Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
Blalak.comBlalak.com
Home » Jelajah Toba Samosir (2), Berbahagia Bersama Om Octo
Perjalanan

Jelajah Toba Samosir (2), Berbahagia Bersama Om Octo

JANNES EUDES WAWABy JANNES EUDES WAWANovember 14, 2023Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Berada di Jembatan Aok Tano Panggol. Foto: Arsip Jelajah Bike
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Oleh: JANNES EUDES WAWA

Minggu (29/10/2023) dinihari, kawasan Pangururan, Pulau Samosir dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Menjelang pagi, volumenya berkurang menyisahkan gerimis. Peserta Jelajah Toba Samosir memanfaatkan suasana ini untuk menyiapkan diri mengayuh sepeda hari ketiga menuju Silangit melalui Tele dan Dolok Sanggul.

Sekitar pukul 06.15, sebagian peserta sudah menuntaskan sarapan pagi. Akan tetapi, mereka tetap bertahan di restoran, sebab menunggu kehadiran Octovianus Noya yang hingga jam itu belum muncul juga. Di antara para peserta ada yang mulai bertanya, “Om Octo kok belum nongol. Apakah kita perlu serbu ke kamarnya”.

Tidak lama kemudian, Om Octo pun datang. Semua peserta, panitia dan tim pendukung secara spontan langsung memberikan ucapan selamat ulang tahun. “Selamat ulang tahun om Octo. Semoga selalu sehat, bahagia, penuh berkah dan teruslah bersyukur”.

Octovianus Noya

Hari itu, Nyong Ambon yang besar di Kepulauan Riau ini merayakan ulang tahun ke-70. Usia yang sangat istimewa. Sejak muda, om Octo sudah maniak bersepeda. Hampir setiap hari, dia selalu meluangkan waktu untuk gowes. Pilihan ini dia lakukan karena semata-mata ingin hidup sehat.

Itu sebabnya, dalam ulang tahun kali ini, dia sengaja ingin merayakan di tengah para pesepeda dalam momentum perjalanan bersepeda. “Saya ingin bersyukur bahwa saat usia mencapai 70 tahun masih memiliki fisik yang sehat. Masih mampu melakukan perjalanan jauh tanpa gangguan apa pun. Salah satunya berkat rajin berolahraga, terutama bersepeda,” kara Octovianus Noya tinggal di Cinere, Depok.

Nikmati udara segar

Setelah menuntaskan persiapan, kami pun memulai perjalanan. Tak lama kemudian guyuran hujan bertambah deras. Namun, hujan bukan penghalang, melainkan berkah. Para peserta pun bergerak menuju jembatan Aek Tano Panggol, ikon baru wilayah Toba Samosir.

Hotel Saulina, tempat kami menginap masih berada di wilayah Sumatera, tetapi hanya sekitar dua kilometer dari Jembatan Aek Tano Panggol. Jembatan ini merupakan satu-satunya akses darat yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Pulau Samosir. Jembatan ini peertama kali dibangun Pemerintah Belanda  pada tahun 1907 dengan panjang sekitar 16 meter, dan diresmikan oleh Ratu Wihelmina pada tahun 1910.

BACA JUGA:  Tergerusnya Elektabilitas Prabowo-Gibran Bukti Rakyat Kecewa
Berada di Jembatan Aok Tano Panggol. Foto: Arsip Jelajah Bike

Setelah beroperasi selama 103 tahun, pemerintah pusat kemudian membangun kembali jembatan ini dengan panjang mencapai 294 meter terbagi dalam beberapa bagian. Jembatan utama 179 meter dan jembatan pendekat 155 meter. Lebarnya menjadi 8 meter.

Jembatan Aek Tano Panggol juga kini menjadi ikon baru pariwisata Toba Samosir karena memiliki disain yang lebih menarik. Wajah baru ini diharapkan dapat memacu sektor pariwisata di wilayah tersebut.

