Connect with us

Perjalanan

Catatan Royke Lumowa (14): Pekan Paling Bahagia di Tibet

ROYKE LUMOWA

Published

on

Share ini

Pekan ketiga September 2023 menjadi momentum yang paling membahagiakan bagi saya selama mengayuh sepeda dari Jakarta ke Paris. Dalam sepekan ini saya tiga kali bersepeda menuju tiga gunung di Tibet, China, termasuk Everest Base Camp yang masing-masingnya memiliki ketinggian lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut. Saya mampu melewati tantangan itu dengan aman dan lancar.

Mula-mula pada Minggu, 17 September 2023, perjalanan dari kota Shigatse menuju Shegar sejauh 216 kilometer. Untuk menuju kota Shegar, saya harus terlebih dahulu melewati Gunung Gyatso La setinggi 5.248 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Melihat rute perjalanan yang cukup panjang, beberapa hari sebelumnya saya memutuskan untuk fokus pada gowes menuju puncak Gunung Gyatso La. Rute yang terbaik adalah saya bersepeda mulai dari Lhatse, sebuah desa kecil dekat gunung. Jaraknya sekitar 30 kilometer, tetapi semuanya menanjak dengan total ketinggian (elevation gain) mencapai 1.212 meter.

Berada di Everest Base Camp dengan latar belakang puncak Gunung Everest. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Dari hotel di Shigatse, saya memilih menaiki mobil. Kami berangkat pukul 05.00, dan tiba di Lhatse sekitar pukul 08.00. Jaraknya kurang lebih 150 kilometer. Pagi itu, kami sarapan di sebuah warung, namun makanan yang ada hanya roti dan bakpau.

Lhatse berada pada ketinggian 4.200 mdpl. Kota Shigatse 3.800 mdpl, sedangkan Shegar pada 4.800 mdpl.

Tanjakan meliuk

Setelah sarapan, saya memulai bersepeda menuju puncak Gunung Gyatso La. Tanjakannya meliuk-liuk di sekitar punggung gunung dengan kemiringan tidak lebih dari 10 derajat. Herannya, semakin mendekat ke puncak, suhu udara semakin panas, berkisar 32-40 derajat celcius. Suhu panas ini merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim yang belakang semakin serius merongrong bumi dan umat manusia.

Kondisi ini membuat saya pun terengah-engah. Bahkan, aklimatisasi biasanya saya lakukan pada setiap ketinggian 100 mdpl, tetapi di jalur ini saya perpendek menjadi setiap 50 mdpl. Rutenya cukup berat. Bayangkan, dalam jarak 30 kilometer total ketinggian mencapai 1.212 meter. Saya pun sempat merasakan mual dan sedikit pusing. Ini yang paling saya khawatirkan dalam perjalanan di tanjakan dengan ketinggian di atas 4.000 mdpl.

Menjelang puncak, saya mulai kepayahan. Saya mencoba mengayuh sepeda perlahan-lahan. Tidak ngoyo. Apalagi dengan suhu udara yang cukup panas. Akhirnya sekitar pukul 15.30, saya pun tiba di puncak Gunung Gyatso La.

Menurut data yang tercatat pada garmin saya, puncak gunung ini berada pada ketinggian 5.260 meter. Tetapi, yang tertulis pada prasasti sebuah batu besar yang dipasang di puncak adalah 5.248 meter.

Begitu tiba di puncak, saya pun berlutut, membentangkan tangan dan menengadah ke langit sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih yang berlimpah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia telah membimbing dan melindungi saya sehingga bisa bersepeda dengan aman dan lancar hingga tiba di puncak Gunung Gyatso La. Saya dan kru pun mengabadikan pengalaman ini sebagai sebuah kenangan hidup yang takkan terlupakan.

Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melindungi saya hingga mencapai di titik ini dengan bersepeda. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Setelah beberapa menit berada di puncak, saya mulai merasa kelaparan. Maklum, sejak gowes dari Lhatse, saya tidak sempat makan lagi. Kami juga lupa membawa bekal untuk makan siang. Sementara di puncak gunung pun tidak ada restoran.

Masak mie instan

Sekitar pukul 16.00, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Shegar. Dari puncak gunung, saya mengayuh melewati jalan menurun. Setelah melewati kurang lebih 17 kilometer, rasa lapar itu semakin menjadi-jadi. Saya akhirnya memutuskan berhenti di tepi sebuah sungai. Airnya bersih, jernih dan suasana sejuk. Kami pun memasak mie instan menggunakan kompor portable yang telah tersedia dalam mobil pengiring. Rasanya lezat dan nikmat sekali. Maklum sudah sangat lapar.

Selesai makan, waktu sudah mendekati pukul 18.00, saya pun memilih loading menuju kota Shegar. Jaraknya terisisa 35 kilometer. Pertimbangan utama karena esok harinya, saya masih harus bersepeda melewati Gunung Guela yang juga memiliki ketinggian  lebih dari 5.000 mdpl sehingga perlu persiapan fisik yang prima.

Sehari sebelumnya, yakni 16 September 2023, saya menempuh rute Lhasa- Shigatse 266 km, tetapi realisasi 106 kilometer. Penyebab utama adalah kami harus sudah tiba di kantor Kepolisian Shigatse sebelum pukul 18.30 untuk pemeriksaan dokumen sebagai persiapan menuju ke Everest Base Camp (EBC).

Saya berangkat pukul 05.00. Hari masih sangat gelap dengan suhu udara 4 derajat celcius. Suhu udara meningkat setelah pukul 08.00.

Kota Lhasa ternyata sangat besar. Kami menginap di tengah kota. Saya bersepeda sejauh 17 kilometer baru menemukan wilayah pinggir kota. Kota ini juga sangat indah. Pagi hari menyaksikan aliran air sungai yang jernih. Ada pula barisan pegunungan batu beserta pohon-pohon yang indah di tengah kota.

Untuk BNI 46

Jalan raya juga tidak banyak dilalui kendaraan bermotor. Sebagian besar kendaraan lebih memilih melewati jalan tol.

Berada pada ketinggian 5.198 meter di atas permukaan laut. foto: dokumentasi Royke Lumowa

Sekitar 70 kilometer dari penginapan di Lhasa, saya sempat menyinggahi kantor polisi Quxu. Saya menceritakan bahwa saya purnawirawan polisi di Indonesia, serta tujuan perjalanan bersepeda yang saya lakoni. Mereka menyambut saya dengan ramah dan memberikan respek yang tinggi. Kami sempat berfoto bersama.

