Catatan ROYKE LUMOWA (7)
Saya mengawali bulan Agustus 2023 dengan memasuki wilayah Thailand. “Negeri gajah putih” ini menjadi negara keempat yang saya lalui dalam mengayuh sepeda dari Jakarta menuju Paris. Saya sungguh bahagia. Perjalanan cukup lancar. Kalau pun ada kendala, hal itu bukan serius. Lagi pula dalam berkelana seperti ini semakin banyak tantangan tentu menjadi lebih menarik dan berwarna.
Selasa, 1 Agustus 2023, sekitar pukul 09.00 waktu setempat atau 08.00 WIB, saya pun tiba di border Malaysia-Thailand di Dannok. Malam sebelumnya, saya menginap di kota Jitra, wilayah Kesultanan Kedah, Malaysia. Jarak dari Jitra menuju border Dannok hanya sekitar 30 kilometer sehingga saya memutuskan mulai gowes pukul 07.00 waktu setempat.
Di wilayah Kedah, penataan kawasan cukup bagus. Masyarakat dan pemerintah setempat menanam pohon dimana-mana. Hal ini tentu saja mengurangi suhu panas sepanjang hari yang umumnya di atas 40 derajat celcius. Saya juga sempat melihat salah satu pusat perbelanjaan (mall) di wilayah Alor Setar bernama Pekan Rabu. Kalau di Indonesia ada Pekanbaru.
Di Malaysia rupanya pekan berarti kota kecil. Sedangkan bandar berarti kota besar. Kota Alor Setar tertata rapi dan bersih. Kota kecil ini berada sekitar 20 kilometer menjelang Jitra dari arah Kuala Lumpur.
Yang menarik begitu saya tiba di perbatasan Malaysia dan Thailand adalah waktu. Waktu Thailand sama dengan waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Sedangkan waktu Malaysia sama dengan waktu Indonesia bagian Tengah (Wita). Ketika berada di wilayah Malaysia sudah pukul 09.00. Tetapi, saat yang sama begitu melangkah beberapa meter masuk wilayah Thailand, waktu setempat masih pukul 08.00.
Mobil pengiring tertahan
Menjelang memasuki border Malaysia di Buki Kayu Hitam, polisi setempat mengingatkan kami agar menyiapkan asuransi orang dan mobil untuk masuk ke Thailand. Kami pun langsung membeli asuransi pada para agen yang beroperasi di kiri dan kanan jalan. Total biaya asuransi sebesar 50 ringgit.

Selepas itu, kami pun masuk ke border. Di wilayah Malaysia urusannya berjalan lancar. Akan tetapi, saat di border Thailand kami menghadapi masalah baru. Kami diminta kembali ke border Malaysia untuk mengecap terlebih dahulu surat kendaraan yang kami bawah.
Setelah selesai, dan kami kembali ke border Thailand. Di sana, ternyata masih ada kendala lain. Thailand mensyaratkan setiap kendaraan asing yang masuk negeri itu wajib memiliki surat izin yang diterbitkan Kementerian Transportasi Thailand. Surat itu kami belum kantongi untuk mobil pengiring.
Masalah bagi kami adalah mengurus surat izin itu pasti tidak mudah. Belum lagi, pada 2 Agustus 2023 merupakan hari libur nasional di Thailand. Singkat cerita, mobil kami tidak bisa masuk Thailand, dan untuk sementara diparkirkan di border.
Saya pun memutuskan kru yakni om Yayak M Saat, Stef Oswald Wungkana dan Dimas GA Priyanto menggunakan mobil sewa berangkat menuju Songkhla, sekitar 100 kilometer dari border untuk menginap di hotel yang telah kami pesan dan bayar. Sedangkan, saya mencari penginapan di Saoda, tidak jauh dari border Dannok.
Menuju Songkhla
Keesokan harinya, Rabu, 2 Agustus 2023, kru kembali lagi ke border Dannok. Kami menyewa sebuah mobil untuk mengiring gowes saya dari Dannok menuju Songkhla. Pagi itu udara cukup bersahabat sehingga mengayuh sepeda pun lancar. Sekitar pukul 14.00, saya sudah tiba di Konsulat Jenderal RI di Songkhla, dan bertemu dengan konsul Pak Suargana.

