Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Catatan Royke Lumowa (42): Saya Pun Memasuki Wilayah Belanda
Cyling

Catatan Royke Lumowa (42): Saya Pun Memasuki Wilayah Belanda

ROYKE LUMOWABy ROYKE LUMOWAJuni 21, 20241 Komentar11 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Masuk wilayah Amsterdam, Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh ROYKE LUMOWA

Di kalangan para pesepeda jarak jauh, Belanda adalah negeri impian. Di negeri itu, para pesepeda mendapatkan perlakuan istimewa. Selain tersedia jalur sepeda yang begitu banyak, tidak hanya di kota, tetapi juga di pedesaan. Masyarakatnya pun gemar mengayuh sepeda kemana pun mereka pergi.

Saya tiba di Belanda pada Sabtu, 27 Januari 2024. Hari itu, saya bersepeda dari Kota Bremen melewati Sogel. Kedua kota ini masih berada dalam wilayah Jerman. Bremen berada di barat laut Jerman.

Bahkan, Bremen menjadi negara bagian terkecil di negeri itu. Namun, kota ini juga berperanan penting sebagai pusat perdagangan dengan memiliki pelabuhan terbesar kedua di Jerman, setelah Hamburg.

Kota dagang

Kota Bremen terletak sekitar 60 mil dari Laut Utara. Sedangkan Pelabuhan Bremen berada di mulut Sungai Weser yang menuju ke Laut Utara. Pelabuhan itu dibangun pada tahun 1.827.

Berada di wilayah Bremen, Jerman. Foto: Arsip Royke Lumowa

Di Pelabuhan ini, sejak dulu hingga sekarang perusahaan-perusahaan raksasa dunia biasa melakukan transaksi sejumlah komoditas, antara lain minyak bumi, benang wol, kapas, tembakau dan kopi. Sebagian dari komoditas itu berasal dari Indonesia, yakni tembakau dan kopi.

Saya mulai mengayuh sepeda dari Bremen pada pukul 08.38. Suhu udara pada pagi itu hanya 1 derajat celcius sehingga kondisinya cukup cerah dan bersahabat. Perjalanan saya mengarah ke timur, menuju ke Belanda.

Mengayuh sepeda pada hari itu terasa sangat menarik. Saya tidak lagi terhalang oleh salju tebal, suhu udara yang sangat dingin dan angin kencang sehingga dapat merasakan kenyamanan bersepeda di wilayah Eropa yang terkenal ramah terhadap pesepeda.

Jalur sepeda tersedia dimana-mana dan selalu terpisah dengan jalan mobil. Jalur sejenis juga ada di negara-negara yang saya lewati sebelumnya yakni Finlandia, Swedia, Norwegia, Denmark dan sebagian Jerman. Akan tetapi, saat itu masih berselimut salju sehingga kenyamanan mengayuh sepeda tidak terasa optimal.

Kali ini saya menyaksikan dengan jelas dimana jalur sepeda terpelihara dengan baik, dan setiap saat selalu dilewati pesepeda. Jadi jalur sepeda bukan asal dibangun.

Lebih menarik lagi, dalam jalur sepeda tidak menjadi tempat parkir kendaraan lain. Di jalur sepeda juga sama sekali tidak ada jalan berlubang atau galian parit dan lainnya seperti di Jakarta.

Memasuki wilayah Bremen, Jerman. Foto: Arsip Royke Lumowa

Jalur sepeda itu tersedia di kiri dan kanan jalan. Di beberapa titik jalur itu hanya ada pada salah satu sisi badan jalan. Artinya, jalur sepeda tersebut digunakan untuk dua arah. Tetapi jalur seperti ini tidak banyak.

“Local Legend”

Untuk hari itu, laju bersepeda saya agak lebih cepat. Perjalanan ini kian menarik lagi, sebab saya melewati cukup banyak wilayah pedesaan yang indah dan bersih. Permukiman tertata rapi. Hal ini membuat gairah gowes saya pun meninggi. Semangat terus menggelora.

Desa yang saya lewati antara lain Delmenhorst, Ganderkesee, Kirchatten, Sandatten, Huntlosen, Nikolausdoorf, Garrel, Mittelksen Thule, Werite dan lainnya.

