Tidak mudah melakukan transaksi keuangan bagi warga asing di wilayah Iran. Di negeri ini, sistem transaksi internasional yang menggunakan kartu visa dan mastercard sama sekali tidak berlaku. Semua urusan pembayaran hanya dengan kartu lokal atau uang tunai. Akan tetapi, proses pengadaan kartu lokal pun tidak mulus.
Sehari setelah berada di Zahedan, yakni pada Kamis, 26 Oktober 2023, kami fokuskan diri untuk mengurusi sejumlah kebutuhan selama di Iran. Kami mencari bank untuk membeli kartu lokal. Akan tetapi, proses registrasinya cukup ribet sehingga kami terpaksa menunda urusan ini.
Kami kemudian mencari loket money changer untuk menukarkan uang dengan mata uang Iran, yakni rial. Jasa pelayanan ini pun ternyata sangat terbatas sehingga kami harus mendatangi sejumlah titik.

Kesulitan lain adalah nomor telepon seluler. Iran melarang penggunaan nomor seluler asing, melainkan harus nomor lokal. Itu pun harus menggunakan kekuatan tambahan jaringan privat virtual (VPN).
Bahkan, sistem roaming internasional Telkomsel yang selalu kami gunakan di negara lain tidak berlaku selama di Iran. Padahal, selama di China, Nepal, Pakistan, India dan negara lainnya kami tetap menggunakan nomor seluler Indonesia dengan membeli paket roaming internasional.
Kami juga memanfaatkan kesempatan selama berada di Zahedan untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) khusus diesel bagi mobil pengiring. Di Iran, tidak semua daerah menjual solar. Kendaraan pribadi umumnya menggunakan bensin. Mesin diesel hanya truk dan bus.
Urusan lain yang tidak kalah penting adalah memotong rambut. Sudah cukup lama, saya mengabaikan urusan yang satu ini, menyusul harus berputar arah dari border Gwadar ke Taftan, Pakistan. Perjalanan sejauh kurang lebih 2.000 kilometer itu membuat saya pun lupa memotong rambut.
Bersepeda kembali
Jumat, 27 Oktober, saya bersepeda kembali dari Zahedan menuju ke Bam. Jaraknya 330 kilometer, tetapi saya gowes hanya sejauh 201 kilometer. Semula saya ingin mengayuh sampai di Bam, tetapi sejumlah orang tidak menyarankan bersepeda pada malam hari.
Saya sempat bertanya kepada salah seorang teman di Iran yang juga pesepeda soal rute Zahendan-Bam. Menurut dia, rute tersebut sangat rawan, terutama pada malam hari.
Hal yang sama saya tanyakan lagi kepada pihak Kedutaan Besar RI di Iran. Mereka pun memberi jawaban serupa.

Saya berangkat dari Zahedan sekitar pukul 07.45. Pagi itu mendung menutup wilayah tersebut. Saat hendak memulai gowes hujan pun turun. Warga setempat mengaku heran dengan hujan hari itu. Karena sebelumnya belum pernah terjadi hujan.
Ada yang bilang bahwa saya mendapatkan barokah. Saya hanya mengatakan, “Syukur alhamdulilah. Haleluyah. Puji Tuhan”.
Memang pertanda wilayah ini rawan sudah ada sejak saya memulai gowes. Sekitar 10 kilometer selepas start, ada anak kecil berjumlah 5 orang melemparkan batu kecil kea rah saya. Lemparannya tidak seberapa, tetapi mengenai sepeda. Padahal saya sudah menyapa mereka menggunakan bahasa setempat.
Kontur jalan yang ada cukup bersahabat. Total ketinggian (elevation gain) 979 meter. Artinya rute ini umumnya berupa jalan mendatar dengan variasi beberapa tanjakan dan turunan (rolling) pendek. Jalan beraspal mulus. Di kiri dan kanan jalan terbentang hamparan padang pasir.
Masak mie instan
Sekitar pukul 18.00, saya berhenti sejenak untuk makan malam. Kebetulan di lokasi itu berdiri sebuah masjid yang tidak jauh dari situ ada tempat istirahat yang lengkap dengan kamar kecil (toilet).
Om Yayak dan Dimas memanfaatkan kesempatan ini untuk sholat di masjid. Selesai sholat, kami mengeluarkan kompor portable dan mie instan dari dalam mobil pengiring, dan memasak di area terbuka tersebut. Sungguh lezat!

