Pekan ketiga September 2023 menjadi momentum yang paling membahagiakan bagi saya selama mengayuh sepeda dari Jakarta ke Paris. Dalam sepekan ini saya tiga kali bersepeda menuju tiga gunung di Tibet, China, termasuk Everest Base Camp yang masing-masingnya memiliki ketinggian lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut. Saya mampu melewati tantangan itu dengan aman dan lancar.
Mula-mula pada Minggu, 17 September 2023, perjalanan dari kota Shigatse menuju Shegar sejauh 216 kilometer. Untuk menuju kota Shegar, saya harus terlebih dahulu melewati Gunung Gyatso La setinggi 5.248 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Melihat rute perjalanan yang cukup panjang, beberapa hari sebelumnya saya memutuskan untuk fokus pada gowes menuju puncak Gunung Gyatso La. Rute yang terbaik adalah saya bersepeda mulai dari Lhatse, sebuah desa kecil dekat gunung. Jaraknya sekitar 30 kilometer, tetapi semuanya menanjak dengan total ketinggian (elevation gain) mencapai 1.212 meter.

Dari hotel di Shigatse, saya memilih menaiki mobil. Kami berangkat pukul 05.00, dan tiba di Lhatse sekitar pukul 08.00. Jaraknya kurang lebih 150 kilometer. Pagi itu, kami sarapan di sebuah warung, namun makanan yang ada hanya roti dan bakpau.
Lhatse berada pada ketinggian 4.200 mdpl. Kota Shigatse 3.800 mdpl, sedangkan Shegar pada 4.800 mdpl.
Tanjakan meliuk
Setelah sarapan, saya memulai bersepeda menuju puncak Gunung Gyatso La. Tanjakannya meliuk-liuk di sekitar punggung gunung dengan kemiringan tidak lebih dari 10 derajat. Herannya, semakin mendekat ke puncak, suhu udara semakin panas, berkisar 32-40 derajat celcius. Suhu panas ini merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim yang belakang semakin serius merongrong bumi dan umat manusia.
Kondisi ini membuat saya pun terengah-engah. Bahkan, aklimatisasi biasanya saya lakukan pada setiap ketinggian 100 mdpl, tetapi di jalur ini saya perpendek menjadi setiap 50 mdpl. Rutenya cukup berat. Bayangkan, dalam jarak 30 kilometer total ketinggian mencapai 1.212 meter. Saya pun sempat merasakan mual dan sedikit pusing. Ini yang paling saya khawatirkan dalam perjalanan di tanjakan dengan ketinggian di atas 4.000 mdpl.
Menjelang puncak, saya mulai kepayahan. Saya mencoba mengayuh sepeda perlahan-lahan. Tidak ngoyo. Apalagi dengan suhu udara yang cukup panas. Akhirnya sekitar pukul 15.30, saya pun tiba di puncak Gunung Gyatso La.
Menurut data yang tercatat pada garmin saya, puncak gunung ini berada pada ketinggian 5.260 meter. Tetapi, yang tertulis pada prasasti sebuah batu besar yang dipasang di puncak adalah 5.248 meter.
Begitu tiba di puncak, saya pun berlutut, membentangkan tangan dan menengadah ke langit sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih yang berlimpah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia telah membimbing dan melindungi saya sehingga bisa bersepeda dengan aman dan lancar hingga tiba di puncak Gunung Gyatso La. Saya dan kru pun mengabadikan pengalaman ini sebagai sebuah kenangan hidup yang takkan terlupakan.

