Selasa, 26 Desember 2023, saya melanjutkan bersepeda menuju ke Kroasia. Akan tetapi, sebelum meninggalkan kota yang indah ini, saya meluangkan waktu mengunjungi rumah mantan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Presiden Tito sangat populer dan menjadi tokoh pemersatu yang berhasil mempertahankan keutuhan Federasi Yugoslavia.
Popularitas Presiden Tito terus meluas karena telah memprakarsai Gerakan Non Blok bersama Presiden Indonesia Soekarno, Jawaharlal Nehru dari India, Gamal Abdul Naser dari Mesir dan Kwame Nkrumah dari Ghana. Kelima tokoh tersebut memegang peran kunci dan kemudian dikenal sebagai pendiri Gerakan Non Blok (GNB). Mereka menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) I GNB pada 1-6 September 1961 di Beograd, Yugoslavia.

Dia juga menolak hegemoni Soviet pada tahun 1948 dan menyatakan keluar dari organisasi Kominform sekalipun dia salah satu pendirinya. Di kalangan bangsa Yugoslavia, Tito (7 Mei 1892-4 Mei 1980) adalah pemimpin revolusioner komunis sekaligus negarawan. Dia menduduki berbagai jabatan sejak tahun 1943 hingga kematiannya. Salah satu jabatannya adalah Presiden Pertama Yugoslavia selama 14 Januari 1953 hingga 4 Mei 1980.
Rumah Presiden Tito letaknya hanya puluhan meter dari wisma KBRI Serbia. Rumah itu telah berubah menjadi museum yang bersejarah bagi Kota Beograd, yakni Museum Yugoslavia. Dalam museum tersebut berisi banyak kisah sejarah Yugoslavia dan kehidupan Josip Broz Tito.
Museum ini memiliki tiga bangunan utama yang sebelumnya merupakan bagian dari Pusat Memorial Josip Broz Tito. Salah satu bangunan adalah makam Presiden Tito. Museum tersebut pertama kali dibuka pada 25 Mei 1962 yang dibangun Pemerintahan Kota Beograd sebagai hadiah untuk Presiden Tito yang merayakan ulang tahun ke-70.
Marka jalan Eropa
Sekitar pukul 08.30, saya mulai bersepeda. Suhu udara Kota Beograd pagi itu hanya 6 derajat celcius, tetapi udara cukup cerah dan tidak ada salju sehingga gowes sangat nyaman.
Saat menyinggahi rumah mendiang Presiden Tito, saya menyempatkan diri berfoto. Maklum, ini adalah sebuah peristiwa penting dalam hidup saya karena dapat mengunjungi rumah tokoh besar dalam Gerakan Non Blok dengan bersepeda. Foto-foto ini tentu menjadi kenangan yang sangat bernilai selama hidup saya.

Selanjutnya, saya menyusuri Kota Beograd melewati jalur sepeda yang ada sampai di batas kota. Salah satu yang menarik dari kota-kota di Eropa yakni di setiap perempatan atau pertigaan yang tidak begitu ramai selalu tersedia bundaran di tengah.
Tujuannya untuk mengetahui kendaraan mana yang harus berhenti, dan memberi prioritas atau kesempatan bagi kendaraan yang datang dari arah lain. Hal itu dapat terlihat dari marka jalan yang ada di depan kita atau di ujung jalan itu.
Di situ biasanya terdapat marka segitiga sama kaki (piramida). Kalau segitiga tersebut tajamnya menghadap ke kita berarti kita harus memberi prioritas kendaraan yang datang dari arah lain. Umumnya arah kiri. Ciri ini selalu ada di semua Eropa.
Larangan foto
Menjelang makan siang, saya sempat berhenti di Markas Angkatan Udara, di Kota Batajninica. Semula berniat untuk berfoto, tetapi petugas melarang.
Dari pengalaman selama perjalanan ini, boleh atau tidaknya berfoto di depan markas tentara atau polisi di setiap negara bukan karena kebijakan institusi, melainkan tergantung pada petugas yang berjaga. Ada petugas yang mengizinkan, tetapi ada juga petugas yang melarang. Jadi, tergantung pada pendekatan saja.
Siang itu, kami makan di kota Indija, kemudian melanjutkan ke Kota Ruma. Kota ini lumayan ramai. Di tengah kota, tampak semarak dengan hiasan Natal. Saya sempat berfoto di salah satu taman kota yang keren.
Perjalanan hari ini lebih banyak melewati jalan datar. Bahkan, total ketinggian hanya 296 meter. Artinya, sangat landai. Sekitar 12 kilometer menjelang border Serbia-Kroasia, saya istirahat sejenak. Hingga di lokasi ini jarak perjalanan mencapai 114,96 kilometer.