Di rute ini, saya menemukan patok bertuliskan 4646 di rute G318. Saya berhenti sejenak untuk foto sebagai persembahan saya untuk teman-teman pesepeda BNI 46.

Memasuki kilometer 100, saya menghadapi jalan rusak yang cukup panjang. Penyebab kerusakan yakni adanya proyek pembangunan jalan tol menuju Shigatse. Udara panas siang itu membuat debu beterbangan.

Melewati itu, saya putuskan loading, sebab mengejar waktu untuk tiba di kantor Kepolisian Shigatse sebelum pukul 18.30. Di sana, polisi memerika paspor, visa,  surat izin masuk kendaraan masuk China, surat izin masuk khusus masuk Tibet dan surat izin mengemudi (SIM) sementara di China. Dalam perjalanan dari Lhasa menuju Kota Shigatse juga kami melewati dua kali pemeriksaan oleh polisi dan imigrasi setempat.

Kawasan Everest

Senin, 18 September 2023, dari Shegar, saya menuju ke Tashi Dzom sejauh 62,34 kilometer. Hari ini juga saya akan melewati puncak Gunung Guela. Saya memulai bersepeda pada pukul 08.00, setelah selesai sarapan di penginapan. Kota Shegar berada pada ketinggian 4.300 mdpl. Pagi itu suhu sangat dingin.

Jalan tanjakan dengan kelokan yang indah. Kemiringan tanjakan maksimal 10 derajat. Foto: dokumentasi Royke Lomuwa

Untuk bersepeda dengan nyaman pada pagi yang dingin itu, saya pun mengenakan lima lapis pakaian, antara lain jaket dua lapis, jersey dan celapa sepeda disertai celana panjang. Ada penutup wajah, sarung tangan yang tebal, serta sepatu sepeda yang khusus di udara dingin.

Pakaian lima lapis ini saya kenakan hingga kurang lebih pukul 10.00. Selepas itu, suhu udara mulai hangat, satu demi satu pakaian saya tanggalkan hingga menyisahkan jersei dan celana sepeda yang dilengkapi celana panjang. Suhu siang itu cukup adem yakni 26 derajat celcius.

Perjalanan tetap menanjak dengan kemiringan 2-6 derajat. Jalan tanjakan ini berkelok-kelok melewati sekitar lima gunung. Kelima gunung tersebut memiliki ketinggian di atas 4.000 meter. Dari kejauhan terlihat kelokan-kelokan itu sangat indah. Bagus banget. Mirip jalan berkelok di Italia, yakni Stelvio Pass. Suhu udara menuju puncak Gunung Guela juga sangat adem membuat perjalanan bersepeda tidak melelahkan. Saya sama sekali tidak mual dan pusing.

Saya tiba di puncak Gunung Guela pada pukul 12.50. Puncak ini berada pada ketinggian 5.198 meter. Di puncak, saya istirahat sejenak dan melakukan dokumentasi pribadi. Kurang lebih satu jam kemudian, saya gowes lagi menuju ke Tashi Dzom. Saat turun juga melewati jalan yang meliuk. Pemandangannya lebih indah lagi karena hanya lewati satu gunung. Dari atas puncak telihat seluruh lingkaran jalan hingga di bawah.

Kurang lebih dua kilometer menjelang penginapan, saya melewati sebuah pos pemeriksaan lagi. Yang diperiksa  petugas imigrasi dan kepolisian adalah paspor, visa, surat izin masuk ke Tibet, surat isin kendaraan masuk ke China dan lainnya.

Bersama kru di Everest Base Camp Tibet. Jauh di belakang kami adalah puncak Gunung Everest. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Setelah itu, kami memasuki gerbang kawasan Gunung Everest. Di situ dipungut sejumlah biaya. Lalu dari rute G318 yang saya lewati, perjalanan berbelok ke kiri memasuki rute 515, yakni masuk ke kawasan wisata Gunung Everest. Rute G318 terbentang dari Shanghai hingga di barat perbatasan Tibet dan Nepal sejauh sejauh 5.479 kilometer. Ini adalah rute paling fenomenal di China.

Everest Base Camp

Saya tiba Tashi Dzom menjelang sore. Daerah ini berada dalam kawasan wisata Gunung Everest. Keesokan harinya, saya akan bersepeda ke base camp atau Everest Base Camp sejauh 40 kilometer dari Tashi Dzom yang berada pada ketinggian 4.200 mdpl menunju base camp pada 5.200 mdpl.

Selasa, 19 September 2023, saya bersepeda dari Tashi Dzom pukul 07.00. Hari masih gelap. Maklum kota ini berada di wilayah China paling barat sehingga siang agak terlambat. Ini sama seperti Surabaya dan Medan, sama-sama waktu Indonesia bagian barat, tetapi Medan posisinya lebih barat sehingga siangnya sedikit terlambat dibanding Surabaya.

Pagi itu, suhu udara minus 2 derajat celcius. Menjelang pukul 10.00 barulah suhu udara meningkat hingga mencapai 20 derajat celcius di siang hari. Semua jenis kendaraan dilarang menuju Everest Base Camp. Mobil hanya parkir di kawasan Tashi Dzom. Wisatawan wajib menggunakan kendaraan yang disiapkan pengelola. Tetapi, sepeda dibolehkan.

Saya mengayuh sepeda ditemani Dimas GA Priyanto yang menggunakan sepeda listrik yang mengangkut sejumlah perbekalan. Perjalanan melewati lembah yang diapit barisan gunung yang indah. Panoramanya sangat menawan. Ada pula sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari jalan dengan airnya yang bening, bersih dan dingin.

Dari kejauhan tampak pegunungan di Tibet yang begitu indah tertutup salju. Indah sekali. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Saya sempat dua kali melihat ada tulisan peringatan yang dipasang di tepi jalan. Tulisan itu mengingatkan tentang harimau putih yang sering berseliweran di rute tersebut. Memang betul, di situ merupakan habitat harimau putih dan kijang.

Dalam perjalanan di rute ini, saya juga disiplin melakukan aklimatisasi. Setiap ketinggian 100 mdpl saya berhenti sejenak agar tubuh bisa menyesuaikan dengan kondisi oksigen. Saya lakukan ini terus-menerus hingga mencapai Everest Base Camp.

