Kondisi Eropa selama musim dingin dengan suhu udara di bawah nol derajat celcius membuat semua cairan di ruang terbuka pasti membeku. Air sungai, danau dan laut tidak luput dari kondisi tersebut. Pembekuan tersebut membuat adanya perlintasan kendaraan melewati danau dan laut.
Saat menginap di Parnu, Estonia pada 10 Januari 2024 malam, kami mendapatkan kabar dari warga setempat bahwa di Virstu Port, sekitar 77,73 kilometer dari kota itu ada jalan es. Jalur jalan itu tersedia dari es yang membeku di laut.
Apabila es yang ada telah mengeras, maka pihak berwenang mengizinkan kendaraan melewati jalur yang disebut jalan es (ice road). Kapan persisnya jalan es berfungsi, tidak ada yang tahu persis, Semua tergantung kondisi pembekuan es di laut di Teluk Riga di wilayah itu.

Saya pun tertarik dengan informasi itu. Maka, perjalanan saya pada 11 Januari 2024, saya tidak langsung menuju ke Tallinn di utara, melainkan bergerak ke arah barat, yakni di Virstu Port.
Sungai membeku
Pagi itu, saya memulai perjalanan pada pukul 09.00. Suhu udara cukup dingin, yakni minus 6 derajat celcius. Suhu ini terasa semakin dingin sebab adanya angin kencang dengan kecepatan sekitar 26 kilometer per jam. Angin bergerak dari depan sehingga beberapa kali saya bersembunyi di belakang mobil pengiring agar kayuhan sepeda lebih laju.
Dari penginapan, saya menyusuri Kota Parnu yang indah, melewati sebuah jembatan di tengah kota. Jembatan tersebut menghubungkan Sungai Parnu. Dari atas jembatan, saya menyaksikan air sungai itu membeku menjadi gumpalan-gumalan es dan tertutup salju.
Saya pun penasaran dengan fenomena tersebut. Akhirnya saya memutuskan turun ke sungai. Setelah melihat dari dekat dan memegang beberapa gumpalan es, benda itu sudah mengeras seperti batu.
Ternyata sungguh dahsyat suhu dingin di Eropa sehingga air sungai, danau dan laut pun membeku dan mengeras. Sangat mengerikan. Mungkin bagi orang di Eropa, hal ini sebagai kejadian lumrah. Rutin terjadi setiap musim dingin. Tetapi, bagi saya yang selama ini tinggal di wilayah tropis, peristiwa ini sebagai fenomena luar biasa.
Memasuki kilometer 24, sempat terjadi hujan salju. Namun, saya tetap meneruskan kayuhan, sebab momentum seperti ini juga menarik. Selama sekian pekan bersepeda di Eropa, saya sangat jarang terkena hujan salju. Apalagi di Indonesia. Jadi, merasakan hujan salju juga bagian dari pengalaman yang menarik dan seru.
Bersepeda melewati salju memang tidak mudah. Karena jalan yang ada cenderung basah dan licin. Itu sebabnya perlu menggunakan ban luar yang khusus salju, Dimana mirip ban sepeda gunung, tetapi lebih bergerigi guna menguatkan cengkraman.
Sedangkan sepeda yang saya kayuh menggunakan ban luar yang tidak bergerigi sehingga mudah terselip saat melewati jalan yang penuh salju. Kondisi ini membuat saya sangat ekstra hati-hati saat mengayuh sepeda di jalan yang berselimut salju.
Lautan salju
Selepas kilometer 24, datang lagi angin kencang. Kecepatan mencapai 30 kilometer per jam. Saya pun memilih mengayuh sepeda sambil berlindung di belakang mobil pengiring sehingga tiupan angin tidak menghambat perjalanan.
Sekitar pukul 13.45, kami memasuki kilometer 55. Tidak jauh dari lokasi itu, terdapat sebuah restoran sehingga kami pun makan siang. Setelah itu, melanjutkan gowes, dan tiba di kota Virstu Port pukul 15.15.
Kami pun langsung menuju pelabuhan untuk melihat laut yang membeku. Ternyata kejadian tersebut benar. Luas laut yang sejauh mata memandang tersebut benar-benar telah tertutup salju dan membeku.
Akan tetapi, menurut para petugas, pada sore itu tutupan es belum sepenuhnya mengeras seperti batu. Di beberapa titik masih kondisi es lembek sehingga kendaraan belum mendapat izin untuk melewati lautan es tersebut. Sempat kecewa juga, tetapi saya tetap puas, sebab dapat menyaksikan kondisi tersebut.

