Close Menu
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
LOGIN
Blalak.comBlalak.com
  • Home
  • Perjalanan
  • Wisata
  • Sport
  • Bisnis
  • Cyling
  • Humaniora
  • Royke Lumowa Gowes Jakarta Paris
  • Login Artikel
  • Daftar Artikel
Blalak.comBlalak.com
Home » Pulau Terselatan Getarkan Jiwa
Perjalanan

Pulau Terselatan Getarkan Jiwa

JANNES EUDES WAWABy JANNES EUDES WAWAAgustus 26, 2022Tidak ada komentar8 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn
Lomba lari karung melibatkan peserta Jelajah Rote bersama pasukan marinir. Foto; Aditia P Warman
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Menghormati Sang Saka Merah Putih. Foto: Aditia P Warman

Oleh: JANNES EUDES WAWA

Puluhan pesepeda dari berbagai kota memilih bersepeda ke Rote, Nusa Tenggara Timur. Di sana, mereka merayakan hari istimewa tersebut di Ndana, pulau terselatan Indonesia, bersama pasukan marinir penjaga perbatasan Indonesia-Australia. Ada bahagia, haru dan merinding. Banyak di antara mereka meneteskan air mata.

Tanpa sadar air mata Iie Purnama Sidi menetes di pipinya saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Ndana, pulau terselatan Indonesia pada Rabu (17/8/2022). Emosinya bergolak. Tetapi dengan semangat membara dia menuntaskan lagu kebangsaan tersebut.

“Mungkin dipicu suasana. Kita merayakan HUT ke-77 ini di pulau terselatan. Kita datang ke sini dengan bersepeda, lalu menyeberangi laut melewati gelombang tinggi. Semua pengalaman itu menyatu sehingga membuat emosi, dan hati saya pun begitu tersentuh saat menyanyikan lagu Indonesia Raya,” kata Purnama, pesepeda asal Klaten, Jawa Tengah.

Suasana hati yang sama juga dialami beberapa peserta lainnya. Mereka juga mengaku terharu dan terbawa suasana. Maklum, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu saat akan berada di pulau terselatan Indonesia sekaligus merayakan HUT Kemerdekaan RI. Patriotisme dan nasionalisme benar-benar bergelora.

Lia Dahliana, pesepeda asal Bandung mengaku sangat bahagia bisa berada di Ndana. Apalagi merayakan HUT ke-77 Kemerdekaan RI  bersama peserta Jelajah Rote Bike dan prajurit marinir. Hal ini menjadi kenangan terindah yang pernah dialami selama hidupnya.

“Jujur saya merinding dan menangis. Air mataku tiba-tiba jatuh terlebih saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya bahagia dan terharu. Saya mendapatkan sebuah pengalaman yang luar biasa,” ujar Lia yang sehari-sehari sebagai dokter gigi yang bertugas di kota kembang.

Ade Mongol, pesepeda asal Jakarta mengaku sudah lama dia memiliki keinginan untuk mendatangi pulau terselatan Indonesia. Ketika peluang itu datang melalui event touring sepeda Jelajah Rote, dia pun tidak mau membuang kesempatan. Apalagi, dilakukan upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI. Momentum seperti itu tergolong langka.

Saat upacara pengibaran bendera memperingati HUT ke-77 Kemerdekaan RI di Pulau Ndana. Foto: Aditia P Warman

Ketika upacara itu dilakukan di Ndana, Ade mengaku perasaannya seketika harubiru. Haru, bahagia, sedih, semuanya menjadi satu. “Mulut saya gemetar saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tanpa sadar, saya meneteskan air mata. Saya bahagia, sebab bisa merayakan HUT RI di lokasi yang terpencil, terluar dan terselatan.  Tidak semua orang bisa melakukannya. Saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa,” tegasnya.

BACA JUGA:  Tergerusnya Elektabilitas Prabowo-Gibran Bukti Rakyat Kecewa

Pulau tak berpenghuni

Pulau Ndana merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Rote Ndao. Jarak dari Pulau Rote hanya 4 mil. Ndana menjadi pulau terselatan Indonesia. Bahkan, merupakan pintu masuk jalur pelayaran internasional (jalur 3 alur laut Kepulauan Indonesia). Pulau Ndana juga memiliki titik referensi (TR-121) sebagai acuan TD-121 yang merupakan titik dasar penarikan garis batas wilayah perairan NKRI dengan Australia.

Meski posisinya yang sangat strategis, tetapi pulau dengan luas sekitar 13 kilometer persegi itu tidak berpenghuni. Yang berkembang biak hanya rusa. Hewan ini konon sengaja dilepas oleh pemuka adat setempat pada puluhan tahun silam. Saat ini ditaksir ada ratusan ekor rusa yang hidup di Pulau Ndana. Di tengah pulau juga ada sebuah danau.

