Oleh: JANNES EUDES WAWA
Siapa di antara kita yang tidak mengenal Sabang? Kota ini adalah titik terbarat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Popularitasnya tergolong tinggi. Akan tetapi, banyak warga Indonesia belum pernah menginjakkan kaki di wilayah itu.
Sabang berada di Pulau Weh, Provinsi Aceh. Wilayah ini berbatasan dengan Selat Malaka di utara dan timur, serta Samudra Hindia di selatan dan barat.

Kota Sabang memiliki empat pulau, yakni Klah (0,186 kilometer persegi), Rondo (0,650 kilometer persegi), Ribiah (0,357 kilometer persegi, Pulau Seulako (0,055 kilometer persegi) dan Weh (121 kilometer persegi). Pulau Weh menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi.
Di Pulau Weh, terdapat tugu nol, sebagai penanda ujung terbarat Indonesia. Lokasinya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya. Masih di dalam kawasan Taman Wisata Alam yang memiliki luas 6.525 hektar.
Tugu itu sebagai simbol perekat Indonesia: dari Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua Selatan. Jarak dari Sabang sampai Merauke mencapai 5.245 kilometer. Mendekati jarak dari Jakarta ke Korea Selatan yakni 5.293 kilometer.
Lagu nasional
Menyebut Sabang-Merauke teringat lagu ciptaan R Suharjo. Liriknya sebagai berikut:
Dari sabang sampai merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia
Indonesia tanah airku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku
Tanah Airku Indonesia
Lagu ini mengingatkan kita tentang negeri ini yang memiliki ribuan pulau dan suku dengan beragam adat dan tradisi. Segala perbedaan menyatuh dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tetapi tetap satu, yakni Indonesia.
Tugu nol kilometer
Tugu nol kilometer di Sabang memiliki tinggi 43,6 meter dari atas permukaan laut (mdpl). Dari jarak jauh tampak angka nol seolah berada di atas permukaan layaknya mata bor.

Pada puncak tugu, terdapat patung burung Garuda menggenggam angka nol dengan prasasti hitam yang mengarahkan posisi geografisnya. Bahkan, ada pula rencong, senjata khas Aceh, simbol perjuangan rakyat Aceh di masa perang memerdekakan Indonesia.
Di lantai pertama monumen terdapat sebuah pilar terdapat prasasti peresmian tugu ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno pada 9 September 1997. Ada pula prasasti lain bertuliskan penetapan posisi geografis Indonesia yang pengukurannya menggunakan teknologi global positioning system (GPS) oleh para pakar Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie.
Selain tugu nol kilometer, mengunjungi Sabang terasa kurang lengkap tanpa menyelami keindahan bawah laut. Banyak terumbu karang yang menawan terdapat di beberapa spot selam, seperti di West Seulako, Arus Balee, Rubiah Jetty, dan Sophia Rikcmers.

Tidak mengherankan, Sabang menyedot banyak wisatawan. Kunjungan tahun 2017 mencapai 736.275 orang, dimana 2.981 orang di antaranya wisatawan asing. Tahun 2018, turis asing meningkat menjadi 29.827 orang dan domestik 709.508 orang.
Tahun 2023, Sabang mendapat kunjungan 261.489 wisatawan. Itu terdiri atas 253.249 domestik dan 8.240 orang asing. Sabang juga menjadi tempat persinggahan sejumlah kapal persiar dalam satu jalur segitiga dengan Kochi (India) dan Johor (Malaysia).
Rayakan HUT RI
Adanya tugu, membuat sejumlah komunitas berinisiatif merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia di lokasi itu. Komunitas Kompas Bike, misalnya, pada 2019 mengajak 94 orang mengayuh sepeda dari Banda Aceh ke Sabang hingga di tugu kilometer nol. Mereka menikmati suasana yang berbeda dalam merayakan hari bersejarah itu. Ada rasa bahagia dan haru saat bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sumardi, pesepeda asal Jayapura, Papua, mengaku, sudah puluhan tahun memendam rindu menginjakkan kaki di tanah Sabang. “Setelah saya bersepeda di kilometer nol di Merauke, timbul niat untuk datang ke kilometer nol di Sabang. Niat itu akhirnya terwujud juga, meski harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tapi saya bahagia,” kata Sumadi, lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur, yang sudah 32 tahun menetap di Papua.

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan Andre Rumantir (63), pesepeda asal Jakarta. Dia mengaku sudah berkali-kali mengunjungi Banda Aceh untuk urusan bisnis. Tetapi, belum sekali pun mendatangi Sabang.
“Mencoba melangkahkan kaki dari Banda Aceh ke Sabang terasa begitu berat, meski sejak kecil saya sudah mengenal Sabang melalui pelajaran di sekolah. Maka, saat tahu ada acara bersepeda ke Sabang ini saya tidak berpikir panjang lagi. Ini kesempatan langka. Saya harus ambil,” ujar Andre.
Ayo ke Sabang!
Untuk merayakan HUT RI tahun 2024, Jelajah Bike juga berencana melakukan touring sepeda di Sabang. Tujuan utama ke tugu nol kilometer untuk merayakan HUT ke-79 Kemerdekaan RI. Event ini berlangsung selama 15-17 Agustus 2024.

Anita Sujarwo, pesepeda asal Jakarta menyatakan minatnya mengikuti event ini. Dia mengaku sudah lama ingin jalan-jalan ke Sabang, tetapi selalu gagal. “Saya harus ikut event ini! Momentumnya sangat bagus. Apalagi akan merayakan HUT Kemerdekaan RI di Tugu Nol Kilometer. Pasti seru dan bikin merinding,” ujar Anita.
Ayo, mari ke Sabang. Kapan lagi kalau bukan sekarang!

