Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (21): Komputer Imigrasi Rusak, Tertahan 26 Jam di Border Mirjaveh Iran
Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (21): Komputer Imigrasi Rusak, Tertahan 26 Jam di Border Mirjaveh Iran

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWANovember 16, 20231 Komentar5 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Bersama anak-anak Iran. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Perjalanan saya untuk memasuki Iran memang tidak mulus. Setelah melewati border Taftan, Pakistan, ternyata harus tertahan lagi semalam dalam pos perbatasan Iran sebelum resmi memasuki negeri tersebut. Begitu berada di dalamnya harus menghadapi lagi banyak urusan perjalanan yang cukup ribet.

Saya bersama kru sebetulnya sudah berada di border Taftan, Pakistan, pada 24 Oktober 2023 sekitar pukul 15.30. Waktu tiba ini sebetulnya cukup mepet dengan jam operasional di border Taftan yang berakhir pada pukul 17.00.

Pos perbatasan negara Iran di Mirjaveh. Foto: Arsip Royke Lumowa

Pengalaman kami pada sejumlah border sebelumnya, urusan pada imigrasi bagi para pelintas batas, serta bea dan cukai untuk kendaraan bermotor menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Itu baru pada border dari negara yang menjadi pintu keluar. Belum lagi urusan di border negara tujuan berikutnya yang umumnya sedikit lebih lama.

Keterlambatan tiba di Taftan karena polisi Pakistan yang mengawal kami ternyata melakukan tugas serupa untuk satu group orang asing lainnya. Warga asing dari Eropa itu menggunakan mobil truk tertutup. Mobil tersebut tidak dapat berjalan kencang. Kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam. Laju mobil kami pun terpaksa menyesuaikan.

Tertahan di pos Iran

Begitu tiba di border Taftan, kami langsung melapor diri pada bagian imigrasi serta bea dan cukai. Meski petugas cukup cekatan, tetapi menghabiskan waktu kurang lebih satu jam barulah tuntas.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 16.30. Kami pun resmi meninggalkan Pakistan, lalu maju beberapa meter langsung memasuki gerbang utama pos lintas batas Mirjaveh, Iran. Kami langsung menuju ke pos imigrasi untuk melapor diri.

Bersama anak-anak Iran. Foto: Arsip Royke Lumowa

Setelah berada beberapa menit di pos tersebut, para petugas menyampaikan bahwa sistem komputer pada imigrasi setempat mengalami kerusakan. Tim teknis sedang bekerja keras untuk memperbaikinya. Antrian para pelintas beserta kendaraan semakin panjang.

BACA JUGA:  Semalam di Pulau Terselatan Indonesia

Sementara itu, urusan Carnet de Passages en Douane (CPD) bagi kendaraan pada bagian bea dan cukai setempat menggunakan sistem manual sehingga langsung tuntas sore itu. Dengan demikian, mobil kami dapat bergeser ke dalam kompleks border Mirjaveh.

Kami tetap menunggu perbaikan sistem komputer imigrasi. Pada titik ini, posisi kami sebetulnya serba salah. Di satu sisi, kami telah resmi keluar dari Pakistan dan sudah berada di gerbang Iran. Tetapi di sisi lain, kami belum boleh memasuki Iran, sebab masih menunggu urusan pada imigrasi.

Buka tenda

Hingga pukul 21.00, masalah komputer belum tertangani. Malah petugas imigrasi menyatakan urusan paspor takkan tertuntaskan pada malam itu, sebab mereka sudah kelelahan, dan ingin kembali ke rumah untuk beristirahat.

Akhirnya petugas imigrasi menutup kantor, lalu kembali ke rumah masing-masing. Mereka mengizinkan kami memanfaatkan emperan kantor menjadi tempat menginap pada malam tersebut.