Hamparan sabana di Pulau Ndana. Foto: Aditia P Warman

Pulau Ndana juga dikeliling hamparan pasir putih dengan laut yang memiliki gulungan ombak yang cukup panjang. Tidak mengherankan, Ndana juga menjadi salah satu titik selancar yang bagus di wilayah Rote Ndao, selain pantai Boa dan pantai Nemberala di Pulau Rote.

Sejak 1 Agustus 2010, TNI resmi membangun sebuah patung yakni Patung Jenderal Sudirman di Ndana. Patung ini menghadap kea rah Samudera Hindia, yang mana langsung berbatasan dengan Australia. Patung Sudirman seolah menjadi penjaga terdepan bangs aini di wilayah selatan.

Selama ini di Ndana ditempatkan pasukan marinir penjaga perbatasan Indonesia-Australia. Mereka berjumlah 34 orang.  Setiap Sembilan bulan selalu dilakukan pergantiam tim satuan tugas (satgas). Di sana dibangun  pos dan mess bagi pasukan satgas dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti listrik, kamar kecil dan kamar mandi.

Namun, fasilitas yang disediakan sangat minim. Air untuk kamar kecil diambil dari laut, sedangkan untuk mandi tersedia air payau yang diambil dari sumur. Sedangkan air bersih untuk masak dan gosok gigi diambil dari kampung Oeseli di Pulau Rote.

Listrik pun mengandalkan energi matahari dan angin. Akan tetapi, listrik tenaga bayu sudah lama rusak, dan tidak diperbaiki. Demikian juga energi matahari hanya sebagian alat yang berfungsi baik sehingga ketersediaan listrik pun sangat terbatas. Bahkan, perahu yang yang ada pun rusak. Untuk mobilitas di laut, mereka terpaksa menggunakan perahu milik nelayan.

BACA JUGA:  JCS Ingin Seperti Tour de France

“Saya cukup prihatin dengan fasilitas yang disediakan bagi satgas perbatasan di Ndana. Padahal, tugas dan kewajiban mereka sangat berat. Semoga pemerintah pusat lebih peduli lagi,” ujar Moch Fayes, pesepeda asal Jakarta.

Jelajah Rote

Perjalanan menuju Pulau Ndana merupakan bagian dari touring sepeda dalam Jelajah Rote Bike yang diselenggarakan Jelajah Bike. Puncaknya adalah melakukan upacara bendera peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Lomba lari karung melibatkan peserta Jelajah Rote bersama pasukan marinir. Foto; Aditia P Warman

Event yang berlangsung selama 15-18 Agustus 2022 tersebut diikuti 57 pesepeda dari berbagai kota di Indonesia. Terbanyak berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang. Disusul Bandung, Klaten (Jawa Tengah) Malang (Jawa Timur), dan Bengkulu. Melalui perjalanan ini diharapkan bisa merekatkan Bhineka Tunggal Ika dan meningkatkan soldaritas sesama bangsa Indonesia.

Jelajah Rote Bike dimulai dari Kupang, ibukota Provinsi NTT pada 15 Agustus 2022 pagi. Kami bersepeda mulai dari Hotel Amaris menuju pelabuhan penyeberangan di Bolok sejauh kurang lebih 25 kilometer.

Perjalanan pagi itu cukup seru. Jalur yang dipilih adalah lingkar luar sisi selatan. Jalur ini dinilai lebih cepat tiba di Bolok. Setelah melewati jalan landai sekitar 7 kilometer hingga Oepura, dilanjutkan tanjakan sejauh  3 kilometer. Tenaga pun cukup banyak yang terkuras. Selepas Sikumana, jalur lebih banyak turunan dengan variasi dua tanjakan pendek. Jelang tiba di Bolok tampak pemandangan laut yang begitu indah disertai langit biru.

Sekitar pukul 07.47 Wita, rombongan tiba di Pelabuhan Penyeberangan. Ini sesuai permintaan petugas Ferry ASDP Kupang agar peserta Jelajah Rote Bike. Pertimbangannya, sepeda harus terlebih dahulu masuk ke kapal. Setelah itu baru kendaraan bermotor roda dua, mobil pribadi, lalu truk.