Mendekati ke Everest Base Camp ada lagi pemeriksaan dokummen perjalanan dari polisi dan imigrasi. Bahkan, setiap wisatawan juga diwajibkan menandatangani surat perjanjian yang intinya tentang bersedia menanggung risiko, seperti kecelakaan yang dialami selama berada dalam kawasan pegunungan tersebut.

Banyak pos pemeriksaan

Di China, cukup banyak titik pemeriksaan dokumen perjalanan wisatawan yang dilakukan polisi dan petugas imigrasi. Pemeriksaan terbanyak dilakukan di wilayah Tibet. Entah mengapa di Tibet begitu banyak pos pemeriksaan?

Selepas pukul 14.00, saya pun mencapai finis. Saya terus-menerus menyampaikan rasa syukur yang tidak terhingga atas kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya merasa sungguh beruntung mendapatkan kesempatan ini dalam hidup.

Di base camp, dari kejauhan tampak nyata puncak Gunung Everest yang diselimuti salju. Jaraknya pun hanya beberapa kilometer. Saya lihat utuh puncak gunung. Tidak tertutup awan sedikit pun. Katanya, tidak selalu terbuka seperti ini. Lebih banyak tertutup awan.

Berada di depan prasasti di Everest Base Camp Tibet. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Everest Base Camp  (EBC) adalah lokasi persinggahan untuk mencapai puncak Gunung Everest. Ada dua tempat. Satu di Tibet yang masuk wilayah China. Satu lagi di Nepal. Maklum gunung yang memiliki tinggi 8.849 mdpl ini memang berada di dua negara tersebut.

EBC Tibet berada di sebelah utara Gunung Everest atau disebut North Face, sedangkan EBC Nepal berada di sebelah selatan atau South Face. Untuk menuju ke EBC Tibet, wisatawan bisa menggunakan kendaraan. Sedangkan EBC Nepal, wisatawan harus trekking selama 7-8 hari untuk sekali perjalanan. Kalau pergi dan pulang pasti lebih lama lagi. Jalurnya juga tidak ringan.

Dari EBC Nepal, wisatawan belum bisa melihat puncak Gunung Everest. Yang tampak adalah Gunung Khumbutse (6.636 mdpl), Nuptse (7.861 mdpl), Lhotse (8.516 mdpl), Pumori (7.161 mdpl), dan Lingtren (6.749 mdpl). Gunung Everest terlihat dari EBC Nepal, tetapi puncaknya tertutup Gunung West Ridge.

Menuju Nepal

Sebaliknya dari EBC Tibet, wisatawan dapat melihat langsung puncak Everest tanpa halangan apa pun. Itulah keistimewaan North Face. Puncak gunung tertinggi di dunia tersebut hanya lenyap kalau tertutup awan tebal.

Wisatawan yang paling banyak di siang itu dari China. Tidak ada orang asing lain, selain saya dan kru. Kami ketemu dan berbincang dengan beberapa wisatawan China. Ada juga yang mengenal Indonesia. Para wisatawan China umumnya membekali diri dengan tabung oksigen yang portable. Warga China saja begitu. Mungkin mereka berasal dari wilayah timur China, dan tinggal pesisir pantai sehingga tidak terbiasa dengan suhu dingin.

Kami tidak lama ada puncak. Saat istirahat, kami sempat masak mie instan. Setelah itu saya gowes kembali ke Tashi Dzom . Akan tetapi, 15 kilometer menjelang Tashi Dzom, saya loading dan langsung menuju kawasan perbatasan China-Nepal di Gyrong Baru. Karena 20 September 2023, kami harus sudah tinggalkan China menuju Nepal.

Dua pesepeda di Nepal (paling kiri dan paling kanan) menemui saya di Kathmandu. Mereka memberi apresiasi yang tinggi karena mendatangi Nepal dengan bersepeda dari Jakarta. Foto: dokumentasi Royke Lumowa

Saat ini, saya sudah berada di Nepal. Hari pertama di Nepal, bersepeda dari border menuju Kathmandu sejauh 127 kilometer. Tetapi, sekitar 75 persen sedang rusak. Suasana di Nepal dan China sungguh jauh berbeda. Kondisi jalan di Nepal umumnya rusak.

Saya mengayuh sepeda di Nepal selama kurang lebih seminggu. Saya akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Selain jalan rusak, jalan yang dilewati pun umumnya menanjak. Yang menarik di Nepal adalah masyarakatnya ramah dan baik. (bersambung)

Editor: JANNES EUDES WAWA

Jangan Lewatkan!

 

Kayuh Hingga di Ketinggian 5.013 Meter

 

 

 

 

 

 

 

 

Share ini

Bisnis

Ambisi China, Swasembada Durian

JANNES EUDES WAWA

Published

on

Share ini
Oleh JANNES EUDES WAWA

China yang selama ini menjadi importir durian terbanyak di dunia ternyata ingin mandiri. Mereka sadar betul permintaan buah beraroma khas tersebut di pasar domestik terus meningkat dengan volume tanpa batas sehingga jangan sampai sepenuhnya bergantung pada negara lain. Ambisi Negeri Tirai Bambu ini adalah swasembada durian.

Itu sebabnya, setelah menghabiskan miliran dollar AS selama bertahun-tahun sebagai importir, sejak tahun 2018, China mulai membudidayakan durian. Budidaya tersebut terpusat di Provinsi Hainan. Daerah ini berada di wilayah paling selatan memiliki iklim tropis yang cocok untuk tanaman yang memiliki kulit berduri tersebut.

Usaha ini tidak dilakukan secara sporadis oleh segelintir petani, melainkan melalui kerjasama melibatkan semua pihak dengan dukungan penuh pemerintah China. Mereka bersama-sama merencanakan dan menyiapkan blue print swasembada durian dengan matang dan detail.

Kalangan perguruan tinggi bertugas melakukan riset yang mendalam dan detail guna menghadirkan bibit durian berkualitas terbaik dan mendapatkan lahan yang cocok. Mereka juga tidak sungkan mengundang para ahli durian dari Thailand, Vietnam dan Malaysia untuk berbagai pengalaman.

