Oleh ROYKE LUMOWA
Meski telah lebih dari 300-an tahun, tetapi jejak Vereenigde Oost-Indiche Compagnie atau VOC di tanah Nusantara masih membekas. Bukti itu tersimpan rapi dalam Historical Museum den Brielle di Belanda. Saya sangat gembira menyaksikan fakta sejarah tersebut.
Saya menyinggahi museum tersebut pada Jumat, 16 Februari 2024. Hari itu, saya akan mengayuh sepeda dari Brielle menuju Tilburg, masih di Belanda. Brielle atau Den Briel adalah sebuah kota kecil yang terletak di Provinsi Holland Selatan. Jumlah penduduknya pun hanya belasan ribu orang.
Sebelum keluar kota menuju Tilburg, saya menyempatkan diri mengunjungi museum sejarah tersebut, sebab menurut kabar dari sejumlah orang ada tersimpan sejarah VOC. Jika membahas tentang VOC, maka pasti terkait dengan Indonesia. Saya ingin memastikannya.
Setelah mengikuti pemilihan umum yang dilakukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Belanda di Den Haag pada Sabtu, 10 Februari 2024, saya dan kru masih tinggal beberapa hari lagi di kota itu. Karena kami perlu memperbaiki mobil pengiring (elang putih) yang sempat mengalami gangguan.

Hari Sabtu dan Minggu, bengkel tidak beroperasi sehingga perbaikan baru dapat dilakukan pada Senin. Pengerjaan membutuhkan waktu tiga hari, yakni hingga Rabu, 14 Februari 2024.
Petualangan bersepeda kemudian berlanjut lagi pada Kamis, 15 Februari 2024. Hari itu saya bergerak menuju Brielle. Namun sebelumnya saya sempat menyinggahi KBRI Den Haag untuk mengecek kembali perkembangan urusan perpanjangan visa Uni Eropa.
Museum Brielle
Dari KBRI, saya meneruskan bersepeda ke Dermaga Ferry Maassluis di tepi Sungai Scheur sejauh 33,87 kilometer. Saya ingin menggunakan kapal penyeberangan menuju Brielle.
Ternyata, hari itu kapal ferry tidak beroperasi. Saya memutuskan menggunakan mobil menuju Brielle melewati jalan darat sejauh kurang lebih 34 kilometer. Apabila menggunakan kapal ferry, jaraknya hanya 11 kilometer. Malam itu, saya menginap di Brielle.
Perjalanan kali ini akan bergerak ke wilayah selatan Belanda, dan berlanjut hingga di Jerman. Touring ini sebetulnya hanya mengisi waktu sambil menunggu kabar perpanjangan visa Uni Eropa untuk saya, apakah dapat dilakukan di Belanda atau tidak?
Itu sebabnya, dari Brielle, keesokan harinya saya melanjutkan gowes menuju Tilburg sejauh 101 kilometer. Salah satu lokasi yang saya singgahi adalah Museum Sejarah Brielle (Historical Museum den Briel). Museum ini tergolong tua, sebab didirikan tahun 1912.

Menarik bagi saya adalah museum ini menyimpan catatan perjalanan VOC menuju Nusantara dengan menggunakan kapal layar. Miniatur kapalnya terpajang dalam museum.
Bahkan, contoh rempah-rempah Indonesia yang diburu Belanda juga dipajangkan. Misalnya, cengkeh, pala, lada dan lainnya. Ada pula beragam jenis kayu jati asli Indonesia. Saya sangat kagum dengan koleksi museum ini. Saya tidak tahu apakah sejumlah museum di Indonesia juga mengoleksi barang-barang seperti ini. Entahlah!
Dalam perjalanan ke Tilburg saya melewati jalur sepeda yang cukup panjang baik di dalam kota maupun di luar kota. Ada yang terhubung hingga ke taman kota. Ada pula yang memasuki wilayah pedesaan.
Belanda terkenal memiliki jalur sepeda yang panjang tidak terputus tanpa jeda. Berbeda dengan negara lain di Eropa yang terkadang masih terputus atau menyambung dengan jalan umum sehingga sepeda harus diangkat kemudian menyambung bersepeda kembali. Kalau di Belanda tidak seperti itu. Semua tersambung.
Menuju Eindhoven
Di pedesaan, masih ada hamparan ladang yang luas. Ladang-ladang itu ditanami rumput untuk makanan ternak. Petani di Belanda gemar memelihara hewan, terutama sapi dan domba.
Saya juga melewati jembatan yang cukup panjang yang melintas di atas Sungai Hollands Diep. Sungai ini melewati banyak wilayah di Belanda sehingga termasuk salah satu yang terbesar dan terpanjang di negeri tersebut.
Beberapa kota yang saya lewati antara lain Spijkenisse, Hekeligen, Zuid Beijerland, dan Breda. Saya tiba di Tilburg menjelang sore. Setelah itu menggunakan mobil, saya menuju ke Eindhoven untuk menginap di kota ini. Jarak Tilburg dan Eindhoven sekitar 35 kilometer.
Eindhoven termasuk kota besar kelima di Belanda. Kota yang hadir sejak tahun 1232 ini memiliki penduduk sekitar 213.809 jiwa (tahun 2010). Eindhoven populer sebagai kota industri dan teknik, bahkan di sini pula berdiri pabrik Philips. Kota ini juga memiliki sebuah klub sepak bola terkenal yakni PSV (Philips Sport Vereniging) Eindhoven.
Saya dan kru berada di Eindhoven hingga 18 Februari 2024. Kesempatan istiharat ini kami manfaatkan untuk menyortir dan merapikan kembali barang-barang dalam mobil pengiring.
Kebetulan kami mendapatkan hotel dengan harga yang murah, tetapi bersih yakni Hotel Companille. Kamarnya memang kecil, namun layak. Hotel ini juga memiliki lokasi parkir yang luas sehingga mobil kami bebas memilih tempat. Menu sarapan pagi terbatas, namun enak.