Setelah makan, saya melanjutkan gowes hingga pukul 20.00. Saya mengikuti saran dari sejumlah pihak yang melarang bersepeda hingga larut malam. Saat itu jaraknya telah mencapai 210 kilometer. Selebihnya loading ke mobil pengiring menuju Bam. Tiba di kota itu sekitar pukul 22.30.
Sabtu, 28 Oktober 2023, saya masih bertahan di Bam. Kami sempat beristirahat dan jalan-jalan melihat suasana kota. Maklum, perjalanan ke wilayah ini takkan terulang kembali sehingga jangan menyiakan kesempatan yang ada.
Benteng Bam
Esok harinya, Minggu, 29 Oktober 2023, saya bersepeda dari Kota Bam menuju Kota Kerman. Jarak kedua kota ini mencapai 194 kilometer. Saya memulai perjalanan pada pukul 08.00. Sempat menyempatkan diri singgah di sebuah bangunan kuno yang menjadi istana pada masa lalu. Istana bernama Arg-e Bam atau Benteng Bam itu kini terkenal dengan nama Citadel of Bam.

Benteng ini merupakan bangun adobe (bahan berbasis tanah yang terdiri atas tanah yang dipadatkan dengan olahan organik, seperti batang jagung, jeramin dan kotoran hewan). Ini adalah salah satu bahan bangunan tertua di dunia. Dibangun tahun 500 sebelum masehi, dan digunakan hingga tahun 1.850 masehi. Belum diketahui mengapa benteng ini kemudian ditinggalkan.
UNESCO telah menetapkan sebagai situs warisan dunia. Pada 23 Desember 2003, benteng ini hampir seluruhnya hancur akibat gempa yang melanda Bam. Beberapa hari kemudian Presiden Iran Mohammad Khatami mengumumkan bahwa benteng itu segera dibangun kembali.
Dari benteng Bam, kami menyempatkan diri mencari BBM, tetapi terkendala pada pembayaran, sebab harus menggunakan kartu Iran. Kami belum memiliki kartu. Beruntung ada seorang warga yang rela menjual solar dari truknya dengan pembayaran tunai.

Sempat pula membeli roti dan minuman pada sebuah toko. Saat mau membayar, si ibu pemilik toko malah menolak. Ibu itu baik sekali.
Saya kemudian bersepeda hingga waktu makan siang. Lokasi makan persisnya di pinggir tol. Setelah makan siang langsung memutuskan loading hingga ke Kerman untuk menginap di kota ini.
Dapat uang tunai
Dari Kerman, saya melanjutkan bersepeda ke Rafsanjan pada 30 Oktober 2023. Memulai gowes pada pukul 08.30, tetapi sebelum keluar kota, saya terlebih dahulu mencari bank untuk membuat kartu untuk transaksi. Kerman termasuk ibukota provinsi.
Saat sedang mencari bank, kami bertemu seorang bapak. Setelah berbincang sejenak kami memberitahu bahwa sedang menjajaki pembuatan kartu untuk transaksi pembelian BBM dan lainnya. Bapak itu kemudian menawarkan sebuah kartu miliknya yang kosong untuk kami gunakan seperlunya.
Meski demikian, kami lebih menginginkan uang tunai. Akhirnya, si bapak tersebut mengantarkan kami ke sebuah loket penukaran uang. Kami pun berhasil memiliki uang tunai lokal.

Setelah tuntas, kami mendatangi sebuah toko sepeda untuk membeli sejumlah kebutuhan, seperti penutup sepatu sepeda dari hujan, lampu dan kaca mata. Tetapi kami hanya mendapatkan kaca mata sepeda.
Saya terpaksa harus membeli lagi kaca mata karena tas ransel yang berisi semua kaca mata sepeda terjatuh dari mobil saat perjalanan menuju ke border Gwadar, Pakistan. Kasus ini terjadi pada 21 Oktober 2023.
Ransel jatuh
Hari itu, dalam perjalanan dari Desa Uthal menuju border Gwadar, Pakistan, kami mendapat pengawalan dari polisi setempat. Tetapi sekitar
10 kilometer berikutnya terjadi pergantian pengawalan. Tugas tersebut beralih ke polisi khusus lintas pantai selatan (Coastal Highway Patrol atau CHP).
Saat itu mobil polisi CHP belum siap sehingga kami memutuskan satu polisi tersebut naik ke mobil pengiring. Untuk itu, barang-barang, termasuk ransel yang berisi kaca mata sepeda terpaksa dipindahkan ke bagasi atau boks belakang agar polisi mendapatkan tempat duduk. Proses pemindahan itu agak terburu-buru sehingga lupa mengunci bagasi belakang.
Setelah berjalan kurang lebih satu kilometer baru kami sadar bahwa pintu bagasi terbuka. Mobil pun berhenti untuk menutup dan mengunci pintu bagasi. Tidak sadar kalau satu buah ransel coklat yang berisi enam kaca mata sepeda dan beberapa jersey terjatuh.
Sekitar pukul 14.00 atau kurang lebih 250 kilometer dari Uthal, suhu udara terasa panas menyengat. Cahaya sinar matahari dari depan pun cukup silau membuat saya merasa perlu menggunakan kaca mata.