Di jembatan penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Samosir itu, peserta Jelajah Toba Samosir melakukan foto bersama. Setelah itu, gowes hingga di pertigaan Pangururan, Samosir, lalu memutar balik ke Pulau Sumatera untuk menuju ke Sibeabea.

Bermandikan hujan yang lebat. Terasa nikmat dan segar. Foto: Arsip Jelajah Bike

Saat itu, hujan sama sekali belum reda. Perjalanan sepi dari lalu lalang kendaraan. Mungkin karena hujan lebat sehingga belum banyak warga yang melakukan aktivitas di luar rumah. Kami terus mengayuh seraya menghirup udara nan sejuk dan segar di antara rimbunan pepohonan.

Bukit Sibeabea

Sambil mengayuh, kami pun berkali-kali menghirup udara melalui mulut kemudian melepaskan lewat hidung atau sebaliknya secara bergantian. Langkah ini sebagai upaya untuk membersihkan paru dari polusi yang telah terhirup begitu banyak selama di ibukota.

Suasana seperti ini tergolong barang langka. Sesuatu yang sulit kami dapatkan selama di Jakarta dan sekitarnya, sebab seluruh ruang udaranya telah mengalami polusi berat.

Gowes di tengah guyuran hujan lebat. Foto: Arsip Jelajah Bike

“Saya memang sengaja mengikuti event touring sepeda ini sebagai bagian dari upaya healing. Ingin membersihkan paru-paru. Ingin memasukan oksigen berkualitas terbaik dari alam terbuka seperti di Toba sebanyak-banyaknya ke dalam tubuh,” ujar Alfons Tanujaya, peserta asal Jakarta.

Sekitar dua kilometer melewati jembatan Aek Tano Panggol, perjalanan pun mulai menanjak. Mula-mula kemiringan 3-5 derajat. Tetapi, semakin melaju ke depan, kemiringan pun perlahan-lahan meningkat mencapai kurang lebih 10 derajat hingga di Simpang Gonting sejauh 10,4 kilometer.

BACA JUGA:  Jelajah Toba Samosir, Ibarat Kayuh di Atas Awan

Di simpang itu ada dua jalur. Yang belok ke kiri menuju ke Bukit Sibeabea sejauh 5,2 kilometer. Sedangkan rute yang lurus mengarah ke puncak Tele sejauh 11,6 kilometer.

Kami memilih ke Sibeabea. Awalnya melewati jalan turunan yang cukup panjang, lalu mendatar, dan menjelang bukit Sibeabea menanjak lagi hingga di pelataran. Bukit ini berada persis di tepi Danau Toba dengan ketinggian sekitar 1.021 meter di atas permukaan laut.

Berada di Bukit Sibeabea dengan latar belakang Danau Toba. Foto: Arsip Jelajah Bike

Di atas bukit Sibeabea ditempatkan patung Yesus setinggi 61 meter. Patung ini konon menjadi yang tertinggi di dunia mengalahkan patung Yesus di Rio de Jeneiro, Brasil yan tingginya hanya 31 meter. Saat ini pengerjaan patung utama belum tuntas.

Akan tetapi, kawasan tersebut sudah tertata rapi dilengkapi tempat parkir kendaraan dan penataan lokasi spot yang bagus untuk swafoto. Bukit Sibeabea telah menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang mengunjungi Toba Samosir.

Lewati kabut tebal

Setelah kurang lebih satu jam berada di Bukit Sibeabea, kami melanjutkan gowes dengan terlebih dahulu kembali ke Simpang Gonting. Di sana, kami berbelok ke kiri menuju Puncak Tele atau pertigaan Jalan Dolok Sanggul mengitari bukit-bukit yang ada.

Perjalanan ini sepenuhnya menanjak, sebab pertinggan Tele berada pada ketinggian sekitar 1.800 mdpl. Hujan pun belum lama berhenti sehingga sewaktu melewati tanjakan itu kami selalu menghirup udara yang segar dan bersih. Bahkan, kabut tebal masih menyelimuti perbukitan tersebut.

