Oleh: STEFANUS WOLO ITU
Misionaris Fidei Donum KAE Di Keuskupan Basel Swiss
Orang Swiss dan beberapa negara moderen Eropa bekas Kekaiseran Romawi seperti Inggris, Perancis, Belgia, Spanyol, Portugal, Italia, Austria, Rumania, Albania, dan Yunani memberi nama Silvester untuk hari terakhir bulan Desember. Nama ini diambil dari Santo Silvester.
Silvester kelahiran tahun 285 di Avellino, Italia adalah paus ke-33 Gereja Katolik Roma dari tahun 314-335 Masehi (M). Dia menjadi paus pada saat Konstantin Agung berkuasa 306-337 M.
Konstantinus awalnya menindas kekristenan. Suatu saat dia menderita kusta. Dia ingin sembuh melalui ritus penyembahan dewa-dewi. Sayangnya upaya itu tidak berhasil. Dia tak kunjung sembuh.

Menurut legenda, pada suatu malam Konstatinus mimpi bertemu Santo Petrus dan Paulus. Kedua orang kudus itu menyuruh dia bertemu Paus Silvester dan meminta doa penyembuhan. Dia pun melakukan itu. Hasilnya, dia sembuh, lalu dibaptis Silvester di Basilika Lateran. Konstantinus kemudian mengangkat Paus Silvester sebagai penasihat rohaninya.
Konstantinus bertumbuh menjadi orang kristen yang taat. Tahun 313 dia mengeluarkan sebuah maklumat. Namanya Maklumat Milan. Maklumat ini ternyata membawa rahmat bagi kekristenan. Maklum, selama tiga abad umat Kristen tertindas. Tapi berkat adanya Maklumat Milan, pemerintah Romawi akhirnya mengakui hak-hak umat Kristen.
Konstantinus pun menetapkan Kristen sebagai agama resmi kekaiseran. Kekristenan berkembang pesat dalam pelbagai aspek. Paus dan para pejabat gereja memperoleh jaminan sosial. Mereka mulai menata perayaan-perayaan gerejani dengan berpedomankan pada kalender liturgi.
Penganut Kristen terus bertambah dan kehidupan membiara mulai bertumbuh. Berkat dukungan kaiser Konstantinus, paus Silvester membangun Basilika Santo Yohanes Lateran, Basilika Santo Petrus, dan makam para martir. Dia juga membangun gereja makam kudus Yesus di Jerusalem.
Paus Silvester meninggal pada 31 Desember 345 Masehi, dan dimakamkan di Katakombe Santa Priscila, Roma. Dia merupakan paus pertama bukan martir yang dimaklumkan sebagai santo. Pada dinding Basilika Santo Yohanes Lateran terdapat mosaik indah Yesus sedang memberikan kunci kuasa rohani kepada Paus Silvester.
Umat Kristen gereja perdana mengenangnya sebagai paus yang saleh. Mereka berdevosi khusus kepada Paus Silvester. Gereja Katolik Roma memperingati kematiannya pada setiap tanggal 31 Desember.
Konser Voix Celestes
Umat paroki saya Eiken dan Stein selalu memaknai pesta Santo Silvester dengan misa Silvester dan konser Silvester. Setiap tahun pada 31 Desember pukul 16.30 saya merayakan ekaristi Silvester di Stein. Kami bersyukur kepada Tuhan atas berkat kehidupan dan perlindungan selama setahun. Perayaan Silvester tahun ini bertepatan dengan wafatnya Paus Emeritus Benediktus XVI.
Pimpinan gereja Keuskupan Basel mengajak kami menyiapkan doa umat khusus untuk almarhum pada misa Silvester dan awal tahun baru 2023. “Wir beten für unseren emeritierten Papst Benedikt XVI, der in Rom gestorben ist. Schenke ihm himmlischen Frieden und Leben in Fülle bei dir. Kita berdoa untuk Paus Emeritus Benediktus XVI yang meninggal di Roma. Anugerahkanlah dia kedamaian surgawi dan kepenuhan hidup dalam Dikau”, demikian doa umat kami.