Di beberapa segmen, saya mendapatkan local legend dalam strava. Misalnya, pada segmen Vrees-2-Werite yakni jarak 5,29 kilometer, saya berada di urutan kedua, khusus untuk kategori usia 55-64 tahun dengan kecepatan 34,8 kilometer per jam. Pada segmen yang sama untuk kategori semua usia mulai dari belasan tahun, maka saya berada pada urutan ke-27.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (1): Dukungan Komunitas Gelorakan Semangat Saya

Jika melihat dari klub sepeda yang saya ikuti dalam strava, maka hanya satu klub yang anggotanya pernah melewati jalur ini yakni Maap Cycling Club (Maap.cc) dengan 8 orang anggotanya. Saya juga menjadi anggkota klub tersebut, dan berada pada urutan teratas. Luar biasa!

Sedangkan klub lainnya yakni PCA atau Portugal Cycling Alliance, Paris Bike Festival, kemudian Laltra Cyclistica dan klub saya di Jakarta Lollipop Cycling Club (LCC) belum pernah melewati rute itu.

Sampai dengan 27 Januari hanya satu klub yang pernah melewati rute tersebut yakni Mapp.cc. Hal ini terasa janggal, sebab rute ini berada di Eropa. Apalagi jalur dari Bremen ini juga tergolong menarik.

Local legend ini sebetulnya juga saya dapatkan dalam rute-rute sebelumnya. Akan tetapi, saya tidak terlalu serius memperhatikan sehingga selalu terabaikan dalam membuat catatan perjalanan.

Gowes ini berakhir di Sogel. Saat itu sudah menjelang petang. Total jarak tempuh mencapai 104,17 kilometer dengan elevation gain hanya 337 meter atau mendatar.

Sogel berada tidak jauh dari garis perbatasan Jerman dan Belanda. Di Eropa tidak ada lagi border. Yang ada hanya semacam patok penanda perbatasan negara.

Kunjungi Giethoorn

Dari Sogel, saya loading menuju garis perbatasan. Di sana, saya menyempatkan diri melakukan ritual perbatasan, yakni mendengarkan lagu kebangsaan Jerman, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saat itu sudah pukul 18.00.

Selepas itu, saya melakukan pengambilan foto suasana di perbatasan. Kalau di google ada pencatatan perbatasan kedua negara tersebut. Saya sempat memberikan ulasan dan melengkapi dengan sejumlah foto yang menandakan bahwa saya pernah berada pada titik itu, yakni Dreilandereck: Groningen-Drenthe Nierdersachsen.

Dari sana, saya melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Emmen di Belanda. Kota ini pun letaknya tidak jauh dari perbatasan. Emmen masuk Provinsi Groningen, terletak paling utara Belanda. Malam itu saya menginap di kota tersebut.

Keesokan harinya saya beristirahat di Emmen. Kesempatan ini saya gunakan untuk mencuci pakaian, dan bersama kru melakukan edit foto serta video. Sepanjang hari, kami nyaris tidak kemana-mana.

Bersepeda di wilayah Belanda. Panoramanya sungguh indah. Foto: Arsip Royke Lumowa

Pada Senin, 29 Januari 2024, saya melanjutkan bersepeda dari Emmen menuju ke Giethoorn. Hari itu, suhu udara cukup dingin, sebab mencapai minus 1 derajat celcius. Saya memulai perjalanan pada pukul 08.00.

Perjalanan menuju Giethoorn sesungguhnya atas saran seorang teman yakni tante Sunarti. Beliau berpesan bahwa saat berada di Belanda wajib mengunjungi kota tersebut. Giethoorn adalah desa wisata yang sangat populer di Belanda dan selalu diburu wisatawan.

Desa ini terletak di tepi Danau Bovenwijde. Di masa lalu, transportasi dari rumah ke rumah menggunakan sampan melintasi sungai dan kanal-kanal yang bermuara ke danau tersebut. Kebiasaan itu tetap terpelihara hingga saat ini demi kepentingan pariwisata.

Meski pagi itu suhu udara di Emmen minus satu derajat celcius, tetapi saya tidak mengenakan jaket tebal yang khusus di daerah dingin. Saya hanya memakai beberapa lapis pakaian untuk mencegah suhu dingin menembus badan.

Jalur sepeda yang bagus

Pada hari itu, saya mulai merasakan betapa bersahabatnya Belanda terhadap pesepeda. Fasilitas jalan begitu lengkap dan sangat berkeselamatan. Jalan yang ada sama sekali tidak berlobang, benar-benar mulus dan bersih.

BACA JUGA:  Cash Disappears Near Shores of Caspian Sea

Bukti keberpihakan itu tampak juga dari infrastukturnya yang bagus. Marka jalan yang lengkap, rambu-rambu dan fasilitas parkir sepeda yang lengkap selalu tersedia di terminal, halte, pertokoan dan tempat umum lainnya.