Selanjutnya saya loading, Di border, proses pemeriksaan berjalan lancar dan singkat. Hanya paspor yang dicap, sedangkan di bea dan cukai tidak ada pemeriksaan atas dokumen perjalanan mobil.
Setelah itu kami melakukan ritual perbatasan negara, yakni mendengarkan lagu kebangsaan Serbia dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di salah satu sudut border. Selanjutnya, kami masuk wilayah Kroasia melalui pemeriksaan yang singkat.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 17.00 tetapi suasana mulai gelap. Maklum saja, di wilayah ini matahari terbenam sekitar pukul 16.00.
Banyak lapangan sepak bola
Malam itu, kami menginap di Desa Lipovac, letaknya tidak jauh dari border. Nama penginapannya yakni Sobe Mira. Rumah ini terdiri dari 4 kamar. Tidak ada restoran di desa tersebut. Ibu pemilik menyiapkan kami makan malam gratis. Akan tetapi, kami sudah terlanjur memasak mie instan sehingga makanan gratis dari pemilik penginapan kami simpan untuk makan besok pagi.
Hari berikutnya, 27 Desember 2023, saya melanjutkan bersepeda dari Lipovac ke border Hungaria. Negara-negara di Eropa umumnya kecil sehingga dalam radius tidak lebih dari 200 kilometer sudah berganti negara. Asyik juga ya.
Pagi itu suhu agak meningkat yakni 8 derajat celcius dengan udara yang cerah. Saya memulai perjalanan pada pukul 10.23 menyusuri sisi timur Kroasia melewati desa-desa dan kota-kota kecil nan indah dan bersih.
Menariknya lagi ada banyak lapangan sepak bola tersebar di desa-desa itu. Hal ini memberi kesan bahwa masyarakatnya termasuk gila bola. Proses pembinaan para pemain lahir dari bawah.
Pantas saja, tim nasional Kroasia selalu ikut Piala Dunia dan Piala Eropa. Bahkan, selalu lolos delapan besar dan kadang empat besar. Sullit menemukan restoran di jalur ini. Ada hanya toko roti, yakni di Kota Nustar.
Memasuki puncak siang hari, hembusan angin terasa lumayan kencang dari sisi kanan. Saya pun beberapa kali terpaksa berlindung di samping kiri mobil agar dapat mengayuh sepeda dengan baik.
Border tanpa petugas
Akhirnya pada pukul 16.21, saya tiba di border Kroasia-Hongaria. Uniknya, di pos perbatasan kedua negara itu tersedia bangunan yang sederhana tanpa petugas. Setelah melewati bangunan itu, kami masih tidak meyakini bahwa sudah memasuki Hungaria.
Di antara kami pun saling bertanya, masuk negara baru kok tidak ada petugas untuk mencap paspor? Bayangan kami pun tertuju pada negara-negara sebelumnya yang selalu ada petugas di border disertai pemeriksaan yang ketat, dan lengkap dengan segala macam dramanya.
Untuk lebih meyakinkan, saya akhirnya bertanya kepada warga yang tinggal di sekitar border. Kebetulan ada beberapa rumah dan ada penghuninya. Saya menanyakan apakah benar daerah ini masuk negara Hongaria? Mereka pun menjawab, “Betul, di sini sudah wilayah Hongaria.