Durian khas Indonesia. Arsip Jelajah

Saat yang sama Pemerintah China menyiapkan irigasi atau waduk dan meluncurkan program subsidi untuk membantu petani dan pelaku agrobisnis. Bantuan tersebut meliputi antara lain distribusi bibit, pelatihan teknis pengolahan lahan dan perawatan tanaman serta modal usaha.

Langkah itu dilakukan serius, sebab durian termasuk tanaman tropis yang sensitf dan banyak pihak belum meyakini lingkungan alam China cocok dan mampu mendukung rencana dan ambisi tersebut. Belum lagi, waktu berbuah pertama baru terjadi setelah tiga hingga lima tahun merupakan sebuah tantangan  berat dan risiko ekonomi yang serius bagi petani perintis.

“Menanam durian di China  bukanlah hal mudah. Diperlukan upaya, eksperimen dan ketekunan selama bertahun-tahun,” kata Lang Haibo, perwakilan petani di Sanya, Provinsi Hainam. Dia mengaku, selain kebijakan pendukung, pemerintah China mendorong adanya inovasi teknologi dan pengembangan industri durian yang terintegrasi. (Antara 22/7/2025).

Perluas Area Budidaya

Melansir Produce Report terungkap Provinsi Hainan telah berkembang menjadi pusat produksi durian utama di China. Kurang lebih 2.000 hektar perkebunan durian yang tersebar di wilayah Sanya, Baoting, dan Ledong. Area budidaya terus meluas ke utara, dengan kualitas dan hasil panen yang menunjukkan peningkatan signifikan. Tahun 2026 ini ditargetkan dapat mencapai 100.000 hektar.

Khusus di Sanya, area perkebunan durian telah mencapai 600 hektar, di mana 40 persen  di antaranya sudah berbuah sejak tahun 2024. Produksi dari wilayah ini ditargetkan mencapai lebih dari 200 ton.

Situasi serupa terjadi di Baoting dengan 600 hektar dan 14 persen di antaranya juga mulai berbuah pada tahun 2024. Di Ledong, area budidaya mencapai 800 hektar melibatkan 18 perusahaan dan petani independen. Bahkan, sebuah “kota durian” sedang dirancang di area seluas 300 hektar. Mereka juga terus meningkatkan jumlah lahan perkebunan durian.

Bahkan, di Mingshan, Sanya, petani melakukan pola tumpang sari dengan menanam juga nanas, sirih dan pisang. Sambil menunggu panen durian mulai tahun kelima, petani dapat memperoleh sumber pendapatan dari komoditas yang ada.

Verietas Unggul

Presiden Asosiasi Durian Hainan sekaligus Manajer Umum Perusahaan Pertanian Hainan Youqi, Du Baizhong mengungkapkan, perusahaannya mengelola perkebunan durian sekitar 530 hektar di Sanya, 230 hektar di Ledong dan 120 hektar di Baoting. Produksi pertama pada 2023 dan 2024 sekitar 200 ton per tahun. Namun tahun 2025 produksi bisa mencapai minimal 2.000 ton. Saat itu sebagian besar pohon durian sudah berproduksi.

Pemerintah China serius berinvestasi dalam pengembangan varietas durian. Profesor Meng Lei dari Universitas Hainan menyatakan lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan perusahaan di Hainan sedang aktif mengembangkan varietas baru. Mereka juga selalu aktif mengundang ahli durian dari Thailand, Malaysia dan Vietnam untuk berdiskusi.

Para ahli juga melakukan riset terhadap tanah yang ada di wilayah Hainan yang cocok  untuk budidaya durian. Hal ini sangat penting, sebab pada tahun 1950an petani di provinsi itu pernah melakukan budidaya durian, tetapi gagal. Kali ini mereka tak menginginkan kasus tersebut terulang kembali. Dari riset terkait kondisi tanah membuat keberhasilan budidaya durian tergolong tinggi. Kelangsungan hidup tanaman mencapai 98 persen.

Durian asli Bali. Arsip Jannes

China juga menginginkan peningkatan kualitas dan produktivitas buah. Termasuk di antaranya penemuan varietas tahan dingin sehingga dapat dibudidayakan di wilayah dengan garis lintang lebih tinggi. Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Tropis Tiongkok telah menguji coba varietas ini di provinsi Guangxi dan Sichuan.

Sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas, beberapa petani di Hainan telah mengimpor bibit durian dari Malaysia, terutama varietas premium seperti Musang King dan durian duri hitam (black thorn). Mereka berambisi menemukan bibit durian yang mampu berproduksi sepanjang tahun.

Teknologi Budidaya

Demi kelancaran suplai air, pemerintah membangun irigasi atau waduk, memasang sistem irigasi otomatis yang dapat membantu menyalurkan air dan pupuk secara tepat. Petani juga menggabungkan penyiangan manual dan mekanis serta menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Selama fase pertumbuhan awal, setiap pohon hanya boleh mempertahankan 2-5 buah. Tujuannya untuk memusatkan nutrisi, membantu pohon beradaptasi lebih baik dan meningkatkan kualitas buah di kemudian hari.

Bahkan, petani dan perusahaan Perkebunan durian di Hainan juga memanfaatkan sumber daya ikan laut untuk memproduksi pupuk berbasis ikan. Pupuk ini tidak hanya membantu buah durian berkembang lebih sempurna, tetapi juga berkontribusi pada rasa yang lebih kaya.

China juga mengembangkan model dan teknik pertanian yang sesuai untuk pengelolaan pupuk, irigasi, pengendalian hama dan penyakit, serta pertumbuhan. Termasuk mengembangkan teknologi perlakuan pembentukan bunga dan buah serta peningkatan produktivitas dan menstabilkan hasil panen di bawah kondisi tanah yang ada.

Termasuk penerapan teknologi irigasi, sistem hujan buatan dan peralatan air serta pemupukan yang teritegrasi, perangkat deteksi hama, analisa spora dan platform mahadata yang menyediakan informasi pemantauan perkembangan dan kondisi tanaman durian secara cepat (real time). “Sekarang dapat memantau kondisi kesehatan dan kebutuhan nutrisi setiap pohon durian secara nyata dan cepat,” ungkap Lang.

Inovasi Pascapanen

Inovasi juga merambah pada proses pascapanen. Hainan Youqi Agricultural Co, Ltd. telah mengembangkan lini produksi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menyortir durian. Teknologi ini dapat secara otomatis mengidentifikasi kualitas buah dan memisahkan durian yang cacat, sehingga meningkatkan pengendalian mutu dan efisiensi penyortiran.

