berdiri pos perbatasan Slowakia-Polandia. Seperti umumnya border di wilayah Uni Eropa, yang ada hanya gedung pos perbatasan negara, tetapi tidak ada petugas yang melayani.
Tidak ada lagi pemeriksaan paspor dari imigrasi atau petugas Bea dan Cukai. Semua wilayah Uni Eropa telah menjadi satu kesatuan. Semua perbatasan negara sudah borderless.

Meski demikian, sewaktu hendak memasuki wilayah Polandia, kami tetap melakukan ritual perbatasan. Kami mendengarkan lagu kebangsaan Slovakia, lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya. Menarik adalah ritual ini kami lakukan di bawah hujan salju. Di tempat kami berdiri pun penuh salju.
Setelah itu, kami melanjutkan kembali perjalanan. Baru beberapa meter ke depan, tanpa sadar saya agak kaget melihat bendera merah putih terpasang terbalik, yakni putih-merah. Seketika saya pun tersadar bahwa kami sudah memasuki wilayah Polandia. Negara ini memiliki bendera kebangsaan putih merah.
Polandia termasuk salah satu negara di Eropa yang cukup luas. Luas wilayahnya sekitar 313.931 kilometer persegi dengan jumlah penduduk kurang lebih 38 juta jiwa yang menjadi negara anggota Uni Eropa dengan jumlah penduduk terpadat kelima.
Selepas border, dan memasuki wilayah Polandia, kontur jalannya menurun. Turunannya cukup panjang. Semua kendaraan bergerak sangat hati-hati, sebab badan jalan masih berselimut salju. Polisi berjaga di setiap titik rawan. Antrian itu berlangsung kurang lebih satu jam.
Kami tiba di Kota Bielsko Biala menjelang petang. Malam itu kami menginap di kota ini dalam suasana suhu udara yang lumayan dingin.
Ban sepeda bocor
Keesokan harinya, Selasa, 2 Januari 2024, saya melanjutkan bersepeda menuju ke sebuah kota kecil bernama Ogrodzieniec dengan jarak 101,30 kilometer. Pagi itu hingga pukul 09.00, suhu udara masih nol derajat celcius. Namun tidak ada hujan dan salju.
Saya pun memutuskan memanfaatkan cuaca yang bersahabat ini untuk mengayuh sepeda. Maka, tepat pukul 09.16, saya mulai gowes. Jalan yang ada sangat mulus, dan tak banyak lalu lalang kendaraan.

Saya mencoba melewati jalan tol, sebab tidak ada larangan bagi sepeda. Sepeda boleh melaju di bahu jalan. Menariknya lagi di Eropa, di kota kecil sekalipun selalu tersedia jalur sepeda.
Setelah keluar dari jalan tol, terutama sekitar pukul 11.00, ban belakang sepeda bocor. Kami mencoba membongkar ternyata kebocoran tersebut akibat terkena serpihan kawat. Kemungkinan kawat itu berada dalam jalan tol.
Kerusakan ban terakhir kali terjadi saat masih di Iran pada awal November 2023. Artinya, daya tahan ban sepeda ini lumayan bagus.
Hari itu, saya mampu menuntaskan bersepeda hingga finis di Kota Ogrodzieniec. Total ketinggian perjalanan yang terlewati mencapai 666 meter. Ini sungguh luar biasa. Saya senang dan bahagia dengan pencapaian tersebut.
Rabu, 3 Januari 2024, saya melanjutkan gowes menuju ke kota Franciszka Ryxa. Pagi itu suhu di kota Ogrodzieniec hanya 2 derajat celcius. Sangat dingin. Tetapi tidak ada hujan dan salju sehingga membuat saya cukup nyaman mengayuh sepeda.
Suasana di jalan pun cukup lengang, Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Jalan yang saya lewati umumnya memiliki pagar. Di balik pagar ada anjing yang dipelihara warga untuk menjaga rumah.
Melihat saya mengayuh sepeda, anjing-anjing itu pun menggonggong. Maklumlah, saya adalah orang baru. Setiap kali melihat orang baru, anjing selalu memberikan reaksi dengan menggonggong. Saya berusaha menyapa dengan ramah sehingga tak lama kemudian mereka pun diam.
Saling sapa
Selama perjalanan ini, saya juga berusaha berinteraksi dengan warga lokal. Di mana saja. Entah di jalan, penginapan, tempat wisata, restoran dan lainnya. Warga setempat pun selalu membalas dengan ramah sehingga terjadi dialog yang baik. Saya dapat menjelaskan maksud dan misi perjalanan ini. Mulai dari mana menuju ke mana, dan lain sebagainya.
Siang itu, saya berjumpa dengan sejumlah anak remaja di restoran Mahi Kebab di kota Pobiedna. Saya menyapa mereka, dan responnya bagus. Mereka bertanya saya asal dari mana. Ada yang penasaran dengan Indonesia. Setelah saya menceritakan tentang Indonesia mereka pun tertarik ingin menggali informasi lebih jauh.
Memasuki kilometer 100,41, saya memutuskan berhenti gowes. Total ketinggian saya bersepeda hari itu mencapai 505 meter. Suhu udara masih 2 derajat celcius. Selanjutnya saya memilih loading hingga Kota Warsawa, ibukota Polandia. Jaraknya sejauh 28 kilometer.