Setelah beberapa menit berada di puncak, saya mulai merasa kelaparan. Maklum, sejak gowes dari Lhatse, saya tidak sempat makan lagi. Kami juga lupa membawa bekal untuk makan siang. Sementara di puncak gunung pun tidak ada restoran.
Masak mie instan
Sekitar pukul 16.00, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Shegar. Dari puncak gunung, saya mengayuh melewati jalan menurun. Setelah melewati kurang lebih 17 kilometer, rasa lapar itu semakin menjadi-jadi. Saya akhirnya memutuskan berhenti di tepi sebuah sungai. Airnya bersih, jernih dan suasana sejuk. Kami pun memasak mie instan menggunakan kompor portable yang telah tersedia dalam mobil pengiring. Rasanya lezat dan nikmat sekali. Maklum sudah sangat lapar.
Selesai makan, waktu sudah mendekati pukul 18.00, saya pun memilih loading menuju kota Shegar. Jaraknya terisisa 35 kilometer. Pertimbangan utama karena esok harinya, saya masih harus bersepeda melewati Gunung Guela yang juga memiliki ketinggian lebih dari 5.000 mdpl sehingga perlu persiapan fisik yang prima.
Sehari sebelumnya, yakni 16 September 2023, saya menempuh rute Lhasa- Shigatse 266 km, tetapi realisasi 106 kilometer. Penyebab utama adalah kami harus sudah tiba di kantor Kepolisian Shigatse sebelum pukul 18.30 untuk pemeriksaan dokumen sebagai persiapan menuju ke Everest Base Camp (EBC).
Saya berangkat pukul 05.00. Hari masih sangat gelap dengan suhu udara 4 derajat celcius. Suhu udara meningkat setelah pukul 08.00.
Kota Lhasa ternyata sangat besar. Kami menginap di tengah kota. Saya bersepeda sejauh 17 kilometer baru menemukan wilayah pinggir kota. Kota ini juga sangat indah. Pagi hari menyaksikan aliran air sungai yang jernih. Ada pula barisan pegunungan batu beserta pohon-pohon yang indah di tengah kota.
Untuk BNI 46
Jalan raya juga tidak banyak dilalui kendaraan bermotor. Sebagian besar kendaraan lebih memilih melewati jalan tol.

Sekitar 70 kilometer dari penginapan di Lhasa, saya sempat menyinggahi kantor polisi Quxu. Saya menceritakan bahwa saya purnawirawan polisi di Indonesia, serta tujuan perjalanan bersepeda yang saya lakoni. Mereka menyambut saya dengan ramah dan memberikan respek yang tinggi. Kami sempat berfoto bersama.
Di rute ini, saya menemukan patok bertuliskan 4646 di rute G318. Saya berhenti sejenak untuk foto sebagai persembahan saya untuk teman-teman pesepeda BNI 46.
Memasuki kilometer 100, saya menghadapi jalan rusak yang cukup panjang. Penyebab kerusakan yakni adanya proyek pembangunan jalan tol menuju Shigatse. Udara panas siang itu membuat debu beterbangan.
Melewati itu, saya putuskan loading, sebab mengejar waktu untuk tiba di kantor Kepolisian Shigatse sebelum pukul 18.30. Di sana, polisi memerika paspor, visa, surat izin masuk kendaraan masuk China, surat izin masuk khusus masuk Tibet dan surat izin mengemudi (SIM) sementara di China. Dalam perjalanan dari Lhasa menuju Kota Shigatse juga kami melewati dua kali pemeriksaan oleh polisi dan imigrasi setempat.
Kawasan Everest
Senin, 18 September 2023, dari Shegar, saya menuju ke Tashi Dzom sejauh 62,34 kilometer. Hari ini juga saya akan melewati puncak Gunung Guela. Saya memulai bersepeda pada pukul 08.00, setelah selesai sarapan di penginapan. Kota Shegar berada pada ketinggian 4.300 mdpl. Pagi itu suhu sangat dingin.