Perusahaan tersebut juga sedang menggalakkan produk-produk bernilai tambah, antara lain permen durian dan kue bulan durian. Hal itu untuk mendorong pertumbuhan industri sekunder durian.

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Mengingat pada tahap awal, produksi durian masih sangat kecil sehingga harga durian asli China masih lebih tinggi dibanding durian impor. Namun demikian, yang dapat mereka tawarkan sebagai keunggulan adalah kesegeraran dan cita rasa yang lebih unggul berkat pertanian pintar lokal dan rantai pasokan yang lebih pendek.

China merupakan negara pengimpor sekaligus konsumen durian terbesar di dunia. Menurut data Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs/GAC) China, total volume impor melonjak dari 298.800 ton pada 2015 menjadi sekitar 1,36 juta ton pada 2024. Nilai impor mencapai Rp 125 triliun.

Setiap tahun, permintaan impor durian selalu meningkat rata-rata tujuh persen. Hal ini menyadarkan petani dan perusahaan-perusahaan di China untuk mandiri sekaligus menekan impor durian. Jumlah penduduk China sebanyak 1,425 miliar jiwa adalah potensi pasar yang amat besar.

Gebrakan mandiri durian di China ini menjadi ancaman nyata bagi negara-negara produsen durian, seperti Thailand, Vietnam, Malaysia dan Indonesia. Apalagi, keempat negara tersebut selama ini menjadikan China sebagai tujuan utama ekspor durian.

Indonesia Perlu Antisipasi

Manuver China ini sebetulnya hal normal. Dengan pasar domestik yang sangat besar dan tidak terbatas itu sepantasnya jangan mengandalkan sepenuhnya pada negara lain. Ada risiko permainan harga sepenuhnya berada di tangan importir dan eksportir. Konsumen berpeluang menjadi korban.

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Meski demikian, perlu menjadi perhatian kita bahwa China mampu memproduksi barang dengan harga murah. Hal juga berlaku pada komoditas buah-buahan. Jeruk, anggur dan apel dari China menguasai pasar Indonesia, sebab menawarkan harga murah dan kualitas bagus. Bukan tidak mungkin kelak kasus serupa juga terjadi pada durian. Durian China menyerbu pasar Indonesia.

Itu sebabnya, gerakan China ini seharusnya menjadi peringatan dini bagi pemerintah dan petani di Indonesia agar segera membenahi kembali usaha budidaya, distribusi dan pemasaran durian secara total dari hulu hingga hilir. Tujuannya untuk mendapatkan durian yang memiliki daging terbaik dengan harga yang ideal. Apalagi, belakangan ini harga durian cukup mahal, dan seringkali tidak masuk akal.

Indonesia yang memiliki penduduk kurang lebih 285 juta jiwa ini, dimana sekitar 80 persen di antaranya adalah penyuka durian menjadi pasar yang besar. Potensi ini juga bakal menjadi target China di masa depan. Jika harga durian China lebih murah dengan daging yang lebih berkualitas bukan tidak mungkin konsumen Indonesia bakal lebih memilih durian impor. (Habis)

 

Share ini
Continue Reading

Bisnis

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

JANNES EUDES WAWA

Published

on

Share ini
Oleh  JANNES EUDES WAWA

Indonesia boleh saja berbangga sebagai negara penghasil buah durian terbanyak di dunia. Bahkan memiliki keanekaragaman genetik sekitar 21 dari 27 spesies durian di dunia. Akan tetapi, durian Indonesia ternyata hanya jago kandang. Hampir 94 persen terdistribusi di pasar lokal. Sama sekali  tidak berdaya di pasar global.

Di pasar dunia justru Thailand dan Vietnam yang menjadi rajanya. Kedua negara ini menguasai 94,1 persen dari seluruh perdagangan durian. Indonesia hanya kebagian 0,043 persen. Sungguh ironis dan memprihatinkan. China tetap tercatat sebagai importir durian terbesar.

Berdasarkan data Trade Map dalam Durian Global Market Report oleh Plantation Internasional, volume ekspor durian di pasar global pada tahun 2024 sebanyak 1.372.863 ton. Dari jumlah itu, Thailand menjadi negara terdepan dalam memenuhi permintaan durian di pasar global dimana kontribusinya mencapai 857.400 ton atau 62,4 persen dengan nilai transaksi sekitar 4,39 miliar dollar AS setara Rp 71,42 triliun (kurs Rp 16.269 per dollar AS).

Jumlah ini meningkat siginifikan dibanding tahun 2018. Berdasarkan data dari pihak yang sama tercatat tahun 2022, misalnya, nilai ekspor durian Thailand mencapai 3,199 miliar dollar AS, dan tahun 2018 senilai 1,235 miliar dollar AS.

Berikutnya Vietnam. Negara ini melakukan gebrakan siginifikan sehingga tahun 2024 mampu mengekspor durian mencapai 435.700 ton atau 31,7 persen dengan nilai transaksi 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.

Durian Duri Hitam.

Sisanya diisi Hongkong yang pada tahun 2024 mengekspor 40.300 ton, Malaysia 22.400 ton, Filipina 16.000 ton, Indonesia hanya 591 ton, Bangladesh 227 ton, Kamboja 117 ton, Republik Dominika 82 ton dan Sri Lanka 46 ton.

Thailand Cerdas

Mengapa Thailand dapat menguasai pasar ekspor buah durian? Terobosan apa saja yang telah terjadi di negeri dalam beberapa tahun terakhir?

Thailand telah lama melihat potensi buah durian di pasar global. Pada tahun 2012, misalnya, negara itu sudah memiliki lahan tananam durian seluas 96.000 hektar, dan tahun 2019 melonjak tajam menjadi 152.000 hektar.

Bahkan, otoritas pertanian setempat menargetkan volume produksi buah durian di Thailand pada tahun 2022 mencapai 1,4 juta ton. Artinya terjadi peningkatan signifikan dari tahun 2019 sebanyak 656.777 ton.

Thailand sungguh cerdas. Negeri Gajah Putih itu bukan semata-mata membangun perkebunan durian skala besar dengan pengelolaan yang profesional, tetapi dengan serius mengembangkan riset yang mendalam, terpadu dan berkesinambungan guna menyediakan bibit berkualitas.