Di pedesaan, saya berjumpa dengan banyak penduduk lokal menggunakan sepeda sebagai transportasi ke tempat kerja dan sekolah. Mereka mengayuh dengan tertib dan selalu berada dalam jalur sepeda.

Jumlah pengguna sepeda jauh lebih banyak dari pengendara motor. Hal ini bertolak belakang dengan kenyataan yang ada di Indonesia.

Setiap kali mau berpindah lajur selalu memberi tanda dengan tangan. Jika hendak belok ke kanan maka tangan kanan memberikan petunjuk. Begitu pula saat hendak belok ke kiri. Pada setiap sepeda selalu terpasang lampu depan dan belakang. Lampu-lampu itu wajib dinyalahkan siang dan malam. Istilahnya light on.

Kedisiplinan dalam berlalu lintas adalah cerminan suatu bangsa. Itu terlihat di jalan raya. Disiplin dan keteraturan yang saya jumpai di Belanda adalah memberi kesempatan kepada pengendara lain di setiap persimpanan yang tanpa lampu lalu lintas.

Pertama,  pengaturan dengan marka segitiga sama kaki atau piramida. Jika piramida dimana runcingnya mengarah ke kita, itu berarti kita wajib berhenti sekaligus memberi kesempatan kepada pengendara lain untuk melaju.

Kedua, ketertiban di lampu merah. Saya melihat tidak ada satu orang pun melakukan penyerobotan di lampu merah baik pengendara, pesepeda maupun pejalan kaki.

Mengayuh sepeda di wilayah Amsterdam, Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa

Ketiga, melawan arus. Di Belanda dan negara Eropa lainnya sama sekali tidak tampak pengendara yang melawan arus.

Keempat, salah parkir. Kasus ini juga hampir tidak terlihat di Eropa. Kelima, kecepatan tinggi, jalan ziq-zaq atau ugal-ugalan sama sekali tidak terjadi. Kasus penyerobotan di lampu merah, melawan arus dalam berkendara, salah parkir, dan zig-zaq paling banyak terjadi di India, Nepal dan Indonesia.

Desa tanpa jalan raya

Apabila kita ingin meningkatkan keteraturan berlalu lintas, maka perlu menanamkan nilai-nilai mnengahargai orang lain, memberikan hak orang lain sesuai porsinya, kesopanan. Menegakkan keadilan, memberikan apresiasi dan penghargaan (reward) serta sanksi atas pelanggaran (punishment).

Perjalanan menuju Giethoorn tidak mudah mendapatkan restoran. Maklum, jalur ini masih tergolong pedesaan sehingga didominasi ladang pertanian yang luas tanpa tersedia tempat makan.

Akhirnya pada pukul 13.00, kami harus berhenti sejenak di tepi jalan untuk makan makanan kecil seperti roti, biskuit dan lainnya sekedar ganjal perut. Pukul 14.00 kami tiba di Giethoorn. Total jarak mencapai 80,80 kilometer dengan elevation gain 124 meter.

Desa ini memang sungguh indah. Di sana, sama sekali tidak ada jalan raya. Yang ada hanyalah kanal-kanal yang mengelilingi rumah-rumah penduduk. Setiap rumah umumnya memiliki halaman dengan taman yang tertata apik dan indah.

Rumput menghijau dengan aneka bunga berwarna warni menghiasai rumah-rumah di Giethoorn. Menariknya lagi, mayoritas rumah setempat beratap jerami yang dibangun pada abad 18 dan 19.

Keindahan Giethoorn tersohor hingga ke luar Belanda. Wisatawan memberikan banyak julukan kepada desa ini karena keindahan dan keunikannya. Julukan yang banyak disematkan adalah Venice of the Netherlands and Dutch Venice atau Venesia dari Belanda.

Alasannya, kanal-kanal yang mengelilimgi desa Giethoorn serupa dengan kanal-kanal di Venesia, Italia. Selain itu, Giethoorn juga mendapatkan 12 julukan lainnya antara lain Little Venice, Venice of North, Desa Kanal, Desa tanpa mobil, desa tanpa jalan raya. “Giethoorn memiliki banyak nama panggilan,” tulis informasi dalam laman Giethoorn Village.