Tidur dalam tenda di emperan kantor Imigrasi border Mirjaveh, Iran

Kami memutuskan membuka tenda di emperan kantor imigrasi border Mirjaveh. Malam itu suhu udara cukup dingin. Belum lagi suara anjing menggongong berkali-kali sehingga tidur pun tidak nyaman. Anjing itu berjumlah sekitar 5 ekor yang hidup liar di dalam border. Mungkin anjing-anjing liar ini juga untuk menjaga keamanan kantor dalam kawasan tersebut.

Meski liar, tetapi selalu familiar dengan setiap orang yang menyapanya. Bahkan, anjing-anjing tersebut selalu mendapatkan makanan dari pengelola kantin border, sehingga posturnya gemuk.

Kalau saya perhatikan, anjing-anjing di Pakistan dan Iran selalu hidup liar, tetapi postur selalu gemuk dan terpelihara. Hewan ini juga familiar dengan siapa saja, termasuk orang baru yang menyapanya dengan baik.

Beda dengan anjing di China yang selalu galak, sebab ada peraturan di negeri itu, dimana anjing wajib berada dalam kendang atau diikat. Maka, begitu pemilik mengeluarkan dari kendang, anjing-anjing tersebut langsung beringas.

BACA JUGA:  Alphorn, Musik Unik dari Alpen

 

Lebih dari 26 jam

Esok hari, Rabu, 25 Oktober 2023 sekitar pukul 07.00, para petugas imigrasi mulai berdatangan. Para pelintas batas negara juga kembali memadati border.

Saat yang sama, saya mencoba jalan-jalan di sekitar kompleks untuk mengecek rasa penasaran soal anjing yang menggonggong. Saya agak kurang yakin bahwa masyarakat Iran memelihara anjing.

Ternyata benar, masyarakat setempat gemar memelihara anjing. Hewan ini untuk menjaga rumah dari kemungkinan aksi kriminal dan lain sejenisnya.

Hingga pukul 11.00, penantian kami belum mendapatkan titik terang. Tetapi, saat yang sama sejumlah pelintas batas negara dan kendaraan bermotor mulai bergerak masuk ke wilayah Iran. Rupanya, itu adalah warga Iran. Urusan mereka di imigrasi menggunakan sistem manual.

Sementara warga negara asing tetap menunggu perbaikan sistem komputer. Kami pun gigit jari. Sudah hampir 19 jam kami tertahan di gerbang utama border Mirjaveh.

Baru pukul 18.00, pihak imigrasi memproses paspor kami. Itu pun menggunakan sistem manual, sebab komputer masih bermasalah. Para pelintas kemudian bertanya, kalau menggunakan cara kerja manual mengapa harus membiarkan kami menunggu lebih dari 26 jam? Tetapi, nasi sudah menjadi bubur sehingga kami pun hanya memasrahkan diri.

Ketika proses di imigrasi itu berjalan, saya sempat membisiki seorang petugas bagian pariwisata di border Mirjaveh agar mempercepat pencapan paspor bahwa kami tidak berkeberatan kalau harus mengeluarkan uang. Namun, petugas tersebut langsung menegaskan bahwa mereka tidak menerima uang. Kami dilarang melakukan korupsi.

Sekitar pukul 19.00, urusan kami pada bagian imigrasi pun tuntas. Kami pun resmi memasuki wilayah Iran pukul 19.30. Iran menjadi negara kesepuluh yang saya lewati dalam perjalanan dari Jakarta menuju Paris.

BACA JUGA:  Jelajah Toba Samosir (1), Nikmati Gowes dan Mandi Hujan
Makan roti di Zahedan, Iran. Foto: Arsip Royke Lumowa

Setelah keluar dari border, kami meluncur ke kota Mirjaveh untuk mencari makan. Saat itu, di sana tidak ada restoran yang buka. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, yakni Zahedan. Tiba pukul 21.00, dan kami menginap dua malam di kota ini. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan lewatkan!!

Catatan Royke Lumowa (20): Perjalanan Melelahkan di Pakistan

 

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Catatan Royke Lumowa (22): Perjalanan di Iran, Siapkan Uang Lokal Tunai - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.