Catatan ROYKE LUMOWA (6)
Jumat, 28 Juli 2023 sekitar pukul 06.00, hujan masih terus mengguyur kota Sabak Bernam, Malaysia. Meski tersisa rintik, tetapi hujan ini telah berlangsung beberapa jam sejak Kamis (27/7/2023) malam. Sepanjang malam itu hujan turun cukup deras. Hal ini membuat suhu udara pagi itu cukup sejuk. Saya memutuskan mulai mengayuh sepeda menuju ke kota Pantai Remis pada pukul 07.00 waktu setempat.
Pagi itu saya memulai gowes tanpa makan pagi. Maklum saja, hotel tempat kami menginap tidak menyediakan sarapan. Mula-mula terasa biasa saja. Akan tetapi, semakin laju, dimana waktu sudah mendekati pukul 09.00, rasa lapar itu mulai menghantui. Energi perlahan mulai berkurang.
Tidak lama kemudian, persisnya di wilayah Hutan Melintang, saya melihat ada sebuah warung sedang buka. Saya pun memutuskan istirahat sejenak sekaligus sarapan pagi.
Begitu memasuki warung tersebut, sudah ada beberapa warga yang sedang minum kopi dan makan. Saya mencoba membaur bersama mereka. Saya memperkenalkan diri bahwa asal Indonesia, dan sedang bersepeda dari Jakarta menuju Paris. Ingin melewati 47 negara selama kurun waktu kurang lebih 481 hari.

Misi utama saya adalah mengajak warga dunia untuk segera melakukan sesuatu demi menyelamatkan bumi. Sekarang, dimana-mana terjadi laju kenaikan suhu panas hingga 1,5 derajat celecius.
Fenomena ini menandakan pemanasan global sudah berakhir, dan kini muncul pendidihan global. Suhu panas yang luar biasa pada siang hari seperti terjadi di banyak negara merupakan dampak dari krisis lingkungan. Sudah saatnya semua kita berbuat nyata yang radikal untuk menyehatkan bumi. Mereka pun memberikan respek yang besar.
Sekolah gratis
Saya kemudian bertanya tentang asal usul mereka. Ternyata tiga orang di antaranya masih keturunan Indonesia. Kakek dan nenek mereka tiba di Malaysia sekitar tahun 1920-an. Ketiga orang itu ada yang sebagai guru.
Soal pendidikan, kata mereka, Malaysia memberlakukan sekolah gratis mulai dari jenjang paling bawah yakni prasekolah hingga perguruan tinggi. Bahkan, di sekolah juga siswa mendapatkan makan siang gratis.
Setelah kurang lebih 30 menit istirahat, saya mengayuh lagi. Melanjutkan perjalanan menuju Pantai Remis. Suhu udara terasa semakin panas. Sengatan sinar matahari itu begitu menusuk kulit. Sementara di kiri dan kanan jalan nyaris tidak ada pohon.
Sekitar pukul 11.00, saya mendapatkan sebuah pohon yang cukup rindang. Saya pun berhenti sejenak untuk minum dan makan buah-buahan. Menariknya tidak jauh dari pohon itu berkeliaran banyak monyet.
Tak lama kemudian, melaju lagi, dan baru istirahat lagi sekitar pukul 14.00 di sebuah wilayah bernama Kampung Gajah. Di sana, beroperasi cukup banyak warung. Tetapi saking panasnya membuat gairah untuk makan nasi pun berkurang.
Untuk mengisi perut, saya lebih memilih makan mie instan yang kami bawah dari Indonesia. Rasanya enak sekali. Hari itu, saya tiba di Pantai Remis sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Meski demikian, suasana di kota itu masih terang benderang.
Hari berikutnya, saya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Penang. Saya sengaja berangkat dari Pantai Remis pukul 04.30. Selain untuk menghindari macet pada pagi harinya, juga ingin menyiasati sengatan sinar matahari. Pagi itu juga saya memulai gowes tanpa sarapan pagi.
Sejam setelah keluar dari hotel, saya melihat ada sebuah warung yang buka. Saya pun istirahat sejenak untuk sarapan. Setelah itu, melaju kembali. Melewati pukul 09.00 di kawasan Simpang Lima, saya melihat ada sebuah kantor polisi setingkat Polsek di Indonesia. Saya memutuskan singgah sesaat. Di dalam balai polisi itu ada seorang polisi wanita (Polwan) yang sedang bertugas. Pimpinannya berhalangan karena sakit. Saya menyapanya seraya memperkenalkan diri.
Pineng yang menawan
Selepas makan siang, saya pun masuk ke Pulau Pineng. Untuk masuk ke pulau yang terletak di sebalah barat Semenanjung Malaysia ini dapat melalui laut yakni naik kapal penyeberangan (fery), atau melewati jembatan. Khusus jembatan tersedia dua jenis yakni jembatan pertama memiliki panjang 13,5 kilometer, lalu jembatan kedua dengan panjang 23,5 kilometer. Jembatan kedua ini disebut-sebut salah satu yang terpanjang di Asia Tenggara.
Hanya kendaraan bermotor yang boleh masuk, tetapi mereka melarang para pejalan kaki dan pesepeda. Jika ingin ke pulau itu harus berada dalam kendaraan. Adanya larangan ini, sebab sebelumnya beberapa kali para pejalan kaki melakukan aksi bunuh diri dari atas jembatan. Itu sebabnya, pesepeda juga dilarang masuk dengan cara mengayuh sepeda. Saya pun memutuskan menaiki mobil pengiring.