Saat hendak mengambil kaca mata, kami tidak menemukan tas ransel. Setelah berpikir sejenak dan mencoba mengingat kembali aktivitas sejak berangkat dari Uthal, kami menyimpulkan bahwa tas ransel berisi kaca mata sepeda tersebut jatuh.
Saya sempat meminta polisi setempat untuk mengecek kembali, barangkali ada orang menemukan tas ransel tersebut. Jika ada, mohon menitipkan pada kantor polisi terdekat dan saya akan mengambil serta memberikan sejumlah kompensasi sebagai tanda terima kasih.
Namun sampai keesokan harinya saat kami balik kembali dari border Gwandar hingga ke Uthal, polisi mengaku tidak menemukan ransel tersebut. Mereka menduga tas ransel tersebut sudah dipungut warga.
Untuk om Willy
Selesai dari toko sepeda, saya melanjutkan gowes hingga sejauh 65 kilometer. Saat itu sudah pukul 16.00. Saya kemudian loading menuju kota Rafsanjan. Hari itu melewati jalan datar dengan total ketinggian hanya 108 meter.
Hari berikutnya saya bersepeda dari Rafsanjan menuju ke kota Yazd. Pada rute ini pun jalur yang ada beraspal mulus dan mendatar. Bayangkan, total ketinggian hanya 204 meter. Saya memulai perjalanan pada pukul 08.00, dan memasuki pukul 16.00 dengan jarak 100 kilometer, saya memilih loading menuju Rafsanjan.
Yang menarik adalah saat bersepeda dari Rafsanjan menuju Haftador. Hari itu saya telah merencanakan untuk gowes hanya 96 kilometer. Mengapa? Karena hari itu om saya: Willy Lontoh genap berusia 96 tahun. Beliau adalah pendiri dan pemilik PT Hasjrat Abadi, juga bos saya.
Hingga usia 96 tahun, om Willy Lontoh tetap aktif bekerja. Masih kuat dan jernih berpikir. Masih masuk kantor setiap hari. Sikap hidup dan kesehatannya yang masih prima di usia yang kian menua memotivasi saya untuk mampu seperti beliau. Salah satu di antaranya yakni bersepeda keliling dunia.
Maka pada 1 November itu saya gowes hanya sejauh 96 kilometer. Saya start jam 08.30 dan finish 14.49 tepat 96 km. Ini sebagai bentuk dedikasi kepada om Willy. Setelah itu loading menuju Qom.

Hari berikutnya, 2 November 2023, gowes dari Qom menuju Teheran. Perjalanan dimulai pukul 09.00. Sore menjelang malam cuaca cukup buruk. Sekitar pukul 19.00, jarak yang saya tempu telah mencapai 102 kilometer. Sementara hujan deras dan angin kencang cukup merepotkan. Jarak masih tersisa 50 kilometer. Saya akhirnya memutuskan loading menuju Teheran. Tiba di ibukota Iran tersebut pada pukul 20.30. Arus lalu lintas di kota ini sangat padat.
Kami berada di Teheran selama beberapa hari untuk menyelesaikan pengurusan visa masuk ke Eropa. Sebagian besar dokumen telah kami urus saat masih di Jakarta. Semoga saja, urusan ini membuahkan hasil. (bersambung)
editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (21): Komputer Imigrasi Rusak, Tertahan 26 Jam di Border Mirjaveh Iran


2 Komentar
Pingback: Kunjungi Jepang, Wajib Bebas Penyakit TBC - blalak.com
Pingback: Catatan Royke Lumowa (23): Sejumlah Barang Kami Raib di Iran - blalak.com