BACA JUGA:  Catatan Royke Lumowa (44): Empat Kali Gratis di Amsterdam

Hari itu tidak banyak wisatawan yang mengunjungi Giethoorn. Hanya ada beberapa wisatawan individu, dan satu group wisatawan dari Taiwan berjumlah 15 orang serta kami tiga orang dari Indonesia. Kami sempat menyewa satu perahu untuk mengelilingi desa ini melewati kanal-kanal yang indah, bersih dan tertata rapi.

Jalur kincir angin

Mungkin saat itu bukan musim liburan, melainkan musim dingin sehingga banyak wisatawan memilih tidak melakukan perjalanan. Padahal, menurut saya, perjalanan ke Eropa pada musim dingin juga menarik. Menyaksikan dan merasakan salju.

Tarif hotel dan lainnya pun jauh lebih murah dibanding saat musim panas. Terpenting menggunakan mantel dan jaket khusus musim dingin, maka kita dapat menikmati suasana Eropa yang berkualitas dan tidak terlalu menyiksa.

Dari Giethoorn, saya loading menuju ke Kota Zwolle yang letaknya tidak begitu jauh dari desa indah tersebut. Tiba di Zwolle menjelang petang, dan malam itu menginap di kota ini.

Kincir angin tampak di banyak tempat di Belanda. Di wilayah ini memiliki angin dengan kecepatan lumayan tinggi. Foto: Arsip Royke Lumowa

Esok harinya, Selasa, 30 Januari 2024, saya mengayuh sepeda dari Zwolle menuju ke Amsterdam. Suhu udara semakin bersahabat yakni 5 derajat celcius. Pukul 08.53, saya pun memulai gowes.

Di rute ini saya melewati banyak kawasan kincir angin. Artinya saya melewati wilayah yang memiliki kecepatan angin yang tinggi. Kadang saya melawan angin, sebab bertiup dari depan. Tetapi, kadangkala saya pun didorong angin dari belakang.

Menarik lagi, di kiri dan kanan jalan tumbuh banyak pohon berbaris rapi. Pemerintah Belanda sengaja menanam pohon-pohon itu guna membantu pengguna jalan melewati jalur ini dengan nyaman tanpa terhalang hantaman angin kencang.

Jalan yang saya lewati ini juga sangat kaya dengan marka dan rambu jalan sehingga menambah tingkat keselamatan bagi pemakai jalan. Di setiap tempat penyeberangan selalu dilengkapi dengan tombol untuk cepat menjadi hijau sehingga pejalan kaki atau pesepeda tidak menunggu terlalu lama di trafick light.

Kekurangan dari rute ini adalah terbatasnya ketersediaan restoran atau warung. Hal ini menjadi persoalan serius bagi pesepeda jarak jauh untuk mendapatkan makan yang ideal di tengah perjalanan. Di negara-negara maju seperti  China dan Eropa, restoran hanya beroperasi di tempat tertentu yang telah mendapat izin dari pemerintah setempat.

Masuk Amsterdam

Memasuki kota Amsterdam semakin lengkap pula fasilitas untuk pesepeda. Banyak fasilitas seperti taman kota yang besar dan luas jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor yang hanya terhubung dengan jalur sepeda.

Masuk wilayah Amsterdam, Belanda. Foto: Arsip Royke Lumowa

Terdapat pula jembatan khusus sepeda dan pejalan kaki yang menyeberangi sungai. Taman dan pepohonan bersih dan terawat. Sungai dan danau pun bening tanpa sedikit pun limbah. Aliran air berlangsung lancar tanpa terhalang sampah dan lainnya.

Sekitar pukul 17.30, saya pun tiba di pusat kota Amsterdam. Jarak perjalanan saya hari itu mencapai 105,26 kilometer dengan total ketinggian hanya 105 meter. Kontur jalan mendatar dan nyaris tanpa tanjakan.

Hingga di Amsterdam, saya ingin mengatakan, penataan infrastruktur jalan, termasuk sistem pengaturan perambuan, marka jalan, jalur sepeda, penataan desa atau kota kecil di Belanda sungguh menarik. Penataan ini jauh lebih baik dari Jerman, Denmark, Norwegia dan Swedia.

editor: JANNES EUDES WAWA

 

Catatan Royke Lumowa (41): Angin Kencang Sempat Hadang Saya di Jerman Utara

 

 

 

 

 

 

ROYKE LUMOWA
Author: ROYKE LUMOWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025

1 Komentar

  1. Pingback: Catatan Royke Lumowa (43): Pulau di Indonesia Jadi Nama Jalan di Amsterdam - blalak.com

Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.