Untuk bersepeda dengan nyaman pada pagi yang dingin itu, saya pun mengenakan lima lapis pakaian, antara lain jaket dua lapis, jersey dan celapa sepeda disertai celana panjang. Ada penutup wajah, sarung tangan yang tebal, serta sepatu sepeda yang khusus di udara dingin.
Pakaian lima lapis ini saya kenakan hingga kurang lebih pukul 10.00. Selepas itu, suhu udara mulai hangat, satu demi satu pakaian saya tanggalkan hingga menyisahkan jersei dan celana sepeda yang dilengkapi celana panjang. Suhu siang itu cukup adem yakni 26 derajat celcius.
Perjalanan tetap menanjak dengan kemiringan 2-6 derajat. Jalan tanjakan ini berkelok-kelok melewati sekitar lima gunung. Kelima gunung tersebut memiliki ketinggian di atas 4.000 meter. Dari kejauhan terlihat kelokan-kelokan itu sangat indah. Bagus banget. Mirip jalan berkelok di Italia, yakni Stelvio Pass. Suhu udara menuju puncak Gunung Guela juga sangat adem membuat perjalanan bersepeda tidak melelahkan. Saya sama sekali tidak mual dan pusing.
Saya tiba di puncak Gunung Guela pada pukul 12.50. Puncak ini berada pada ketinggian 5.198 meter. Di puncak, saya istirahat sejenak dan melakukan dokumentasi pribadi. Kurang lebih satu jam kemudian, saya gowes lagi menuju ke Tashi Dzom. Saat turun juga melewati jalan yang meliuk. Pemandangannya lebih indah lagi karena hanya lewati satu gunung. Dari atas puncak telihat seluruh lingkaran jalan hingga di bawah.
Kurang lebih dua kilometer menjelang penginapan, saya melewati sebuah pos pemeriksaan lagi. Yang diperiksa petugas imigrasi dan kepolisian adalah paspor, visa, surat izin masuk ke Tibet, surat isin kendaraan masuk ke China dan lainnya.

Setelah itu, kami memasuki gerbang kawasan Gunung Everest. Di situ dipungut sejumlah biaya. Lalu dari rute G318 yang saya lewati, perjalanan berbelok ke kiri memasuki rute 515, yakni masuk ke kawasan wisata Gunung Everest. Rute G318 terbentang dari Shanghai hingga di barat perbatasan Tibet dan Nepal sejauh sejauh 5.479 kilometer. Ini adalah rute paling fenomenal di China.
Everest Base Camp
Saya tiba Tashi Dzom menjelang sore. Daerah ini berada dalam kawasan wisata Gunung Everest. Keesokan harinya, saya akan bersepeda ke base camp atau Everest Base Camp sejauh 40 kilometer dari Tashi Dzom yang berada pada ketinggian 4.200 mdpl menunju base camp pada 5.200 mdpl.
Selasa, 19 September 2023, saya bersepeda dari Tashi Dzom pukul 07.00. Hari masih gelap. Maklum kota ini berada di wilayah China paling barat sehingga siang agak terlambat. Ini sama seperti Surabaya dan Medan, sama-sama waktu Indonesia bagian barat, tetapi Medan posisinya lebih barat sehingga siangnya sedikit terlambat dibanding Surabaya.
Pagi itu, suhu udara minus 2 derajat celcius. Menjelang pukul 10.00 barulah suhu udara meningkat hingga mencapai 20 derajat celcius di siang hari. Semua jenis kendaraan dilarang menuju Everest Base Camp. Mobil hanya parkir di kawasan Tashi Dzom. Wisatawan wajib menggunakan kendaraan yang disiapkan pengelola. Tetapi, sepeda dibolehkan.
Saya mengayuh sepeda ditemani Dimas GA Priyanto yang menggunakan sepeda listrik yang mengangkut sejumlah perbekalan. Perjalanan melewati lembah yang diapit barisan gunung yang indah. Panoramanya sangat menawan. Ada pula sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari jalan dengan airnya yang bening, bersih dan dingin.