Mengingat alasan operasional, kapal ferry tujuan Rote baru diberangkatkan pada pukul 09.00 Wita. Dalam pelayaran ini cukup banyak penumpang dan kendaraan yang diangkut. Banyak penumpang dipicu oleh penghentian penerbangan rute Kupang-Rote-Kupang sejak awal Agustus 2022 akibat kerusakan pada landas pacu Bandara DC Saudale di Rote. Penerbangan rute ini hanya dilayani maskapai Wings Air sekali dalam sehari. Lama penerbangan sekitar 30 menit. Pagi pukul 06.30 terbang dari Rote ke Kupang, lalu pukul 16.30 terbang dari Kupang ke Rote. Pesawat jenis ATR 72 itu memiliki kapasitas 78 kursi.

BACA JUGA:  Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Pelayaran kami dari Kupang ke Rote ditempu selama 3,5 jam. Perjalanan hari itu sangat lancar. Tidak ada ombak yang tinggi. Kami tiba di Pelabuhan Penyeberangan Pantai Baru, Rote, sekitar pukul 12.30 wita. Setelah turun dari kapal, kami beristirahat sejenak di pintu masuk kawasan pelabuhan sambal makan siang.

Dari Pantai Baru, kami gowes menuju kota Baa, ibukota Kabupaten Rote Ndao. Jaraknya hanya 32 kilometer. Jalannya beraspal mulus. Kami melewati beberapa tanjakan pendek dan panjang, tetapi selalu diselingi dengan turunan-turunan panjang. Ini ibarat kehidupan: selalu bergelombang. Ada suka dan duka, susah dan senang, menderita dan bahagia.

Salah satu keindahan Pulau Rote. Langit biru menjadi salah satu pemikat. Foto: Aditia P Warman

Tantangan terberat gowes adalah menghadapi suhu udara yang cukup panas. Suhu udara diperkirakan mencapai 40 derajat celcius. Apalagi di kiri dan kanan jalan pun nyaris tidak ada pohon rindang. Tanah yang ada pun didominasi batu kapur.

“Suhu udara panas banget. Ini sangat memberatkan bagi kami dari Bandung yang setiap hari menghadapi suhu udara yang umumnya di bawah 30 derajat celcius. Gowes terasa berat. Energi benar-benar terkuras,” ujar Diah Fatma Sjoraida yang juga dosen pada salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.

Sengatan sinar matahari tersebut sedikit tertolong oleh adanya hambusan angin yang cukup kencang sehingga suhu yang tinggi tak menempel pada kulit. Belum lagi panorama alam, terutama pesisir pantai yang begitu indah sehingga perjalanan pun tidak terlalu berat.

Menjelang pukul 16.00, perjalanan pun masuk kota Baa. Tetapi, sebelum menuju ke hotel Ricky yang menjadi tempat inap peserta, kami terlebih dahulu menyinggahi kampung tenun ikat Rote. Sebagian besar peserta membeli hasil kerajinan tangan tersebut. Ada yang membeli selendang. Ada yang membeli kain sarung. Ada pula yang membeli pakain yang bermotif tenun. Mereka ingin mengenakannya saat merayakan HUT ke-77 Kemerdekaan RI di Pulau Ndana.

“Kita sudah jalan jauh dari Jakarta hingga Ndana hanya ingin merayakan 17an. Jadi, harus tampil dengan kain tenun lokal biar lebih berkesan lagi,” ujar Ulfi Haryati Noya, asal Jakarta. (bersambung)

JANNES EUDES WAWA
Pegiat Touring Sepeda

Baca juga:

Jelajah Rote, Perkuat Semangat Satu Bangsa

 

 

 

JANNES EUDES WAWA
Author: JANNES EUDES WAWA

Share. Facebook WhatsApp Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BACA JUGA

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Ambisi China, Swasembada Durian

Januari 20, 2026

Durian Indonesia Hanya Jago Kandang

Januari 17, 2026

Musim Durian Telah Tiba, Jangan Lewatkan!

Januari 11, 2026

Jelajah Ciptagelar (3): Berdialog dengan Abah Ugi

Desember 15, 2025

Jelajah Ciptagelar (2): Perjuangan Berat Menuju Gelaralam

Desember 14, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

TERKINI

Impor Mobil India (2): Koperasi Pun Jadi “Tabolabale”

Maret 3, 2026

Impor Mobil India (1): Tercekik Manuver Agrinas

Februari 28, 2026

Impor 105.000 Mobil Pikap, Agrinas Kangkangi Presiden Prabowo

Februari 25, 2026

Pilpres 2029, Prabowo-Gibran Bakal Pisah Jalan

Februari 20, 2026

Anak SD Bunuh Diri di NTT, Duka Itu Menampar Sangat Keras

Februari 18, 2026

Impor Garam di Negeri Maritim

Februari 18, 2026
Blalak.com
© 2026 Blalak.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.