Melewati kabut tebal saat menuju ke Puncak Tele. Foto: Arsip Jelajah Bike

Memang terasa lelah. Akan tetapi, segala kelelahan tersebut terbayarkan dengan memasukan oksigen berkualitas tinggi ke dalam tubuh. “Touring ini sungguh luar biasa dan memuaskan. Saya sangat menikmatinya. Segala kelelahan terbayarkan dengan menghirup udara yang bersih dan pemandangan Danau Toba yang indah,” ujar Erwin Munandar, asal Makassar yang mengaku baru pertama kali bersepeda di Toba.

BACA JUGA:  Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Dari pertinggaan, kami kemudian belok ke kiri menuju kota Dolok Sanggul, ibukota Kabupaten Humbang Hasundutan. Dalam perjalanan melewati rute ini, kami sempat menikmati sinar matahari dengan suhu udara yang kalem, yakni sekitar 26 derajat celcius. Namun, suasana itu hanya berlangsung kurang lebih tiga jam saja.

Panorama Danau Toba. Foto: Iskandar Tjhang.

Perjalanan menuju Dolok Sanggul lebih banyak melewati jalan turunan halus dengan selingan mendatar dan tanjakan pendek. Menjelang memasuki kota, arus kendaraan mulai ramai, tetapi tidak terlalu padat. Kondisi ini berlangsung hingga beberapa kilometer selepas kota. Setelah itu, jalanan mulai lengang.

Pengalaman berharga

Menjelang pukul 15.00 WIB, suhu udara terus menurun, Langit tampak mendung, pertanda segera datang hujan. Beberapa waktu sebelumnya menurut pengakuan warga, di wilayah itu terguyur hujan deras, dan kemungkinan bakal hujan lagi pada malam hari.

Wilayah Toba dan sekitarnya memang terkenal memiliki frekuensi hujan tinggi. Saat musim kemarau pun setiap pekan minimal sekali terjadi hujan. Mulai September biasanya hujan turun hampir setiap hari.

Sekitar pukul 16.30 WIB, peserta sudah tiba di Hotel Ester, Silangit. Di situ menjadi garis finish dari Jelajah Toba Samosir tahun 2023. Perjalanan hari itu sejauh 108 kilometer. Silangit berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Salah satu bentangan alam di sisi timur Danau Toba. Foto: Arsip Jelajah Bike

“Saya senang bisa menuntaskan touring ini dengan baik. Perjalanan tiga hari sebetulnya mengelilingi Danau Toba. Star dari selatan, lalu ke timur dan utara, kemudian ke barat dan kembali masuki finish di wilayah selatan juga. Sungguh memuaskan. Ini menjadi pengalaman amat berharga,” ujar Nandang Jasin, peserta asal Bandung.

Bahkan, menurut Howard Citra Hartana, peserta asal Kepala Gading, Jakarta, gowes mengelilingi Danau Toba dalam satu event merupakan kesempatan langka. Penyelenggara perlu menyiapkan detail baik rute, penginapan, logistik dan lainnya, termasuk fotografer agar pelayanan kepada peserta benar-benar memuaskan.

“Jelajah Toba Samosir kali ini memberikan kepada saya pengetahuan yang lebih lengkap tentang Danau Toba dan kawasan sekelilingnya. Soal kondisi alam, warga setempat, urusan transportasi, kontur jalan dan titik-titik yang menarik untuk berwisata. Ini yang membuat saya merasa puas dan bahagia,” ujar Howard. (Habis)

Jangan lewatkan!!

 

Jelajah Toba Samosir (1), Nikmati Gowes dan Mandi Hujan

 

 

JANNES EUDES WAWA
Author: JANNES EUDES WAWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025

Jelajah Ciptagelar (1): Jalan Panjang Menuju Gelaralam

Desember 13, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.