Saya sempat dua kali melihat ada tulisan peringatan yang dipasang di tepi jalan. Tulisan itu mengingatkan tentang harimau putih yang sering berseliweran di rute tersebut. Memang betul, di situ merupakan habitat harimau putih dan kijang.
Dalam perjalanan di rute ini, saya juga disiplin melakukan aklimatisasi. Setiap ketinggian 100 mdpl saya berhenti sejenak agar tubuh bisa menyesuaikan dengan kondisi oksigen. Saya lakukan ini terus-menerus hingga mencapai Everest Base Camp.
Mendekati ke Everest Base Camp ada lagi pemeriksaan dokummen perjalanan dari polisi dan imigrasi. Bahkan, setiap wisatawan juga diwajibkan menandatangani surat perjanjian yang intinya tentang bersedia menanggung risiko, seperti kecelakaan yang dialami selama berada dalam kawasan pegunungan tersebut.
Banyak pos pemeriksaan
Di China, cukup banyak titik pemeriksaan dokumen perjalanan wisatawan yang dilakukan polisi dan petugas imigrasi. Pemeriksaan terbanyak dilakukan di wilayah Tibet. Entah mengapa di Tibet begitu banyak pos pemeriksaan?
Selepas pukul 14.00, saya pun mencapai finis. Saya terus-menerus menyampaikan rasa syukur yang tidak terhingga atas kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya merasa sungguh beruntung mendapatkan kesempatan ini dalam hidup.
Di base camp, dari kejauhan tampak nyata puncak Gunung Everest yang diselimuti salju. Jaraknya pun hanya beberapa kilometer. Saya lihat utuh puncak gunung. Tidak tertutup awan sedikit pun. Katanya, tidak selalu terbuka seperti ini. Lebih banyak tertutup awan.

Everest Base Camp (EBC) adalah lokasi persinggahan untuk mencapai puncak Gunung Everest. Ada dua tempat. Satu di Tibet yang masuk wilayah China. Satu lagi di Nepal. Maklum gunung yang memiliki tinggi 8.849 mdpl ini memang berada di dua negara tersebut.
EBC Tibet berada di sebelah utara Gunung Everest atau disebut North Face, sedangkan EBC Nepal berada di sebelah selatan atau South Face. Untuk menuju ke EBC Tibet, wisatawan bisa menggunakan kendaraan. Sedangkan EBC Nepal, wisatawan harus trekking selama 7-8 hari untuk sekali perjalanan. Kalau pergi dan pulang pasti lebih lama lagi. Jalurnya juga tidak ringan.
Dari EBC Nepal, wisatawan belum bisa melihat puncak Gunung Everest. Yang tampak adalah Gunung Khumbutse (6.636 mdpl), Nuptse (7.861 mdpl), Lhotse (8.516 mdpl), Pumori (7.161 mdpl), dan Lingtren (6.749 mdpl). Gunung Everest terlihat dari EBC Nepal, tetapi puncaknya tertutup Gunung West Ridge.
Menuju Nepal
Sebaliknya dari EBC Tibet, wisatawan dapat melihat langsung puncak Everest tanpa halangan apa pun. Itulah keistimewaan North Face. Puncak gunung tertinggi di dunia tersebut hanya lenyap kalau tertutup awan tebal.
Wisatawan yang paling banyak di siang itu dari China. Tidak ada orang asing lain, selain saya dan kru. Kami ketemu dan berbincang dengan beberapa wisatawan China. Ada juga yang mengenal Indonesia. Para wisatawan China umumnya membekali diri dengan tabung oksigen yang portable. Warga China saja begitu. Mungkin mereka berasal dari wilayah timur China, dan tinggal pesisir pantai sehingga tidak terbiasa dengan suhu dingin.
Kami tidak lama ada puncak. Saat istirahat, kami sempat masak mie instan. Setelah itu saya gowes kembali ke Tashi Dzom . Akan tetapi, 15 kilometer menjelang Tashi Dzom, saya loading dan langsung menuju kawasan perbatasan China-Nepal di Gyrong Baru. Karena 20 September 2023, kami harus sudah tinggalkan China menuju Nepal.

Saat ini, saya sudah berada di Nepal. Hari pertama di Nepal, bersepeda dari border menuju Kathmandu sejauh 127 kilometer. Tetapi, sekitar 75 persen sedang rusak. Suasana di Nepal dan China sungguh jauh berbeda. Kondisi jalan di Nepal umumnya rusak.
Saya mengayuh sepeda di Nepal selama kurang lebih seminggu. Saya akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Selain jalan rusak, jalan yang dilewati pun umumnya menanjak. Yang menarik di Nepal adalah masyarakatnya ramah dan baik. (bersambung)
Editor: JANNES EUDES WAWA
Jangan Lewatkan!
Catatan Royke Lumowa (13): Kayuh Hingga di Ketinggian 5.013 Meter

1 Komentar
Pingback: Nepal-China Bagai Bumi dan Langit - blalak.com