Selain melapor diri sebagai warga negara, saya juga ingin membicarakan terkait masalah yang kami hadapi di border Dannok yakni mobil pengiring masih tertahan. Dari penjelasan Pak Suargana, saya pun baru mengetahui ternyata Thailand memberlakukan aturan khusus bagi perlintasan kendaraan asing yakni kewajiban asuransi dan izin masuk dari Kementerian Transportasi Thailand. Kebijakan tersebut juga berlaku bagi negara-negara Asia Tenggara.
Indonesia, Singapura dan Malaysia tidak memberlakukan aturan tersebut. Makanya, saya pun tidak mengurus izin masuk Thailand bagi mobil pengiring saat masih di Jakarta. Dalam benak saya kebijakan bebas visa khusus negara-negara Asia Tenggara otomatis melekat juga dengan kendaraan yang dibawah warga yang melintas.
Dari Konjen RI, kami kemudian menaiki kapal fery yang terbuka (mirip tongkang) di Danau Songkhla selama 20 menit. Pelayaran ini sungguh menarik. Kita bisa menyaksikan suasana kota dan kawasan sekitarnya dari segala sisi kapal.
Danau Songkhla
Danau Songkhla merupakan danau alami terbesar di Thailand yang terletak di Semenanjung Melayu bagian selatan Thailand dengan luas 1.040 kilometer persegi. Letaknya di perbatasan Provinsi Songkhla dan Phattalung. Danau ini memiliki permukaan air yang lebih mirip disebut laguna.

Bagian selatan terdapat selat dengan lebar sekitar 380 meter berhadapan dengan teluk Thailand di Songkhla dan berisi air payau sekitar setengah salinitas laut. Lebih jauh ke utara setelah tanjung memiliki lebar 6.000 meter adalah Thale Luang.
Yang paling mencolok adalah tanjung dengan panjang 75 kilometer memisahkan danau dan laut. Tidak seperti tanjung pada umumnya, Danau Songkhla terbentuk ketika awalnya pulau yang air lautnya mendangkal sehingga akhirnya menyisahkan danau sebagai daerah pendangkalan laut.
Di atas kapal, saya bertemu dengan para pesepeda setempat yang ingin menuju ke pantai timur Thailand yang menawan. Kami saling menyapa, dan mereka memberikan apresiasi yang tinggi atas niat saya yang sedang bersepeda dari Jakarta hingga Paris. Mereka mendoakan agar perjalanan saya tetap lancar dan dijauhkan dari segala rintangan yang berat.
Hadapi angin kencang
Kamis, 3 Agustus 2023, pagi itu kami berbagi tugas. Saya tetap melanjutkan gowes menuju Nakhon Si Tammarak sejauh 156 kilometer. Om Stef menemani saya dengan menaiki satu mobil sewaan. Sementara om Yayak dan Dimas kembali ke Dannok menggunakan mobil sewa lainnya untuk mengurus perizinan masuk mobil pengiring ke Thailand.
Agen perjalanan di Malaysia kemudian membantu menarik mobil kami kembali ke border Malaysia, kemudian mengurus perizinan sesuai persyaratan. Sore harinya mobil berhasil masuk ke “negeri gajah putih” melalui lintas batas di Betong, sisi paling timur Thailand.
Dalam perjalanan menuju Nakhon Si Tammarak, saya memilih jalur pantai timur. Di rute ini pergerakan angin sangat kencang. Tidak mengherankan ada begitu banyak kincir angin di kiri dan kanan jalan. Penyebaran kincir angin mungkin sejauh 30an kilometer. Di sana pula berdiri pembangkit listrik tenaga bayu dalam kapasitas cukup besar.
Energi sangat terkuras habis menghadapi hantaman angin dari depan dan samping kiri. Beberapa kali ban sepeda depan sempat terangkat. Saya cukup kepayahan juga. Menurut warga setempat, jalur ideal untuk bersepeda menuju Bangkok yakni melalui wilayah tengah. Di jalur itu gerakan angin jauh lebih bersahabat.

Di belakang mobil
Untuk menyiasati hantaman angin, saya akhirnya meminta mobil pengiring berjalan di depan. Saya pun mengayuh sambil berlindung di belakang mobil. Trik ini cukup menolong dan saya bisa mengayuh mencapai 40 kilometer per jam. Kecepatan rata-rata 28 kilometer per jam. Ini adalah kecepatan rata-rata tertinggi selama bersepeda dari Jakarta.
Meski demikian, detak jantung saya pun hanya 115. Padahal kalau tanpa halangan mobil gowes dengan kecapatan 30 kilometer per jam saja detak jantung saya mencapai 135. Yang tidak mengenakan yakni saya terpaksa menghirup udara kotor dari knalpot mobil.
Dari Nakhon Si Tammarak, saya akan terus mengayuh sepeda menuju Surat Thani 145 kilometer. Lalu terus ke arah utara menuju perbatasan Laos. Saya berada di Thailand kurang lebih selama dua pekan. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!!
Catatan Royke Lumowa (6): Bertemu Lagi Warga Keturunan Indonesia