Itu sebabnya, kapal laut tetap diizinkan berlayar. Tampak dari pelabuhan, kapal-kapal yang ada bergerak perlahan sambil memecah gumpalan-gumpalan es. Sungguh menarik!
Dari Virstu Port, kami melanjutkan perjalanan ke Tallinn. Mengingat sesaat lagi mulai gelap, saya memutuskan loading menuju arah timur laut sejauh 136 kilometer. Tiba di sana menjelang pukul 21.00 dan menginap di Tallinn, kota di pesisir pantai.
Keesokan harinya, yakni 12 Januari 2024, saya berangkat menuju Helsinki, Finlandia menggunakan kapal penyeberangan dari Tallinn. Pagi itu, sekitar pukul 09.30, saya gowes ke pelabuhan fery Tallinn. Lokasinya tidak terlalu jaug dari penginapan.
Suhu saat itu minus 12 derajat celcius. Sangat dingin. Semua area, termasuk wilayah pelabuhan masih tertutup salju tebal. Begitu pula laut. Dari langit, hujan salju pun terus mengguyur bumi.
Kapal perlahan-lahan bergerak melewati lautan salju seraya memecah gumpalan es dengan kecepatan berkisar 25-30 knot per jam. Tidak ada hambatan yang terjadi selama pelayaran tersebut.
Memasuki Finlandia
Meski laut berselimut salju, penyeberangan tetap lancar. Cukup banyak kapal yang melayani pengangkutan baik rute Tallinn menuju Helsinki ataupun sebaliknya. Pelayaran ini menghabiskan waktu lima hingga enam jam.
Siang itu kami berlayar dengan kapal Victoria. Harga tiket untuk kendaraan sebesar 82 euro, sedangkan penumpang 12 euro per orang. Kapal juga menyiapkan penyewaan kamar. Untuk kapasitas 4 orang, misalnya, seharga 55 euro.
Kapal penyeberangan ini tergolong mewah. Konsepnya menyerupai kapal pesiar. Bersih, tersedia restoran, tempat hiburan, ruang musik dan toko yang menjual aneka jenis barang yang bebas pajak.
Jika tidak memesan kamar, penumpang dapat duduk pada kursi yang tersedia. Kapal ini memiliki panjang 212 meter dan lebar 36 meter, serta tersedia tujuh dek, dimana mampu mengangkut 2.000 penumpang.

Dek khusus kendaraan tersedia dua lantai. Lantai paling bawah khusus kendaraan besar dengan kapasitas 30 unit. Lalu, dek atas untuk kendaraan kecil berkapasitas 100 unit.
Sekitar pukul 15.00, kapal Victoria merapat di Pelabuhan Helsinki. Setelah turun dari kapal, kami melakukan ritual perbatasan, sebab sudah memasuki negara Finlandia. Kami mendengarkan lagu kebangsaan Estonia, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, saya pun bersepeda menuju penginapan untuk istirahat.
Pada 13 Januari 2024, saya bersepeda dari Helsinki menuju kota Luukki. Rute ini pun masih tergolong datar dengan variasi rolling di beberapa titik. Sementara suhu udara minus 17 derajat celcius. Angin pun masih kencang dengan kecepatan 30,9 kilometer per jam. Ini jauh lebih kencang dibanding saat di Yunani.
Saya memulai bersepeda agak siang, yakni pukul 11.00. Salju masih menutupi semua tempat, termasuk jalan. Mobil yang terparkir di luar rumah juga tertutupi salju. Semakin lama parkir semakin tebal saljunya. Sejumlah pemilik mobil sibuk membersihkan salju.
Ikon Helsinki
Sebelum meninggalkan Helsinki, saya menyempatkan diri untuk menyinggahi ikon kota yakni Gereja Katedral atau terkenal dengan sebutan Helsingin Tuomiokirkko. Gereja ini berada di tengah kota dengan halaman yang luas menyerupai alun-alun. Lokasi ini juga tertutup salju.

Kayuh siang itu sungguh menantang. Salju menutup seluruh badan jalan, dan nyaris tidak ada cela yang nyaman untuk menjadi jalur sepeda. Saya berusaha kosentrasi tinggi agar tidak terpeleset. Sementara suhu terasa sangat dingin dengan dukungan hembusan angin yang kencang.
Memasuki kilometer 30,32, persisnya di tengah hutan pinus wilayah Luukki, saya pun memutuskan untuk berhenti bersepeda. Saat itu sudah pukul 16.00. Hari menjelang gelap di wilayah itu. Selanjutnya saya memilih loading menuju pantai barat Finlandia, yakni kota Turku sejauh 161 kilometer.
Malam itu, kami menginap di Turku. Besoknya pada Minggu, 14 Januari 2024, saya tidak bersepeda. Pagi hari menyempatkan diri ke gereja, kemudian berlanjut jalan-jalan ke sejumlah tempat menarik di kota ini.
Kami juga sempat makan siang di sebuah restoran yang berada di tepi Sungai Aura, yakni Restoran Martinsillian Grilli. Menunya burger. Sungai ini juga sudah membeku penuh es dan salju. Saya penasaran dan turun ke sungai itu melompat-lompat.
editor: JANNES EUDES WAWA
baca juga:
Catatan Royke Lumowa (37): Menyaksikan Laut Membeku dan Mengeras di Latvia