Begitu memasuki Pulau Pineng langsung menghadapi kemacetan parah. Kendaraan nyaris tidak bisa bergerak. Maklum saja, pulau ini merupakan salah satu wilayah termaju dan terpadat di Malaysia. Jumlah penduduk mencapai 1.740.405 jiwa (tahun 2020).
Malam itu, saya berjumpa dengan Lim Soon Cheng, pesepeda Malaysia yang tinggal di Pineng. Dia pernah ikut Tour de Ambon Manise pada 28-28 September 2019 yang digelar Kepolisian Daerah Maluku saat saya menjadi Kapolda Maluku. Kami bertemu kembali sewaktu sama-sama menjadi peserta Jelajah IKN di Kalimantan Timur pada 10-11 Desember 2022 yang dilakukan Jelajah Bike.
Jelajahi Pineng
Kami ditraktir makam ikan di tepi pantai Pineng. Suasananya menyenangkan. Pulau Pineng memang indah dan menarik. Banyak bangunan tua yang berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh yang berfungsi sebagai sekolah, museum, kantor bank dan hotel. Gaya arsitekturnya pun beragam, seperti India, China dan Inggris. Tidak mengherankan, UNESCO menetapkan George Town, ibukota Negara Bagian Pineng ini sebagai situs warisan budaya dunia pada tahun 2008. Pulau ini juga menjadi destinasi favorit di Malaysia setelah Kuala Lumpur.
Keesokan harinya, saya memilih istirahat bersepeda. Kesempatan ini saya gunakan untuk menjelajahi Pineng. Siang harinya sempat mengunjungi Bukit Pineng yang berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut menjajal kereta yang menanjak dengan kemiringan 45 derajat sejauh 1,5 kilometer.
Seru juga. Dari atas bukit itu kita bisa melihat Kota Pineng dari segala sisi. Di bukit itu juga ada vila-vila tua peninggalan Inggris. Saya bersama kru juga mengunjungi sejumlah vihara yang popular di Pineng yang selalu menjadi tujuan utama wisatawan asing.
Yang menarik juga di George Town adalah street art painting atau mural hal tangan kreatif seninan Ernest Zacharevic yang tersebar di beberapa titik. Dalam setiap muralnya di dinding-dinding bangunan, Zacharevic memadukan dengan aneka properti seperti sepeda, motor dan ayunan sehingga memberi kesan “hidup”. Kami juga sempat berfoto di depan mural-mural tersebut.

Banyak pohon di Kedah
Dari Pineng, pada 31 Juli 2023, saya kemudian mengayuh sepeda menuju Jitra di wilayah Kesultanan Kedah. Jaraknya 147 kilometer. Mula-mula, saya ingin keluar dari Pulau Pineng dengan menaiki kapal penyeberangan, tetapi ada kendala teknis sehingga untuk mempercepat waktu, akhirnya saya tetap melewati jembatan Pineng Dua saat kembali ke daratan besar Malaysia.
Yang menarik saat memasuki wilayah Kedah adalah adanya banyak pohon di tepi kiri dan kanan jalan. Pohon-pohon itu tertata rapi dan cukup rindang sehingga memicu angin dan membantu menekan hawa panas yang mencapai 42 derajat celcius. Selama perjalanan saya dari perbatasan Singapura hingga perbatasan dengan Thailand, hanya dua wilayah yang di tepi jalan memiliki banyak pohon, yakni Johor dan Kedah.
Siang itu saya makan di sebuah rumah makan ayam goreng milik Firdaus, warga Malaysia. Restoran ini sederhana, tetapi makanan yang disajikan cukup lezat. Ternyata Firdaus juga masih berdarah Minangkabau. Lagi-lagi keturunan Indonesia. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (5): Saya Rasakan Juli Terpanas Itu di Malaysia