Mereka sadar betul bahwa hanya dengan bibit yang baik akan menghasilkan buah durian yang terbaik seperti keinginan konsumen. Thailand juga menyiapkan lahan khusus yang luas dan terawat. Tanaman mendapatkan perawatan, pemupukan yang rutin dengan pengairan yang teratur.

Permintaan yang tinggi di pasar luar negeri membuat sejumlah petani karet, singkong dan lainnya beralih menanam durian.  Dari sekian banyak jenis durian di Thailand, hanya tiga jenis menjadi unggulan. Ketiga jenis itu adalah Kanyao, Chanee dan Monthong. Sejauh ini durian Monthong yang paling terkenal.

Durian montong menjadi golden pillow, sebab memiliki rasa yang enak dan manis, tidak begitu beraroma, daging buah yang tebal dan pulen. Ukuran biji yang kecil dan pipih, serta kesegarannya bisa bertahan cukup lama. Beratnya berkisar 3 – 5 kilogram per buah. Ada pula yang mencapai 10 kilogram per buah.

Lebih dari 90 persen buah durian Thailand diekspor. Tujuan utama adalah China, lalu Hongkong, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang. Bahkan, Thailand juga menjajaki pasar di Timur Tengah.

Vietnam Bangkit

Di luar Thailand, ada Vietnam yang juga terus gencar mengembangkan tanaman durian. Target utama adalah merebut pasar China dalam volume yang sebanyak-banyaknya. jumlah penduduk China mencapai 1,425 miliar jiwa merupakan potensi pasar yang sangat besar. Bahkan, bermodalkan jaraknya yang dekat dengan China, Vietnam  menawarkan pengiriman melalui jalan darat sehingga dapat menekan biaya yang lebih rendah.

Ekspor melalui jalan darat dari Vietnam ke China hanya menempuh jarak sejauh 1.306 kilometer. Lama perjalanan maksimal tiga hari tentu menghemat biaya transportrasi. Hal ini membuat harga eceran durian di China pun lebih murah.

Harga durian Vietnam di China rata-rata 4 dollar AS per kilogram. Harga ini lebih rendah dibanding durian dari negara Asia Tenggara lainnya sekitar 6 dollar AS per kilogram. Tidak mengherankan permintaan durian dari Vietnam pun cukup tinggi. Pada semester I tahun 2023, Vietnam meraih devisa dari mengekspor buah durian ke China yakni  876 juta dollar AS atau setara Rp 13 triliun. Tahun 2024, Vietnam mendapatkan devisa sebesar 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.

Vietnam juga mengembangkan riset terpadu untuk menghasilkan durian yang dapat diproduksi sepanjang tahun. Sejauh ini Vietnam telah memiliki perkebunan durian seluas kurang lebih 150.000 hektar di kawasan Delta Mekong dan dataran tinggi.

Vietnam juga menandatangani protokol ekspor dengan China tahun 2022 dimana salah satu syarat yakni seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengiriman harus dapat dilacak. Di dalam negeri juga pemerintah Vietnam menggalakkan peningkatan kualitas, inovasi teknologi pascapanen dan sistem logistik yang canggih. Hasilnya, ekspor durian Vietnam melonjak 7,8 kali lipat.

Refleksi untuk Indonesia

Timbul pertanyaan mengapa durian Indonesia masih kalah bersaing di pasar global?

Apakah mungkin Indonesia dapat menguasai pasar ekspor durian di pasar global? Jika mampu, apa yang perlu segera dilakukan pemerintah dan dunia usaha di Indonesia?

Secara umum, tanaman durian mampu tumbuh dan berkembang pada lahan dengan ketinggian 100-800 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu udara berkisar 22-30 derajat celcius dan tidak toleran dengan suhu dingin. Curah hujan berkisar 1.500-3.000 mm per tahun dengan bulan basah dan kering yang jelas dan membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang tahun.

Menikmati durian di Tele, kawasan Danau Toba. Arsip Jelajah Bike

Sejauh ini Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan merupakan wilayah yang cocok untuk budidaya tanaman durian. Meski demikian, sejumlah daerah seperti di Lombok, Flores, Sumbawa, Papua, Maluku, dan Kepulauan Riau ternyata selama ini menghasilan buah durian yang berkualitas baik.

Selama ini hampir 80 persen pohon durian di Indonesia tumbuh secara alami, dan nyaris tak pernah mendapatkan perawatan yang baik dan kontinyu. Akibatnya, produktivitas dan kualitas buah selalu rendah sehingga hanya memenuhi permintaan pasar domestik atau lokal. Buah yang ada sulit menembus pasar global, sebab mengalami sejumlah kendala baik teknis maupun nonteknis.

Empat Persoalan

Di luar itu, ada pula sejumlah masalah serius yang membelit usaha budidaya durian di Indonesia. Pertama, belum adanya riset tanaman durian yang terpadu. Akibatnya, belum tampak durian unggulan Indonesia dengan kualitas prima. Kalau pun ada, riset itu hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas.

Kedua, selama ini budidaya durian cenderung secara tradisional, sebab umumnya hanya melibatkan petani dengan areal yang terbatas. Akibatnya, perhatian pada perawatan dan pemupukan tanaman sangat terbatas. Itu sebabnya, petani perlu dibekali pengetahuan tentang pemilihan bibit unggul, perawatan dan pemasaran. Kecerdasan petani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan usaha durian. Negara harus terlibat langsung dalam upaya pencerdasan petani.

Ketiga, usaha budidaya tanaman durian belum banyak melibatkan perusahaan swasta untuk mengembangkan perkebunan skala besar yang mampu produksi sepanjang tahun dengan kualitas terbaik. Belakangan setelah melihat pasar yang tidak terbatas, pihak swasta mulai bergairah mengembangkan budidaya durian.

Kehadiran pihak swasta dapat mendorong adanya buah durian yang berkualitas, unggul dan sesuai standar global serta fokus ekspor. Karena pasar ekspor menuntut adanya kualitas, kuantitas dan kontiunitas. Dengan iklim tropis yang dimiliki Indonesia membentang dari Aceh hingga Papua memicu durian dapat berproduksi sepanjang dengan waktu produksi di setiap sentra yang berbeda-beda.