Saya kemudian bertanya lagi, mengapa tidak ada petugas di pos perbatasan? Mereka mengatakan, border itu memang sudah borderless. Kami pun sangat senang. Soalnya masih terngiang-ngiang betapa sulitnya melewati sejumlah border angker di negara lain.
Kami kemudian melanjutkan perjalan menuju Mohacs, kota kecil yang berada kurang lebih 11 kilometer dari border Hongaria. Malam itu kami menginap di kota yang lebih mirip dengan pedesaan. Suasananya adem dan tenang.
Dari Mohacs, pada 28 Desember 2023, saya meneruskan perjalanan menuju ke kota Dunafvolder. Jalanan yang ada pun sepi dari lalu lalang kendaraan. Mobil-mobil besar lebih memilih melewati jalan tol.
Saya memulai gowes pada pukul 09.50, sedikit agak siang karena pagi harinya masih sempat menikmati suasana di wilayah Mohacs. Suhu pagi itu sangat dingin, yakni hanya 2 derajat celcius. Kontur jalan pun sangat landai. Bahkan, total ketinggian 360 meter.
Kami makan siang di wilayah Tolna, sekitar 58 kilometer dari Mohacs. Setelah itu saya melanjutkan gowes mencapai jarak 105,26 kilometer. Dari lokasi itu saya memilih loading menuju Kota Dunafvolder dengan jarak yang tersisa 20 kilometer.
Masuk Slowakia
Pada 29 Desember 2023, saya tidak bersepeda, tetapi menggunakan mobil langsung ke Kota Budapest, ibukota Hongaria. Pilihan ini dilakukan, sebab sebelumnya saya sudah berjanji dengan pihak KBRI Hungaria bahwa pada pukul 11.00 bertemu dengan Staf KBRI yakni Pak Gunadi dan ibu Sherly.
Kepada saya, mereka menjelaskan tentang Hungaria, lalu memberikan sejenis surat keterangan. Isinya menjelaskan bahwa saya dan kru adalah warga negara Indonesia yang sedang melakukan perjalanan keliling dunia. Surat ini menjadi penguat apabila terjadi sesuatu hal terhadap kami selama berada di Hungaria.
Tak lama kemudian kami pun berjumpa dengan Dubes Hongaria Pak Dimas Wahab. Kami berbagi cerita tentang perjalanan bersepeda yang sudah begitu jauh mengayuh. Pak Dimas juga menginformasikan sejumlah hal tentang negara dan masyarakat Hungaria.

Hari itu hari Jumat. Di Wisma KBRI ada sebuah ruangan lumayan besar yang selalu digunakan untuk sejumlah kegiatan, termasuk sholat. Kru pun memanfaatkan kesempatan ini untuk sholat jumat bersama staf KBRI.
Sore itu sempat jalan-jalan menikmati Kota Budapest. Malam itu kami juga menginap di kota terbesar di Hongaria, dan menjadi kota terbesar ke-10 di Uni Eropa. Budapest juga menjadi salah satu kota terindah di Eropa sehingga setiap tahun mampu menyedot kurang lebih 4 juta hingga 5 juta wisatawan asing.
Keesokan harinya, pada 30 Desember 2023 saya bersepeda menuju Sahy, sebuah kota kecil yang sudah masuk wilayah Slowakia. Suhu pagi itu 3 derajat celcius dan berkabut cukup tebal.
Meski demikian, saya memutuskan melanjutkan bersepeda. Perjalanan kali ini cukup menantang, sebab melewati banyak tanjakan dan kelokan. Arus lalu lintas relatif sepi dari kendaraan sehingga saya cukup leluasa saat menghadapi tanjakan.
Memasuki kilometer 38, kami beristirahat sejenak sekaligus makan siang. Menu yang ada umumnya roti. Kadang mulai timbul rasa bosan juga menyantap roti, tetapi seperti kata pepatah: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, kami pun harus menikmati makanan ini dengan senyum bahagia.
Untuk Pak Togar
Setelah itu, bersepeda lagi hingga melewati border Slowakia, yakni di Kota Sahy. Di situ jarak perjalanan bersepeda telah mencapai 87,94 kilometer. Total ketinggian mencapai 643 meter. Artinya lumayan beberapa tanjakan. Dari Sahy, saya memilih loading menuju ke kota Krupina sejauh 42 kilometer untuk menginap.
Hari terakhir tahun 2023, saya bersepeda dari Krupina menuju kota Motycky. Jarak hanya 71,71 kilometer, tetapi total ketinggian mencapai 672 meter. Suhu udara 3 derajat celcius, dan saya memulai perjalanan pada pukul 09.00.
Gowes akhir tahun ini saya dedikasikan untuk Pak Komjen Polisi (purn) Togar Manatar Sianipar, mantan Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN). Beliau mantan komandan batalyon saya saat Pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1983 di Semarang.
Saya menganggapnya sebagai orangtua dan guru. Beliau alumni Akpol tahun 1971. Maka jarak gowes saya pada tutup tahun 2023 ini sejauh 71,71 kilometer. Di rute ini, saya bertemu salju yang tebal di sepanjang jalan untuk kedua kedua kalinya. Pertama di Macedonia Utara saat gowes menuju border Bulgaria.
Dari kilometer 71,71 saya loading menuju kota Namestovo sejauh 79,29 kilometer. Di kiri dan kanan jalan penuh dengan hutan pinus. Kami bermalam di kota ini. Untuk pertama kalinya saya merasakan suasana malam tahun baru di kota kecil di Eropa. Sungguh nikmat.
editor: JANNES EUDES WAWA
Catatan Royke Lumowa (33): Malam Natal yang Syahdu di Beograd