Kami juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menyuci pakaian, jaket, sepatu, sepeda dan lainnya. Maklum, belakangan hujan turun setiap hari sehingga sepeda gampang kotor dan kami tidak sempat jemur pakaian.
Di Eindhoven, ada sebuah restoran Indonesia, namanya Restoran Surabaya. Menu yang disediakan semuanya khas Indonesia, seperti soto ayam, mie goreng, gado-gado, rawon, nasi campur dan lainnya. Kelezatannya tidak kalah dengan restoran Indonesia yang ada di kota lain di Belanda.
Masuk Jerman
Tanggal 19 Februari 2024, saya melanjutkan bersepeda dari Eindhoven ke Dusseldorf di Jerman sejauh 101 kilometer, dengan ketinggian 206 meter alias flat. Ada tanjakan, tetapi cukup rendah dan hanya ada di beberapa titik.
Kota-kota yang saya lewati adalah Nuenen, Geldnep, Mierlo, Asten, Sevenum, Venlo, Lobbriech, Souhteln, Willich. Venlo adalah kota terujung dari Belanda yang berbatasan dengan Jerman.

Di Kota Venlo, saya berjumpa dengan tante Jeanne. Beliau adalah temannya om Benjamin Bunawijaya alias Om Ben di Jakarta. Om Ben termasuk salah seorang yang terlibat aktif dalam menyiapkan perjalanan bersepeda saya dari Jakarta ke Paris. Saya dan om Ben tergabung dalam Komunitas Kompas Bike.
Tante Jeanne adalah orang Indonesia yang sudah lama menetap dan bekerja di Belanda. Om Ben memperkenalkan saya kepadanya. Setelah saling kontak, kami pun berjanji untuk berjumpa di Venlo. Begitu bertemu, saya dijamu makan siang. Sungguh surprise. Kami makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor tante Jeanne.
Tidak jauh dari Venlo adalah perbatasan Belanda-Jerman. Di wilayah Jerman persis di daerah Bevrijdingsweg. Saat berada di sana, saya tidak melakukan ritual perbatasan seperti yang biasa terjadi setiap kali memasuki negara baru. Ritual itu tertunda karena saya akan masuk kembali ke Belanda.
Satu hal yang berbeda saat berada di Jerman adalah jalur sepeda. Infrastrukturnya tidak selengkap di Belanda. Meski demikian, Jerman masih mengizinkan sepeda melewati jalur mobil dimana kondisi jalannya bagus dan aman bagi pengayuh sepeda.
Lewati Stadion Lieverkusen
Hari itu, saya mengakhiri perjalanan di Dusseldorf dan menginap semalam di kota ini. Keesokan harinya, menerukan kayuhan menuju Bonn sejauh 80 kilometer.
Gowes dari Dusseldorf ke Bonn, saya menyinggahi Kota Lieverkusen dan Koln atau Cologne. Saya sempat melewati stadion klub Lieverkusen. Klub yang pada musim kompetisi Liga Jerman tahun 2023/2024 tak pernah kalah. Sebuah prestasi besar sepanjang sejarah klub.
Saya bersepeda menyusuri Sungai Rhine. Sungai ini cukup sehat terpelihara. Nyaris tidak ada sampah. Aneka kapal lalu lalang. Jembatan pun cukup banyak membentang di atas Sungai. Setiap 3-4 kilometer pasti ada jembatan yang terbangun. Termasuk ada jembatan khusus sepeda.

Aktivitas orang-orang bersepeda tidak kalah dengan Belanda. Banyak yang bersepeda ke sekolah, kantor dan tempat kerja atau khusus olahraga. Senang melihat aktivitas mereka. Dalam hati berharap semoga suatu saat masyarakat Indonesia pun melakukan hal seperti ini.
Sepanjang jalan tampak begitu banyak lapangan bola tersebar di beberapa tempat di pedesaan dan perkotaan. Tidak heran kalau Jerman memiliki prestasi sepakbola yang terbaik di dunia.
Biaya hidup di Jerman jauh lebih terjangkau dibanding Belanda, Swiss, Inggris dan Perancis. Jerman negara kaya tetapi sesuai pengalaman banyak orang dan yang saya alami, memberlakukan harga yang lebih murah. Misalnya biaya penginapan dan restoran.
editor: JANNES EUDES WAWA
Catatan Royke Lumowa (46): Kembali ke Den Haag untuk Ikut Pemilu