Pukul18.00, saya menonton konser di Gereja Eiken yang dipentaskan grup vokal ensembel Voix Celestes dari Laufenburg Jerman pimpinan Simone Küpfer(organis dan dirigen paroki kami). Nama Voix Celestes berasal dari bahasa Perancis, artinya suara surgawi. Simone, Christina, Cathrin, Eva, Stefanie, Patricia, Johanes, David dan Michael tampil dalam konser ini.
Mereka menyanyi dalam beberapa bahasa. Ada lagu-lagu Latin: Domine, labia mea aperis (Johann Crüger), Du pacem Domine (Melchior Franck), Jubilate Deo (Martin Stampf) dan Te Deum( Norman Warren). Lagu-lagu berbahasa Inggris: I as Glad (Martin Setchell), Quiet Lako (Christop Hiller), Midwinter (Bob Chilcott), Tears in Heaven (Lorens Maierhofer) dan put your Hand (Gene Mac Lellan).
Mereka juga menyanyikan lagu-lagu Jerman: Vom Himmel hoch, da komm ich her (JS Bach), Kommet, ihr Hirten (Dietrich Schuberth), Zu Bethlehem geboren (Jan Meyer), Bei stiller Nacht (Hugo Distler), Liebe Nachtigall, wach auf (Benno Kaiser), Wieder naht der heilige Stern (Lorens Maierhofer) dan Anker der Zeit (Albert Frey). Mereka juga menyanyikan lagu dari Zulu Afrika: Hambani Kahle.
Para penyanyi perempuan berpakaian hitam dan selendang merah. Sedangkan penyanyi pria mengenakan stelan hitam, kemeja putih dan dasi kupu-kupu. Mereka tidak hanya menyanyi dari depan altar, tapi juga di tengah para penonton dan dari atas loteng.
Tanggal yang sama
Mereka tak hanya menyanyi A-Capella, tetapi juga diiringi suling, orgel, klavier, petikan jari dan tepukan tangan. Saya sungguh menikmati konser ini. Mereka menyanyi penuh penghayatan, suaranya merdu mengalun, meditatif menghantar saya merenungkan kehebatan Paus Silvester dan Benediktus XVI.
Silvester dan Benediktus XVI menjadi Paus pada jaman yang berbeda. Silvester merupakan paus saleh yang hidup pada jaman kekaiseran Romawi. Kesalehannya telah mengubah Konstantinus. Konstantinus menjadi Kristen dan menerbitkan Maklumat Milan. Ia membawa peradaban baru kekristenan dan kemanusiaan di wilayah-wilayah kekuasaan Romawi seperti Eropa, Afrika Utara dan Timur Tengah.
Benediktus XVI adalah tokoh penting Gereja Katolik abad ini dan pemikir brilian sejak konsili Vatikan II. Sebelum terpilih menjadi paus ke-265, dia menahkodai Propaganda Fide sejak 1981-2005. Dia mengikuti pendahulunya Yohanes Paulus II terus berdialog dengan Yudaisme, Islam dan gereja-gereja Kristen lainnya. Dia membela iman katolik di tengah dunia moderen saat ini. Dia menekankan tiga elemen penting dalam teologi kristiani yaitu iman dan pendidikan, iman dan pengalaman, rahmat kebijaksanaan.
Dalam tugas kegembalaannya, Benediktus tegas menolak aborsi, perceraian, perkawinan sejenis dan pelbagai ajaran yang menuruti keinginan duniawi. Dia berharap agar umat kristiani tetap teguh beriman kepada Allah yang mahakuasa. Bagi saya Benediktus cerdas dan bijaksana.
Dia selalu mengingatkan bahwa seorang paus membutuhkan kekuatan tubuh dan pikiran agar mampu mengikuti perkembangan dunia dan menjalankan tugas kegembalaan. Kita patut meniru kesadaran kritisnya. Ketika kondisi fisik dan daya pikirnya menurun, dia rela meletakkan jabatan kepausan pada 28 Pebruari 2013. Baginya jabatan paus tak harus diakhiri saat kematian.
Jarak kematian Benediktus dan Silvester 1.677 tahun; 17 abad. Tapi keduanya dan para paus gereja Katolik Roma adalah Pontifex Maximus atau jembatan tertinggi dan Summus Pontifex atau imam tertinggi” Gereja Katolik Roma. Keduanya meninggal pada tanggal yang sama: 31 Desember.

Benediktus XVI dimakamkan di Basilika Santo Petrus yang dibangun Paus Silvester pada 17 abad yang lalu atas dukungan Konstantinus Agung. Bagi saya konser Voix Celester kali ini merupakan “Suara Surgawi” untuk Silvester dan Benediktus XVI.
Silvester sudah sejak lama menjadi orang kudus. Dan Benediktus XVI? “Santo Subito” seperti teriakan umat saat akhir pemakaman almarhum. Semoga dia segera menjadi Santo, menikmati kemuliaan surgawi, menjadi pendoa bagi kita. Pada saatnya kita merayakan pesta mereka secara bersama: 31 Desember sebagai hari Silvester-Benediktus.
Eiken AG Swiss
Kamis, 5 Januari 2023
Hari Pemakaman Paus Benediktur XVI
Editor: Jannes Eudes Wawa