Durian di Balige, tepi Danau Toba. Arsip Jelajah Bike

Keempat, pemerintah perlu melakukan promosi buah durian unggulan Indonesia ke pasar global. Selama ini setidaknya ada tujuh durian Indonesia yang populer yakni durian montong, durian petruk, durian bawor, durian musang king, durian tembaga, durian bokor, durian duri hitam dan durian merah.

Ayo Bangkit

Sudah waktunya semua pihak mengerahkan segala kekuatan untuk mengembangkan tanaman durian secara lebih baik. Para petani perlu mendapatkan informasi yang akurat baik tentang perawatan tanaman dan prospek buah durian yang memiliki pasar tanpa batas.

Melalui informasi budidaya yang benar, petani pasti semakin bergairah. Mereka akan bekerja penuh semangat guna menghasilkan buah durian berkualitas tinggi dengan volume produksi yang besar. Apalagi dengan dukungan pasar yang luas dan harga yang tinggi, maka durian dapat menjadi salah satu andalan Indonesia meraup devisa.

Pasar domestik memang semakin menjanjikan. Akan tetapi, penjualan di pasar global juga perlu ditingkatkan. Di luar negeri pasar durian seolah tanpa batas. Penandatanganan protokol ekspor durian beku antara Indonesia dan China pada 25 Mei 2025 menjadi langkah yang bagus. Bahkan, sudah delapan perusahaan yang lolos verifikasi untuk mengekspor daging durian beku ke China. Sebuah peluang sudah terbuka lebar.

Ayoo bangkit durian Indonesia!! (Bersambung)

Baca juga:

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Share ini
Continue Reading

Bisnis

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

JANNES EUDES WAWA

Published

on

Share ini
oleh JANNES EUDES WAWA

Sejak awal Desember 2025, penjualan buah durian semakin marak di Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang dan sekitarnya. Harga pun bervariasi. Paling murah Rp 25.000 per kilogram. Maraknya penjualan buah beraroma khas menyengat ini menandakan musimnya telah tiba.

Setiap kali terjadi pergantian tahun, buah durian pun menyerbu kota. Tidak sedikit pula lapak bermunculan untuk memasarkan buah yang memiliki daging lembut seperti krim, berwarna kuning hingga putih, manis dan bertekstur unik tersebut.

Di setiap lapak, buah berkulit keras dan berduri ini tidak pernah sepi pembali. “Penggemar durian di Jakarta dan sekitarnya banyak banget sehingga gampang menjualnya. Tidak lebih dari dua hari sudah habis terjual,” kata Purwadi, penjual durian di Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (8/1/2026).

Dia mengaku saat ini durian dari Bengkulu, Jambi dan Palembang semakin banyak yang masuk di Jakarta. Sedangkan dari Sumatera Utara tahun ini sedikit berkurang akibat musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.

Durian Jawa Timur dan Jawa Tengah juga mulai masuk Jakarta dan sekitarnya, tetapi jumlahnya masih terbatas. Minggu kedua Januari 2026 bakal makin banyak durian dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi menyerbu Jakarta.

Di antara begitu banyak durian, ada sejumlah jenis yang harganya lumayan mahal. Misalnya, durian montong Rp 100.000-Rp 120.000 per kilogram. Durian bawor Rp 200.000 per kilogram. Durian Masmuar Rp 300.000 per kilogram, durian musang king Rp 400.000 per kilogram. Termahal adalah durian duri hitam (black thorn) dan tembaga sekitar Rp 600.000 per kilogram.

Buah durian kian marak pertanda musimnya telah tiba. Arsiap Jannes

Kelebihan durian duri hitam yakni dagingnya berwarna kuning keemasan menyala dan tebal, cita rasa yang lezat, manis, legit, harum, sedikit pahit dan berbiji banyak. Testur buahnya sangat creamy. Komposisinya pas dan gampang meleleh di mulut.

“Meski mahal, tetapi lebih cepat laku terjual. Di Jakarta dan sekitarnya ada banyak penikmat durian. Mereka tidak peduli harga mahal, yang penting bagus dan sesuai selera,” ungkap Purwadi.

 Menunggu Festival

Selain warga, menurut Purwadi, sejumlah pelaku usaha yang memproduksi aneka produk berbahan baku durian, seperti es krim dan roti juga memburu daging durian. Mereka membeli untuk persediaan selama setahun. Itu sebabnya durian selalu habis terjual.

Aroma buah durian yang kuat itu selalu memicu respon yang ekstrim: cinta mati atau pembenci berat. Para pembenci menilai buah tersebut berbau busuk yang memincu untuk muntah sehingga patut dhindari dan dijauhkan. Sebaliknya pencinta durian mengklaim buah ini memiliki kelezatan tiada tara sehingga layak untuk berburu.

Biasanya pada Januari dan Februari sejumlah pihak selalu menggelar festival durian di beberapa daerah. Dalam kegiatan tersebut para petani, pedagang atau pemerintah daerah selalu menampilkan durian terbaik guna mempromosikan kepada publik. Para pemenang pun umumnya langsung mendapatkan pasar baik dalam jangka pendek maupun panjang.

“Saya selalu memburu festival durian untuk mencari jenis terbaik. Ada para petani atau kelompok tani yang selama ini tekun melakukan pencangkokan atau kawin silang dan mendapatkan buah yang bagus. Biasanya mereka promosikan itu dalam festival agar dapat dikenal publik. Saya mengincar durian-durian yang baru muncul itu untuk menjalin kontak dengan petani,” ungkap Udin, pegadang durian asal Bogor.

Puncak Musim

Buah durian memiliki penggemar fanatik yang tidak sedikit. Khusus di Indonesia, Yayasan Durian Nusantara pernah melakukan survei sederhana pada beberapa waktu lalu. Hasilnya, sekitar 80 persen atau 228 juta jiwa masyarakat Indonesia adalah penyuka buah durian. Dari jumlah itu, kurang lebih 36 persen atau 82 juta di antaranya penggemar sejati. Mereka maniak dan berani membeli buah durian meski harganya mahal.

Menariknya lagi konsumsi durian masyarakat Indonesia juga terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Januari 2024 menyebutkan konsumsi daging buah durian pada tahun 2023 mencapai 2,372 kilogram per kapita per tahun. Jumlah tersebut melonjak cukup tinggi dibanding tahun 2020 rata-rata 1,031 kilogram per kapita per tahun.