Pilihan tersebut saya lakukan, sebab dalam pembicaraan beberapa hari sebelumnya dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Polandia, sore itu kami bertemu di Wisma KBRI di Warsawa. Maka, dari kilometer 100,41 itu, kami langsung menuju ke wisma.
Di sana, kami diterima ibu Anita Lidya Luhulima selaku Dubes beserta staf KBRI serta mendapat jamuan makan malam. Dalam pertemuan itu, kami bercerita tentang Polandia, tentang perjalanan saya sejak dari Jakarta hingga di Warsawa dengan segala perjuangannya.
Tidak lupa kami juga bercerita tentang Ambon dan Maluku. Kebetulan bu Anita asli Maluku. Luhulima adalah salah satu marga masyarakat Maluku. Setelah itu, kami menuju ke penginapan.
Pakaian anti salju
Pada Kamis, 4 Januari 2024, saya memilih bertahan di Warsawa, dan tidak bersepeda. Hari itu saya istirahat total, kemudian siang harinya berburu kuliner Asia. Tetapi, kami hanya berhasil mendapatkan makanan China dan Thailand. Sedangkan kuliner Indonesia nihil.
Saya juga sempat mencari pakaian yang dapat membentengi diri saya menghadapi musim salju yang bakal bertambah ekstrim di wilayah utara Eropa, seperti Finlandia. Salah satu yang saya cari adalah kaca mata.
Kaca mata yang ada ternyata tidak dapat menahan gempuran salju. Jadi, saya perlu mencari kaca mata anti salju. Kaca mata itu biasa dipakai saat bermain di salju. Saya berhasil mendapatkannya di toko Ice Skating. Tidak ada di toko sepeda.
Orang Eropa selama musim salju memilih bertahan di rumah, bukan bebas jalan-jalan. Apalagi mengayuh sepeda jarak jauh. Mereka berolahraga sesuai alam. Kalau musim salju, maka berolahraga Ice Skating. Memanfaatkan suasana alam.
Akan tetapi, saya harus tetap melakoni niat baik ini. Bersepeda hingga finish di Paris dengan melewati negara-negara di Eropa apa pun kondisi alamnya. Saya juga mendapatkan helm, jaket, dan sarung tangan yang cocok untuk daerah salju. Semua pakaian ini ternyata bermanfaat sekali saat saya melewati Estonia, Finlandia, Stockholm dan Oslo.
editor: JANNES EUDES WAWA
Catatan Royke Lumowa (34): Mengunjungi Rumah Pemimpin Yugoslavia