Musim durian di Indonesia umumnya berlangsung selama Oktober hingga Maret dengan puncak panen pada Desember dan Januari. Namun puncak panen raya cenderung berbeda waktu untuk setiap wilayah. Pulau Sumatera, misalnya terjadi lebih awal. Menyusul Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Keempat pulau ini menjadi sentra produksi durian. Populasi terbanyak di Jawa dan Sumatera. Pemicu adanya perbedaan waktu panen raya antara lain curah hujan, stabilitas sinar matahari dan jenis durian. Namun demikian, pohon durian tumbuh baik di hampir semua wilayah di Indonesia, tetapi dalam volume produksi yang terbatas.

Produksi Durian Indonesia tahun 2024 mencapai 1,96 juta ton. Jumlah ini meningkat cukup tinggi dibanding tahun 2023 sebanyak 1,85 juta ton. Produksi terbanyak di Provinsi Jawa Timur yang menyumbang 26,36 persen dari total produksi nasional. Untuk tahun 2025 volume produksi diperkirakan melebihi 2 juta ton.

Volume produksi pun menunjukkan kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Januari 2023 menyebutkan, produksi buah durian pada tahun 2022 sebanyak 1,71 juta ton. Jumlah ini meningkat 26,64 persen dari tahun 2021 sebanyak 1,35 juta ton.

Produsen Terbanyak

Volume yang besar ini membuat Indonesia menjadi produksi terbanyak di Asia Tenggara, bahkan dunia. Indonesia termasuk kaya akan keanekaragaman genetik, yakni memiliki 21 dari 27 spesies durian di dunia dan hingga tahun 2024 mendaftarkan sekitar 114 varietas unggul baru. Hal ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai “raja durian” kawasan Asia, tidak hanya dari segi kuantitas tetapi juga potensi varietas unggul.

Meski demikian, kebutuhan pasar buah durian di dalam negeri juga meningkat pesat sehingga masih mengimpor lagi. Pada tahun 2024 volume impor sebanyak 459,3 ton atau senilai 3,6 juta dollar AS setara Rp 58,9 miliar. Impor dari Malaysia dan Thailand.  Puncak impor terjadi pada Desember 2024 sebanyak 29,8 ton atau 246.700 dollar AS.

Durian duri hitam, salah satu durian termahal di Indonesia. Arsip

“Orang Indonesia umumnya maniak durian. Kadang mereka tak peduli dengan harga sedikit mahal. Kalau sudah kepingin, mereka pasti beli. Apalagi duriannya bagus,” lanjut Iwan yang mengaju berjualan durian tidak pernah rugi, sebab selalu laku terjual. Tetapi kuncinya buah durian harus benar-benar bagus. Rusak sedikit saja pasti takkan terbeli.

Itu sebabnya, para penjual selalu mengingatkan pegadang durian agar selektif dalam memasarkan buah durian. Bahkan, saat mengambil dari pengumpul di daerah harus sudah menyortir dengan ketat. Hal ini wajib dilakukan guna menghindari kerugian.

Pasar China Tak Terbatas

Penggemar buah durian tidak hanya masyarakat Indonesia, tetapi hampir merata di kawasan Asia Tenggara, terutama Malaysia, Singapura dan Thailand. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir merambah ke China, Korea, Jepang, Amerika Utara, Eropa dan Australia. Uniknya, tanaman durian sejauh ini hanya cocok bertumbuh dan berkembang dengan baik di wilayah tropis, terutama Asia Tenggara.

Saat ini, mayoritas masyarakat di China tergolong penggemar berat. Buah durian telah menjadi makanan favorit di kalangan kelas menengah di China. Menjadi hadiah untuk orang istimewa pada acara keluarga atau pertunangan. Bahkan menjadi simbol status sosial dari pemberi hadiah. Para pelaku usaha juga melakukan beragam inovasi produk seperti hot pot durian, roti isi durian dan buffet bertema durian.

Di sisi lain, masyarakat China juga memandang daging durian sebagai sumber energi dan vitalitas sehingga menjadi pilihan favorit bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas kesehatan secara umum. Apalagi ada konsep qi atau kekuatan hidup, dimana budaya China sangat menghargai itu. Mereka selalu mempercayai makanan tertentu dapat membantu menyeimbangkan dan memperkuat energi tersebut.

Hal itu ikut memicu permintaan daging durian di China meningkat pesat. Negeri Tirai Bambu itu telah menjadi importir durian terbanyak di dunia. Tahun 2024, China mengimpor buah durian sekitar 1,37 juta ton dengan nilai transaksi mencapai 7,03  miliar dollar AS setara Rp 115,29 triliun (kurs 1 dollar AS = Rp 16.470). Jumlah ini meningkat 9,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Adanya pasar di luar negeri yang terbuka lebar tentu menjadi peluang besar bagi Indonesia. Akan tetapi, sejauh ini jangankan untuk ekspor, untuk pasar domestik pun buah durian yang diproduksi selalu tidak tercukupi. Permintaan selalu melampaui produksi.

Ada Peningkatan

Tahun 2024 misalnya, Indonesia mengekspor buah durian sekitar 591 ton dengan nilai transaksi kurang lebih 1,8 juta dollar AS atau Rp 29,4 miliar. Negara tujuan yakni China,

Malaysia, Singapura, Hongkong dan Jerman. Ekspor ke China berupa buah durian beku dengan veritas unggulan seperti durian bawor dan namlung.

Tahun 2023, total ekspor buah durian dari Indonesia sebanyak 230 ton. Jumlah ini meningkat cukup tinggi dibanding tahun 2020 sebanyak 105 ton dan tahun 2019 hanya 98 ton. Negara tujuan ekspor Malaysia, Singapura, Belanda dan Timur Tengah. Jadi, porsi ekspor masih terbatas, berkisar enam hingga tujuh persen dari total produksi.

Harga buah durian di China sebesar 10 dollar AS setara Rp 154.000 per kilogram. Di pasar Asia Tenggara rata-rata 6 dollar AS atau Rp 92.000 per kilogram. Harga ini masih jauh lebih mahal dua hingga tiga kali lipat dari yang berlaku di Indonesia. (Bersambung)

 

 

Share ini
Continue Reading
Advertisement

Kategori

Video

 

Advertisement

Trending

Copyright © 2026 Blalak.com